“Mereka benar-benar tidak menghargai Pangeran sebagai pejabat tinggi Mataram,” bisik senapati – yang mengiringi Pangeran Selarong – dengan geram.
“Diamlah,” ucap Pangeran Selarong dengan nada gusar. “Kita adalah tamu di Pedukuhan Jagaprayan. Tetap jaga sikap dan kendalikan dirimu.”
“Tapi Pangeran adalah utusan khusus Raden Mas Rangsang,” sahut senapati itu.
“Kedudukanku bukan sebagai pembenaran agar mereka menghormati diriku. Tetaplah pada pesan Pangeran Purbaya yang memintamu untuk waspada dan berhati-hati di dalam pedukuhan ini,” ucap Pangeran Selarong sambil memberi tanda bahwa dia tidak ingin lagi bicara.
Tak lama kemudian, Pandan Wangi melarang senapati pengiring mendekat pada jarak tiga puluh langkah. “Perempuan gila!” desisnya penuh geram dalam hati.Senapati pengiring Pangeran Selarong pun hanya mampu membanting-banting kaki melihat perlakuan yang diterima putra raja. Dia ingin melupakan pesan Pangeran Purbaya lalu menyerbu ke dalam banjar. Tapi itu mustahil dilakukannya, maka yang dapat diperbuat hanyalah memandang bagian tengah banjar dari kejauhan.
Pandan Wangi serta tiga orang lainnya kemudian tiba di banjar pedukuhan. Putri Ki Gede Menoreh itu tegak melangkah menuju tempat yang biasa didudukinya sambil mengarahkan Ki Lurah Plaosan dan Kinasih pada tempat tertentu. Pandan Wangi telah mengatur segalanya termasuk tempat duduk Pangeran Selarong yang diletakkan sedikit di tepi banjar. Tapi tata letak yang akhirnya membuat Pangeran Selarong berhadap-hadapan dengan Kinasih itu tidak termasuk di dalamnya. Putra raja Mataram tersebut seolah-olah kehilangan arah untuk beberapa lama. Namun begitu, dia tetap mengerat rahang kuat-kuat. Dia tidak menyangka bahwa Pandan Wangi mempersilahkan dirinya duduk hanya dengan lambaian tangan. Putra raja ini melihat ada kursi lain yang berada di dekat Pandan Wangi, tapi, mengapa perempuan itu justru menempatkan dirinya cukup jauh dan seolah tidak memberi penghormatan pada kedudukannya? Apakah Pandan Wangi sedang menunggu seseorang atau sengaja memancingnya ke dalam keadaan yang tidak terduga olehnya?
“Silahkan Pangeran menyesuaikan diri,” ucap singkat Pandan Wangi lalu mematung dan hanya sorot matanya saja yang berbicara.
Pembaca yang Terhormat
Kami tidak dapat mengembangkan blog Padepokan Witasem sendirian. Oleh sebab itu, Panjenengan dapat turut serta bergotong royong melalui donasi ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
Kalimat pendek Pandan Wangi seperti tidak mempunyai arti bagi Pangeran Selarong yang diam-diam mengagumi Kinasih di kedalaman hatinya. Pandang mata dan sisi lembut Pandan Wangi dapat merasakan getaran-getaran yang memancar kuat dari pangeran Mataram itu. Tapi dia tetap pada rencananya dan bersikap seperti tidak tahu bahwa Pangeran Selarong berulang-ulang menatap lekat Kinasih.

Keheningan tetaplah keheningan sehingga tidak ada seorang pun di antara mereka berempat yang membuka suara. Keheningan seolah menjadi panglima utama di banjar pedukuhan. Setiap orang dari mereka segera menyadari bahwa Pandan Wangi sedang menguji ketahanan jiwani di balik keheningan itu. Bahasa tubuh dan sorot mata pemimpin keamanan Pedukuhan Jagaprayan terang benderang menyatakan itu semua. Maka tidak ada jalan selain mengikuti kemauan kuat Pandan Wangi. Hanya saja, keheningan itu seperti menjadi siksaan tambahan bagi Pangeran Selarong ketika Kinasih begitu tenang dan berani dengan sesekali membalas tatap matanya.
Hampir segala yang terjadi pada Pangeran Selarong tidak luput dari pengamatan Ki Lurah Plaosan. Sebagai orang yang jauh berpengalaman dalam hubungan batin antar pribadi, Ki Plaosan dapat memperkirakan besaran gejolak yang terjadi dalam diri Pangeran Selarong. Tapi dia bersikap sama dengan Pandan Wangi. Mereka berdua memasang sikap seolah tidak terjadi sesuatu di ruang tengah banjar pedukuhan.
Pada waktu yang sama, Agung Sedayu pun semakin dekat dengan banjar pedukuhan. Dalam perjalanannya, senapati pasukan khusus Mataram itu tidak melihat adanya pergerakan yang dikhawatirkan Pangeran Purbaya maupun Raden Mas Rangsang – menurutnya. Ini adalah puncak kesiagaan pada serangan yang tidak terduga, simpul Agung Sedayu. Meski demikian, dia pun dapat menangkap gelagat dari sejumlah orang yang berpapasan dengannya atau yang sedang menarik diri dari keramaian. Beberapa bayangan orang samar terlihat di balik rimbun tanaman atau ketidakteraturan pepohonan. “Mereka bisa berasal dari mana saja,” katanya dalam hati. “Raden Atmandaru tidak mungkin memberi perintah mundur pada pengikutnya yang sudah berada di dalam pedukuhan.” Maka beberapa pemikiran penting pun segera tertata rapi dalam benak senapati Mataram itu.
Ketika sudah berada di bawah regol banjar pedukuhan, Agung Sedayu mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan Pangeran Selarong. Kehangatan tiba-tiba merangkul banyak pengawal yang sedang bertugas di sana, padahal mereka begitu beku saat Pangeran Selarong akan memasuki halaman banjar. Namun demikian, Agung Sedayu sama sekali tidak mengetahui keadaan yang terjadi sebelum kedatangannya.
“Kakang,” ucap Pandan Wangi menyongsong kehadiran Agung Sedayu.
Pangeran Selarong melengos dengan perasaan geram. Namun dia kembali salah tingkah saat pandang matanya membentur sinar mata tajam Kinasih. Gadis muda itu tetap memancarkan ketenangan yang luar biasa. Murid Nyi Ageng Banyak Patra ini seperti tidak terpengaruh dengan keadaan njomplang yang sedang berlangsung.
Agung Sedayu mengangguk dengan senyum seperti biasanya diikuti pandang mata penuh hormat pada Ki Lurah Plaosan, Kinasih serta Pangeran Selarong. Sikap pemimpin pasukan khusus itu pun tetap wajar seolah-olah bukan teman seperjalanan dua orang yang datang dari Kepatihan. Namun dalam sekejap, murid Kyai Gringsing ini sadar bahwa sesuatu yang tidak lazim sedang berlangsung di antara empat orang di sekitarnya.
“Apakah Kakang mengalami kesulitan memasuki pedukuhan ini?” tanya Pandan Wangi dengan nada dan kehangatan seperti yang sudah-sudah.
Sambil menggeleng, Agung Sedayu menjawab, “Mereka, para pengawal, sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan atas keteguhan dan ketaatan pada perintah pemimpin mereka.”
“Maksud Kakang adalah mereka mempersulit izin masuk atau bagaimanakah?”
“Bukan, bukan seperti itu. Mereka memperlakukanku dengan wajar tapi berterus terang bahwa mereka tidak dapat mengirini sampai ke tempat ini,” kata Agung Sedayu. Lantas mereka berdua pun bicara mengenai keadaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan keadaan di Jagaprayan. Lebih-lebih, mereka seolah tidak menganggap Pangeran Selarong ada di tengah-tengah mereka. Kegeraman putra raja itu semakin cepat menuju puncak namun ketika disadarinya bahwa sepasang mata sedang menatap lekat padanya, Pangeran Selarong kembali seperti kehilangan arah!
Agung Sedayu dan Pandan Wangi pun tersenyum dalam hati mereka. Ternyata mereka berdua juga tiba pada titik pemikiran yang sama pada gejala aneh yang muncul dari dalam hati Pangeran Selarong.
“Pangeran juga sudah tiba di sini,” ucap hangat Agung Sedayu.
Dalam waktu itu, Pangeran Selarong merasa bahwa Agung Sedayu sedang menjadi orang yang berbeda dari saat mereka bekerja sama menjelang hingga geger Alas Krapyak. “Apakah orang ini juga begitu pandai bermain watak?” tanya Pangeran Selarong pada dirinya sendiri di dalam hati. Seandainya dugaan itu benar, bukankah Agung Sedayu itu benar-benar orang yang berbahaya? Tapi dia tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk yakin pada dugaannya sendiri karena orang-orang sedang menunggu dirinya menyambut ucapan Agung Sedayu. “Seperti yang Ki Rangga lihat,” sahut pendek Pangeran Selarong.
Agung Sedayu mengangguk kemudian berkata, “Sepertinya kita sedang tidak diburu oleh waktu, jadi, mari, silahkan Pangeran berkeliling supaya saya, Pandan Wangi dan para pengawal mendapatkan pelajaran berharga.”
“Ini…!” geram Pangeran Selarong dalam hati. Sikap Agung Sedayu memang biasa saja atau tidak menggambarkan bahwa senapati pasukan khusus itu berada di Jagaprayan untuk mengawasi maupun menyeimbangkan keadaan. Apakah dia di sini untuk jalan-jalan atau tugas khusus dari Kepatihan? Mengapa dia begitu tenang? Atau memang dia tidak mengetahui adanya pasukan Mataram di tapal batas Jagaprayan? Tapi itu tidak mungkin! Ki Lurah Plaosan dan gadis muda itu sudah jelas berasal dari Kepatihan. Ruang pikiran Pangeran Selarong benar-benar penuh dengan tanya jawab yang sengit!
Agung Sedayu kembali tersenyum, lalu berkata, “Mari, saya dan Pandan Wangi dapat mengantar Pangeran menjelajah seluruh wilayah.”
Tiba-tiba Pangeran Selarong tertawa dingin. Meski pelan tapi nada suaranya begitu penuh dengan tekanan serta kegeraman. “Aku pikir kalian berdua tidak cukup bodoh dengan berpura-pura tidak mengerti tujuan kedatanganku ini.”
Agung Sedayu dan Pandan Wangi menatap lekat Pangeran Selarong.barang sesaat, lalu menunggu putra raja itu berkata-kata lagi.
“Aku dapat menghukum kalian semua dengan sikap dursila yang kalian tunjukkan di sini!” ucap lantang Pangeran Selarong. Kegeraman yang benar-benar dilepas, akhirnya. Setelah menarik napas panjang beberapa lama kemudian, pangeran Mataram ini berkata lagi, “Tapi aku tahu hukuman itu akan kalian jadikan alasan yang dapat mengikat hampir semua pergerakanku di masa mendatang. Bahkanyang terburuk adalah hukumanku dapat menjadi sebab pedukuhan atau kademangan ini melepaskan diri dari Mataram. Aku tahu karena kalian mempunyai kemampuan untuk melakukan itu.” Tapi Pangeran Selarong sadar bahwa dia harus segera menunjukkan wibawa sebagai putra raja, terutama ketika muncul perasaan pada Kinasih. Dia tidak ingin ada pemaksaan dengan kekuasaan demi menempatkan diri di dalam hati murid Nyi Banyak Patra tersebut.
