Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 78 – Lecut Ikat Kepala dan Desing Keris Kyai Santak

Pada halaman yang bersebelahan dengan bangunan induk, Kyai Bagaswara benar-benar telah berubah menjadi batu sandungan pertama yang sangat cadas. Kemampuannya berolah tangan kosong sangat sulit diatasi oleh Ki Garjita. Terlebih lagi ketika Ki Garjita sadar bahwa Kyai Bagaswara dengan cara yang  cerdas ternyata telah memisahkan dirinya dari kelompoknya. Tentu saja sudah tidak mungkin mengikuti kemajuan yang dapat dicapai anak buahnya. Maka Ki Garjita benar-benar mengamuk! Dia marah pada kebodohannya sendiri dan juga Kyai Bagaswara yang dianggapnya telah berbuat curang dengan membunuh dua pengikutnya secara gelap.

“Aku menyerang kalian dengan cara gelap? Bukankah kalian juga masuk ke rumah ini secara diam-diam? Bukankah kalian ingin membunuh perempuan itu lalu menculik anaknya yang baru lahir?” cecar Kyai Bagaswara.

“Gila!” sahut Ki Garjita. “Bagaimana kau dapat berpikir seperti itu? Apa alasanmu? Bukankah bualan saja dari orang tua yang tidak tahu apa-apa?”

“Ini bukan masalah orang tua atau orang muda, Ki Sanak. Tapi perbuatan kalian yang  masuk rumah ini tanpa permisi, lalu kalian duduk seperti sedang menunggu sesuatu di halaman belakang,” kata Kyai Bagaswara. “Hey, mengapa kau saat itu hanya diam saja meski dapat melihat pergerakanku?’

Pertanyaan Kyai Bagaswara justru terdengar seperti candaan yang menghina, menurut Ki Garjita. Memang dia dapat melihat seseorang bergerak sangat cepat bolak balik dalam waktu sangat singkat, hanya saja Ki Garjita tidak menduga ada orang lain di samping Sekar Mirah lantas membunuh dua anak buahnya.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Langit hitam Majapahit dan Bara di Borobudur  Jilid 1 (PDF). Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pertanyaan Kyai Bagaswara justru terdengar seperti candaan yang menghina, menurut Ki Garjita. Dia hanya dapat memandang lalu terpesona dengan kecepatan gerak orang yang seperti bayangan saja.

Dengan demikian, setelah memerhatikan perkembangan, Ki Garjita pun bersiap menapak tataran lebih tinggi. Dia tidak boleh lagi berbagi perhatian pada nasib anak buahnya. Dia sadar bahwa dirinya sendiri pun tak dapat menjamin keselamatannya sendiri. Kemudian dia berkata, ”Sekarang, bersiaplah. Mungkin kau akan bertemu dengan orang-orang yang telah mendahuluimu. Mungkin pula kau dapat selamat dari tanganku. Marilah, Ki Sanak.”

”Oh, bagus, bagus, itu kepercayaan diri yang memang seharusnya tumbuh dan terjaga dalam hati Ki Sanak,” ucap Kyai Bagaswara. Pria sepuh ini tersenyum, kemudian merenggangkan dua kaki.

Ki Garjita datang dengan serangan bagaikan badai. Kali ini dia tidak lagi mengandalkan tangan kosong untuk memukul jatuh Kyai Bagaswara. Sehelai kain dengan panjang lebih dari satu lengan meledak di udara! Sebuah ledakkan yang mungkin berkekuatan sama dengan lecut cambuk Agung Sedayu atau Swandaru pada masa awal mereka berguru pada Kyai Gringsing.

Kyai Bagaswara mengelak dengan loncatan pendek yang lincah ke kiri dan kanan. Hingga beberapa jurus di depan, Kyai Bagaswara masih terus menghindari serangan lawan.

”Gila,” geram Ki Garjita, “apa yang kau lakukan ini? Masih pula bermain-main seperti ini? Mengapa kau tidak malu dengan umurmu? Ayolah, aku tahu kau berkepandaian tinggi. Mari bertempur sesuai kemampuan masing-masing.”

“Apakah harus begitu?” bertanya Kyai Bagaswara dengan wajah yang dipasang tanpa dosa  seolah sedang meremehkan lawannya. “Apa yang aku dapatkan dari pertarungan hidup mati dengan Ki Sanak? Usiakuhanya berjarak sejengkal dari liang kubur. Jadi, terangkan padaku akhir dari sebuah pertarungan kanuragan.”

Ki Garjita mengabaikan ucapan Kyai Bagaswara. Maka dia pun menyerang lawannya itu dengan lecutan kain yang serupa dengan yang biasa digunakan sebagai ikat kepala. Serangan Ki Garjita datang membadai. Sabetan kainnya bertubi-tubi mematuk Kyai Bagaswara dari segala penjuru.

Tidak ada pilihan bagi Kyai Bagaswara selain mencabut keris Kyai Santak demi mengimbangi lawannya yang pergerakannya seperti angin ribut itu.

Yang terjadi kemudian adalah lingkar perkelahian mereka seakan enggan bergeser ke tempat lain. Itu sama sekali berbeda dengan gebrakan sebelumnya yang  sering beralih tempat meski hanya berjarak dua atau lima langkah. Tapi pertarungan itu memang menggiriskan! Sekali waktu mereka saling menjauh lalu sama-sama berbalas serangan dalam jarang yang sangat dekat.  Tata gerak dan pengerahan tenaga cadangan mereka ternyata mengerikan. Hamparan tanah dan kerikil halaman berhamburan ke segala arah. Suara ledakan ikat kepala Ki Garjita terus menerus seperti saling menindih dengan desing keris Kyai Bagaswara. Tenaga cadangan yang terungkap pun dapat dibayangkan ketinggiannya hingga suara dari senjata pun seolah mempunyai medan tempur yang terpisah!

Ikat kepala Ki Garjita – yang tampak seperti tarian ular – lincah berkelit dari sabetan keris Kyai Bagaswara yang mencoba melumpuhkannya. Bila tidak mungkin untuk menghindar, Kyai Bagaswara pun sengaja memutar keris agar terbelit senjata lawan tapi Ki Garjita dapat menghindarinya melalui serangan susulan dari tendangan atau pukulan. Demikian pula saat Kyai Bagasara menyerang melalui celah yang timbul dari putaran senjata lawan, maka Ki Garjita akan mencoba mematuk urat nadi atau persendian lawannya. Maka pertarungan pun meningkat semakin sengit dan semakin susah dipahami. Mereka berdua selalu dapat memanfaatkan secara penuh dari setiap serangan meski belum benar-benar mencapai harapan.

Sementara perkelahian seru kemudian terjadi pada gelanggang para pengawal kademangan yang didukung prajurit dari kotaraja. Ketika Bunija meninggalkan mereka dengan membawa serta pengawal lainnya, keseimbangan sedikit berubah. Sungguh, kemampuan para penyusup memang cukup hebat tapi semangat pengawal kademangan tak surut dengan segala kelebihan lawan mereka. Lebih baik mereka yang menjadi korban daripada Sekar Mirah atau putrinya yang jatuh ke tangan musuh, demikian isi batin pengawal kademangan. Mereka sangat berani dan dengan trengginas mengatasi para penyusup yang kemampuannya ada di bawah orang-orang yang mengepung Sekar Mirah.

Seorang prajurit Mataram yang berusia tak jauh dari Bunija segera mengambil alih kendali perintah. Meski belum secakap seorang lurah, tapi dia mempunyai persiapan yang cukup baik sehingga gelar tempur pengawal dapat menyulitkan para penyusup. Kesulitan yang dialami pengawal segera ditutup oleh prajurit Mataram yang terdekat, maka dan tentu saja keadaan itu kembali mendatangkan kejutan pada anak buah Raden Atmandaru. Terlebih prajurit yang datang dari kotaraja itu telah dibekali wawasan khusus yang kemudian menjadi perbedaan dengan prajurit biasa. Mereka memang bukan pasukan khusus tapi termasuk bagian dari satuan pelindung kotaraja. Maka sudah barang tentu kemampuan para prajurit itu semakin melemahkan kelompok penyusup.

“Mereka tidak memperlihatkan kelemahan padahal pemimpinnya dan sebagian kawan-kawannya telah keluar dari lingkaran,” ucap seorang penyusup dalam hati. Dia tidak seorang diri, kawan-kawannya pun juga terkejut melihat hanya sedikit perubahan saja yang terjadi pada kemampuan tempur pengawal kademangan. Bahkan mereka terperangah kemudian ketika mengikuti arah pergerakan Bunija dan sebagian pengawal. Tapi itu tidak berlangsung lama karena pengawal kademangan sudah menjadi bagian sulit bagi mereka pada malam itu. Sampai saatnya kemudian, kelebihan jumlah dan kemampuan prajurit Mataram menjadi keuntungan yang datang pada saat terakhir. Satu demi satu lawan mereka tumbang.

Kini Sekar Mirah terbantu dengan kedatangan delapan cantrik ditambah Bunija. Sekar Mirah tak lagi bertarung sendirian. Sepak terjang Bunija dan kawan-kawan pun menjadikan Sekar Mirah lebih terlindungi.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 11 – Saksi Kematian Pengkhianat

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 105 – Agung Sedayu Tertimpa Berita Palsu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 110 – Hari Keempat Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.