Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit menoreh 97 – Kinasih ; Apakah Agung Sedayu Pernah..?

Namun Ki Jayaraga adalah orang yang berpengalaman sangat luas sehingga dapat menyadari bahwa sinar mata Kinasih turut pula berbicara.

“Mungkin memang seperti itu, Ngger. Kalian berdua terikat dengan perintah maupun pesan dari Ki Rangga. Sehingga setiap dari kalian dapat memusatkan perhatian pada kepercayaan yang diberikan oleh Ki Rangga,” kata Ki Jayaraga.

Kinasih mengangguk. “Sepertinya memang sulit menyembunyikan sesuatu dari pandangan Kyai dan juga Ki Gede,” ucap Kinasih dengan tatap mata memandang lantai tanah.

“Oh, kalian sudah bertemu pula dengan Ki Gede? Sudah barang tentu beliau pasti senang sekali melihat kedatangan Angger berdua,” ujar Ki Jayaraga dengan mata berbinar-binar. Pantaslah dia merasa turut bahagia karena Ki Jayaraga tahu keseharian Ki Gede yang kadang-kadang tampak merenung seorang diri di beranda belakang rumah dengan tatap mata jauh menerawang angkasa.

Mungkin tidak hanya memikirkan Pandan Wangi tapi setelah gerakan Raden Atmandaru merambah jauh sampai Sangkal Putung dan Alas Krapyak, Ki Gede belum pernah dapat menikmati waktu dengan segenap kelonggaran. berita demi berita diterima dari pedagang keliling, pengembara yang singgah di banjar pedukuhan dan juga petugas sandi dari pasukan khusus. Hal yang membuatnya bangga adalah sepak terjang Pandan Wangi sebagai kepala keamanan Pedukuhan Jagaprayan. Meski sementara saja, tapi penunjukan itu serta restu dari Kraton sudah menjadi pengakuan terhadap diri Pandan Wangi. Memang ada kemungkinan ada campur tangan Agung Sedayu, tapi Senapati Mataram itu pun tidak mungkin mengatakan sesuatu tanpa pertimbangan.

Selain kabar baik, kabar buruk pun pasti juga mengiringi karena demikianlah kehidupan memang berpasangan. Keputusan Pangeran Purbaya untuk menghukum Swandaru sebagai tahanan rumah seolah mencoreng kehormatannya sebagai alah satu pemuka di Mataram yang disegani. Sungguh, keterlibatan Swandaru dalam gerakan makar Raden Atmandaru menjadi pukulan yang sangat berat tapi harus diterimanya dengan lapang dada.

“Biarpun aku dapat menghibur diri dengan ucapan bahwa Swandaru terjebak, tapi tetap saja ada bantahan. Usia dan pengalaman Swandaru seharusnya tidak memberi izin segala bujuk rayu memasuki pikirannya,” kata Ki Gede di depan Ki Jayaraga pada suatu senja.

Kembali ke percakapan di rumah Agung Sedayu.

Kinasih menanggapi pertanyaan Ki Jayaraga dengan anggukan kepala. sejenak kemudian dia berkata, “Saya tidak pernah mengira atau membayangkan jika akhirnya dapat mengenal Ki Gede lebih dekat. Nama beliau terlebih dulu tiba di tempat kami, sebuah desa terpencil di daerah Pajang. Banyak orang membicarakan kebaikan dan juga kemajuan Tanah Perdikan sehingga kami dapat membuat gambaran pemimpin mereka. Dan, yah, meski tidak tepat seluruhnya tapi seperti itulah yang saya bayangkan mengenai Ki Gede Menoreh.”

Ki Jayaraga mengembangkan senyum kemudian melanjutkan percakapan tentang sekelumit kehidupan di Tanah Perdikan. Dia juga menceritakan kisah kelam yang dialami wilayah itu tapi tidak seluruh bagian.

Malam pun menapakkan jejak di tanah perbukitan yang membentang sangat luas itu.

“Aku akan mengantarkan Angger ke rumah Ki Gede, marilah,” kata Ki Jayaraga sambil beranjak.

Kinasih mengangguk, lalu berkata, “Saya di sini untuk tidak merepotkan Kyai mapun orang lain, terutama Ki Gede. Kyai, tanah ini jauh lebih aman dibandingkan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi.”

Ki Jayaraga memandang wajah Kinasih dengan sinar mata yang mampu menerobos kedalaman hati murid Nyi Banyak Patra. “Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan menyusul ke sana. Sampaikan rasa hormatku pada beliau.”

Sejenak kemudian, mereka sadar terhadap sesuatu. Yah, benar, Sukra tiba-tiba menghilang dari ruang belakang dan juga lingkungan rumah Agung Sedayu. Ki Jayaraga dan Kinasih pun tertawa kecil. Betapa mereka abai dengan keberadaan Sukra.

Dalam waktu itu, Ki Jayaraga sempat terhenyak. Ki Jayaraga merasa tidak benar-benar hanyut dalam percakapan karena pendengarannya masih dapat menangkap suara yang berasal dari kelompok orang-orang yang berada di luar.  Jika dia tidak mendengar desir langkah anak itu, bukankah Sukra telah menyimpan kemampuan lebih di dalam dirinya? Betul, kemampuan menyerap bunyi! Seandainya benar, maka pasti ada orang yang berada di balik pencapaian hebat itu.

Lamunan Ki Jayaraga kemudian terhenti saat mereka sudah berada di regol ruumah Agung Sedayu. Ki Jayaraga memandnag punggung Kinasih sambil membuat dugaan terhadap gadis itu. Jika Agung Sedayu memilihnya untuk mendampingi Sukra, maka sudah dapat dibayangkan tingkat kepecayaan senapati Mataram itu terhadapnya. Ki Jayaraga menggelengkan kepala lalu mencubit dagunya. Dia sempat berpikir bahwa orang dapat saja salah mengira gadis itu adalah Sekar Mirah atau Pandan Wangi. Ki Jayaraga tersenyum sendiri menyadari kenyataan mereka mempunyai perawakan yang nyaris sama apabila dilihat dari belakang.

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Penaklukan Panarukan ini bergerak di antara strategi, ketegangan batin, dan akibat yang tidak selalu bisa dipilih. Tidak semua tokohnya yakin, tidak semua perintah terasa benar, namun roda sejarah tetap berputar tanpa menunggu keraguan manusia.

Penaklukan Panarukan  membaca penaklukan sebagai proses yang melelahkan, dingin, dan sering kali sunyi. Bukan kisah tentang yang paling berani, tapi yang sanggup menanggung akibat paling lama

.

Kinasih semakin jauh meninggalkan rumah Agung Sedayu. Di depannya membentang jalan yang cukup lebar yang agak menikung ke utara.  Pada samping  kiri dan kanan jalan sudah tampak pula nyala oncor dan obor yang menerangi sebagian badan jalan. Itu sudah lebih dari cukup, pikir Kinasih.

Saat tiba di salah satu persimpangan, Kinasih berhenti sejenak lalu mengamati sekitarnya. Sebuah gardu masih sepi dari penjaga tapi beberapa orang sudah tampak berjalan dengan membawa perlengkapan untuk perondaan. Kinasih mengayun langkahnya kembali tapi dia tidak mungkin berpapasan dengan sekelompok orang tadi. Mereka berangkat dan menuju arah yang berbeda. Demikianlah kemudian Kinasih melenggang dengan kaki yang menapak tegas menuju rumah Ki Gede Menoreh.

Sambil menikmati suasana permulaan malam, Kinasih membayangkan dirinya adalah Agung Sedayu yang sedang berjalan sendiri menuju rumah Pandan Wangi. Pikirannya pun berlari-lari liar. Apakah mungkin Ki Rangga Agung Sedayu pernah menjalin hubungan di masa lalu dengan Nyi Pandan Wangi? Andaikata mereka pernah terikat, dengan alasan apakah Nyi Sekar Mirah tiba-tiba turut hadir di tengah hubungan itu? Kinasih tersenyum sendiri saat sadar bahwa dirinya sudah terlampau jauh membiarkan pikirannya menjadi liar. Sambil meredakan  dan menghimpun segala pemikiran yang berhamburan, Kinasih pun tiba di depan regol rumah Ki Gede.

Seorang penjaga menghentikannya. “Selamat malam,” ucap pengawal tersebut sambil menatap tajam padanya dengan sinar mata menyelidik.

Kinasih mengangguk, katanya kemudian, “Ki Sanak.” Walau demikian, dia tidak merasa risih dan Ki Gede terlihat olehnya sedang duduk di pendapa.

Penjaga atau pengawal yang berusia lebih muda dari Sukra itu mengerutkan kening. Dia agak merasa aneh dengan panggilan yang ditujukan padanya. Kemudian dia bertanya, “Siapakah Ni Sanak? Ada keperluan apakah sehingga berhenti di sini?”

Dari pendapa terdengar suara tepuk tangan sekali. Oh, rupanya Ki Gede Menoreh sedang menarik perhatian penjaga regol. Setelah melihat tanda dari pemimpin Menoreh tersebut, penjaga pun mengizinkan Kinasih untuk masuk.

“Aku sengaja menunggumu di sini,´kata Ki Gede Menoreh ketika Kinasih sudah berada di dalam pendapa.

Kinasih mengangguk, lalu katanya, “Terima kasih, Ki Gede.”

“Masuklah,” ucap Ki Gede lalu memanggil seorang wanita berusia enam puluhan tahun. Setelah mengarahkan wanita tersebut, Ki Gede  meminta Kinasih agar mengikuti pelayan kediaman itu.

Malam masih belum masuk wayah sepi bocah ketika Kinasih duduk kembali bersama Ki Gede di pendapa. Sinar bulan terhalang mendung tipis yang berarak di bawah langit perbukitan Menoreh.

Ki Gede mengawali percakapan dengan pertanyaan ringan seperti keadaan Sukra maupun Ki Jayaraga. Lalu sedikit menyinggung rumah Agung Sedayu yang dibangun ulang termasuk menarik penyebabnya ke dalam pembicaraan. Kinasih, seperti biasanya, bersikap tekun mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Ki Gede Menoreh.

“Aku harap Angger tidak keberatan bila ada beberapa keadaan di Sangkal Putung yang ingin aku tanyakan ulang,” kata Ki Gede.

Kinasih menjawab tegas tanpa meninggalkan nada lembut pada suaranya, “Silakan, Ki Gede.”

Ki Gede lantas bertanya mengenai benturan singkat di Slumpring yang hampir menewaskan Agung Sedayu, seputar percobaan pembunuhan terhadap Ki Patih Mandaraka di kotaraja, keadaan medan Watu Sumping dan keamanan Sangkal Putung. Dalam waktu itu, Ki gede masih bersikap sama dengan pertemuan pertama. Dia tidak menyinggung nama Pandan Wangi maupun Swandaru. Meski demikian, Ki Gede telah mendapatkan gambaran hampir keseluruhan di dalam pikirannya untuk disesuaikan dengan keadaan Tanah Perdikan.

“Aku harap Angger tidak keberatan untuk mengulang jawaban seperti tadi,” kata Ki Gede pada akhir pertanyaannya.

Bertanya balik adalah sikap yang mustahil dilakukan Kinasih. Dia tahu jika sedang berhadapan Ki Gede Menoreh yang terpatri dalam perasaannya adalah orang yang setara dengan gurunya atau Panembahan Hanykrawati. Maka, dengan sepenuh keinginan untuk bertanya, pandang mata Kinasih terhunjam pada lantai yang diinjaknya. Gadis itu lantas berpikir tentang kemungkinan ada orang datang lalu duduk bersama mereka. Orang itu bisa saja kepala keamanan Tanah Perdikan atau salah satu bawahan Ki Rangga di barak pasukan khusus, pikirnya. Benar, tak lama setelah dia berpendapat seperti itu, Prastawa pun tiba di kediaman Ki Gede Menoreh.

Setelah sedikit bertukar sapa, Prastawa kemudian mengenalkan diri sebagai sepupu Pandan Wangi.

Kinasih mengangguk dengan senyum mengembang tipis. Penampilan cukup  yang berwibawa untuk ukuran kepala keamanan sebuah wilayah yang sangat luas seperti Tanah Perdikan, pikirnya.

Seperti yang disampaikan pada Kinasih sebelumnya, maka pertanyaan dari Prastawa pun hampir senada dengan Ki Gede Menoreh. Kinasih menjawab sesuai yang diketahuinya berdasarkan pandangan maupun pendengarannya. Murid Nyi Banyak Patra itu dapat mengendalikan diri dengan tidak mengungkapkan pendapat pribadi. Dia tahu bahwa itu semua adalah wewenang Agung Sedayu atau Pandan Wangi, nantinya.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 94 – Nyaris!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 117 – Derap Senyap Regu Pembunuh – Benturan Dusun Benda

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 85 – Rehat Sejenak Sang Senapati

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.