“Kami berdua tidak berada pada kedudukan yang pantas untuk mencari kelemahan rencana Ki Tumenggung,” ucap Ki Kertapati penuh hormat. “Suasana di Pedukuhan Jagaprayan sedang dalam guncangan. Itu bukan keadaan yang cukup baik, saya kira. Maka saya pikir melakukan pembicaraan dengan kepala keamanan mereka pun dapat menebar rasa curiga di antara pengawal maupun orang-orang yang sedang ditahan.”
“Ada alasan yang dapat diterima oleh pengawal pedukuhan, termasuk para pemimpin mereka adalah orang ini harus mempunyai hubungan baik dengan Nyi Pandan Wangi,” kata Ki Untara.
Baik Ki Kertapati maupun Ki Songoyudan sama-sama memeras ingatan dengan pertanyaan ; siapa di antara prajurit Jati Anom yang dapat diterima banyak kalangan di Jagaprayan? Kebanyakan lurah prajurit hanya mengenal para ketua regu pengawal atau sebagian bebahu pedukuhan. Itu belum cukup, pikir mereka.
“Ki Lurah berdua,” kata Ki Untara kemudian.
“Saya, Ki Tumenggung,” ucap Ki Kertapati dan Ki Sangayudan serempak.
“Mohon salah satu dari Ki Lurah berkenan untuk memanggil Sabungsari,” perintah Ki Tumenggung Untara terucap dengan nada pelan.
Senyum lebar mengembang pada wajah dua lurah prajurit Mataram itu. Mereka tidak terpikirkan nama itu, Sabungsari. Yah, lurah muda itu mungkin terlalu banyak berkegiatan di luar Jati Anom dengan berbagai macam tugas khusus. Kali ini, lagi-lagi, Sabungsari menjadi pilihan Ki Untara untuk membantu Pedukuhan Jagaprayan dalam menangani orang-orang yang ditahan oleh Pandan Wangi.
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
Ki Sangayudan segera mengajukan diri menjadi orang yang akan memanggil Sabungsari. Perasaan lurah yang berusia lebih setengah abad itu begitu berbunga-bunga. Secercah harapan datang di ufuk hatinya. Dia mengundurkan diri dari pertemuan dengan langkah lebar disertai harapan besar.
Tak lama kemudian, derap kaki-kaki langkah dua lurah prajurit Mataram terdengar mendekati tempat pertemuan. Sabungsari menjadi harapan Jati Anom dalam upaya mereka membebaskan petugas sandi yang ditahan bersama-sama dengan sejumlah orang dengan berbagai latar belakang. Sabungsari segera mengambil tempat duduk di samping Ki Kertapati. Ki Sangayudan pun sebelah menyebelah dengannya. Sabungsari sedikit rikuh saat diapit dua lurah tersebut. “Ini, sebenarnya ada apakah?” tanya Sabungsari dalam hati saat sudah berhadapan lurus dengan Ki Untaradirga.
“Sabungsari. Sebelum masuk ke dalam inti persoalan, aku ingin bertanya padamu terlebih dulu,” kata Ki Untara.
“Saya, Ki Tumenggung,” sahut Sabungsari.
“Apakah ada semacam beban atau persoalan yang masih melayang-layang dalam benakmu? Aku tanyakan itu karena kau baru saja kembali dari Alas Krapyak dan kita semua tahu ada sandungan yang sangat berat di sana,” kata Ki Untara.
Sabungsari membuang napas cukup panjang seolah selesai menurunkan beban sangat berat dari pundaknya. “Kepedihan itu masih membayang dan seperti engan pergi dari pelupuk mata saya, Ki Tumenggung,” ucap Sabungsari kemudian dengan nada penyesalan, “saya datang terlambat meski segalanya telah dapat dikendalikan oleh Pangeran Mas Rangsang serta Ki Rangga dibantu prajurit pilihan lainnya.”
“Keterlambatan itu bukan semata kesalahanmu, tapi setiap orang harus menanggung bersama,” kata Ki Tumenggung Untara. “Jika kau ragu dan masih merasa berat menjalankan tugas selanjutnya, aku akan memudahkannya untukmu.”
Sabungsari berpikir sejenak, kemudian berucap, “Sebagai prajurit, saya tidak punya hak untuk menolak atau menyatakan keberatan. Atas segala yang telah dan akan terjadi, seorang prajurit harus mengemban tugas dengan kepala tegak.”
Ki Untara mengangguk-angguk, lalu berkata,”Aku mengenalmu sangat baik jadi aku tidak punya alasan untuk tidak memilihmu. Tapi ada kekhawatiran dalam hatiku tentang tugas ini.” Kakak kandung Agung Sedayu ini lantas menyandarkan punggung. Dia berkata lagi,”Tugas ini tidak langsung berhubungan senjata atau perkelahian. Maka aku merasa perlu untuk bicara denganmu bersama-sama Ki Sangayudan serta Ki Kertapati.”
Melalui pikirannya yang tajam, Sabungsari segera menghubungkan pertemuan itu dengan keadaan di Jagaprayan. Sebelum memenuhi panggilan Ki Untara, Sabungsari pun sudah membuat kesimpulan sendiri mengenai keputusan Pandan Wangi. “Baiklah, aku akan menunggu panglima lereng selatan Merapi ini menjelaskan lebih mendalam,” ucap hati Sabungsari.
Seperti yang diharapkan Sabungsari, Ki Untara kemudian mengurai isi pikirannya secara perlahan-lahan. Keadaan di dalam bilik pun seketika menjadi sunyi. Hanya suara Ki Untara saja yang mengapung di udara, selain itu? Tidak ada. Tiga prajurit bawahannya pun menyimak penuh seksama. Meski ada sedikit perbedaan di alam pemikiran, tapi tiga prajurit itu tidak memperlihatkan penolakan. Ini hanya pikiran saja, demikian yang mereka katakan dalam hati.
Seorang petugas sandi yang menyamar sebagai penjual wedang keliling meminta izin agar dapat bertemu Ki Untara. Setelah Ki Untara memberikan perkenan, pembicaran singkat pun terjadi di antara mereka. Wajah Ki Untara seketika berubah sedikit pucat. Tampak bibirnya bergetar ketika menanyakan sesuatu pada petugas sandi itu. Dua wajah berhadapan-hadapan dengan kesungguhan yang lebih menyiratkan pada rasa khawatir.
Tiga lurah Mataram – Sabungsari, Ki Kertapati dan Ki Sangayudan – hanya dapat memandang percakapan itu dengan sejumlah pertanyaan di dalam benak masing-masing. Karena mereka mengenal baik petugas sandi yang datang menemui Ki Untara, maka tiga orang itu segera paham bahwa hanya keadaan yang sangat genting saja yang dapat menggerakkan petugas sandi tersebut.
“Baiklah,” kata Ki Untara beberapa lama kemudian setelah menghela napas panjang. “Ki Lurah boleh mengundurkan diri dari Jati Anom lalu kembali pada kedudukan semula di Sangkal Putung. Kami segera membahasnya lalu secepatnya melakukan sesuatu demi perkembangan itu.”
“Saya, Ki Tumenggung,” sahut petugas sandi itu yang ternyata berpangkat lurah. Dia kemudian menatap satu demi satu tiga rekannya, kemudian mengucap beberapa kata sebelum benar-benar keluar dari ruangan khusus itu.
Ki Untara tidak segera berkata-kata pada tiga bawahannya. Dia membutuhkan waktu untuk mengolah laporan sandi menjadi penjelasan yang tidak serta merta mengacaukan rencananya. “Perkembangan terakhir yang dibawa oleh Ki Selokawing ternyata … cukup mengejutkan,” kata Ki Untara. “Hmmm, bukan cukup mengejutkan tapi sangat, ya, sangat mengejutkan.”
Sabungsari serta dua lurah lainnya mengerutkan kening, lalu bertukar pandang. Mengejutkan? Seperti apakah itu?
“Merunut ke belakang, ke masa ketika Alas Mentaok belum dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan dan putranya, saya mengenal Pandan Wangi sebagai gadis yang cukup jauh dari kekerasan. Meski menguasai beberapa tata dasar kanuragan tapi itu bukan pertanda kuat bahwa dia menyukai kekerasan<’ kata Ki Untara memecah keheningan. “Pada perjalanan selanjutnya, Pandan Wangi terlibat dalam pembukaan Alas Mentaok dan segala yang terkait dengan perjalanan Mataram pada mulanya. Bahkan waktu awal pernikahannya yang ternoda oleh sepak terjang Gandu Demung sehingga berlumuran darah, itu tetap tidak mampu mengubahnya menjadi wanita yang haus darah. Pandan Wangi masih jauh dari kekerasan hingga beberapa waktu lamanya. Namun, Ki Selokawing mengabarkan suatu perubahan yang sangat besar sedang terjadi dalam diri Pandan Wangi dan yang sedang diperbuatnya.”
Ki Untara menghentikan ucapan. Dia seperti sedang membutuhkan udara lebih banyak untuk mengisi rongga dadanya. Sementara itu, tiga bawahannya masih menunggu kelanjutan uraian dari tumenggung mereka.
“Hukuman mati,” kata Ki Untara singkat.
Tiga lurah Mataram pun terhenyak. Siapa yang berkata itu dan kepada siapa hukuman itu? Apakah kabar mengejutkan itu adalah Pandan Wangi yang membuat keputusan hukuman mati?
“Hukuman mati,” ulang Ki Untara sambil mengembus napas panjang. “Pandan Wangi memutuskan akan menghukum mati setiap orang asing di Pedukuhan Jagaprayan jika tidak ada orang yang mengurusnya selama tiga hari sejak penangkapan.”
“Itu gila!” seru Sabungsari. Dia benar-benar tidak percaya dengan yang diucapkan Ki Tumenggung Untara. Benar, dia memang pantas tidak percaya karena dia mengenal sangat baik perempuan tangguh dari Tanah Perdikan Menoreh tersebut. “Bagaimana mungkin Nyi Pandan Wangi membuat keputusan gila semacam itu?”
