Setelah mengucapkan beberapa pesan terakhir, mereka pun mengambil jurusan yang berbeda.
Agung Sedayu tengadah sambil berharap dalam hati agar salah satu dari mereka dapat bertemu dengan Pandan Wangi. Senapati Mataram ini pun segera mengarahkan kuda pada jalan menurun yang berujung pada gardu jaga pertama dan kayu-kayu yang menghalangi sebagian badan jalan. Sedangkan Ki Lurah Plaosan dan kawannya, yang mengenakan penutup wajah, berkuda tanpa banyak kata. Mereka berbalik arah kemudian mengambil belokan ke kanan. Di simpang tiga, mereka akan melintas barisan pohon randu, selepas itu akan sampai di regol utama pedukuhan.
Beberapa kejap mata kemudian, Agung Sedayu telah tiba di depan gardu jaga Pedukuhan Jagaprayan. Sebentang luas pategalan tampak menghijau dengan tanaman palawija di atasnya. Saat melihat pemandangan itu, Agung Sedayu serasa terlempar ke masa lalu. Ada kerinduan terhadap kehidupan masa lalu di Kademangan Sangkal Putung. Dia pernah menjelajahi hampir seluruh wilayah kademangan itu bersama Swandaru dan gurunya, Kyai Gringsing. Itu adalah masa-masa awal dirinya mulai menyadap ilmu yang diturunkan Empu Windujati. Kenangan memang tidak dapat lagi diulang tapi selamanya masih dapat tergali, Agung Sedayu mengenang dalam hati.
“Berhenti!” perintah salah satu pengawal. Orang ini sepertinya sedang bertugas sebagai ketua regu jaga saat itu.
Agung Sedayu menghentikan laju kuda, melompat turun lalu berjalan pelan ke arah gardu. Beberapa pertanyaan dari penjaga regol seperti tempat asal dan tujuan dijawabnya dengan tenang. Dari sikap dan cara bicara para pengawal yang bertugas di sisi itu, maka dapat dipahami bahwa mereka tidak mengenali Agung Sedayu.
“Baiklah, sebut namamu dan orang yang kau kenal di pedukuhan ini!” perintah penjaga gardu.
“Nama saya adalah Sedayu. Orang yang saya kenal di pedukuhan ini adalah Ki Klodran,” jawab Agung Sedayu sambil menyebut nama orang yang terkenal keahliannya dalam perkayuan dan bangunan.
Penjaga itu mengerutkan kening. Jawaban itu tidak salah, tapi ada kejanggalan karena Ki Klodran adalah nama yang memang cukup dikenal di beberapa dusun dan pedukuhan, pikirnya.
Jawaban Agung sendiri ternyata memancing perhatian dari ketua regu pengawal. Saat dia mendengar Jati Anom disebut sebagai tempat asal, maka nama Sedayu pun kemudian terangkai dalam pikirannya. “Sedayu dari Jati Anom, apakah orang itu adalah Ki Rangga Agung Sedayu?’ dia bertanya dalam hati. Kemudian ketua regu, yang mempunyai nama Gemantar, itu mendekat lalu memperhatikan Agung Sedayu dari atas ke bawah. Sejenak kemudian, dia bertanya dengan nada meminta, “Apakah Ki Sanak dapat menunjukkan tanda keprajuritan?”
Penjaga regol yang mendengar pertanyaan itu cepat mengerutkan kening. Siapakah orang ini? Mengapa ketua regu meminta orang itu mengeluarkan tanda keprajuritan? Penjaga regol pun bertanya-tanya dalam hati.
Agung Sedayu tersenyum sambil mengagumi ketegasan ketua regu itu. Pelan-pelan tanda keprajuritan pun dikeluarkannya dari balik ikat pinggang lalu mengangsurkan lebih dekat pada Gemantar.
“Benarlah ternyata,” kata Gemantar lugas. “Aku tidak salah lagi, Ki Sanak adalah Ki Rangga Agung Sedayu.” Gemantar dapat mengenali sebagian tanda keprajuritan karena sempat bergabung menjadi prajurit Mataram. Setelah beberapa bulan, dia pun mengundurkan diri karena kesehatannya yang tidak lagi menunjang.
“Jadi, saat ini, Nyi Pandan Wangi berada di regol utama pedukuhan?” tanya Agung Sedayu pada Gemantar setelah mereka berdua menjauhi gardu jaga.
“Benar, Ki Rangga. Penghubung kami melaporkan tentang adanya serombongan pasukan bersenjata yang datang dari arah kotaraja.”
“Apakah kalian sudah mendapatkan nama pemimpin pasukan tersebut?” Agung Sedayu lanjut bertanya.
Gemantar menggeleng. “Kami tidak diperbolehkan meninggalkan tempat oleh Nyi Pandan Wangi.” Dia memandang wajah Agung Sedayu, lalu bertanya, “Apakah Ki Rangga hendak ke sana? Mari, saya perintahkan pengawal untuk mendampingi Anda.”
Yang terhormat para penggemar kisah silat. Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat/Jumat Berkah. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
Menggeleng kemudian menjadi jawaban Agung Sedayu. Kemudian dia berkata, “Saya akan ke sana tapi… biarlah… saya berjalan sendiri. Kepatuhan pada perintah Nyi Pandan Wangi adalah sesuatu yang wajib dilakukan segenap pengawal. Bila seorang saja meninggalkan tempat ini, itu berarti ada satu lubang yang dapat dimanfaatkan oleh lawan. Gemantar, kau tidak perlu lakukan itu. Kita tidak boleh membuat kesalahan.”
“Saya mengerti,” tukas Gemantar. Selanjutnya, ketua regu ini pun menambahkan sejumlah keterangan – yang menurutnya – dapat dijadikan Agung Sedayu sebagai bahan pertimbangan.
Demikianlah, sesudah percakapan singkat dengan Gemantar, Agung Sedayu beranjak pergi meninggalkan gardu jaga dengan berjalan kaki. Meski hatinya berdebar karena keterangan tambahan Gemantar termasuk tanda-tanda yang menjadi ciri satuan khusus. “Besar kemungkinan yang menjadi pemimpin pasukan itu adalah salah satu dari putra Panembahan Hanykrawati,” ucap Agung Sedayu dalam hati saat menduga susunan pasukan yang datang dari kotaraja itu.

Ketika Ki Lurah Plaosan berdua hampir tiba di regol utama, kesunyian nyata menguasai keadaan. Pandan Wangi duduk tegak di atas punggung kuda dengan sikap penuh wibawa. Sedangkan di depannya adalah Pangeran Selarong dengan sikap yang tak kalah mentereng. Pancaran semangat jelas membayang pada wajah mereka berdua.
“Dengan sikapmu itu, apakah aku dapat menganggapnya sebagai pembangkangan terhadap perintah Raden Mas Rangsang sebagai raja baru Mataram?” tanya Pangeran Selarong.
“Saya tidak pernah berniat membangkang atau segala macam yang hampir sama dengan kata itu,” ucap Pandan Wangi. “Saya hanya melindungi pedukuhan, orang-orang dan juga tanah ini. Andai Pangeran berprasangka buruk, saya tidak mampu mengendalikan pikiran dan perasaan orang lain.” Dia lantas meminta salah satu pengawal memberinya tongkat panjang.
Setelah menimbang-nimbang segala akibat, dengan pandang mata setajam pedang, Pangeran Selarong kemudian berkata lantang, “Baiklah.Aku ikuti kemauanmu!”
Pandan Wangi tidak menyahut. Dia sudah bersiap untuk pergerakan Pangeran Selarong yang menghentak kudanya maju sambil menggerakkan tombak pendek yang tergenggam di tangan. Pandan Wangi dapat melihat tujuan lain dari lawannya yang muda usia itu. Pangeran Selarong tidak akan membunuhnya, Pandan Wangi sangat yakin dalam hatinya. Maka dia pun menyambut serangan Pangeran Selarong dengan putaran tongkat yang dahsyat.
Dua ekor kuda meringkik nyaring saat dua penunggang saling menyambar, membabat dan menusuk sambil terus bergerak. Permukaan jalan mengepulkan debu yang kian lama kian tebal. dengan sigapnya ia menggerakkan senjatanya.
Pertarungan di atas punggung kuda pun semakin lama meningkat sengit dan menegangkan. Namun demikian, sentuhan-sentuhan Pangeran Selarong masih belum berhasil mencapai sasaran karena Pandan Wangi begitu terampil mengendalikan kuda. “Ini kemampuan yang sangat jarang dijumpai di Mataram,” ucap hati Pangeran Selarong memuji kecakapan perempuan Tanah Perdikan. Menurut pangeran muda Mataram itu, kemampuan Pandan Wangi di atas kuda dapat disetarakan dengan para senapati berpangkat panji. Pandan Wangi juga mampu berdiri di atas punggung kuda sambil melontarkan serangan hebat. Keseimbangan yang mengundang decak kagum Pangeran Selarong. Itu kemampuan luar biasa!
Pangeran Selarong melarikan kuda ke arah pasukan Mataram. Pandan Wangi sengaja tidak memburunya karena dia yakin Pangeran Selarong tidak mungkin meninggalkan gelanggang. Keyakinan itu terbayar! Sekejap kemudian, Pangeran Selarong kembali merangsek lawan dengan serangan gencar, menghantam Pandan Wangi dari segala penjuru. Tetapi putri Ki Gede Menoreh itu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, maka tongkatnya berputar=putar dahsyat hingga mengeluarkan bunyi sayap lebah yang mendengung. Benturan senjata pun terjadi dan itu sangat mengejutkan Pangeran Selarong!
Kekuatan wadag Pandan Wangi ternyata bertolak belakang dengan sikap dan penampilannya yang halus. Bila kekuatan wadagnya sudah sedemikian hebat, bagaimana dengan tenaga cadangannya? Pikiran Pangeran Selarong dipenuhi dengan pertanyaan serupa. Satu keadaan yang pasti dapat diterimanya adalah pencapaian Pandan Wangi adalah buah dari usaha yang panjang dan keras. Mendapati kemampuan Pandan Wangi yang menggiriskan, Pangeran Selarong pun mengubah cara bertempur. Sedikit demi sedikit, dia mengalirkan tenaga cadangan pada setiap gempuran.
Namun Pandan Wangi yang lebih berpengalaman pun dapat mengatasi hujan serangan lawan dengan tata gerak yang menakjubkan.
