Padepokan Witasem
Bab 2 Benih

Benih 3

“Aku akan menunggu ayah memberi perintah untuk ini,” desahnya dalam hati. Agaknya ia dapat menahan diri untuk tidak mendesak ayahnya.

Sejenak kemudian ayahnya memintanya untuk berdiri, lalu lelaki tua itu menyentuh beberapa simpul urat di punggungnya. Tubuhnya yang semampai merasakan nyeri luar biasa saat jemari kokoh ayahnya mengetuk pelan satu dua simpul urat belakangnya.

“Dua tempat telah tertutup ketika hawa pukulan Ki Rangga menggapai punggungmu. Kelengahanmu itu menjadi sebab pertahananmu yang akhirnya terbuka,” ayahnya berkata.

“Saya mencemaskan keselamatan Raden Andum Pamuji sehingga saya menjadi lengah.” Mangesthi jujur mengakui kesalahan yang ia lakukan.

Kemudian ia berkata lagi, “Saya memang merasakan seperti tusukan jarum melukai punggungku. Namun saat itu saya tidak merasakan sesuatu yang janggal terjadi pada saya, Ayah. Semua berlangsung seperti biasa, Saya tidak terhalang untuk bergerak maupun meningkatkan kekuatan.” Perempuan yang beranjak ke usia matang itu bersuara dengan mata yang menunjukkan keheranan.

“Apakah pada saat kau dapat merasakan rasa nyeri itu meresap hingga ke tulangmu?” bertanya lelaki itu dengan nada datar.

“Tidak,” jawa perempuan muda itu sambil menggelengkan kepala. Kemudian ia duduk di tepi amben bambu yang berada di ujung ruangan.

“Salah satu sifat khusus dari ilmu yang dikuasai Agung Sedayu adalah tenaganya dapat menjadi berlipat, begitu pula dengan kecepatan yang ia miliki. Semua yang ada dalam dirinya akan berlipat ganda. Lalu ketika ia bergerak, memukul atau menahan serangan maka seluruhnya akan disertai dengan kekuatan cadangan yang sangat hebat.” Lelaki tua itu memandang tajam pada anaknya.

“Tetapi, Ayah. ….!” ia terdiam sejenak.

Lelaki tua itu kemudian memberinya tanda untuk melanjutkan ucapannya yang terputus.

Mangesthi lalu melanjutkan, ”Pada malam itu, saya melihat gerakannya masih berada di bawah kecepatanku. Jadi saya mengira Ki Rangga berada di tataran yang seperti aku duga. Dan ketika sambaran angin pukulannya menerpa punggung, saya masih berpikir jika itu adalah satu kebetulan.

“Baru saya menyadari gambaran kekuatannya pada saat Ayah menjelaskan sifat ilmu dari Ki Rangga Agung Sedayu.” Ia lalu mengingat betapa ayahnya melesat dengan kecepatan tinggi lalu menahan laju Ki Tumenggung dengan tangan terbuka mendorongnya surut. Dan dengan satu kibasan ayahnya telah melemparkan beberapa prajurit yang mengepungnya.

“Ah!” Perempuan itu berdesah tertahan saat menyadari jika ia telah kehilangan pengamatan diri.

“Kau telah mengerti?” tanya lelaki tua itu seakan mengerti tentang apa yang sedang dipikirkan oleh anak satu-satunya yang ia miliki.

“Saya menyadari itu, Ayah. Maafkan saya!” wajah cantik perempuan itu menunduk dalam-dalam.

“Sudahlah, sekarang kau telah mengerti ketinggian ilmu Ki Rangga Agung Sedayu. Ia melambatkan gerak karena telah mengalihkan perhatiannya darimu. Sekar Lembayung yang aku lepaskan, pada akhirnya dapat mencegahnya menanjak selapis lebih tinggi.”

“Meskipun ia telah mewujudkan dirinya menjadi empat?” Sedikit tidak percaya menyertai pertanyaan gadis muda yang sebenarnya sudah cukup untuk melangkah ke arah menuju dewasa.

“Benar.” Ayahnya menganggukkan kepala lalu melanjutkan, ”mungkin itu adalah kelebihan yang dimiliki Ki Tumenggung dengan ilmunya. Sepengetahuanku ilmu Kakang Kawah sangat jarang dikuasai orang pada zaman sekarang. Dan lagipula para pemilik ilmu ini selalu melipatgandakan kekuatan dan kecepatannya sebelum membelah diri. Tetapi agaknya Ki Agung Sedayu benar-benar orang yang mungkin hanya dapat dikalahkan oleh Panembahan Hanykrawati saja.”

”Sekarang kita keluar barang sebentar. Marilah! Aku ingin memberitahu tentang ilmu Sekar Lembayung sekaligus untuk menguji kekuatan simpulmu yang sempat terganggu oleh Agung Sedayu,” kata lelaki itu sambil membuka pintu dan melangkah keluar.

“Ayah!” seru anak perempuan itu dari dalam ruangan.

Lelaki itu memutar tubuhnya dan memandang wajah anaknya dengan dahi berkerut. Sesaat ia terkenang wajah ibu dari anaknya itu, kemudian katanya,  ”Semakin kau dewasa, wajah ibumu semakin tampak jelas di mataku.” Lelaki itu kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Lalu bagaimana dengan rencana kita esok?” perempuan muda itu tampak semakin menarik ketika dahinya berkerut.

Related posts

Leave a Comment