Padepokan Witasem
KBA

Ia Bernama Sanumerta 2

Ladang.

Sawah dan hartanya.

Rasa sesal dan bersalah menjadi hantu baginya.

Genap seratus hari dari langkahnya meninggalkan rumah, Sanumerta menuai karma. Sanumerta terus berpindah dan memburu dekap demi dekap banyak wanita. Ia merindu hangat sebagai penawar luka kematian istrinya di ujung belati.

Sanumerta kini berwajah bopeng dan tumbuh koreng semenjak meninggalkan rumah.

Ia berusaha menebus sesal dengan tutur kata ramah. Orang berpaling muka saat ia menyapa.

“Bilakah aku berhenti?” Sanumerta bertanya pada satu masa. Tanpa lelah, ia menempuh jalan panjang dan sunyi. Hingga tiba di depan sebuah bangunan sederhana. Orang berkata bahwa penghuni rumah itu adalah orang terkemuka. Saleh dan disegani penduduk langit.
Duduk bersimpuh. Jiwa Sanumerta terkulai. Tak berkuasa ia menatap mata orang saleh.

Kepadanya, Sanumerta berkisah tentang perjalanannya.

“Menghentikan hidup seorang kekasih adalah khianat yang tak terampuni.” Sang alim menyentuh dada Sanumerta.

“Sebuah pengampunan membutuhkan darah penebusan.”

“Penebusan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang bijak.”

“Aku akan mengambil jalan menuju kebijakan.”

“Kau harus disucikan.”

Tenaga Sanumerta kembali mengisi tubuh yang gontai. Ucapan orang saleh itu tiba-tiba berubah menjadi air yang membasahi lembah kering. Api lemah yang tertumpuk jerami kering telah disiram minyak dari biji jarak.

Sanumerta bangkit. Ia mengulang lagi. Perbuatan yang dilakukan dalam bungkus pakaian yang lama.

“Darahmu adalah tebusanku untuk kesucian, Pendosa!” Sanumerta berpaling. Meninggalkan jasad orang yang dituturkan banyak orang sebagai pemuka yang disegani penduduk langit.

Ia menuju pintu dengan menenteng belati membasah merah. Berlalu menyisir jalan berdebu. Orang semakin menjauh darinya saat berpapasan. Napas anyir menebar di udara. Mengurung setiap jiwa yang terjaga dan dijaga. Merenggut sukma di awang-awang melayang tanpa tujuan.

Bersayap ratusan dengan mulut menganga penuh bara, makhluk ajaib menghadang jalannya.

“Kau telah menjadi tuhan,” makhluk ajaib berkata.

Sanumerta meradang marah.

“Apakah itu pendapatmu?” Sanumerta bertanya.

Yang ditanya rapat mengunci bibirnya.

“Apa yang tahu dari kuasa?“ lanjut Sanumerta.

Yang ditanya mematung diam dengan mata menyala.

“Aku katakan padamu bahwa kekejaman Tuhan telah dinyatakan melalui kedua tanganku,” jelas Sanumerta. “Kamu tidak mempunyai hak membunuhku.”

“Kau telah membunuhku!” makhluk ajaib yang tak sebut namanya menghunus pedang.

“Kau yang menyatakan itu! Bukan aku!”

Semesta bergolak.

Jawaban Sanumerta membuatnya marah. Jagad raya tak berdaya mencegah ucapannya.

Ia adalah Sanumerta. Lelaki bertubuh langsing dengan mata seorang pecundang. Penuh murka menantang penjaga neraka.

Ia mengayun langkah. Membelah kampung dan desa. Menyusuri jalanan kota. Meninggalkan cahaya mata setelah menenggelamkan istrinya di tengah sawah. Menempuh perjalanan panjang yang akan memisahkan hidupnya sebagai ayah.

“Cinta adalah kebengisan tanpa tara,” ucapnya pada binal bergincu membara.

“Pergilah menuju siksa!” tandas wanita berpinggul kecil dengan bibir mendesah. Pergulatan desah dan keringat sangat hebat terjadi di antara mereka. Mereguk nikmat dalam siksa. Sanumerta mencari penawar untuk hatinya.

“Kemarilah, lelaki perindu wanita! Kau dan aku adalah pendosa tiada tara.” Sanumerta luluh. Kebutuhan jasad menuntut penuntasan. Merampok bukan pekerjaan mudah, katanya. Mencuri adalah perbuatan dosa, menurutnya.

Maka belati disiapkan. Hari terlalu pagi untuk menjadi saksi ketika darah kembali mengalir. Pemuas dengan angka urut menuju belasan telah tuntas!

“Binal yang menggairahkan!” desis Sanumerta. Puas!

Sungai yang tak begitu lebar dipandangnya sebagai pemakaman yang lumrah.

Berguncang angkasa ketika malaikat penghuni langit memadu kata.

“Dua, tiga, empat…delapan,” Menyala tatap mata malaikat penyanggah jagad raya. Geram suara penuh gelora.

“Pergilah!” Gelegar tanpa tutur mengguncang dinding semesta.

“Aku lakukan apa terhadapnya?”

“Lakukan saja yang kau suka bila kau lebih baik darinya.”

Penjaga langit menggelepar dengan rona wajah membara. Memasung marah dalam ledak cemeti bertangkai palung samudera. Lalu mereka memilih untuk membeku!

Sanumerta tengadah wajah. Ia tidak melihat murka. Dan ia tidak terlihat marah.

Di sebuah pemukiman, ia duduk di bawah pohon bidara. Mengangkat dada saat alim menyapa.

“Kau, siapa?”

“Sanumerta.” Kemudian, tanpa diminta, ia berkisah tentang hidupnya. Tentang rumput yang enggan bertegur sapa. Tentang udara panas yang menyapu wajah. Ia mengabarkan setiap jengkal dari tanjakan dan turunan yang telah dilewati.

Orang alim menunduk lalu berkata, “Aku tidak melihat cinta di dalam sinar matamu. Aku sedang berbicara di depan gerbang kematian dengan telaga kering yang berada dibaliknya. Telaga yang hanya berisi belulang dan garis-garis tanah yang membujur lintang. Dan aku tahu bila aku melewati gerbang saat malam menjelang, itu akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang kau katakan sebagai rasa sakit.”

“Aku tidak peduli. Saat ini aku terkulai di hadapanmu. Tertembak jatuh oleh sesuatu yang dikatakan orang bernama cinta. Lalu kau bicara tentangnya. Cinta.

Related posts

Leave a Comment