0%
Still working...

Mara Bebaya 4 – Aroma Darah di Sekitar Rakai Panangkaran

Dironda 35 kali

Pada saat yang sama, di sebuah ruangan yang lembap dan temaram, waktu serasa berjalan lebih lambat. Bau harum yang lembut mengambang di udara, bercampur dengan udara dingin dan hembusan angin yang enggan memasuki ruangan. Cahaya tidak dapat dan hanya tampak bila pintu atau jendela menyisakan celah.

Dyah Murti duduk bersimpuh di atas lantai batu tanpa sandaran. Punggungnya tetap tegak, tetapi tubuhnya basah oleh keringat. Butiran-butiran bening mengalir dari pelipis, membasahi leher, lalu meresap ke kain yang melekat pada tubuhnya. Ada sisa-sisa kelelahan dari garis-garis wajahnya.

Dari luar bangunan, langkah-langkah kaki terdengar bergegas mendekat. Mula-mula samar, lalu semakin jelas, menyusuri lorong-lorong batu yang masih menyimpan hawa malam. Pintu di ujung ruangan terbuka perlahan. Cahaya pucat fajar menyelinap sesaat sebelum tertahan oleh tubuh-tubuh yang memasuki ambang.

Wong Awulung melangkah lebih dahulu. Sepasang matanya segera tertuju pada Dyah Murti yang masih bersimpuh tanpa bergerak. Di belakangnya, Gita Nervati menyusul dengan sisa-sisa ketenangan. Mereka berhenti beberapa langkah dari putri Rakai Panangkaran itu. Tidak satu pun segera mengucapkan kata-kata. Mereka hanya saling bertukar pandang.

Wong Awulung kemudian mendekat dengan langkah hati-hati. Dia bersila di hadapan Dyah Murti tanpa menyentuhnya. Gita Nervati mengambil tempat bersebelahan dengan Wong Awulung.

Tidak ada sambutan atau sapaan Dyah Murti pada mereka berdua. Matanya masih terpejam. Dadanya masih bergerak naik dan turun. Keheningan masih menguasai ruangan hingga Dyah Murti menggetarkan bibirnya.

“Aku melihat padang rumput yang bertabir kegelapan. Pertempuran itu adalah keanehan yang tak pernah aku saksikan sebelumnya. Aku sadar, aku tidak sedang mengintip. Aku hadir di tengah pertempuran itu. Bahkan, aku pun bertarung meski dengan cara yang berbeda di sisi kalian.

“Surak Kelurak mendatangiku di tempat ini saat kalian masih berjibaku dengan makhluk-makhluk yang tidak berdaging dan bertulang itu. Aku tahu kalian mengalami kesulitan tapi Kreol tetap di samping kalian hingga pertempuran usai. Usai tanpa ada kekalahan dan kemenangan. Pertempuran kalian usai karena memang harus selesai. Begitu pula di tempat ini. Surak Kelurak meninggalkanku sebelum ada akhir yang menentukan nasib kami berdua. Dia pergi bukan karena kalah atau menang. Dia pergi karena ingin pergi. Demikian pula diriku. Aku tidak mengejarnya karena tidak ingin berada di dekatnya,” ucap Dyah Murti perlahan tanpa membuka mata.

“Kalian dapat menikmati hidangan yang akan diantarkan sesaat lagi,” Dyah Murti melanjutkan.

Tak lama setelah kalimat itu diucapkan, derap kaki pelayan bagian dalam terdengar oleh mereka bertiga. Lima perempuan muda menyajikan hidangan pagi di atas sebuah tikar pandan yang mengeluarkan aroma wangi. Tanpa ada suara berisik, para pelayan bekerja dengan cekatan dan hanya memandang Dyah Murti sesaat sebelum meninggalkan ruangan—tanpa kata-kata.

Dyah Murti mengangguk. Kelopak matanya tetap terpejam.

“Silakan menikmati hidangan itu lebih dahulu,” katanya lirih.

Wong Awulung dan Gita Nervati saling berpandangan sejenak. Mereka tidak segera bergerak. Setelah Dyah Murti mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat, keduanya bergeser mendekati tikar pandan tempat hidangan telah tersusun rapi.

“Jangan merasa sungkan,” lanjut Dyah Murti. “Pagi ini masih panjang, sedangkan yang akan kita bicarakan memerlukan kepala yang jernih.”

Untuk sesaat, hening kembali menyergap, kemudian Dyah Murti berkata lagi,”Ra Gawa akan datang. Dia membawa keterangan yang penting bagi kita.”

Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat. Ra Gawa muncul dari lorong samping, memasuki ruang lembab itu pendapa dengan sikap hormat. Setiba di hadapan Dyah Murti, dia membungkukkan badan.

Dyah Murti mengangguk tanpa kata-kata lalu memandang Wong Awulung dan Gita Nervati.

Kemudian Ra Gawa mengambil tempat duduk di hadapan Dyah Murti. Jaraknya sedikit lebih dekat daripada dua punggawa Medang yang lain. Tetapi Dyah Murti tidak memintanya bicara.

Perempuan itu berkata dengan suara tenang, “Ra Gawa telah memperoleh apa yang kita perlukan setelah menghadap ayahku, Rakai Panangkaran.”

Ra Gawa mengangguk.

Sejenak pandangannya beralih kepada Ra Gawa, lalu kembali kepada Wong Awulung dan Gita Nervati.

“Dia melihat segerombol orang yang berkumpul di dekat sebuah perkemahan yang cukup besar, tapi cukup tersembunyi dari pandangan orang yang melintas jalan yang menghubungkan ibukota dengan sebuah gunung di sebelah utara. Dari waktu perjalanannya, perkemahan itu berjarak sekitar dua hari perjalanan dari sini. Ra Gawa melihat banyak senjata dan kuda-kuda yang tampaknya disiapkan untuk perang. Penjagaan dan perondaan, menurut pengamatannya, yah, cukup ketat.”

Dyah Murti berhenti sejenak sebelum meneruskan, “Ada banyak pedati yang terbungkus rapat di tengah-tengah perkemahan. Jika kalian mempunyai gagasan mengeni isi muatan pedati itu, jangan sungkan untuk berkata. Aku tidak mampu melihat nya dari sini karena Surak Kelurak begitu sering menggangguku. Tapi, dari sikap dan keadaan yang dilihat ra Gawa, aku yakin mereka pun memiliki tujuan yang sama dengan sekelompok besar prajurit yang berhenti pada arah Jati Raga.”

Ra Gawa menganggukkan kepala perlahan, membenarkan setiap kata yang diucapkan Dyah Murti.

Dyah Murti mengakhiri penjelasannya dengan tenang. “Anda bertiga, ambillah makanan itu. Kita masih mempunyai cukup waktu sebelum mengambil keputusan.”

Wong Awulung dan Gita Nervati saling berpandangan, lalu mengangguk hormat.

“Sebentar lagi, aku akan menemui penguasa Bhumi Mataram,” lanjut Dyah Murti.

Seorang gadis muda tiba-tiba muncul dari lorong yang tersambung ke bangunan utama di dalam lingkungan istana. Tanpa menunggu tanggapan orang di ruangan, gadis itu berdiri di samping pintu ketika Dyah Murti bangkit lalu berjalan meninggalkan ruangan.

Wong Awulung, Gita Nervati dan Ra Gawa cepat memberi hormat, lalu menyingkir ke sisi jalan, membiarkan Dyah Murti berjalan seorang diri.

Namaku Dyah Murti.

Beberapa saat kemudian aku telah berada di hadapan ayahku, Rakai Panangkaran.

Ibuku, Lis Prabandari telah lebih dahulu duduk mendampingi suaminya. Ruangan itu tidak menyerupai balairung kerajaan ataupun ruang perundingan yang biasa digunakan untuk menerima para punggawa. Dinding-dindingnya terasa lebih rapat, udaranya lebih sejuk, sementara cahaya yang masuk begitu terbatas sehingga sukar menebak letaknya.

Aku pikir ruangan ini berada jauh di bawah permukaan tanah. Namun aku sedang tidak ingin banyak dugaan melintasi pikiran atau menganggu perasaanku. Enyahlah, aku ingin bayangan ruang itu cepat berlalu.

Orang melihatku memejamkan mata saat berjalan menuju ruangan ini. Tapi dari balik kelopak mataku, aku tahu tanpa perlu melihat arah atau jalan yang membawaku ke sini, tempat yang lebih pantas dikatakan sebagai ruang bagi tahanan.

Dari balik kelopak mataku, aku tahu ada seorang gadis pelayan berjalan beberapa langkah di depanku. Dia cukup berjalan sebagai penunjuk arah tanpa perlu menyentuh tangan atau menuntunku. Aku biarkan kakiku mengalir begitu saja dengan kesadaran yang tidak aku pahami ketika setiap belokan telah aku kenal seluruhnya sejak lama.

Aku berhenti beberapa langkah di hadapan kedua orang tuanya lalu gadis pelayan itu meninggalkanku. Aku tahu dia menoleh padaku meski aku tidak membuka mata.

Kakiku membawa diriku memasuki ruangan. Tidak terdengar sapa, tidak pula sembah hormat. Ayah dan ibuku duduk tenang seakan sudah mengetahui sesuatu mungkin ada di dalam keterangan Ra Gawa. Ataukah mereka justru sedang menunggu ucapanku? Entah, aku tidak tahu.

Sejenak. Tanpa suara yang mengudara, tanpa bunyi yang terpecah. Sunyi.

Sesaat kemudian, di antara udara yang mengalir pelan dan nyaris tanpa aroma, tercium selarik bau amis yang nyaris tidak kentara. Bau itu tidak mempunyai wujud tapi dapat melingkari atau menjadi tirai tipis membelit tubuhku. Aku dapat merasakan dan mengendus bau itu.

Aku tahu ada sesuatu yang ganjil memasuki ruangan, apakah Rakai Panangkaran dan Lis Prabandari mengetahui itu? Setidaknya, apakah mereka  menyadari atau merasakan keanehan yang sedang terjadi?

Hanya saja, aku tidak ingin terpaku untuk mencari jawaban dari dua pertanyaan yang muncul dalam pikirannya. Aku hanya ingin duduk tenang dengan punggung tegak tapi Rakai Panangkaran tidak memerintahkanku melakukan itu. Tapi, nyatanya, aku masih berdiri dengan pikiran tertuju pada ayah dan ibuku. Aku tahu mereka sedang menatap padaku dengan raut wajah seakan menantikan sesuatu. Apakah itu kata-kataku atau orang lain yang mungkin menyusulku? Aku enggan memberitahumu.

Dari hatiku, aku mengetahui bahwa Rakai Panangkaran bertukar pandang dengan Lis Prabandari tapi pikiran mereka? Siapa tahu?

  • Namaku Dyah Murti. Boleh jadi, malam nanti aku datang padamu meski di alam mimpi. Bisa jadi, aku menemui seperti Mara Bebaya. Meski aku tidak berbahaya, meski aku tidak menginginkan hidupmu, tapi aku adalah Dyah Murti.
  • Jadi, aku harap kamu tidak merindukanku karena sebenarnya yang perlu kamu datangi adalah orang-orang asing yang datang pada zaman Majapahit di Pendadaran 2 karena jaraknya terlalu jauh, waktu tempuh juga terlalu lama untukmu. Tapi semua terserah padamu.
  • Jika kau ragu, lebih baik kau datang ke Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 33 ketika Agung Sedayu meluncur turun dari tebing demi memenuhi tantangan Swandaru dalam duel Pancuran Watu Item. Pergilah.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.