Dironda 63 kali
Malam berlalu. Sedikit demi sedikit warna langit berubah. Burung-burung mulai terdengar dari arah yang berbeda-beda, mula-mula satu dua suara, lalu makin ramai.
Embun masih menempel pada ujung daun ketika mereka mulai berkemas seperlunya. Jejak tempat bermalam dirapikan sekadarnya agar tidak terlalu mudah dikenali dari kejauhan.
Amuger Klinter berdiri lebih dahulu, memandang arah timur, lalu berkata, “Kita bergerak.”
Ki Astaman mengangguk dan mulai memimpin jalan lagi.
Pagi itu mereka tidak mengambil arah lurus. Mereka menyisir daerah yang berada di antara barak dan rumah Agung Sedayu.
Jalur yang dipilih seperti orang yang tidak ingin terlalu dekat ke salah satu tempat. Kadang mereka bergerak di balik rumpun bambu, kadang mengikuti tepian kebun dan tanah kosong yang ditumbuhi semak rendah.
Dari beberapa tempat yang agak tinggi, mereka dapat melihat tanda-tanda kehidupan di barak dan pedukuhan induk.
Asap tipis. Pergerakan sejumlah orang. Dan sekali waktu tampak garis pagar yang terlalu teratur untuk menjadi batas kebun biasa. Tetapi mereka tidak mendekat.
Setelah cukup lama menyisir daerah itu, Ki Astaman mengubah arah sedikit—sebuah lengkungan yang makin lama makin jelas.
Jatayu bertanya pelan, “Kita menjauh?”
Ki Astaman menjawab tanpa menoleh, “Memutar.”
“Ke mana?”
Ki Astaman diam sesaat sebelum berkata, “Ke arah kediaman Ki Gede Menoreh.”
Amuger Klinter memandang punggungnya sebentar. Pikirnya, jalur itu memang masuk akal bila seseorang tidak ingin terlihat datang langsung dari daerah barak. Tetapi tetap saja ada pertanyaan yang belum selesai.
Mengapa menuju ke sana?
Ki Astaman tetap berjalan dengan langkah yang tidak berubah.
Seakan arah itu memang sudah ada dalam pikirannya sejak semalam, hanya belum saatnya diucapkan.
Perubahan arah itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya tidak lagi tampak tanda-tanda yang dapat dikaitkan dengan barak ataupun rumah Agung Sedayu. Jalan yang mereka tempuh lebih menyerupai jalur orang dusun yang sesekali dipakai membawa hasil kebun.
Udara pagi mulai kehilangan kesabaran.
Amuger Klinter memperlambat langkah kemudian berhenti.
Ki Astaman yang berada di depan akhirnya berhenti pula lantas menoleh.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Amuger Klinter memandang sekeliling seolah menimbang letak mereka. “Kita sudah melihat lingkungan sekitar barak dan itu aku kira cukup.”
Ki Astaman berdiam diri.
“Terima kasih sudah menunjukkan jalur yang kau katakan,” lanjut Amuger Klinter.
Dengan kening berkerut, Ki Astaman menatap lekat Amuger Klinter.
Orang dekat Ki Jabon Seta itu menyambung ucapannya, “Kalau kau hendak kembali ke Separang, silakan. Kami masih punya urusan sendiri.”
Tidak ada pujian dalam ucapannya. Tidak pula terdengar sepenuhnya percaya. Namun cukup jelas bahwa tugas yang diberikan kepada Ki Astaman dianggap selesai.
Sesudah itu Amuger Klinter bergeser setengah langkah.
Ki Astaman memandang padanya beberapa saat kemudian mengangguk pelan. “Kalau begitu aku pergi.”
Usai membetulkan letak bungkusan yang menyelempang di punggungnya. Ki Astaman berbalik lalu berjalan seorang diri ke arah Gunung Kendil.
Amuger Klinter mengangguk.
Ki Astaman berjalan tanpa tergesa karena memang terbiasa menempuh jalan jauh seorang diri. Namun setelah beberapa saat, ketika jalur mulai menanjak pelan dan pepohonan kembali rapat, dia memperlambat langkah.
Sejak meninggalkan Amuger Klinter , beberapa kali dia menangkap pergerakan ringan di sekitarnya. Bukan satu, tapi dua orang. Untuk menghadang mereka, Amuger Klinter pasti curiga dan dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya karena Ki Astaman masih melihat peluang meskipun kecil pada kelompok Ki Jabon Seta.
Ki Astaman lantas berhenti di dekat pohon randu yang tumbuh miring, tanpa menoleh atau bersikap waspada. Santai saja dengan tubuh merendah—duduk di atas batu lalu menyandarkan punggung.
Dia hanya mengangguk berulang-ulang.sehingga tampak kesan sedang berusaha tidak ketiduran. Cukup lama hingga dia benar-benar memejamkan mata.
Tidak lama kemudian, Ki Astaman kembali berjalan hingga pada belokan sempit, tampak dua orang muncul dari arah depan. Dia tidak mengenali mereka—seorang bertubuh agak tinggi dengan wajah tenang tapi pandangan matanya terus menyelidik. Di sampingnya adalah lelaki yang lebih muda, langkahnya ringan dan tatapannya cepat bergerak. Senjata mereka berdua rapi tersimpan di balik punggung.
Ki Warujayeng dan Jaka Awar-Awar berhenti tepat di tengah jalan seakan menghadang Ki Astaman..
Dua orang ini secara sengaja mengamati barak pula pada waktu yang sama dengan pergerakan Ki Astaman bersama dua pengikut Ki Jabon Seta. Sasaran pengawasan pun beralih: dari barak ke iring-iringan Ki Astaman.
Saat itu, Ki Astaman pun menyudahi langkah pada jarak yang cukup menjaga diri dari satu kemungkinan buruk. Keningnya berkerut—menduga kehendak dua orang yang tepat berada di depannya.
“Apakah ada yang diinginkan Ki Sanak berdua terhadap diri saya atau sesuatu yang lain?” Ki Astaman bertanya setelah keheningan hinggap di antara mereka.
Justru Jaka Awar-Awar yang pertama memberi tanggapan meski dia berusia lebih muda dari Ki Warujayeng. Dia mengangguk kemudian berkata, “Benar tapi saya kira tidak cukup pantas bicara di tengah jalan yang sepi ini.”
Ki Astaman menoleh ke sekitar lalu lurus menatap Jaka Awar-awar, ucapnya, “Tidak ada kedai maupun tempat yang cocok untuk sebuah pembicaraan. Ki Sanak berdua dapat melihat sekitar kita hanya pohon dan semak berduri.”
Jaka Awar-awar menggeleng dengan senyum tipis. Katanya, “Tentu tidak di sini, Kyai. Mari saya tunjukkan jalan.”
Ki Astaman diam beberapa saat, membiarkan kata-kata Jaka Awar-Awar mengendap. Baginya, ajakan itu terdengar seperti undangan, tetapi cara mereka berdiri tidak memberinya pilihan selain menerima. Tatap matanya bergeser pada Ki Warujayeng.
Namun orang itu tidak berbicara. Sejak tadi lelaki itu hanya memperhatikan—seolah menyerahkan seluruh percakapan pada kawannya yang lebih muda.
Ki Astaman akhirnya berkata pendek, “Silakan.”
Jaka Awar-Awar mengangguk lalu berjalan ke arah Ki Astaman datang. Ki Astaman segera menyadari perubahan arah itu.
Mereka pun berjalan bersama tanpa banyak kata yang terucap. Jaka Awar-Awar memimpin di depan. Ki Astaman di tengah. Ki Warujayeng sedikit tertinggal di belakang. Tak lama kemudian, mereka menempuh jalur yang sebelumnya dilewati Amuger Klinter dan Jatayu saat berkeliling.
Susunan itu sudah diperhitungkan oleh Ki Astaman sadar: dia tidak punya pilihan setelah lepas dari ikatan Ki Jabon Seta. Pikiran pertama yang muncul dalam benaknya adalah kemungkinan buruk—mungkin mereka bagian dari pengawasan Menoreh. Atau orang-orang lain yang juga sedang mencari sesuatu.
Saat itu mereka sudah agak jauh tapi Jaka Awar-Awar tidak menunjukkan tanda ingin mendekati lingkungan barak.
Mereka melintas lebih jauh.
Sekali waktu, dari sela pepohonan, Ki Astaman melihat pagar dan atap yang dikenalnya dari kejauhan. Barak itu masih seperti sebelumnya. Tidak ada gerakan yang luar biasa.
Jaka Awar-Awar tidak berhenti dan terus membawa mereka menyisir sisi luar hingga perlahan arah berubah lagi.
Ki Astaman tetap tenang.
Tidak lama kemudian terdengar suara air. Sebuah sungai kecil. Airnya mengalir tidak deras, membelah tepian yang dipenuhi batu-batu licin dan rumpun bambu rendah.
Ki Astaman sadar bahwa tempat itu cukup dekat dengan kediaman Ki Gede Menoreh dan barak pasukan khusus. Bahkan dia sudah berpikiran bahwa jika seseorang memahami letaknya, maka keberadaannya sulit diketahui pengawal yang berjaga karena benar-benar tersembunyi dari jalan utama.
Jaka Awar-Awar berhenti. Ki Astaman berdiri beberapa langkah darinya lalu memandang sekeliling.
Ki Warujayeng membuka suara untuk pertama kalinya, ““Ki Sanak tampaknya mengenali daerah ini.”
“Tidak terlalu baik,” sahut Ki Astaman, “hanya cukup agar tidak tersesat.”
Ki Warujayeng mengangguk lalu melihat Jaka Awar-Awar duduk di batu lalu mengambil ranting kecil dan memutarnya di tangan.
“Mohon maaf, Kyai,” ucap Jaka Awar-awar, “sebelumnya kami tidak mengira bertemu kedua kali dengan Kyai.”
Ki Astaman menautkan alis.
Setelah menghela napas panjang, Jaka Awar-awar bangkit berdiri kemudian selangkah maju lebih dekat dengan Ki Astaman. Katanya, “Di bagian timur barak, kami sempat melihat Kyai berjalan bersama dua orang lalu kami juga melihat beberapa orang yang sepertinya sedang membayangi perjalanan Kyai.”
“Rupanya pengamatan mereka juga cukup cermat,” kata Ki Astaman dalam hati dan memang dia menduga bahwa perjalanannya bertiga terhubung dengan sesuatu yang lain.
- Kerusuhan Besar ini sebenarnya panjang atau besar ketika pada titik ini ternyata kisah belum pula usai. Anggapan ini cekup menggelitik benak Ki Warujayeng yang menyimpan dendam membara pada Agung Sedayu.
- Sementara di bagian lain, terlihat Ki Astaman melempar pandangan ke arah lain. Kenangannya pun merambah hingga zaman Kerajaan Kediri. Yah, dia mengetahui bahwa “Rasa penasaran sempat membayangi hati Ki Arumpaka. Ia sebelumnya merasa telah dapat menduga ketinggian ilmu Toh Kuning namun kini Toh Kuning justru mampu membatasinya dan mengimbanginya dengan cara yang hampir sama.” Deret kalimat yang tertulis di dalam cerita silat Jawa online itu memang ada di Pengepungan 3.
- Bagaimana Ki Astaman kerap lolos dari sergapan prajurit Mataram? Mengenai hal ini, Jaka Awar-Awar mengatakan di Siasat Gajah Mada 3, Ki Astaman sempat menguping pembicaraan di antara Mpu Nambi dan tokoh lainnya. jadi ya wajar dia cukup cerdas dan tenang.
