0%
Still working...

Bondan – Bara di Borobudur (Kilas Kisah Tapak Ngliman): Intai Maut dari Pedukuhan Tenang

Dironda 17 kali

Perjalanan utusan Tanah Menoreh berubah menjadi langkah yang penuh kewaspadaan ketika tanda-tanda bahaya bermunculan di sebuah pedukuhan yang tampak tenang dari luar. Di balik keramahan penduduk, tersembunyi permainan yang melibatkan kepentingan jauh lebih besar daripada sekadar perjalanan dagang.

Bondan, Ki Hanggapati, Ki Swandanu, dan Ken Banawa menyusun siasat dalam senyap. Setiap pertemuan, setiap percakapan, bahkan setiap hidangan yang tersaji dapat menjadi penentu hidup dan mati. Sementara itu, Jalutama dituntut menjaga ketenangan orang-orang Menoreh di tengah tekanan yang semakin menghimpit.

Di sisi lain, sebuah padepokan yang memiliki pengaruh kuat ternyata telah menyiapkan rencana besar. Keserakahan, ambisi, dan kekuasaan berjalin menjadi ancaman yang perlahan menutup semua jalan keluar bagi rombongan Menoreh.

Pertempuran yang tak terelakkan menjadi pembuka dari rangkaian benturan yang lebih besar, sekaligus menguji keberanian setiap tokoh yang terlibat.

  • Setelah melontarkan kata bernada tajam, Swandaru terlempar pada bayangan kekuatan Agung Sedayu. Dia juga mendengar dari percakapan orang-orang yang singgah di Pedukuhan Majasanga. Saat itu Swandaru sedang berada di Dusun Ringinlarik yang beralamatkan di Hari Bising di Bukit Menoreh 35
  • Tidak ada angin dan hujan saat Jaka Tingkir atau Mas Karebet mendapat bentakan “Kau tidak akan sampai di Demak.” Sangar, asli sangar. Kami haturkan penuh kebanggaan untuk Anda: Wedhus Gembel 1

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.