Dironda 22 kali
Dengan tangan mengepal, Zhe Ro Phan menyambut dengan semangat menggebu, dia mengatakan senang jika bersama Wong Asman. Lelaki berambut putih ini adalah seorang cantrik yang disegani oleh semua orang di padepokan. Dia dikenal ulet dalam berlatih dan tidak pernah menolak permintaan cantrik yang membutuhkan bantuannya.
Selang waktu yang agak lama, Resi Gajahyana dan Kao Sie Liong segera memacu kuda menuju istana Pajang. Dan dari dua tempat yang berbeda, Ki Banyak Abang serta Ki Nagapati pun berangkat menuju titik yang sama.
Sama halnya dengan padepokan Resi Gajahyana, kedua tempat yang dipenuhi prajurit itu pun telah melakukan kegiatan penuh waspada. Hilir mudik orang dengan tugas masing-masing, cahaya obor di banyak tempat serta kata-kata yang diucapkan dengan keras telah menjadikan tiga tempat itu seperti memasuki keadaan siang hari.
Meski perintah akhir dari Bhatara Pajang belum diputuskan olehnya, namun setiap orang telah paham dengan kata sandi yang diucapkan oleh pemimpin mereka. Para utusan meneruskan satu kalimat dari Bhatara Pajang, kalimat yang hanya dimengerti oleh para senapati.
Demikianlah Pajang membangkitkan kekuatannya. Segenap daya telah dibangkitkan, semesta di sekitar wilayah Pajang bernyanyi lantang tentang kehormatan.
Dua pasang mata memandang tajam tiga ekor kuda yang melesat keluar dari balik gerbang istana Pajang. Sejenak mereka beradu pandang dengan sinar mata penuh tanya. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba bergerak menyeberangi jalan dan merapatkan telinga pada dinding halaman istana.
“Aku tidak mendengar satu suara pun. Tidak ada yang aneh! Lalu mengapa tiga ekor kuda dipacu melebihi biasanya?” Dia mencoba untuk menjawab sendiri ketika memutuskan kembali ke tempatnya semula.
“Apa yang kau lakukan di sana? Telah jelas bagi kita untuk mengabarkan perkembangan ini ke Ki Juru,” kata orang bertubuh jangkung pada kawannya ketika ia telah duduk di sampingnya.
Kawannya membalas dengan pandang mata tajam, dia berkata, “Belum ada perkembangan yang penting di balik tiga penunggang kuda yang mencurigakan. Andaikata kau laporkan itu pada Ki Juru, itu mengenai apa? Kita tidak dapat seceroboh itu, Rangga Jati!”
“Itu bukan kecerobohan, Kukurajit! Tetapi memotong pergerakan mereka,” tukas Rangga Jati, “itu lebih baik apabila Ki Juru menempatkan sebagian orang-orangnya di sepanjang jalur yang mungkin akan dilalui oleh prajurit Pajang.”
“Kita belum mendapatkan kepastian tentang itu, Rangga Jati,” kata Kukurajit sedikit geram. Dia tahu bahwa Rangga Jati akan memaksakan diri untuk menemui Ki Juru. Untuk mengatasi watak keras kepala Rangga Jati, maka Kukurajit segera berpikir untuk membuat sedikit kekacauan di dalam kota Pajang.
Sedikit kekacauan mungkin akan mengalihkan sebagian perhatian orang, tetapi itu sepertinya sulit dilakukan oleh dua orang saja. Kukurajit masih dalam keadaan duduk di atas dua tumitnya mengedarkan pandangan. Suasana sekitar istana Pajang masih terlihat lengang. Bahkan tidak dapat dikatakan ada persiapan perang jika hanya mengamati dua orang penjaga gerbang yang tengah berdiri dengan menyandarkan punggung.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah kegilaan Rangga Jati?” Kukurajit bertanya pada dirinya sendiri. Namun dia sedikit tenang ketika melihat Kukurajit mulai dapat mengendapkan niatnya.
Di tengah keheningan malam kota Pajang, dua orang pengikut Ki Juru itu berdiam diri. Mata dan pendengaran mereka berada dalam keadaan siaga. Mereka memusatkan perhatian untuk mengenali setiap perubahan yang dapat dikatakan sebagai hal yang membahayakan orang-orang Grajegan.
Satu masa telah berlalu, bintang telah bergulir sedikit ke barat ketika Ki Banyak Abang berkuda memasuki halaman istana. Menyusul kemudian Ki Nagapati dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.
“Apakah engkau mengenali dua orang yang melewati gerbang?” bertanya Kukurajit tanpa mengalihkan tatap matanya dari regol halaman istana Pajang.
“Ya.” Rangga Jati mengangguk. “Penunggang kuda yang pertama adalah Ki Banyak Abang, aku dapat menyebutnya sebagai panglima perang Pajang. Tetapi aku tidak mengenal orang kedua. Aku belum pernah melihatnya.”
Kukurajit menghela napas. “Baiklah, aku kira sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk membuat sebuah keputusan.”
“Aku telah memikirkannya,” kata Ranga Jati, “kau dapat katakan perkembangan malam ini pada Ki Juru. Setiap perubahan akan aku kirimkan melalui orang-orang kita yang berada di sisi lain kota.”
Kukurajit segera bergerak. Dia berjalan menyisir bagian dalam batas jalan yang banyak ditumbuhi tanaman perdu. Setelah mencapai simpang tiga, dengan satu loncatan, dia telah lenyap dari wilayah pandang penjaga regol halaman istana Pajang.
Tanpa diketahui oleh Rangga Jati dan Kukurajit, Resi Gajahyana dan Kao Sie Liong telah berada di dalam istana Pajang. Satu keistimewaan bagi Resi Gajahyana adalah dia dapat memasuki pintu terlarang. Pintu yang hanya boleh dilewati oleh Bhatara Pajang, namun atas perkenan pemimpin Pajang itu, kini Resi Gajahyana pun dapat melewatinya.
Sejumlah orang yang diinginkan Bhatara Pajang telah berkumpul. Pembicaraan singkat telah mereka lakukan. Dengan suara bergetar, bayangan wajah Bondan melintas dalam benaknya, Bhatara Pajang berkata, “Hari ini adalah hari aku menjatuhkan hukuman bagi Ki Juru Manyuran dan orang-orang padepokan Sanca Dawala.
“Dia adalah besanku, tetapi kesalahannya bukan alasan bagiku untuk mendiamkan perbuatannya. Bencana yang dia datangkan pada malam pernikahan Bondan adalah musibah yang juga diderita oleh anaknya. Aku, Bhatara Pajang, akan memberinya ampunan jika dia meminta kelonggaran.
“Ki Juru Manyuran adalah orang yang memberi Pajang banyak bantuan dan dukungan, tetapi penyerangan di lereng Wilis akan menghapus segalanya.”
Bhatara Pajang diam sejenak, menebar pandang pada orang-orang sekelilingnya. Lirih mengucap dengan nada yang biasa dia panjatkan saat berlutut :
Angling Dhyaksa
Datang berlutut di hadapan Sang Hyang
Dia, lelaki yang akan tuntaskan kematian
Meminta kembali air mata anak istri yang tumpah
Menuang kembali tetes air susu ibu
Agar kembali bersatu
dengan sari pati bumi
tanah debu menjadi saksi
bagi jiwa-jiwa yang pergi dan tak kembali
Di Kotaraja.
“Apakah Bondan baik-baik saja?” bertanya Nyi Retna.
Nyi Wardhani mengangguk. Dia memandang wajah perempuan di hadapannya dengan sinar mata kelabu. “Pada malam itu, Bondan sanggup melepaskan diri dan mengamankan diri di Sima Menoreh.”
“Saya tidak dapat datang mendampinginya sebagai pengantin. Dia mempunyai keluarga di kotaraja dan mereka tidak berusaha untuk datang di malam yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya.” Nyi Retna menghela napas, tatap mata perempuan yang mempunyai pengaruh di dalam istana ini menyimpan penyesalan.
Kemudian dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Siang ini kami akan berangkat ke Pajang. Melalui tangan Mpu Nambi, saya dapat memerintahkan Gumilang untuk membawa pasukannya ke sana. Angling Dhyaksa tidak akan berperang seorang diri.”
Nyi Wardhani membatalkan ucapannya ketika dia melihat Nyi Retna bersuara lagi, “Namun, tentu saja, kita tidak dapat melenggang bebas melintasi jalan-jalan menuju kota Pajang, Nyi Bhatara.”
“Saya serahkan sepenuhnya pada Bibi,” sahut Nyi Wardhani disertai anggukkan kepala. Nyi Wardhani memanggil Nyi Retna dengan sebutan ‘Bibi’ meski usia mereka tidak terpaut jauh, tetapi Nyi Retna mempunyai garis silsilah yang lebih tua dari istri Bhre Pajang.
Setelah merenung cukup lama, Nyi Retno mendekati Nyi Wardhani, dia berbisik, “Nyi Bhatara dapat kembali ke Pajang malam ini. Tetapi, kalian bertiga harus berhenti di dekat pohon sawo yang berada di di satu pertigaan besar. Beberapa orang, mungkin akan terbagi dalam kelompok-kelompok kecil akan terlihat oleh kalian. Dan biarkan mereka mengikutimu atau mungkin akan berjalan menyebar di sekelilingmu.”
“Siapakah mereka, Bibi?”
“Saya tidak dapat mengatakan itu sekarang,” jawab Nyi Retna, “dan sebaiknya Nyi Bhatara segera menemani saya untuk bertemu dengan Mpu Nambi.”
Nyi Wardhani bangkit berdiri, dia beranjak memasuki bilik yang disediakan khusus untuknya untuk berbenah diri.
Ketika matahari masih condong dari arah timur dengan sinarnya yang memanaskan kepala, dua wanita berderajat tinggi ini pergi menuju kediaman salah satu orang penting Majapahit, Mpu Nambi.
- Badai dari Grajegan. Pajang kali ini benar-benar hampir tidak dapat menahan diri. Menarik untuk disimak.
- Misteri lainnya adalah ada apa lagi di Dusun Benda? Ki Jayaraga masih tertahan di sana. Dan buruknya gerbang barak pasukan khusus telah benar-benar jebol!
- Gerbang yang jebol itu mungkin diikuti pula oleh pasukan Ki Sentot Tohjaya yang berkehendak melabrak Sumur Welut. Perencaan dan persiapan 6 sedang mengungkapkan kenyataan itu.
