Dironda 45 kali
Wedaran sebelumnya; Serangan terhadap barak Agung Sedayu mulai menjadi pembicaraan di kalangan para perwira dan panji di sekitar Kotaraja karena dianggap terlalu terencana untuk dilakukan oleh orang sembarangan, bahkan muncul dugaan bahwa peristiwa itu berkaitan dengan orang-orang lama seperti pengikut Ki Panji Secamerti dan Ki Tumenggung Sanden Merti.
“Apa perlunya Pangeran mengatakan bahwa mereka akan tetap berada di Kotaraja?” tanya Ki Panji Danutirta. “Bahkan sebenarnya keadaan itu pun tidak penting dan tidak perlu diucapkan terbuka.”
Ki Wira Sentanu menatapnya kemudian mengangguk. Katanya, “Itu pula yang saya pikirkan.”
Ki Panji Suralaga menekuk tubuhnya sedikit. “Barangkali memang tidak mempunyai arti apa-apa. Apalagi kita sudah mengetahui saat Pangeran Purbaya kembali ke kediaman seorang diri sedangkan Agung Sedayu masih di Kepatihan. Sebenarnya keadaan itu pun tidak dapat diabaikan begitu saja.”
“Berikutnya Agung Sedayu dan Ki Patih Singaranu pergi melalui jalan yang berbeda,” jawab Ki Wira Sentanu. “Barangkali mereka menyembunyikan sesuatu dari Pangeran Purbaya maupun Sinuhun.”
“Kyai menilai seperti itu? Apakah memang sudah ada saling tidak percaya di antara mereka berempat?” tanya Ki Panji Danutirta tetapi Ki Wira Sentanu tidak menjawab.
Ki Panji Danutirta kembali memandang lencana yang terletak di antara mereka lantas menghela napas. Katanya, “Agung Sedayu berpisah dari Ki Patih. Mereka menempuh jalan yang berbeda. Jika Ki Patih sudah jelas kita mengetahui jalur yang diambil sebelum Kepatihan, tetapi Sedayu seperti setan. Tiba-tiba hilang dari pengintaian.”
Tanpa mengubah arah tatapan mata, Ki Panji Danutirta berkata lagi, “Lencana ini seperti bukan pertanda menjadikan keadaan berubah lebih baik.”
Ki Panji Suralaga menoleh kepadanya. “Maksud Ki Panji?”
“Jika Pangeran ingin Ki Wira Sentanu pergi ke Menoreh, berarti selama beberapa waktu Ki Wira Sentanu tidak akan berada di Kotaraja.”
“Lalu?”
“Pangeran Purbaya tetap di sini. Ki Patih Singaranu juga tetap di sini. Dan kita tidak tahu di mana Agung Sedayu.”
Ki Panji Suralaga mulai memahami arah pikiran kawannya kemudian berkata dengan yakin, “Mungkinkah mereka atau Agung Sedayu seorang diri mengincar kita di bawah izin Ki Patih atau Pangeran Purbaya?”
Pandangan mata Ki Panji Danutirta seolah menjadi jawaban. Meski begitu, dia menarik napas lalu berkata, “Kita masih dapat selamat. Mereka semua belum dapat dikatakan punya bukti bahwa kita terlibat dalam serangan.”
Ki Wira Sentanu mengangguk, ucapnya, “Belum cukup bukti, itu tidak berarti beliau berdua tidak mengetahui sesuatu.”
“Benar,” sahut Ki Panji Danutirta. “Tetapi kita juga tidak mengetahui apa yang sudah mereka ketahui.”
Untuk beberapa saat, mereka menutup mulut kemudian Ki Panji Suralaga dan ki Wira Sentanu mengangguk-angguk.
Dari kejauhan terdengar sekelompok burung melengkingkan kicauan dan bersahutan tapi tidak lama. Sebentar kemudian suasana mendekati sunyi kembali.
Ki Panji Suralaga kemudian berkata, “Nyi Banyak Patra.”
Ki Panji Danutirta dan Ki Wira Sentanu berpaling kepadanya.
“Kita masih belum melihat kelebat nenek itu di sekitar Keraton maupun Kepatihan. Apakah dia masih berada di Tanah Perdikan atau sudah berada di Kotaraja? Tidak ada satu pun orang yang melihat apalagi membicarakannya,” sambung Ki Panji Suralaga.
“Berarti satu lagi,” ucap Ki Danutirta. “Kita juga tidak mengetahui sejauh mana jangkauan nenek itu dalam pembicaraan dengan Sinuhun. Apakah setiap ucapannya mempunyai pengaruh kuat hingga mampu membelokkan keputusan Sinuhun? Atau setiap pikirannya adalah pijakan yang sangat kuat? Kita tidak pernah tahu.”
Ki Wira Sentanu menyapu wajah, sesaat merenung kemudian seutas senyum yang tampak pahit tampak darinya. Orang ini lalu berkata, ”Cukup buruk karena kita juga masih belum mengetahui atau bertemu Ki Tumenggung Adiyasa.”
Hela napas panjang terdengar darinya. Penerus Kakang Panji itu kemudian berkata lagi, ”Lalu, apa sebaiknya yang dilakukan? Yang tampak di depan adalah Menoreh atau bertahan di Kotaraja.”
“Baiklah, Kyai,” ucap Ki Panji Suralaga. “Pangeran mungkin memang hanya menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Ki Gede mempunyai wewenang atas kedudukan Agung Sedayu di Menoreh. Karena itu Kyai diminta datang kepadanya.”
“Lalu?” Ki Wira Sentanu bertanya.
“Kalau Kyai tidak pergi?” Ki Panji Suralaga bertanya dengan nada seakan sudah ada jawaban.
Ki Wira Sentanu menyipitkan mata.
Ki Panji Suralaga lantas melanjutkan, “Kyai sudah meminta tanggapan. Pangeran sudah memberikannya. Bahkan Kyai diberi sesuatu untuk dibawa kepada Ki Gede. Tetapi apabila setelah itu Kyai masih berada di Kotaraja dan tetap membicarakan kedudukan Agung Sedayu kepada orang-orang lain….”
“Maka persoalannya berubah,” terdengar suara Ki Panji Danutirta.
“Ya,” kata Ki Panji Suralaga menegaskan.
“Bukan lagi mengenai Agung Sedayu?” tanya Ki Wira Sentanu.
Ki Panji Suralaga mengangguk dan dia memang tidak berbohong bahwa muncul kecemasan dalam hatinya jika kakak seperguruannya itu tetap bertahan di Kotaraja.
Ki Wira Sentanu memandang kedua orang di hadapannya bergantian. Dia bertanya memastikan, “Pangeran Purbaya akan memanggilku?”
Adik seperguruannya, Ki Panji Suralaga, menggeleng perlahan lantas menggerakkan bibirnya, “Sinuhun.”
Wajah Ki Wira Sentanu berubah sedikit. “Sinuhun?” tanyanya.
Sesaat kemudian dia mengerti bahwa hampir mustahil Pangeran Purbaya memanggil lalu menyelidiki dirinya dan dua kawannya itu serta satu nama lain, Ki Tumenggung Adiyasa. Sinuhun adalah orang yang paling mungkin melakukannya lalu menyelidiki kemudian melakukan sesuatu terhadap dirinya dan ketiga orang lainnya.
Ki Wira Sentanu kembali memandang lencana di atas tangannya.
Ada sesuatu pada benda kecil itu yang terus mengganggu pikirannya sejak Pangeran Purbaya menyodorkannya. Bentuknya sama. Tanda-tandanya pun sama dengan lencana satuan sandi yang pernah berada di tangannya setelah kematian Ki Wedoro Anom. Namun dia tidak mengatakan hal itu kepada kedua panji di hadapannya.
“Baiklah, saya akan ke Menoreh secepat mungkin,’ kata Ki Wira Sentanu tanpa keraguan.
Tanah Perdikan Menoreh.
Selang satu atau dua hari setelah serangan ke barak pasukan khusus diredam, kehidupan di Perbukitan Menoreh tampak berjalan sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Sejak pagi, pasar induk telah dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai dusun dan desa. Para pedagang menggelar barang dagangan di lapak-lapak yang biasa mereka gunakan. Sayuran yang masih basah oleh embun bertumpuk di atas lembaran daun pisang, bersebelahan dengan umbi-umbian, buah-buahan serta berbagai hasil kebun.
Di bagian lain, beberapa orang memperjualbelikan perkakas rumah tangga dan alat-alat pertanian. Suara orang menawarkan barang bercampur dengan percakapan para pembeli yang membicarakan hal yang justru tidak berhubungan dengan kegiatan pasar.
Jalan-jalan di pedukuhan induk dan sekitarnya pun tampak wajar. Orang-orang yang berjalan kaki harus sesekali menepi memberi jalan kepada pedati atau rombongan kecil yang membawa hasil bumi dengan pikulan.
Sementara di sepanjang sungai juga tidak banyak berubah. Beberapa perempuan mencuci pakaian di bagian yang airnya tidak terlalu dalam. Anak-anak bermain di tepian, saling memercikkan air hingga sekali-sekali terdengar teguran dari kejauhan. Di tempat lain, dua orang lelaki memperbaiki tanggul kecil yang mengarahkan sebagian aliran air menuju parit-parit pengairan.
Di ladang dan persawahan, cangkul terayun bergantian membalik tanah. Beberapa orang membersihkan pematang, sementara yang lain memeriksa aliran air yang membelah petak-petak sawah. Di jalan sempit di antara ladang, sesekali terlihat orang memikul rumput atau membawa keranjang. Anak-anak muda menggiring ternak menuju tempat yang lebih terbuka.
Tidak tampak sesuatu yang dapat segera menunjukkan bahwa satu atau dua hari sebelumnya sebuah pertempuran telah terjadi di lingkungan barak pasukan khusus. Namun kewajaran itu tidak sepenuhnya berarti orang-orang telah melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Di Dusun Separang.
Ki Kamejing tampak duduk melingkar bersama beberapa orang yang salah satunya adalah Ki Ajar Poh Kecik.
“Kami masih belum dapat menjangkau keberadaan perempuan yang bernama Sekar Mirah,” berkata Ki Kamejing setelah beberapa saat mereka berbicara tentang keadaan di sekitar Menoreh. “Beberapa tempat telah kami perhatikan dan pelajari setiap hari sejak kita berada di wilayah ini. Demikian pula orang-orang yang keluar masuk dari kediaman Ki Gede. Tetapi Sekar Mirah tidak pernah terlihat.”
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk perlahan. Dia mengetahui perempuan yang dimaksud Ki Kamejing. Sejak lama, sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Menoreh, bahkan sebelum keadaan di sekitar barak menjadi semakin rumit, perhatian Ki Kamejing memang tidak pernah benar-benar terlepas dari adik Swandaru itu.
“Apakah tongkat itu memang benar berada padanya?”
“Kyai tentu mengerti bahwa kami tidak sepenuhnya yakin, tapi setidaknya jika bertemu dengan perempuan itu, beberapa hal dapat kami tanyakan padanya.”
“Ki Kamejing,” kata Ki Ajar Poh Kecik dengan nada seolah sedang menertawakan keadaan mereka sendiri. “Ternyata sejauh ini kita memang sedang berusaha memastikan sesuatu yang sebenarnya juga belum ada kepastian.”
Ki Kamejing tersenyum pahit. “Begitulah, Kyai.”
“Setidaknya kita pernah mendengar seseorang atau beberapa orang mengatakan bahwa sebelum Ki Jambuwok tumbang, dia sempat menyerahkan sebuah benda kepada salah satu pimpinan pasukan khusus,” kata Ki Ajar Poh Kecik setelah menarik napas panjang.
“Pemimpin pasukan berkuda,” sahut Ki Kamejing. “Ki Lurah Sora Sareh, demikian kata orang ketika saya mencari tahu nama pemimpin itu.”
Suasana sejenak menjadi hening. Hanya sedikit kesibukan saja yang sedang berlangsung di perkemahan pada pagi itu.
“Tapi mungkin ada benarnya jika Kyai menduga Sekar Mirah memang tidak berada di Tanah Perdikan,” kata Ki Ajar Poh Kecik kemudian. “Satu-satunya keadaan yang pasti adalah Kademangan Sangkal Putung.”
Ki Kamejing mengangguk lantas berkata, “Itulah yang sedang saya pikirkan. Kemungkinan yang paling masuk akal.”
“Yang tidak masuk akal?” tanya Ki Ajar Poh Kecik.
“Yang tidak masuk akal adalah Sekar Mirah berpisah selamanya dari Agung Sedayu,” sahut Ki Kamejing lalu mereka tertawa kecil.
Pada waktu itu, Ki Ajar Poh Kecik sudah memahami bahwa kepentingan Ki Kamejing tidak seluruhnya sama dengan kepentingan kelompoknya, penerus Perguruan Saripati. Mereka bertemu lalu bergabung dengan tujuan yang berbeda. Namun begitu, perbedaan tujuan itu ternyata tidak menghalangi orang-orang di sekitar mereka untuk berjalan dan bertindak seolah-olah telah menjadi bagian dari satu kelompok yang sama.
Bahkan dalam beberapa keadaan, mereka tidak lagi perlu bertanya pembagian kerja atau tugas pengamanan perkemahan maupun yang lainnya. Kebersamaan selama perjalanan telah membuat mereka mengenali kebiasaan satu sama lain.
Meski demikian, dalam pikiran dan keyakinan Ki Ajar Poh Kecik, cepat atau lambat Ki Kamejing dan kelompoknya akan memilih jalannya sendiri. Pertemuan mereka pada satu jalan tidak berarti bahwa mereka akan berjalan menuju tempat yang sama sampai akhir.
Ki Kamejing menggeser duduknya. Tatap matanya menerawang jauh ke arah yang menjadi jurusan menuju Kademangan Sangkal Putung.
“Kyai, dalam sehari atau dua hari ini, kami akan berkemas lalu ke Sangkal Putung,’ kata Ki Kamejing dengan nada datar dan tenang.
Tidak terlihat keterkejutan pada wajah Ki Ajar Poh Kecik. Dia mengangguk dalam-dalam kemudian berkata, “Mungkin memang sudah tiba waktunya bagi Kyai untuk menemui Sekar Mirah di sana.”
“Mudah-mudahan,” ucap Ki Kamejing.
- Ki Kamejing duduk melingkar. Di antara mereka ada sebuah catatan penting yang bertuliskan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Mereka masih menyimak kata demi kata — sebagian kata mungkin terkait dengan garis nasib mereka sendiri di kisah ini.
- ‘Apakah siluman hutan ini tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantuku?’ Mungkin saja pertanyaan Ki Sarjuma itu ada benarnya. Toh, Sayoga juga lupa ada sesuatu yang hilang dari Serat Waja. Jati Anon Obong 41 menyatakan terbuka, tanpa tedeng aling-aling.
- Tapi ternyata bukan siluman hutan yang muncul di Laut Jawa. Yang terjadi kemudian di sana adalah gelombang besar tak beraturan menjadikan lingkar pertempuran semakin luas dan dijauhi oleh kapal-kapal perang. Lamun Parastra 4.
