Dironda 37 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik menyadari bahwa pencarian Sekar Mirah selama berada di Menoreh belum menghasilkan kepastian, termasuk mengenai tongkat yang diduga pernah diserahkan Ki Jambuwok kepada salah seorang pimpinan pasukan khusus.
Ki Ajar Poh Kecik lalu menarik Sangkal Putung ke dalam percakapan mereka. Menurutnya, pengawal kademangan di sana itu hampir mirip atau setara dengan yang ada di Tanah Perdikan. Dia juga menambahkan beberapa hal yang dianggapnya penting diketahui Ki Kamejing.
“Di Tanah Perdikan ada barak prajurit Mataram, di Sangkal Putung juga ada barak prajurit yang berdekatan, di Jati Anom. Sebaiknya Kyai tetap berhati-hati dalam banyak hal,” lanjut Ki Ajar Poh Kecik. “Pemimpin prajurit di Jati Anom adalah kakak kandung Agung Sedayu. Besar kemungkinan mereka ini mempunyai ketajaman nalar yang sama.”
Ki Kamejing mengangguk dalam-dalam.
Pembicaraan mereka terus berlangsung dan lebih mendalam, termasuk kemungkinan yang akan dilakukan Mataram setelah baraknya terguncang. Maka mereka pun tidak dapat diam saja karena Tanah Perdikan Menoreh pun tidak mungkin diam saja setelah serangan berbahaya tersebut.
Sesaat sebelum matahari bergeser dari puncak, Ki Kamejing menyebut sebuah nama yang dapat dipertimbangkan sebagai orang yang mungkin diajak duduk bersama menghadapi keadaan yang akan berkembang di Menoreh.
“Ki Ajar Ental Sewu,” katanya. “Perguruan Sadapati.”
Ki Ajar Poh Kecik tidak langsung menanggapi. Nama itu sudah didengarnya dari perbincangan orang-orang sejak terjadi benturan di permukiman usang.
Seperti beberapa pemimpin perguruan lainnya, Ki Ajar Ental Sewu telah berada di Tanah Perdikan ketika keadaan mulai menghangat. Tetapi berbeda dengan beberapa orang yang telah menentukan sikapnya, sejauh itu Ki Ajar Ental Sewu masih lebih banyak melihat dan menimbang.
“Apakah Kyai pernah berbicara dengannya?” tanya Ki Ajar Poh Kecik.
“Hanya sekali tapi belum menyentuh kemungkinan itu.”
“Jadi Kyai baru sedang mempertimbangkannya?”
Ki Kamejing mengangguk. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah serangan terhadap barak. Tetapi jika Mataram dan Tanah Perdikan mulai bergerak, saya yakin Kyai tidak butuh bantuan orang atau tambahan. Kyai sudah jauh melampaui keadaan itu. Yang mungkin kita perlukan adalah seorang teman bicara yang mau mendengar dan dapat diajak melihat keadaan dari sisi yang berbeda. Saya pun belum mengetahui Ki Ajar Ental Sewu seluruhnya. Tetapi dengan latar belakang serta nama besar perguruannya, saya kira dia patut dipertimbangkan.”
Mereka berdua sadar bahwa bergerak sendirian, untuk saat itu, menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Tanah Perdikan Menoreh tentu semakin ketat dan waspada dalam pengamatan maupun penjagaan walau begitu tenang di permukaan. Benturan demi benturan sejak pertempuran lereng Gunung Kendil beberapa waktu lalu belum sepenuhnya mereda. Maka serangan yang ditujukan pada barak pasukan khusus sudah barang tentu mendapatkan perhatian yang sangat besar.
Dalam satu malam, Tanah Perdikan Menoreh menerima hantaman yang ditujukan pada tiga sasaran. Selain barak pasukan khusus, ada juga rumah Agung Sedayu dan kediaman Ki Gede. Walau demikian, benturan yang terjadi di pategalan selatan belum sepenuhnya dapat dipastikan menyasar Agung Sedayu. Tetapi melihat arah pergerakan kelompok penyerang kemungkinan untuk itu sangatlah terbuka: bahwa Agung Sedayu sendiri menjadi sasaran serangan.
“Kita tidak pernah tahu berapa sebenarnya orang-orang yang dapat dikatakan berilmu tinggi yang berdiam di wilayah ini,” ucakp Ki Kamejing saat memikirkan kemungkinan kerja sama antara Ki Ajar Ental Sewu dengan kelompok Ki Wira Sentanu yang diwakili salah satu sesepuh perguruan mereka, Ki Ajar Poh Kecik.
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk. “Benar. Dan selalu saja mengecoh pengamatan dan penilaian. Ketiadaan putri Ki Gede ternyata dapat ditutup oleh gadis muda yang kemampuannya tidak dapat dianggap sebelah mata. Saat Agung Sedayu tidak ada, dari barak muncul lagi orang yang tidak kita duga dan juga belum dapat ditelisik latar belakangnya.”
“Dan mereka berada di pihak yang kalah,” Ki Kamejing menambahkan.
“Itulah yang saya pikirkan, Kyai,” kata Ki Ajar Poh Kecik. “Bicara dengan Ki Ajar Ental Sewu, meski baru sebatas pembicaraan, tapi dapat saja mengubah lagi rencana yang lain.”
“Yah,” ucap Ki Kamejing sambil mendesahkan napas pendek.
Mereka mempunyai pengalaman buruk mengenai kemungkinan bekerja sama. Siapa sangka, beberapa pekan sebelumnya, saat mereka menerima ajakan Ki Astaman dan Ki Garjita malah justru semakin membuat ruang gerak mereka terkekang? Jika sebelumnya mereka bebas berkeliaran di antara Ringinlarik dan Gunung Kendil hingga pedukuhan induk, sekarang hanya sekitar Gunung Kunir sampai pedukuhan induk saja.
Itu pun di bawah pengawasan ketat dari beberapa orang yang mereka duga berasal dari pengawal Menoreh atau prajurit Mataram. Sulit bagi mereka untuk memastikan karena semuanya dalam penyamaran. Mereka tidak selalu orang yang sama, tetapi bergantian muncul di tempat-tempat yang seolah kebetulan saja mereka lewati.
“Saya kira sepertinya para pemimpin di wilayah ini sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan,” berkata Ki Kamejing. “Saya amati jarak perondaan lebih rapat dibandingkan dengan sebelumnya atau sebelum serangan terakhir itu terjadi. Dan gardu-gardu pun seolah disamarkan pula.”
Ki Ajar Poh Kecik tidak membantah pendapat kawan perjalanannya itu. Dia mengangguk lalu ucapnya, “Mereka menjadi pedagang keliling lalu berhenti. Satu atau dua orang mendekat dengan sikap seolah menjadi pembeli tapi saya hampir yakin kenyataan sebenarnya tidak seperti itu.”
Mereka pun bercakap lebih mendalam, terutama perkembangan yang dapat dijangkau oleh pengamatan mereka. Demikianlah, pembicaraan keduanya pun tiba pada kesimpulan yang sama: Tanah Perdikan belum tampak kelelahan atau mengendur. Bahkan semakin kencang dan hampir pasti tidak akan ragu menyapu bersih perusuh meski berakibat sangat buruk.
Hampir setiap pokok yang dibicarakan oleh Ki Ajar Poh Kecik dan Ki Kamejing memang begitulah keadaan yang berkembang di Tanah Perdikan Menoreh.
Di Dusun Benda.
Ki Rangga Sanggabaya, yang telah menerima banyak pesan dan sejumlah perintah dari Agung Sedayu, pun mulai bergerak satu atau dua hari setelah kepergian pemimpin mereka.
Wakil Agung Sedayu ini tidak segera memerintahkan pengepungan terhadap perkemahan kelompok orang asing itu. Keberadaan mereka memang mulai mendatangkan ketidaknyamanan bagi banyak perempuan di dusun, tetapi Agung Sedayu tidak menghendaki cara keras untuk permulaan karena belum melihat alasan kuat untuk terang-terangan menghalau mereka.
“Mengepung mereka dari segala arah, saya kira tidak menjadi jalan terbaik, Ki Rangga. Kita akan batasi mereka tanpa coba membuat lingkungan dan keadaan menjadi rumit,” ucap Agung Sedayu saat mereka bicara pada malam menjelang keberangkatannya ke Kotaraja. Sebuah siasat panjang pun kemudian dipaparkan di depan pemimpin pasukan khusus lainnya seperti Ki Prana Aji dan Li Lurah Sora Sareh.
Dengan keberadaan prajurit Jati Anom yang dipimpin Sabungsari dan sejumlah cantrik dari Perguruan Orang Bercambuk, pasukan khusus dan pengawal Tanah Perdikan pun dapat menjalankan siasat dan terus bergerak hampir sepanjang waktu.
Gerakan mereka tidak dilakukan dengan cara yang mudah terbaca. Hari ini mereka mungkin meronda sampai batas pohon randu alas raksasa. Esok pagi, beberapa orang bergerak lebih dekat ke arah perkemahan. Menjelang sore, mereka kembali ke randu alas atau ke batas-batas yang telah ditentukan Ki Rangga Sanggabaya.
Pada hari berikutnya, jalur perondaan dan regu peronda dapat berubah lagi. Tidak ada jarak atau regu yang tetap dalam setiap waktu penugasan.
Kadang-kadang bukan peronda yang berjalan kaki tetapi kelompok dari pasukan berkuda yang dipimpin Ki Lurah Sora Sareh. Tapi yang menjalankan tidak selalu berasal dari pasukan khusus. Kadang diisi oleh prajurit Jati Anom, pengawal Menoreh atau cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Maka kesan yang timbul kemudian adalah pertanyaan besar pada setiap kepala pendatang asing itu: berapa sebenarnya jumlah prajurit di dalam barak?
Sedikit demi sedikit, kegelisahan pun mengikis kepercayaan diri kelompok orang asing itu.
Pada dasarnya, mereka bisa saja meninggalkan perkemahan, tetapi semakin jarang dapat berjalan tanpa melihat orang-orang yang mengawasi dari kejauhan. Mereka masih dapat menuju beberapa tempat yang sebelumnya terbuka, tetapi di jalur-jalur tertentu selalu saja ada orang yang seakan-akan kebetulan berada di sana. Bahkan ketika tidak melihat seorang pun, mereka tidak pernah benar-benar dapat memastikan bahwa tidak ada mata yang sedang mengikuti gerak-gerik mereka.
Agung Sedayu telah menyusun penjagaan berlapis dan orang-orang di sekitarnya pun mampu membuat kelompok itu merasa telah dikepung tanpa benar-benar dikepung.
Pesan-pesan Agung Sedayu telah memberi Ki Sanggabaya sebuah gambaran untuk menjelaskan persoalan itu pada orang-orang dekatnya. Persoalan di Tanah Perdikan Menoreh tidak hanya menyangkut kelompok orang asing itu. Ada kepentingan yang masih bersembunyi di balik setiap yang terlihat dan terdengar, sementara setiap tindakan yang terlalu cepat dapat membuka kesempatan menambah kabar buruk bagi pihak lain yang dapat memanfaatkannya.
Beriringan dengan regu-regu peronda yang bertugas bergantian, Ki Jayaraga tetap bertahan di Dusun Benda. Dia mengamati dari jarak lebih dekat, membuat penilaian dengan tujuan mencari alasan atau sebab yang menggerakkan. Namun sejauh itu, guru Glagah Putih itu masih kesulitan mengembangkan bahan.
Namun sepanjang dalam keadaan itu, Ki Jayaraga tidak selalu sendirian di Dusun Benda. Glagah Putih, Sayoga dan Sukra terus bergantian menemani melalui kedatangan yang cukup sunyi.
Luka-luka Glagah Putih akibat pertarungannya di dinding utara melawan Ki Wuryah ternyata berangsur pulih dengan cepat dalam penanganan gurunya. Meski belum sepenuhnya kembali seperti sediakala, keadaan itu tidak lagi membuatnya harus berbaring sepanjang hari. Sedikit demi sedikit, dia dapat bergerak dan ikut mengamati keadaan di Dusun Benda.
Sementara itu, Sayoga dan Sukra beberapa kali mencoba mendekati perkemahan dengan cara yang berbeda. Mereka pernah datang sebagai pedagang garam. Pada kesempatan lain, mereka membawa cobek-cobek batu yang memang biasa diperjualbelikan di beberapa pedukuhan. Meski begitu, usaha kedua anak muda itu hampir selalu kandas sebelum dapat memperoleh banyak keterangan.
Bentakan dan gertakan sudah cukup untuk membuat mereka menahan diri agar tidak masuk terlalu dalam.
Beberapa kali mereka bahkan harus meninggalkan tempat itu dengan membawa kembali barang dagangan yang belum sempat ditawarkan. Namun pesan yang telah diberikan kepada mereka membuat Sayoga dan Sukra tidak membalas perlakuan itu dengan cara yang sama. Mereka diminta melunak, menghindari keributan, dan tidak mencari alasan untuk menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.
Maka mereka tetap mematuhinya.
Bahkan ketika dianggap tidak berguna, dipandang rendah, atau dihina karena tidak berani melawan, keduanya hanya menahan diri. Mereka tahu bahwa sekali saja mereka kehilangan kesabaran, rencana Agung Sedayu dan seluruh yang dilakukan banyak orang dapat menjadi sia-sia.
Bagi Sayoga dan Sukra, menahan diri ternyata tidak lebih mudah daripada menghadapi lawan dalam pertarungan. Namun untuk sementara, itulah perintah yang harus mereka jalankan.
Mereka datang lagi pada kesempatan berikutnya, dengan barang dagangan yang berbeda dan alasan yang sebisa mungkin tidak menimbulkan kecurigaan. Jika kembali ditolak, mereka akan kembali pula dengan cara yang lain.
Sedangkan Sabungsari dan Glagah Putih lebih menusuk hingga sekitar sungai. Mereka berbaur di antara gembala yang meluaskan arena merumput atas perintah Bekel Dusun Benda.
Ki Jayaraga memperhatikan semua pergerakan. Ada sesuatu yang belum mereka pahami dari kelompok itu. Dan selama sesuatu itu belum terlihat, kesabaran masih menjadi senjata yang paling berguna.
- Selama ini pula kesabaran menjadi buah terbaik sampai Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh dituliskan.
- Terbaca jelas bahwa Ki Sentot melandaskan penyerbuan ini untuk mengakhiri pemerintahan Sri Jayanegara. Kesabaran apalagi yang masih kurang di Persiapan 9?
- Tetapi kesabaran itu, apakah diperlukan untuk pertempuran di bawah laut? Pusaran air di bawah permukaan semakin kuat mengitari Ki Jala Sayuta. Jadi aga tidak sabar untuk segera Lamun Parastra 6 ing Pungkasan.
