0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 95 – Lencana Satuan Sandi Mataram

Dironda 207 kali

Wedaran sebelumnya: Pembicaraan Ki Wira Sentanu dan Pangeran Purbaya mengarah pada kemungkinan perubahan kedudukan Agung Sedayu sebagai pemimpin barak, tetapi keputusan itu ternyata berada pada pertimbangan Ki Gede Menoreh. Sementara itu, di Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Sekar Mirah berbicara tentang keadaan Swandaru, hubungannya dengan Pandan Wangi, serta dampak keterlibatannya dalam gerakan Raden Atmandaru.

“Tanpa ada maksud menyudutkan atau menyalahkan seseorang, tapi setiap pilihan dan keputusan tentu akibatnya tidak dapat terkikis dalam waktu singkat. Segala sesuatu tentu saja mempunyai hubungan panjang. Itulah yang membuat semuanya menjadi tidak sederhana, Mirah,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk perlahan. Dia tidak menutup mata atau berpura-pura bahwa segalanya sedang baik-baik saja.Bahkan menjelang peristiwa di Pancuran Watu Item, keretakan di antara keduanya telah semakin nyata.

“Saya mendengar Mbokayu sedang dalam perawatan juga, apakah keadaannya sudah jauh lebih baik?” tanya Sekar Mirah kemudian.

“Nyi Banyak Patra, Kinasih dan Ki Gede menjadi dukungan yang sangat kuat baginya sehingga pemulihan menjadi lebih cepat,” jawab Agung Sedayu.

“Apakah Mbokayu datang menengok Kakang Swandaru?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Tetapi jawaban atas pertanyaan itu akan membuka persoalan lain yang juga tidak sederhana. Tidak mengatakan yang sebenarnya bukanlah jalan terbaik karena hanya menunda saja. Tapi menerangkan kenyataan rupanya masih sulit baginya saat ditanya Sekar Mirah.

“Belum,” katanya singkat.

Kening Sekar Mirah berkerut. “Belum?”

“Pandan Wangi masih membatasi kegiatannya sendiri. Semua urusan masih belum keluar dari halaman kediaman, Mirah.”

Sekar Mirah mengerutkan kening. Baginya, jawaban Agung Sedayu memang masuk akal dan dapat diterima, tetapi dirinya sangat mengenal Pandan Wangi. Keyakinan Sekar Mirah pun menyatakan dalam keadaan tersulit dan paling pahit, Pandan Wangi pasti menerjangnya demi orang yang mendapatkan tempat di hatinya. Yang terdekat dalam ingatannya adalah penyelamatan Kinasih di sabuk ular, di lereng utara Gunung Kendil.

“Cukup berat,” desah Sekar Mirah disertai hela napas panjang

Untuk beberapa saat Sekar Mirah hanya memandang wajah suaminya kemudian mengangguk seolah sedang bertanya jawab dengan dirinya sendiri. “Saya dan Kakang hanya dapat berharap keadaan membaik meski kerapkali kenyataan selalu menghadirkan peristiwa yang sangat jauh dari harapan.

“Mudah-mudahan,” sahut Agung Sedayu penuh harap tapi asa itu tidak sampai mengguncang ketenangannya. Malah kesannya cukup datar dan dingin.

Sekar Mirah sadar dengan sikap suaminya. Dia berpikir sejenak, berita tentang kakaknya telah cukup membebani pikirannya. Kini dia mengetahui bahwa Pandan Wangi pun dalam keadaan yang hampir sama, meskipun berada di tempat yang berbeda. Keduanya terluka lahiriah, keduanya juga didera batiniah.

Sejenak keadaan di beranda pun disapa keheningan dengan sekali-kali Wangi Sriwedari bersuara sendiri.

Suasana rumah Ki Demang Sangkal Putung terasa lengang. Kyai Bagaswara sudah cukup sibuk dengan kegiatan barunya di sawah—hampir sama dengan Ki Jayaraga di Tanah Perdikan. Sejumlah orang yang bekerja di kediaman Ki Demang pun tak terlalu banyak yang terlihat di dalam.

Pagi terus bergerak.

Agung Sedayu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Tanpa mengatakan sesuatu, dia melangkah masuk ke bagian dalam rumah. Sekar Mirah hanya mengikutinya dengan pandangan mata.

Tidak terlalu lama kemudian Agung Sedayu telah muncul kembali di pintu. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan yang tidak begitu panjang. Kain pembungkusnya tampak terlipat rapat, menutupi seluruh benda yang berada di dalamnya.

Agung Sedayu kembali ke beranda. Dengan hati-hati diletakkannya bungkusan itu di atas amben, di antara dirinya dan Sekar Mirah. Perlahan dia membuka salah satu ujungnya.

“Beberapa pengawal mengatakan padaku bahwa hari-hari belakangan sejumlah orang tampak di sekitar rumah kita,” kata Agung Sedayu. “Mereka tidak menghentikan untuk bertanya tapi tidak meninggalkan pengamatan dan kewaspadaan.”

“Tongkat Ki Jambuwok,” ucap lirih Sekar Mirah ketika tatap matanya melihat ujung dari benda itu. Sebelah tangannya terulur untuk melihat bagian yang sudah terbuka.

“Mungkinkah orang-orang itu sedang mencari benda ini?”

Agung Sedayu menggeleng, katanya, “Aku belum dapat dan belum berani memastikan. Tapi kehadiran banyak perguruan di Menoreh maka semuanya menjadi mungkin.”

Sekar Mirah mengangguk perlahan. Ada beberapa hal yang juga dikatakan oleh Agung Sedayu berkaitan dengan keadaan di sekitar kediaman Ki Demang, termasuk kesehatannya.

Terkait pengamanan kademangan maupun pedukuhan induk, mereka berdua sudah cukup paham, apalagi serangan Ki Garjita yang nyaris membuat Sekar Mirah terbunuh meski kemudian dapat dihentikan Kyai Bagaswara. Maka Sekar Mirah pun mengungkapkan sejumlah gagasan dan tampaknya Agung Sedayu memandang sangat baik.

Menjelang sore, Agung Sedayu menyempatkan diri berbincang dengan Kyai Bagaswara yang telah turun dari sawah. Beberapa persoalan di Sangkal Putung juga menjadi bagian dari percakapan mereka, selain perkembangan Sukra dan Sayoga dalam olah kanuragan.

Kyai Bagaswara menerangkan beberapa kemajuan yang telah dicapai kedua anak muda itu serta bagian-bagian yang masih memerlukan perhatian. Agung Sedayu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali dia menyampaikan pendapat, meskipun selebihnya dia mempercayakan perkembangan Sukra dan Sayoga kepada orang tua itu.

Percakapan mereka berlangsung sampai senja benar-benar berpulang.

Setelah tidak ada lagi persoalan yang perlu dibicarakan, usai menikmati hidangan malam, Agung Sedayu menemui Sekar Mirah dan anaknya sekali lagi.

Tidak lama kemudian dia pun berpamitan.

Sekar Mirah berdiri di beranda ketika suaminya meninggalkan halaman. Pandangannya mengikuti Agung Sedayu sampai kemudian hilang di balik pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan padukuhan.

Beberapa saat kemudian Sekar Mirah berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.

Sangkal Putung kembali menjalani malam bersama peronda dan pengawal kademangan seperti biasanya. Kehidupan di rumah itu pun berjalan sebagaimana waktu sebelumnya meski mulai terasa perbedaan yang sangat halus.

Kabar mengenai peristiwa di barak Agung Sedayu tidak hanya beredar di lingkungan Kepatihan.

Dalam beberapa hari terakhir, pembicaraan yang sama mulai terdengar di antara para perwira yang bertugas di beberapa barak di sekitar Kotaraja. Tidak ada pembicaraan resmi mengenai hal itu. Tidak pula ada perintah untuk membahasnya. Namun setiap kali dua atau tiga orang yang sekurang-kurangnya berpangkat panji bertemu, persoalan itu seperti selalu menemukan jalan untuk muncul.

“Orang-orang perguruan?”

Seorang panji menggeleng.

“Kalau hanya sekumpulan orang perguruan, mereka tidak akan memilih waktu seperti itu.”

“Barak sedang tidak dalam kekuata penuh.”

“Itulah maksudku.”

Beberapa orang yang berada di tempat itu saling berpandangan.

Mereka adalah orang-orang yang telah cukup lama hidup dalam lingkungan keprajuritan. Bagi mereka, menyerang sebuah barak bukan hanya persoalan mempunyai cukup banyak orang atau cukup tinggi ilmu kanuragan.

Ada keadaan lain yang harus diketahui dan terpenuhi. Pemilihan waktu, pengamatan lingkungan, suasana pergantian dan rentang waktu penjagaan dan juga kekuatan yang sedang berada di dalam.

Dan, lebih dari semuanya, keberanian untuk memperhitungkan akibat setelah serangan dilakukan.

“Berarti orang yang mengaturnya bukan orang sembarangan,” seseorang berkata.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Seorang perwira yang sejak tadi hanya mendengarkan kemudian berkata perlahan, “Mungkinkah perencana dan penyerang itu berasal dari sekitar Sinuhun atau Pangeran Purbaya? Bukan mencurigai tetapi kemampuan seperti itu hanya dimiliki oleh sedikit orang di sekitar beliau berdua. Tapi kita harus menutup barak Pangeran Selarong dari kecurigaan.”

Beberapa kepala segera berpaling kepadanya.

“Masuk akal.”

“Benar. Kemampuan barak pasukan khusus meski sedikit orang yang ada di dalam tetaplah tidak mudah ditembus.”

Percakapan itu pun tidak berkembang lebih jauh tapi merata hampir di setiap barak atau gardu di sekeliling Kotaraja. Namun demikian, tidak seorang pun mempunyai keterangan yang cukup untuk menghubungkannya dengan serangan terhadap barak.

Namun beberapa saat kemudian terdengar suara lain. Dia berkata dengan nada tanya, “Ataukah itu kemunculan orang-orang lama?”

“Orang-orang lama siapa?”

Panji itu tidak segera menjawab. Dia mengangkat bahu, lalu berkata singkat, “Ki Panji Secamerti dan Ki Tumenggung Sanden Merti.”

Suasana mendadak berubah.

Dua nama itu tidak asing bagi sebagian besar orang yang berada di sana.

“Mereka berdua sudah mati.”

“Orang-orangnya, pengikut atau mungkin bagian dari keluarga mereka berdua. Perguruan juga mungkin saja, kita tidak pernah tahu.

“Setelah sekian lama?”

Panji itu berkata, “Kita hanya tahu bahwa dendam tidak mempunyai usia dan batasan.”

“Panembahan Hanykrawati dan Ki Patih Mandaraka sudah tidak ada. Ki Panji Secamerti dan Ki Tumenggung Sanden Merti pun sudah tidak ada. Tetapi, adakah orang yang lupa lalu mengikuti jalan mereka berdua? Tidak, kita tidak tahu pasti selain dugaan dan obrolan ini saja.”

Tidak seorang pun menyahut.

“Tetapi mengapa Agung Sedayu?”

Pertanyaan itu menggantung beberapa saat.

“Agung Sedayu, barak dan Tanah Perdikan. Benar, ketiganya terlalu kuat untuk dipisahkan. Terlalu liat untuk diceraiberaikan. Sekali lagi, pertanyaan lama, siapa yang tahu?”

Pembicaraan kemudian bergeser. Seseorang membicarakan tugasnya pada hari berikutnya. Yang lain mengeluhkan jumlah prajurit yang harus dibaginya untuk beberapa tempat.

Agak jauh dari kedai yang terletak di bagian barat Keraton.

Ki Panji Danutirta duduk berdampingan dengan Ki Panji Suralaga di bawah pohon asem tua. Untuk beberapa lama keduanya tidak berbicara.

Baru setelah mereka cukup jauh, Ki Panji Suralaga berkata, “Kita sudah mendengar dan mengetahuinya. Kabar serangan barak itu akhirnya mampu membuat percikan kuat di permukaan.”

“Semua orang membicarakannya, membandingkan tapi berhenti mencari. Terdengar bagus saat mendengar mereka bicara.”

Beberapa saat Ki Panji Danutirta memandang kawannya tanpa berkata-kata. Kemudian wajahnya perlahan berubah. “Kita kurang satu hal lagi untuk ditunggu lalu dituntaskan.”

Ki Panji Suralaga mengangguk, katanya, “Ki Panji Secamerti rupanya dapat menjadi contoh yang sangat baik.”

Dari kejauhan kemudian terdengar langkah mendekat. Langkah kaki orang biasa—sama sekali jauh dari kesan orang yang menguasai kanuragan apalagi kemampuan menyerap bunyi.

Berikutnya, seseorang tampak mendekat. Ki Wira Sentanu.

Kedua panji itu telah menunggunya.

Ki Panji Danutirta memperhatikan wajah Ki Wira Sentanu ketika laki-laki itu sudah duduk di antara mereka.

“Bagaimana tanggapan Pangeran, Kyai?” tanya Ki Panji Suralaga.

Ki Wira Sentanu tidak langsung menjawab. Tangannya masuk ke balik pakaiannya kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil. Lencana itu di atas telapak tangannya dengan terbuka.

Dua panji itu menatap sebentar lalu bertukar pandang.

“Lencana satuan sandi,” kata Ki Panji Danutirta.

Ki Wira Sentanu mengangguk, ucapnya kemudian, “Pangeran Purbaya yang memberikannya kepadaku.”

Ki Panji Suralaga menata diri seolah akan tiba keterangan yang cukup mengejutkan.

Ki Wira Sentanu kemudian menceritakan secara singkat isi pertemuannya dengan Pangeran Purbaya.

“Pangeran mengatakan bahwa wewenang untuk melepaskan Agung Sedayu berada di tangan Ki Gede Menoreh,” katanya. “Bukan Sinuhun.”

“Lalu lencana ini?” tanya Ki Panji Danutirta.

“Aku diminta membawanya kepada Ki Gede sambil menyatakan keperluan menghadap.”

Ki Panji Suralaga mengerutkan kening. Ini kejutan, pikirnya.

“Untuk apa?”tanya Ki Panji Danutirta.

“Sebagai bukti bahwa Pangeran Purbaya juga sedang datang menemui Ki Gede bersamaku.

Ki Panji Suralaga yang sejak tadi memperhatikan lencana itu kemudian bertanya, “Hanya itu?”

Dua panji itu sabar menunggu kalimat berikutnya.

“Pangeran mengatakan bahwa beliau berdua akan tetap berada di Kotaraja sampai aku memperoleh tanggapan Ki Gede,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Pertemuan akan kembali digelar setelah jawaban dan utusan Ki Gede datang ke Keraton.”

Ki Panji Danutirta dan Ki Panji Suralaga saling berpandangan.

Keheningan pun turun agak lama.

  • Pilihan sulit, dilematis bagi mereka. Tidak mengetahui sesuatu di balik penyerahan lencana. Ki Wira Sentanu ternyata menyembunyikan sesuatu di Kerusuhan Besar Bukit Menoreh. Tapi, biarlah kita tinggalkan mereka untuk sementara.
  • Karena ada keadaan lain yang dilematis juga. Antara Raden Mas Wuryah dengan Raden Mas Rangsang, siapakah yang lebih berhak memimpin Mataram? Entahlah, tapi pertanyaan yang senada juga muncul: “Mungkin engkau pun bertanya, seandainya ada, lalu apakah ada alasan masuk akal yang dapat menjelaskan semuanya?” tanya Nyi Banyak Patra pada Agung Sedayu ketika mereka bertemu dalam Bara di Bukit Menoreh 23.
  • Dan memang seperti itulah pertanyaan bagaimana, kelanjutannya apa.. Karena muncul perintah yang disampaikan berantai agar semua orang bersiap di Bergabung 2 untuk meringkus orang-orang yang berada di Perguruan Kelabang Waringin.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.