0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 85 – Sanggabaya: Ki Tumenggung Tidak Melatih Kami untuk Bertahan

Dironda 62 kali

Wedaran sebelumnya: Matahari mulai meninggalkan siang, Ki Winih Jambe datang ke barak pasukan khusus bersama Ki Dawar Blandong dan sejumlah orang perguruannya untuk menemui Agung Sedayu. Ki Rangga Sanggabaya keluar menemui rombongan itu. Dengan singkat, dia menyampaikan bahwa Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak dapat ditemui pada hari itu.

Ki Dawar Blandong yang berdiri sedikit di belakang tetua perguruannya mulai merasa ada sesuatu yang ganjil. Rangga Mataram telah keluar menemui mereka, memperkenalkan diri, lalu mengatakan bahwa Agung Sedayu tidak dapat ditemui. Setelah itu diam. Bahkan dia tidak bertanya asal kelompoknya kepada orang yang berdiri di hadapannya, setidaknya bertanya nama.

Ki Dawar Blandong mengerutkan kening.

Waktu seperti berjalan semakin lambat. Prajurit yang berjaga di regol tetap berada di tempatnya. Beberapa orang di halaman masih melakukan pekerjaan masing-masing. Sesekali terdengar benturan kayu atau suara orang berbicara dari kejauhan.

Namun di depan regol itu tidak seorang pun berkata-kata.

Ki Sanggabaya tetap berdiri tiga langkah di hadapan Ki Winih Jambe. Sedangkan Ki Winih Jambe pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka percakapan.

Perasaan Ki Dawar Blandong mulai terusik. Apakah Ki Rangga itu benar-benar tidak ingin mengetahui siapa yang datang menemuinya?

Menurut ukurannya, setidaknya orang Mataram itu dapat bertanya nama atau asal perguruan mereka. Apalagi seorang tetua perguruan berdiri sendiri di hadapannya setelah menempuh perjalanan yang tidak dekat. Tetapi Ki Sanggabaya seakan telah merasa cukup dengan jawaban yang diberikannya: Agung Sedayu tidak dapat ditemui hari itu.

Selebihnya bukan urusannya.

Rahang Ki Dawar Blandong perlahan mengeras. Baginya, diam itu terasa lebih merendahkan daripada penolakan yang diucapkan terus terang.

Kalau Ki Sanggabaya menyuruh mereka pergi, setidaknya mereka dapat menjawab. Jika dia mempertanyakan kedatangan mereka, Ki Winih Jambe dapat mengatakan keperluannya. Bahkan jika prajurit Mataram itu menunjukkan kecurigaan, masih ada sesuatu yang dapat dihadapi. Tetapi rangga Mataram itu tidak melakukan semuanya—hanya berdiri.

Ki Dawar Blandong menarik napas panjang. Pandangannya sempat beralih kepada orang-orangnya, kemudian kembali kepada Ki Sanggabaya.

Tetua perguruannya masih belum bergerak.

Dan muncul pula keheranan dalam pikirannya, ketenangan Ki Winih Jambe justru membuat Ki Dawar Blandong semakin merasakan panjangnya keheningan itu.

Tidak jauh dari regol, Ki Demang Brumbung berdiri di tempat yang cukup terbuka. Dari tempatnya, dia dapat melihat Ki Sanggabaya berhadapan dengan lelaki tua yang berada di depan rombongan. Demikian pula orang-orang yang datang bersama lelaki itu.

Sebaliknya, keberadaan Ki Demang Brumbung juga mudah terlihat dari beberapa bagian halaman.

Sejak tadi dia tidak mendekat tetapi pandangannya beberapa kali beralih dari Ki Sanggabaya kepada orang-orang di belakang Ki Winih Jambe. Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak. Mereka juga belum melakukan sesuatu yang dapat dianggap mengancam barak. Namun kedatangan sekelompok orang setelah segala yang terjadi beberapa hari terakhir tentu tidak dapat dibiarkan berlalu tanpa diperhitungkan.

Ki Demang Brumbung kemudian menoleh ketika seseorang melintas tidak jauh darinya.

“Kemarilah sebentar.”

Orang itu mendekat.

Sulit mengatakan dari pakaiannya, apakah dia seorang pengawal Tanah Perdikan, prajurit Jati Anom, atau orang yang untuk sementara membantu pekerjaan di barak? Dalam keadaan beberapa hari terakhir, orang-orang dari berbagai tempat memang datang dan pergi untuk membantu pekerjaan yang belum selesai.

Ki Demang Brumbung mengenalnya. Itu sudah cukup.

“Pergilah ke kediaman Ki Gede,” katanya dengan suara rendah. “Sampaikan keadaan barak sekarang kepada Ki Gede atau Nyi Pandan Wangi. Katakan pula agar penjagaan di kediaman diperhatikan.”

Orang itu mengangguk, tetapi belum dapat beranjak. Dia bertanya, “Jika Nyi Pandan Wangi bertanya apakah Menoreh perlu mengirim orang kemari?”

Ki Demang Brumbung memandang sekilas ke arah regol.

Ki Sanggabaya dan Ki Winih Jambe masih berdiri berhadapan.

“Ki Tumenggung maupun Ki Rangga tidak meninggalkan pesan khusus mengenai itu,” jawabnya. “Jadi serahkan kepada Ki Gede atau Nyi Pandan Wangi. Beliau berdua yang memutuskan.”

“Baik, Ki Demang.” Orang itu segera meninggalkan gerbang barak.

Ki Demang Brumbung tidak mengikuti kepergiannya dengan pandangan. Perhatiannya kembali ke depan regol.

Beberapa lama kemudian, Ki Winih Jambe akhirnya memecah keheningan.

“Masuklah ke ruang tahanan,” katanya dengan suaranya yang tidak keras. Bahkan hampir tidak ada perubahan pada nada bicaranya. Namun setiap kata keluar dengan tekanan yang membuatnya lebih menyerupai perintah daripada permintaan.

“Panggil keluar tiga orang dari Perguruan Empu Pinang Aring. Katakan kepada mereka, Ki Winih Jambe datang menjemput mereka untuk pulang,” lanjut Ki Winih Jambe.

Ki Sanggabaya tetap memandangnya. “Mohon maaf, saya tidak dapat memenuhi permintaan Kyai.”

Sorot mata Ki Winih Jambe menajam sedikit.

“Hanya Ki Tumenggung yang dapat mengeluarkan atau memutuskan nasib seorang tahanan,” lanjut Ki Sanggabaya.

“Lepaskan saja tiga anak-anakku. Aku akan pergi dari sini. Bukan hanya dari sini tapi Tanah Perdikan.”

“Maaf, Kyai. Ki Tumenggung tidak meninggalkan pesan untuk itu.”

Kembali keduanya terdiam.

Kali ini Ki Dawar Blandong tidak lagi memandang orang-orang di halaman. Perhatiannya tertuju penuh kepada dua orang yang berdiri berhadapan di depan regol.

Ki Winih Jambe kemudian bertanya, “Jika aku memaksa?”

Ki Sanggabaya menarik napas perlahan.

“Ki Tumenggung juga tidak melatih kami untuk bertahan.”

Ki Dawar Blandong mengangkat wajah. Dia sadar bahwa jawaban itu terdengar hampir biasa. Tidak ada ancaman dalam suara Ki Sanggabaya. Tangannya pun tidak bergerak mendekati senjata. Tetapi justru karena itulah beberapa orang yang mendengarnya membutuhkan waktu untuk menangkap maksud perkataannya.

Ki Winih Jambe menangkapnya lebih cepat.

Tatapan kedua orang itu bertemu.

Ki Sanggabaya tidak secara terang mengatakan bahwa barak akan mempertahankan ketiga tahanan itu. Dia juga tidak mengatakan bahwa pasukan khusus akan mencegah Ki Winih Jambe apabila hendak masuk. Dia hanya mengatakan bahwa Agung Sedayu tidak melatih mereka untuk bertahan, itu saja tapi kalimat tersebut mempunyai makna yang lain.

Ki Dawar Blandong perlahan menegakkan tubuhnya, tangannya perlahan merayap menyentuh ujung senjata dan meraba ikat pinggang. Dia merasakan untuk pertama kalinya sejak Ki Sanggabaya keluar dari regol, diam yang mengganggunya tadi mulai berubah menjadi tantangan. Ini bukan lagi keadaan yang dapat diremehkan meski sebenarnyalah sikap prajurit Mataram itu terkesan sudah meremehkan mereka.

Ki Winih Jambe masih berdiam beberapa saat.

“Aku datang dengan baik-baik. Meminta dengan baik-baik,” katanya kemudian. “Tetapi kalian bahkan tidak mempersilakan kami masuk sebagai tamu atau sekadar orang-orang yang datang dari jauh.”

Ki Winih Jambe berhenti sebentar. Lalu berkata lagi, “Baiklah. Aku dapat menerima itu. Tetapi sulit bagiku membayangkan bagaimana Ki Gede Menoreh atau Agung Sedayu akan melihat cara kalian menerima kami.”

Ki Sanggabaya tidak segera menjawab. Sejenak dia menyusun kata-kata, lalu ucapnya, “Kami memang tidak dilatih untuk mengerti tata cara melepaskan tahanan, Kyai.”

Ki Dawar Blandong menahan geram.

Ki Winih Jambe memandang Ki Sanggabaya beberapa saat, lalu bergeser surut selangkah. Kakinya bergerak sekali lagi hingga jarak di antara mereka menjadi lebih lebar. Tangannya berkibas.

Gerakan itu segera ditangkap Ki Dawar Blandong.

Orang-orang yang sejak tadi berdiri di belakangnya berhamburan hampir bersamaan. Sebagian bergerak melebar di depan regol, sedangkan beberapa lainnya langsung menerobos ke halaman. Senjata yang sebelumnya tersimpan di balik kain atau dibawa tanpa diperlihatkan kini berada di tangan masing-masing.

Prajurit yang berjaga di regol segera bergerak menghadang. Orang-orang yang berada di halaman pun meninggalkan pekerjaan mereka ketika melihat beberapa orang berlari masuk.

Dalam waktu singkat, halaman yang sebelumnya masih dipenuhi kesibukan berubah oleh gerakan orang dari berbagai arah.

Namun dua orang yang sejak tadi berdiri di depan regol belum beranjak. Ki Sanggabaya masih berada di tempatnya. Demikian pula Ki Winih Jambe.

Di antara hiruk-pikuk perkelahian yang mulai memenuhi halaman, Ki Winih Jambe masih berdiri berhadapan dengan Ki Sanggabaya.

“Harus disayangkan jika sampai terjadi pertumpahan darah,” katanya.

“Memang begitulah seharusnya, Kyai. Tidak perlu ada perkelahian apalagi menggunakan senjata,” jawab Ki Sanggabaya. “Tetapi sejujurnya, kami tidak mengetahui bagaimana tata cara melepaskan tahanan.”

Di kediaman Ki Gede Menoreh.

Orang yang mendapat pesan dari Ki Demang Brumbung telah berdiri di pringgitan.

“Sekelompok orang datang ke barak, Ki Gede,” katanya setelah menyampaikan beberapa keterangan seperlunya. “Jumlah mereka cukup banyak. Ketika saya meninggalkan barak, Ki Rangga Sanggabaya sedang menemui pemimpin mereka di depan regol.”

Ki Gede Menoreh mendengarkan tanpa menyela.

“Ki Demang Brumbung meminta saya menyampaikan keadaan itu kepada Ki Gede atau Nyi Pandan Wangi. Beliau juga berpesan agar penjagaan di kediaman mendapat perhatian.”

Pandan Wangi yang duduk tidak jauh dari ayahnya memandang lekat utusan Ki Demang Brumbung itu.

“Apakah Ki Demang meminta orang-orang Menoreh datang ke barak?” tanyanya.

“Tidak, Nyi. Saya sempat menanyakan hal itu sebelum berangkat. Ki Demang mengatakan Ki Tumenggung maupun Ki Rangga tidak meninggalkan pesan khusus. Jika Menoreh memandang perlu mengirim orang, keputusan diserahkan kepada Ki Gede atau Nyi Pandan Wangi.”

Ki Gede mengangguk perlahan.

Beberapa saat dia tidak berkata-kata. Pandangannya tertuju kepada orang yang membawa pesan itu, kemudian beralih kepada Pandan Wangi.

Tidak ada perkataan yang menyerahkan keputusan kepadanya. Ki Gede juga tidak memberikan perintah. Namun Pandan Wangi mengetahui bahwa ayahnya sedang memberikan persoalan itu kepadanya untuk ditimbang.

Pandan Wangi mengangguk setelah melihat ayahnya, kemudian membagi pandangannya. Katanya, “Sayoga, bawa beberapa orang ke barak. Sukra tetap di sini.”

Keduanya mengangguk.

Pandan Wangi kemudian bangkit dan menghampiri Kinasih.

“Ikutlah bersama Sayoga. Amati keadaan di sana dan lakukan yang perlu dilakukan.”

“Baik, Nyi.”

Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Sayoga segera memilih beberapa orang untuk dibawanya menuju barak. Kinasih pergi bersamanya.

  • Di sini, kita menyaksikan keteguhan Ki Sanggabaya mengembang perintah Sedayu. Pada bagian lain, Hari Bising 86, rangga Mataram tersebut bahkan mungkin sedikit sangar. Ketika itu, perintah Agung Sedayu telah diterima oleh Ki Rangga Sanggabaya
  • Memanglah setiap tokoh sebagaimana kita yang berproses lalu berkembang. Jadi saya ajak Panjengen berghibah mengenai Agung Sedayu di Warung Kopi Jati Anom.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.