0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 98 – Agung Sedayu Memulangkan Swandaru

Dironda 31 kali

Wedaran sebelumnya: Di bawah kendali pesan-pesan Agung Sedayu, Ki Sanggabaya, Ki Jayaraga, Glagah Putih, Sayoga, dan Sukra berupaya mengurai teka-teki kelompok asing di Dusun Benda dengan penuh kesabaran. Sayoga dan Sukra harus menahan diri dari berbagai hinaan saat menyamar sebagai pedagang, sementara Glagah Putih yang berangsur pulih bersama Sabungsari memantau wilayah sekitar sungai dan pategalan demi mencari motif tersembunyi di balik pergerakan lawan tanpa memicu keributan.

Tapi akibat dari siasat dan keteguhan seluruh orang yang terlibat dalam pengawasan itu, dalam beberapa waktu terakhir, mulai tampak.

Perkemahan itu berada di tempat yang mudah mencapai ke segala arah, pedukuhan induk, Gunung Kendil, Gunung kunir atau bahkan bila mereka bergerak ke barat lagi maka tiga atau empat hari sudah berada di luar Perbukitan. Menoreh.

Namun salah seorang pemimpin mereka, Ki Jalawangsa mempunyai pikiran yang berbeda. Menurutnya, menuju Gunung Kendil akan mengundang bahaya lain.

“Mataram dapat melihat kita sebagai bagian oang yang menentang sedangkan kita tidak menghendaki itu,” kata Ki Jalawangsa sambil mengingatkan serbuan yang terakhir dilakukan prajurit Mataram.

“Mereka tidak akan segan jika mengendus bahwa persoalan Raden Atmandaru ternyata masih tersisa,” ucap Ki Jalawangsa. “Kita bukan bagian gerakan itu. Kita terputus dengan mereka.”

Seseorang bangkit lalu bertanya, “Apakah itu berarti kita keluar dari Perdikan? Kyai, itu adalah perjalanan yang jauh sedangkan tugas kita belum selesai. Anggapan bahwa kita melarikan diri akan menjadi benar dan terlalu benar.”

Ki Jalawangsa menggeleng. “Tidak, kita tidak melarikan diri. Yang kita hindari adalah benturan yang belum masuk waktunya.”

Orang itu berkata lagi, “Bila benar begitu, apakah Kyai akan membawa kita ke Gunung Kunir? Saya kira di sana sudah terlalu padat. Ada dua atau beberapa perguruan sudah mendahului kita di sana.”

“Yah, benar tapi lereng Gunung Kunir masih terlalu luas hanya untuk kita yang kurang dari lima puluh atau empat puluh orang ini,” sahut Ki Jalawangsa.

Setelah mengamati semua yang dilakukan oleh pasukan Mataram, Ki Jalawangsa akhirnya paham bahwa jalur menuju Gunung Kendil memang ditutup. Meski dapat saja mereka mencapai ke tempati itu, tapi benturan pasti terjadi.

“Pasukan khusus mempunyai pertimbangan lain dan mereka tidak akan berhenti dengan larangan saja,” kata Ki Jalawangsa lagi depan orang-orang yang mengikutinya.

Demikianlah mereka pun berkemas lalu bergerak ke arah Dusun Separang atau Gunung Kunir. Keduanya tempat itu mempunyai jalur yang lebih memungkinkan untuk dilewati, sekaligus menyediakan cukup banyak pilihan bagi orang-orang yang ingin menghilang dari pengamatan.

Di kediaman Ki Gede, suasana justru jauh berbeda.

Tidak ada orang-orang yang berjalan mengendap dengan tatap mata awas di antara pepohonan. Tidak ada kecurigaan dan tidak ada orang yang mengamati langkah dan jejak setiap orang. Namun ketenangan itu tidak dapat dijadikan gambaran bahwa Tanah Perdikan benar-benar terbebas dari persoalan.

Beberapa orang yang berkumpul di sana justru membawa pikiran mereka masing-masing. Sejumlah orang datang dan pergi dengan banyak permasalahan seperti pembagian air saat Menoreh sedang didera musim kemarau. Tentang ternak yang mengobrak-abrik pategalan atau ladang seorang tetangga dan persoalan lain yang nyaris serupa.

Dan di antara mereka, ada pembicaraan yang untuk sementara tidak berhubungan langsung dengan kelompok orang asing di Dusun Benda.

Beberapa waktu sebelumnya, mungkin dua atau tiga hari yang lalu, seorang datang ke kediaman Ki Gede.

Kedatangannya tidak menarik perhatian. Dia datang seorang diri dan tidak membawa tanda-tanda yang dapat segera menunjukkan bahwa kedatangannya berkaitan dengan urusan yang penting.

Di pendapa, dia duduk berhadapan dengan Ki Gede, sementara Pandan Wangi berada tidak jauh dari ayahnya.

Mereka bertukar cakap ringan mengenai keadaan di sekitar kediaman. Tentang jalan yang belakangan lebih ramai, beberapa kedai yang ramai dikunjungi orang, dan pasar pedukuhan induk. Sejumlah keadaan itu, menurut tamu Ki Gede, masih cukup baik jika dibandingkan dengan wilayah yang pernah dilaluinya.

Setelah merasa duduknya cukup mapan, orang itu kemudian memperkenalkan diri.

“Nama saya Ki Adiyasa, Ki Gede.”

Sesaat setelah nama itu terucapkan, ada perubahan kecil pada wajahnya. Kepalanya tiba-tiba tegak sedikit, Matanya lebih terbuka lebar seperti seseorang yang baru menyadari bahwa sesuatu telah terlanjur keluar dari mulutnya. Hanya sesaat.

“Saya seorang pedagang keliling,” lanjutnya. “Tidak besar, Ki Gede. Saya hanya membawa barang-barang yang mudah diperjualbelikan dari satu tempat ke tempat lain. Kadang hasil bumi, kadang barang kebutuhan yang dapat saya peroleh dalam perjalanan.”

Ki Gede mengangguk tanpa mengubah tatap matanya yang lurus memandang Ki Adiyasa.

“Berarti Ki Adiyasa sudah banyak melihat dan punya pengalaman yang sangat luas,” kata Ki Gede.

“Begitulah tapi belum sebanding dengan Ki Gede,” sahut Ki Adiyasa sambil mengangguk.

Jawaban itu terdengar wajar tetapi tidak bagi Pandan Wangi. Perempuan tangguh ini tidak melewatkan perubahan kecil yang terjadi sebelum jawaban itu keluar. Dia tahu ada yang sedang disembunyikan orang itu. Pandan Wangi, dengan wawasan dan pergaulannya yang cukup, segera tahu bahwa nama yang baru saja didengarnya bukanlah nama yang biasa digunakan oleh seorang pedagang. Itu adalah nama yang mempunyai arti istimewa dan berasal dari golongan yang mungkin khusus pula.

Namun Pandan Wangi tidak mengucapkan kata-kata sedikit pun.

Pada saat itu Kinasih keluar dari dalam rumah. Gadis itu membawa wadah bekas minum para tamu sebelumnya. Dengan tenang dan cekatan dia membereskan cangkir dan tempat minum yang telah kosong, kemudian membawa hidangan baru untuk Ki Gede dan tamunya.

Kinasih tidak menunjukkan perhatian terhadap percakapan yang berlangsung di pendapa. Dia bahkan tidak melihat wajah tamu yang sedang duduk di hadapan Ki Gede.

“Bukan urusanku,” ucapnya dalam hati. Setelah meletakkan hidangan, dia kembali membereskan beberapa benda di dekat tiang pendapa.

Percakapan di antara Ki Gede Menoreh dan Ki Adiyasa pun bergulir, merambah ke beberapa hal lainnya termasuk rencana Ki Adiyasa yang ingin menyewa rumah dan lahan di sekitar Dusun Benda.

“Kalau hanya rumah untuk tempat tinggal dan sedikit lahan untuk diolah, tentu masih dapat dicari,” kata Ki Gede. “Di sekitar pedukuhan masih ada beberapa tempat yang mungkin sesuai.”

Ki Adiyasa mengangguk. “Terima kasih, Ki Gede. Tetapi untuk sementara saya ingin mencarinya sendiri. Saya tidak ingin merepotkan Ki Gede.”

“Tidak merepotkan.”

“Saya menghargainya. Namun saya lebih senang melihat sendiri tempat yang akan saya tempati. Saya memang berniat berusaha di sini, saya perlu mengetahui sendiri keadaan tempat itu.”

Ki Gede mengangguk lalu mengembangkan senyum.

“Itu juga tidak salah. Kalau kemudian Ki Sanak kesulitan, sampaikan apa adanya pada kami.”

“Terima kasih, Ki Gede.”

Pandan Wangi sesekali ikut bicara. Tidak banyak, hanya mengenai daerah yang pernah dilewati Ki Adiyasa dan barang-barang yang biasa dibawanya. Beberapa kali percakapan itu bahkan berlangsung cukup ringan sehingga tidak tampak seperti pembicaraan yang mempunyai maksud tertentu.

Ki Adiyasa menjawab semuanya dengan tenang.

Pandan Wangi tidak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Beberapa saat kemudian, dia pun bangkit.

“Ada yang masih harus saya kerjakan, Ayah.”

Ki Gede mengangguk. “Pergilah.”

Pandan Wangi meninggalkan pendapa tanpa menoleh lagi kepada Ki Adiyasa.

Dalam beberapa waktu terakhir, keadaan tubuhnya memang telah jauh membaik. Luka-luka yang diperolehnya dalam beberapa peristiwa sebelumnya hampir tidak lagi mengganggu gerakannya.

Dengan perawatan yang baik dan waktu istirahat yang cukup, kekuatannya perlahan kembali. Bahkan Pandan Wangi mulai berlatih kanuragan lagi. Belum sekeras sebelumnya, tetapi cukup untuk mengembalikan kelenturan tubuh dan ketajaman geraknya.

Di pendapa, Ki Gede dan Ki Adiyasa masih meneruskan percakapan mereka sebagaimana kebiasaan rumah induk Tanah Perdikan Menoreh itu menerima orang-orang. Hingga kemudian Ki Adiyasa meminta diri saat waktu menuju tengah hari.

Barak pasukan khusus.

Menjelang sore, Agung Sedayu telah berada di dalam bilik kerjanya. Dia tiba di Tanah Perdikan saat setelah matahari sedikit lingsir kulon. Selain memenuhi perintah Nyi Banyak Patra agar menyusulnya ke Kotaraja, Agung Sedayu meneruskan perjalanannya menuju Sangkal Putung dan terakhir adalah Jati Anom sebelum akhirnya kembali ke Menoreh.

Di Jati Anom, selain menemui keluarganya, Agung Sedayu menyempatkan diri menuju sebuah gua yang pernah menjadi tempatnya melakukan mesu raga. Dia merasa memerlukan tempat khusus untuk mengulang pesan dan arahan dari Nyi Banyak Patra maka dia pun tinggal di sana untuk beberapa waktu.

Gua tersebut itu tidak banyak berubah mungkin karena letaknya yang benar-benar tersembunyi. Batu-batu yang dahulu dikenalnya masih berada di tempatnya, sementara kesunyian di dalam gua seperti menyimpan kembali jejak-jejak dirinya pada masa lalu. Lukisan tata gerak jalur Ki Sadewa rupanya juga belum semuanya terhapus.

Sepanjang waktu di dalam gua, Agung Sedayu benar-benar melatih diri dan pikiran sesuai permintaan Nyi Banyak Patra. Dia juga berusaha menemukan jalur yang dapat menghubungkan dua garis ilmu: satu jalur dari Kyai Gringsing dan satu jalur lain telah diajarkan oleh Nyi Banyak Patra.

Pada sore itu, Agung Sedayu duduk berhadapan dengan Ki Rangga Sanggabaya dan Ki Lurah Prana Aji.

Ki Lurah Prana Aji menyebutkan beberapa perkembangan yang telah dikumpulkan orang-orang sandi. Dari Dusun Benda, gerakan pasukan khusus masih berlangsung seperti yang diperintahkan. Dari arah lain, ada pula kabar tentang orang-orang yang mulai sering terlihat di jalur menuju pedukuhan.

Ki Rangga Sanggabaya sesekali menambahkan keterangan yang menurut pengamatannya perlu diperhatikan.

Agung Sedayu mendengarkan seolah seluruh penyampaian itu tercatat dengan sendirinya di dalam ruang-ruang pikirannya.

Mengenai Dusun Benda, Ki Sanggabaya mengutarakan pula bahwa orang-orang asing di perkemahan mulai tampak berkemas.

“Adakah perkiraan ke mana mereka pergi, Ki Rangga?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Sanggabaya menarik napas pendek. Keningnya berkerut sesaat, lalu jawabnya, “Jika saya tetap berada di wilayah yang dikehendaki Ki Tumenggung, seharusnya mereka bergerak ke Dusun Separang. Setidaknya mereka berhenti di sana atau sekalian menuju Gunung Kunir.”

“Berarti seluruhnya hampir berjalan sesuai rencana,” kata Agung Sedayu seakan pada dirinya sendiri tapi dua bawahannya terlihat mengangguk, perlahan.

Kemudian Agung Sedayu mengatakan bahwa mereka masih menunggu kepastian dari petugas sandi yang disebar ke daerah yang dikemukakan Ki Sanggabaya.

Setelah menguraikan tugas-tugas selanjutnya, Agung Sedayu undur diri. Dia mengayun langkah menuju ruang Swandaru dirawat.

“Bagaimana keadaanmu?”

Swandaru berpaling, memandang Agung Sedayu barang sejenak lalu berkata, “Sudah lebih baik.”

“Sepertinya engkau sudah sanggup mengadakan perjalanan,” ucap Agung Sedayu sambil mengangguk perlahan.

Setelah memeriksa beberapa bagian persendian, murid Kyai Gringsing itu berkata lagi, “Baiklah. Barak tidak dapat lagi sepenuhnya melindungi dirimu. Keadaan semakin membahayakan dari hari ke hari. Aku pikir lebih baik engkau bersegera ke Sangkal Putung. Untuk itu, aku akan menyertakan Ki Lurah Sora Sareh dan beberapa orang untuk menemanimu hingga kediaman Ki Demang.”

Agung Sedayu lalu diam untuk menimbang satu atau dua persoalan, kemudian katanya, “Sekar Mirah lebih membutuhkan kehadiranmu di sana. Dia sepertinya tidak dapat sendirian untuk merawat Ki Demang yang sudah kepayahan.”

Swandaru sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tapi Agung Sedayu mengangkat tangan.

“Aku baru saja dari Sangkal Putung dan sudah melihat semuanya,” ucap Agung Sedayu. “Dan, seperti yang aku katakan, engkau tidak dapat lebih lama di sini. Jika keselamatanmu dapat kau abaikan, tapi setidaknya ada perasaan yang harus dipertimbangkan.”

“Mengerti,” sahut Swandaru cepat.

Demikianlah, hanya itu yang mereka bicarakan. Tidak ada percakapan panjang seperti yang dahulu mudah terjadi di antara mereka. Sejak perang tanding Pancuran Watu Item, keduanya seperti menyimpan jarak yang tidak pernah benar-benar mereka bicarakan. Mereka masih saling menghormati, tetapi ada batas yang membuat percakapan enggan bergerak lebih jauh.

Agung Sedayu lantas mengatakan, “Aku yang nantinya akan menyampaikan keadaan ini dan Sangkal Putung kepada Ki Gede Menoreh.”

Dia berhenti sebelum menyebut nama Pandan Wangi. Demi menjaga perasaaan adik seperguruannya itu, Agung Sedayu kemudian berkata lagi, “Jaga diri. Tinggalkan yang telah berlalu. Tidak ada yang patut disesali karena sebuah keputusan sudah tidak mungkin dapat diperbaiki. Hanya akibat dan akibat sajalah yang kemudian bisa dibenahi.”

Swandaru mengangguk.

“Persiapkan diri untuk perjalanan esok hari,” kata Agung Sedayu lalu meninggalkan ruangan dengan langkah perlahan, sementara Swandaru kembali merebahkan kepalanya.

Keesokan hari, Agung Sedayu memandang kepergian Swandaru beserta Ki Lurah Sora Sareh serta sejumlah pengawal ke Kademangan Sangkal Putung. Dalam waktu itu, dalam hati Sedayu muncul angan bahwa Swandaru akan menjadi yang pernah menjadi harapan gurunya, Kyai Gringsing.

Sejenak kemudian terdengar hela napas panjang darinya, agak keras.

Seketika Ki Sanggabaya menoleh kepadanya, lalu bertanya, “Ki Tumenggung?”

“Swandaru telah bergeser tempat. Saya tidak tahu, apakah keputusan ini benar atau salah, Ki Rangga. Yang pasti adalah melihat Swandaru pergi, kitab guru kami pun semacam pengganti di barak ini.”

Kitab Kyai Gringsing, saat Agung Sedayu menyebutnya secara tidak langsung, Ki Sanggabaya pun tahu diri. Itu bukan lagi wilayah kerja yang dapat dilakukan bersama-sama.

“Saya ke Dusun Separang dulu, Ki Tumenggung,” pamit Ki Sanggabaya.

“Baiklah, terima kasih,” sahut Agung Sedayu.

  • Ki Sor Dondong diam sejenak kemudian katanya, “Namun, saya kira dengan bahan pengamatan yang telah dikumpulkan oleh para telik sandi, mungkin, regu pemukul itu telah terbentuk di Geger Alas Krapyak 20. Marilah, kita ke sana.”
  • Atau lebih baik ke sini: Gumilang, yang mengetahui Ki Wisanggeni adalah ayah dari seorang perwiranya, berusaha mencegah pertempuran antara ayah dan anak itu terjadi. Pertempuran Hari Kedua 3 ini menjadi bagian sulit bagi seorang Gumilang. Sulit membuatnya tetap menerima sebagai kenyataan.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.