0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 99 – Beban Batin Ki Gede Atas Rumah Tangga Pandan Wangi

Dironda 27 kali

Wedaran sebelumnya: Meskipun hubungan mereka berdua sempat berjarak sejak perang tanding Pancuran Watu Item, Agung Sedayu tetap merawat dan bersikap sewajarnya pada Swandaru. Bahkan untuk keamanan Swandaru setelah memperhatikan keadaan barak, dia memintanya untuk pulang ke Sangkal Putung.

Sehari setelah Ki Adiyasa datang bertamu di kediaman Ki gede Menoreh, Ki Wira Sentanu akhirnya tiba di Dusun Separang.

Pada siang hari itu, tanpa banyak menemui kesulitan, Ki Wira Sentanu pun tiba di perkemahan kelompoknya. Duduk di sekitarnya adalah Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik. Mereka membicarakan sejumlah perkembangan termasuk serangan ke barak dan Ki Winih Jambe yang putus nyawanya oleh Agung Sedayu.

Ki Kamejing menggeleng ketika Ki Wira Sentanu meminta keterangan lebih jauh mengenai perkembangan ilmu Agung Sedayu. Tidak ada yang dapat ditambahkannya. Pengamatan yang mereka lakukan selama ini belum memberi gambaran yang cukup untuk mengukur kemampuan tumenggung Mataram itu berkembang.

Ki Ajar Poh Kecik pun menggeleng.

“Saya pun belum dapat memastikan. Dari yang terlihat, kita masih belum beranjak dengan yang sebelumnya pernah terungkap, di Pancuran Watu Item.”

Ki Wira Sentanu terdiam sejenak. Pandangannya beralih kepada kedua orang di hadapannya sebelum berkata, “Kalian tidak perlu terlalu memikirkannya. Saat serangan ke barak terjadi, Agung Sedayu justru berada di Kotaraja.”

Ki Kamejing mengangkat wajah. Ki Ajar Poh Kecik pun memandangnya dengan penuh perhatian.

“Karena itu, wajar jika ilmu Agung Sedayu belum dapat kita ukur,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Kita hanya melihat akibat dari gerak orang-orangnya, sedangkan orang itu sendiri tidak berada di tempat ketika peristiwa berlangsung. Selama belum berhadapan langsung dengannya, kita hanya akan menduga-duga.”

Ki Wira Sentanu kemudian menarik napas. “Lalu, siapa yang menghentikan Ki Winih Jambe?”

“Seorang gadis,” jawab Ki Kamejing nyaris bersamaan dengan Ki Ajar Poh Kecik.

“Seorang gadis?” tanya Ki Wira Sentanu memastikan dengan dahi berkerut.

“Benar, Kyai,” kata Ki Ajar Poh Kecik. Kemudian dia mengatakan segala yang terlihat olehnya, termasuk kabut yang keluar dari gadis itu.

Ki Kamejing pun menambahkan beberapa keadaan yang tidak disinggung oleh Ki Ajar Poh Kecik. Termasuk di dalamnya adalah keberadaan Ki Ajar Ental Sewu dan yang terakhir, sebuah kelompok yang bergerak lambat dari arah Dusun Benda.

Mendengar penuturan itu, Ki Wira Sentanu diam agak lama. Rupanya bukan dia seorang yang menuntut balas, tetapi ada beberapa perguruan bahkan ada yang masih menunggu seperti kata Ki Kamejing.

Agak lama pembicaraan itu berlangsung sebelum akhirnya Ki Kamejing menyatakan akan berangkat pula ke Sangkal Putung.

“Jadi, Kyai sudah menemukan jalan?” tanya Ki Wira Sentanu.

“Bukan menemukan dalam arti sebenarnya, Kyai,’ jawab Ki Kamejing, ‘tapi lebih dekat ke arah menelusuri. Arahnya sudah benar tapi kami harus pastikan lagi.”

“Saya dapat mengerti,’ kata Ki Wira Sentanu lalu mengangguk. “Kalau begitu, lanjutkan penelusuran itu dengan hati-hati. Jangan sampai sesuatu yang belum pasti justru membawa kalian ke arah yang keliru.”

Ki Kamejing tersenyum. Dia berkata kemudian, “Terima kasih.  Kami akan berhati-hati.”

“Semoga tidak sia-sia,” kata Ki Ajar Poh Kecik. “Kalau benar jalannya sudah mulai terlihat, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan langkah berikutnya.”

Ki Kamejing mengangguk. “Terima kasih, Ki Ajar. Kalian pun berhati-hatilah di sini.”

Ki Wira Sentanu kemudian bangkit dan mengulurkan tangan. “Sampai bertemu lagi, Kyai.”

Ki Kamejing menyambutnya. “Sampai bertemu.”

Mereka pun berpisah. Ki Kamejing dan iring-iringannya meninggalkan tempat itu menuju Sangkal Putung, sedangkan Ki Wira Sentanu dan Ki Ajar Poh Kecik masih tinggal beberapa saat untuk membicarakan langkah mereka berikutnya.

“Tampaknya memang kita butuh satu kelompok atau orang sebagai teman,” desis Ki Ajar Poh Kecik. “Masukan Ki Kamejing dapat dipertimbangkan.”

“Saya belum dapat berpikir lebih jauh sebelum urusan dengan Agung Sedayu menjadi jelas,” kata Ki Wira Sentanu lalu mengungkap sebagian isi pembicaraannya dengan Pangeran Purbaya.

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk-angguk. Dengan nada rendah dia bertanya, “Jadi, kapan Kyai pergi ke rumah Ki Gede?”

“Entahlah,“ berkata Ki Wira Sentanu. “Ada sesuatu yang aneh saat lencana ini ditunjukkan padaku. Seharusnya, ya, seharusnya…”

Ki Wira Sentanu tidak meneruskan ucapannya. Pikirnya, orang di depannya itu pun tidak perlu tahu yang telah dilakukannya pada masa itu. Itu adalah keadaan yang berbeda.

Kekalahan Kakang Panji di tangan guru Agung Sedayu bukan perkara yang telah selesai baginya. Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi Agung Sedayu mempunyai tempat tersendiri dalam ingatannya. Kini dia berhadapan dengan murid yang telah tumbuh menjadi seorang senapati penting Mataram.

Dan keadaan telah memberinya kedudukan yang dahulu tidak pernah dimilikinya. Dia telah berada cukup dekat dengan Sunan Agung. Kedekatan itu membuka kemungkinan yang jauh lebih besar daripada sekadar membalas kekalahan lama. Bila dia dapat menemukan kelemahan Agung Sedayu, mengumpulkan alasan yang masuk akal dan menyusunnya dengan tepat, maka persoalan itu tidak perlu berhenti pada dirinya. Pandangan seorang raja dapat diarahkan tanpa harus terlihat sedang diarahkan.

Tapi, keadaan itu pula sedang bergeser sekarang. Dia tidak lagi berada di dalam Keraton dan tidak lagi mendampingi Sunan Agung. Jadi, yang paling mungkin dikerjakan olehnya adalah melaksanakan perintah Pangeran Purbaya.

Tinggal satu pertanyaan yang tersisa dalam hatinya, apakah Agung Sedayu juga mengetahui lencana itu?

Setelah menunggu beberapa lama, tetapi Ki Wira Sentanu tidak juga melanjutkan ucapannya, Ki Ajar Poh Kecik berkata, “Mungkin hanya sebuah saran, tetapi sebaiknya Kyai berkunjung ke sana dalam waktu dekat.”

“Sehari atau dua hari ini?”

“Benar, Kyai.”

“Adakah alasan?”

“Saya hanya mendengar bahwa prajurit Mataram sedang membatasi pergerakan sekelompok orang agar tidak menyeberang ke Gunung Kendil. Siapa tahu, dari Ki Gede kita dapat memperoleh bahan pertimbangan.”

Ki Wira Sentanu mengerutkan kening. “Pertimbangan untuk apa?”

“Untuk melihat keadaan yang mungkin berkaitan dengan Agung Sedayu. Barangkali ada sesuatu yang belum kita ketahui.”

Ki Wira Sentanu terdiam sejenak. Dia menangkap arah pembicaraan Ki Ajar Poh Kecik. Mereka memang telah mempunyai cukup bahan untuk menilai Agung Sedayu, tetapi kemungkinan adanya kelemahan lain tentu tidak dapat diabaikan.

“Bukankah kita sudah berada di sini?” katanya kemudian. “Tinggal mengatakan apa yang perlu kita sampaikan.”

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk. “Benar, Kyai. Tetapi bila kita dapat menambah bahan pertimbangan, bukankah itu akan semakin baik?”

Ki Wira Sentanu kembali memandang lencana yang terletak di hadapannya lalu memandang lurus pada Ki Ajar Poh Kecik. Ada sesuatu yang memang disembunyikannya dari sejumlah orang dekatnya. Namun justru karena itu, dia pun merasa agak ragu. Setelah menimbang beberapa lama, dia berkata kemudian, “Baiklah, kita akan temui Ki Gede.”

Sehari telah berlalu sejak Ki Rangga Sanggabaya berangkat ke Dusun Separang, tetapi belum juga terdengar kabar kepulangannya. Agung Sedayu tidak segera menganggap keterlambatan itu sebagai pertanda buruk. Ki Sanggabaya sudah barang tentu mempunyai alasan sendiri untuk tidak terburu-buru kembali. Tidak ada pula berita tentang benturan atau keadaan genting dari arah yang dilaluinya. Selama tidak ada kabar yang menunjukkan keadaan sebaliknya, Agung Sedayu menganggap wakilnya itu masih menjalankan tugasnya.

Tentang Swandaru, keyakinannya tumbuh dari kabar yang datang secara tidak langsung. Beberapa keterangan yang diterimanya menunjukkan bahwa perjalanan Swandaru menuju Sangkal Putung telah berlangsung dan tidak terdengar adanya gangguan setelah itu. Agung Sedayu pun merasa cukup yakin bahwa adik seperguruannya telah tiba di sana. Dia tidak membutuhkan kepastian yang lebih panjang untuk saat itu.

Dengan demikian, Agung Sedayu mendatangi Ki Gede Menoreh tanpa beban persoalan selain keamanan.

Di kediaman Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu menyampaikan perkembangan yang diketahuinya, sementara Ki Gede Menoreh memberikan beberapa keterangan tentang penjagaan di sejumlah tempat. Tidak ada perubahan besar yang perlu segera ditangani. Para pengawal tetap menjalankan tugasnya, jalur-jalur penting masih diawasi, dan orang-orang yang berada di sekitar Tanah Perdikan masih berada dalam keadaan siaga.

“Mendengar mereka mulai bergerak meninggalkan Dusun Benda tentu saja itu membuat saya lega, Ngger,” kata Ki Gede Menoreh. “Bila tidak salah menduga, apakah Angger menggerakkan mereka menuju lereng Gunung Kunir?”

Agung Sedayu mengangguk lantas berkata, “Gunung Kendil masih terlalu hangat untuk dihuni kembali. Mataram dapat melakukan sesuatu yang sulit saya kendalikan meskipun saya masih menjadi pemimpin barak pasukan khusus.”

Ki Gede Menoreh kemudian bersandar sedikit dan memandang Agung Sedayu. Dalam keadaan itu, dia lantas mengungkapkan beberapa hal.

“Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui,” ucapnya kemudian.

Agung Sedayu menarik napas sambil membuat dugaan dalam hatinya.

“Swandaru,” ucap Ki Gede lagi kemudian diam cukup lama

“Pandan Wangi adalah putriku,” kata Ki Gede Menoreh perlahan. “Aku tentu tidak dapat berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi pada rumah tangganya.”

Agung Sedayu menundukkan kepala sedikit.

“Keadaan Swandaru semakin sulit,” lanjut Ki Gede. “Apa pun yang telah dilakukannya, apa pun alasan yang pernah mendorongnya, semua itu telah meninggalkan akibat. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Pandan Wangi.”

Agung Sedayu menarik napas panjang.

Ki Gede Menoreh memandang ke halaman sebelum kembali kepada Agung Sedayu.

“Angger Sedayu adalah kakak seperguruan sekaligus saudara ipar. Aku tidak mengatakan mereka lebih baik berpisah. Aku hanya ingin mengambil keputusan tanpa marah dan kecewa,” lanjut Ki Gede. “Tetapi aku juga seorang ayah. Bila rumah tangga Pandan Wangi terus membawa beban yang semakin berat, sampai kapan aku harus membiarkan putriku menanggungnya?”

Agung Sedayu terdiam.

“Barangkali sudah waktunya Pandan Wangi tidak lagi dipaksa menunggu keadaan yang belum tentu berubah,” kata Ki Gede. “Aku belum mengatakan keputusan apa pun kepadanya. Aku hanya ingin melihat keadaan dengan kepala dingin sebelum mengambil langkah.”

Agung Sedayu memahami bahwa ucapan itu bukan sekadar keluhan seorang ayah. Ki Gede Menoreh sedang membuka sebuah persoalan yang mungkin segera menjadi keputusan nyata.

“Sekali waktu, saya pernah mengatakan pada Swandaru untuk tidak tinggal lebih lama di sini,” kata Agung Sedayu kemudian. “Saya tidak pula mengusirnya tapi sebaiknya dia sadar bahwa Pandan Wangi juga mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.”

Ki Gede Menoreh memandang Agung Sedayu dalam-dalam. Untuk beberapa saat tidak seorang pun di antara mereka berkata-kata.

Agung Sedayu kemudian melanjutkan, “Yang terjadi pada  Swandaru adalah tanggung jawabnya sendiri. Saya tetap berharap dia dapat memperbaiki keadaan. Tetapi Pandan Wangi tidak seharusnya kehilangan hak untuk menentukan hidupnya hanya karena harus menunggu keputusan orang lain.”

Ki Gede Menoreh mengangguk perlahan. Ada sesuatu yang lebih ringan dalam wajahnya. Setidaknya, dia tidak berdiri seorang diri dalam pertimbangan yang selama ini terasa begitu berat.

  • Tetapi untuk sesaat, sebelum Ki Patih Mandaraka membuka pertemuan, terdengar kaki-kaki kuda berderap cepat di Merebut Mataram 8.
  • Sementara di Lamun Parastra 8, Raden Trenggana berkata dalam hati, “Meski sama-sama kehilangan kapal dan pasukan, mereka adalah tuan rumah.”

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.