Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 51 – Gondang Wates

Sayoga menapak lapis demi lapis begitu ceat dan itu sangat mengejutkan Ki Dirgasana. Walaupun ia mempunyai pengalaman lebih banyak tetapi menghadapi Sayoga adalah sesuatu yang membutuhkan perhatian khusus. Tidak banyak pemuda seusia Sayoga yang mampu mengimbanginya, bila tidak dikatakan tidak ada!

“Kini ia hanya seorang diri , sedangkan aku dikelilingi oleh orang-orang yang siap membantu,” bisik hati Ki DIrgasana sedikit berbunga. Namun ia pun berhitung tentang pamornya yang tersohor dan disegani di Mataram. “Mereka akan tertawa dan mengatakan sesuatu yang buruk tentangku di depan Panembahan. Bodohnya aku bila harus dibantu oleh orang-orang rendah seperti mereka!” tolak hati Ki Dirgasana yang sebetulnya membutuhkan kemenangan agar namanya semakin dihormati di kalangan pengikut Raden Atmandaru.

Ki DIrgasana tidak lagi banyak menghindar. Di depannya, Sayoga menjadi lawan yang tidak boleh dihadapi sembarangan. Ki Dirgasana memukulkan tombaknya ke permukaan tanah, dan menakjubkan! Lambaran tenaga inti Ki Dirgasana sepertinya mampu membuat tombak yang berbatang kaku dan keras dapat menjadi benda yang lentur. Setiap senjatanya melejit dengan didorong oleh tenaga pantulan, maka ia mengarahkannya pada Sayoga. Maka, kelebat senjata yang menyambar dari bawah itu mendadak berubah menjadi lebih cepat berlipat-lipat! Kepul debu dan serpihan tanah yang terseret tenaga inti pun menyerbu  Sayoga! Sayoga berada dalam kesulitan berganda. Sayoga terancam oleh puluhan benda yang dapat menembus kulitnya cukup dalam. Ini sangat berbahaya!

Anak muda yang belum banyak pengalaman tanding itu pun terjerembab dalam kubang maut. Jalur ilmu Ki Wijil seolah belum cukup untuk membantunya keluar dari tekanan-tekanan Ki Dirgasana. Sayoga yang menggerakkan pedang kayu dengan cara yang tidak biasa segera meningkatkan daya tahan tubuhnya. Dalam pengerahan Serat Waja, Sayoga telah mencapai puncaknya. Maka terjadilah pertarungan yang sungguh-sungguh hebat! Keduanya bergerak dengan kecepatan yang melampaui daya pandang orang biasa. Bayangan mereka terkadang lenyap. Mereka berkelahi bagaikan siluman penguasa Gondang Wates.

Semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka menjadi jelas bagi Ki Dirgasana bahwa sesungguhnya sulit baginya membekuk Sayoga, baik hidup atau mati! Perbedaan usia telah membentangkan jarak kemenangan yang sangat diharapkannya.

“Aku akan kehabisan napas sebelum tangannya bergetar lalu melepas pedang kayu yang busuk itu,” keluh Ki Dirgasana. Hal besar yang mengganggunya adalah pertanyaan dan isi hati para pembantu Raden Atmandaru. Mungkin yang pertama ditanyakan oleh mereka adalah, mengapa dirinya begitu sulit mengalahkan Sayoga seorang diri? Kegagalan menjawab adalah benih kebencian pertama yang ditaburkannya. Kenyataan yang lain adalah Ki Dirgasana diyakini dapat menanggulangi Ki Untara bila suatu saat mereka berhadapan dengan prajurit Mataram. Lalu, bagaimana jawabnya apabila kalah dalam daya tahan oleh Sayoga?

Akhirnya, Ki Dirgasana menyadari dan dapat menerima bahwa tak ada jalan keluar dari perkelahiannya melawan Sayoga. Ki Dirgasana mengulurkan tangan pada taring malam. Menyerah!

Ia terpaksa membenarkan keputusan yang telah diikatnya di dalam benak. Pikirnya, lebih baik merengkuh kemenangan terlebih dulu, masalah omongan orang dan Raden Atmandaru adalah persoalan lain!

“Mungkin malam ini memang bukan waktu yang baik untukku,” hati Ki DIrgasana berkata untuk menekan gejolak perasaannya. Segenap keyakinannya pun terhimpun sangat cepat bahwa bila ia sanggup mengalahkan Sayoga, maka ia akan katakan bahwa anak muda itu mempunyai dasar penguasaan ilmu yang bersumber dari kitab Kiai Gringsing. Maka dengan begitu, harapnya, orang-orang akan menaruh hormat dan perhatian mereka teralihkan pada usaha memburu kitab peninggalan guru Agung Sedayu.

Tidak ada lagi yang tersimpan dalam diri Ki Dirgasana. Meringankan tubuh dan tenaga inti, semuanya telah dikerahkan sampai batas tertinggi. Beruntunglah Ki DIrgasana dengan adanya tombak rampasan di tangannya. Kini ia bertempur mati-matian untuk mempertahankan harga diri atau mengulur waktu bilamana anak buahnya telah kembali dari pengejaran.

Pucuk dicinta!

Serombongan orang terlihat berlarian menuju lingkar perkelahiannya dari jalur yang dilalui pengawal pedukuhan ketika meninggalkan laga. Dari kejauhan terdengar mereka bersorak. Ki Dirgasana menduga bahwa mereka kembali dengan berhampa tangan, tetapi ia lebih menunggu laporan dari Ki Sudira.

“Kiai!” seru Ki Sudira, “kami tidak ingin dicincang oleh segerombol anjing liar yang ternyata telah menunggu kita di balik banjar pedukuhan” Anak buahnya berteriak membenarkan kata-kata Ki Sudira, hanya Panengah yang memandang tidak suka pada Ki Sudira. Panengah tahu bahwa mereka berbohong karena mereka sebenarnya belum menginjak halaman banjar.

Menurut Panengah, mereka kembali karena sulit menembus halang rintang berupa pengawal yang terus-menerus memberi perlawanan sangat keras. Bahkan Ki Panuju mampu memimpin bagian ekor Garuda Nglayang sangat baik. Sekali waktu dua ujung sayap gelar tiba-tiba menusuk dari samping secara bersamaan. Serangan balik yang tertata rapi di bawah pimpinan Ki Panuju  telah membalikkan keadaan. “Penjilat,” kata Panengah dalam hatinya.

Ki Dirgasana mendengarkan alasan itu dan juga menangkap sorot mata aneh dari Panengah. Satu dugaan muncul dalam ruang pikirannya. “Lalu engkau mau apa? Aku dapat mengetahui semuanya dari Panengah,” kata Ki DIrgasana di ruang batinnya. Lantas ia berseru, “Inilah yang tersisa dari kawanan anjing liar itu! Tangkap hidup-hidup!”

Ki Sudira tertawa geli dalam hatinya. Ia telah menilai dan membuat perkiraan dari akhir perkelahian itu. Menurutnya, Ki DIrgasana memang tidak akan mampu menghabisi Sayoga. Napasnya terputus-putus. Sementara dua kaki Ki Dirgasana telah bergetar. Namun ia tahu diri, Ki Dirgasana pun paham bahwa ia juga tidak mengatakan yang sebenarnya. Dan, di atas kepentingan yang melekat padanya, perintah Ki Dirgasana adalah keuntungan tambahan baginya bila berhasil diselesaikan.

Segeralah Ki Sudira dan belasan orang lain, baik yang terluka maupun yang belum tergores senjata, berebut mengeroyok Sayoga!

Related posts

Kiai Plered – 83 Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 88 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 87 – Randulanang

kibanjarasman

Leave a Comment