Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Di Lembah Barito, Jack Sparrow Terdampar

Senja di muara sungai Barito. Gempar, ada lelaki kekar terdampar. Kabar angin segera tersebar. Dia, berwajah sangar.

Tubuh terkapar, tak satu pun menolong. Terlihat tangan lunglai itu bergerak. Lemah.

Bang Fikar membopong tubuhnya. Membaringkan di atas tikar purun. Luka di kepalanya menganga lebar, aku bersihkan dan ditutupi dengan perban. Perlahan, khawatir membuat sosok itu kesakitan.

“Water!” Parau suaranya memelas.

loading...

Aku berikan segelas air, tandas direguk melepas dahaganya.

Tubuh itu begitu lemah, bangkit memaksa berdiri.

Gubrak..suara benda terjatuh. Aku bergegas berlari menghampirinya.

Tubuhnya ambruk. Tenaganya belum pulih. Sosok itu seperti layang-layang patah. Rapuh.

Mata redup, terpancar letih. Tapi tajamnya membuat dada berdebar. Aneh!

Jengah, bertatap dengan orang asing ini. Hanya bahasa isyarat yang menandakan dia masih haus.

“Banyu!” kataku sembari menyodorkan segelas air.

“Baaaaa..nyu?” Lirih suara mengikuti perkataanku.

Aku mengangguk mengiyakan.

Lelaki itu terbata, entah apa yang mau dikatakannya. Matanya menerawang, seperti tak ingat apa-apa. Rupanya benturan di kepala membuat dia mendadak lupa.

“Ngaran pian siapa?” tanyaku.

Dia terperangah, terheran dengan mimik yang bloon. Tampak lucu, wajah itu jadi semakin menggemaskan. Hilang kesan sangarnya. Apalagi rambut gondrong itu dipangkas pasti lebih tampan.

“Halah, mulai mengkhayal tingkat RT,”

Wajahku menghangat, tapi buru-buru aku alihkan pandangan. Semoga tidak ketahuan, bahwa jantung ini berdegup tidak beraturan.

Dasar aku yang gemblung, lelaki itu berbahasa Inggris malah diajak mengobrol bahasa Banjar. Edan!

“Munawaroh!” Kataku sambil menepuk dada, kemudian menunjuk ke arah lelaki bermata elang.

Dia hanya menggigit bibir kemudian menggeleng. Bahkan nama saja tidak ingat.

“Kenapa dia, Ro?”

Bang Fikar masuk seraya memberikan sebungkus nasi.

“Entah Bang, dia sepertinya tak ingat apa-apa. Bahkan nama saja lupa.”

Dia melahap nasi dengan cepat, gerakannya sudah tidak selemah tadi.

“Kita panggil dia siapa ya, Bang?”

“Zakaria saja!”

Bang Fikar terbahak.

“Kamu itu Ro, ada-ada saja. Bertanya tapi menjawab sesukamu. Mulai Iseng!”

“Biarlah Bang, aku mau dia ceria. Zaka yang riang. Zakaria!”

“Kenapa bukan nama yang lain saja?” Bang Fikar mulai ketularan ceriwis.

“Abang cerewet kayak burung beo, apa karena kebanyakan makan oreo?”

Bang Fikar tertawa lepas, lelaki itu juga ikutan.

“Biar aku panggil dia Bang Zaka, kalau Ria kayak nama anak abang nanti, perempuan banget!”

“Zaka!” Tunjukku kepada lelaki tampan itu.

“Zaaaak…kaaaaa?”

“Yes, Zaka. Your name buat sementara!”

Aku hanya bisa sepatah yes no saja, mau colek mbah google kuota lagi sekarat. Padahal almarhum Papa berasal dari negeri Paman Sam.

Rasa penasaranku masih saja merasuk di benak.

“Bang Zaka, siapakah dia sebenarnya?”

***

Dengan tangkas dia mengayuh jukung sodor. Perahu kecil khas muara Barito. Terlihat sangat gesit melewati para pedagang lain.

Hari ini saatnya buat kami ke pasar terapung, menjajakan hasil kebun. Kehadiran bang Zaka di sambut gegap gempita.

Selayaknya artis ibu kota. Para wanita ramai berebut tebar pesona. Memanggil dengan panggilan beragam.

“Langkarnya sidin nay!” Kata Emak pedagang ikan sepat.

“Bungas banar Cil ay!” Aku menimpali.

“Abang bule abang bungas, ulun Arbai handak manjapai. Kalo bulih kasini pian lakas, kena ulun bari wadai!” Acil Arbai mulai berpantun.

Bang Zaka tersipu, mendadak gagu. Karena tidak tahu mau membalas apa.

Dia, pengayuh ulung. Dengan sigap mengarahkan perahu ke arah yang aku tunjuk. Ketika ada pembeli yang datang.

Tanpa gentar walau ombak kecil datang. Kelotok alias kapal kecil berisi para wisatawan datang menghampiri.

Penampakan Bang Zaka jadi tontonan yang unik buat mereka. Banyak wisatawan lokal yang mengajaknya berselfie ria.

Satu kelotok besar datang, sarat dengan bule. Sasaran empuk para pedagang. Mereka haus hiburan. Kami yang berjibaku di atas air untuk sesuap nasi bisa menjadi tontonan yang unik.

“Jack Sparrooooow!” teriak seorang bule menyapa Bang Zaka.

Aku terhenyak mendengar namanya disebut. Bukannya itu nama tersohor, dia kapten Jack Sparrow di Pirates of the Caribbean.

“Jadi dia Jack Sparrow?”

Aku limbung dan Bang Zaka langsung memelukku. Kami berdua tercebur.

“Bangun Galuh, sudah subuh. Jangan ngelindur!” kata emak membangunkan dengan mencipratkan air ke wajahku.

Walah dalah, aku Munawaroh si bule separo. Bermimpi bertemu dia, lelaki bernama Jack Sparrow.

 

#KepakSayapAngsa

#Prosaliris

#Perayaaan1suro

#Dahlina

#DiaJackSparrow

 

Ngaran pian siapa? = Nama kamu siapa?

 

Langkarnya sidin nay! = Cakepnya dia yah!

 

Bungas banar cil ay! = Ganteng betul tante!

 

Abang bule abang bungas, Ulun Arbai handak manjapai. Kalo bulih kasini pian lakas, kena ulun bari wadai! = Abang bule abang ganteng, saya Arbai pengen menyentuh. Kalau boleh kesini cepat, nanti saya kasih kue!

 

Galuh = Panggilan untuk anak perempuan.

 

 

Dahlina

Wedaran Terkait

Songsong Bukan Puisi

admin

Sikil nJeber..

admin

Puisi :Peluk Senja di Lereng Lawu

admin

Puisi :  Aku Dalam Birumu

amazingdhee

Puisi : Tertikam Rasa/Lina Boegi

admin

Puisi : Temaram/Winy

admin

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.