Padepokan Witasem
KBA

Liris : Gerbang Peralihan

Hari ini, aku melihat diriku dan tubuhku berbalut kain mori. Selubung berwarna putih seperti harapan orang-orang yang berada di sekitarku.

Aku berpikir jika hari ini adalah masa panjang bagi kebaikan ketika ia ingin meninggalkanku. Tetapi dia, lelaki yang berbaring kaku, menggelengkan kepala.

Baik, aku mengira hari ini adalah waktu yang ditentukan bagi kejahatan agar ia dapat menuntutku. Lelaki itu kembali menggeleng dari balik selubung putih.

Katanya, “Ketika engkau berpikir tidak ada lagi kebaikan yang dapat diperbuat, bukan berarti engkau berada dalam kurung kejahatan. Sebaliknya, apabila kau mengira telah penuh dengan kesalahan, tidak selalu hatimu dinaungi kebaikan.”

Aku berjalan mendekatinya lalu melihat wajah tengadah tanpa senyum maupun raut duka. Aku ingin menjauhinya, namun suaranya menahanku.

“Walau demikian, engkau tidak dapat menghakimi jalan hidupmu. Begitu pula mereka.” Sorot mata lelaki ini tidak memandang pada arah tertentu.

Ia melanjutkan melalui jantung yang tak lagi berdetak. “Kebaikan tidak selalu berarti benar. Kebaikan adalah ketika engkau tegak mengayun langkah dalam keyakinan. Itu ada di dalam hatimu. Jika engkau berenang di tengah gelombang kesesatan, itu tidak dapat dikatakan sebuah kesalahan. Karena kayuh lenganmu belum mencapai daratan.”

Aku tidak mengerti.

“Mereka akan mengubur jasadku, meninggalkanku lantas melupakan segalanya tentangku. Yang aku mengerti adalah kesunyian.” Aku berkata pelan padanya.

“Katakanlah. Aku menjadi temanmu untuk perjalanan singkat namun akan melewati masa yang panjang,” dari balik kain mori, aku mendengarnya. Mendengar suara yang mengalir dari bibir yang terkatup rapat.

Aku palingkan wajah. Aku berhenti bernapas. Aku tidak lagi bernapas dengan api. Aku tiada lagi berkata dalam lumpur yang hina.

Aku telah tiada. Dan aku saksikan tubuhku dan dirinya telah musnah.

 

Sumber gambar : pixabay

Related posts

Leave a Comment