Bab 8 Malam Petaka

Malam Petaka 10 – Prahara Hari Pertama

Bondan dan Siwagati serta seorang lagi terlihat berlari di bawah remang cahaya menuju tempat Resi Gajahyana.

Seketika sekelebat bayangan memotong jalur mereka dari belakang rumah. Bayangan yang tiba-tiba muncul seolah menembus pagar halaman Ki Juru Manyuran yang tersusun dari batu dan perekat.

“Kakang!” Lengking Siwagati menyeruak di atas suara-suara umpatan kasar para pengejar mereka.

“Memang aku, Siwagati.” Sumba Sena berdiri tegak dengan lengan kanan melintang di depan dadanya.

“Berhentilah di tempatmu itu. Jangan terus berlari!” Sumba Sena memberi perintah pada adiknya. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap berotot meski sebenarnya lebih tepat disebut agak gemuk mengembangkan kedua tangannya.

“Kakang! Ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Engkau adalah kakakku dan sebaiknya kau menolongku dari kejaran orang-orang itu!” Telunjuk Siwagati teracu ke pengejarnya yang berhenti enam atau tujuh langkah di belakang mereka.

Bondan menarik lengan istrinya dan menggeser tubuhnya ke bagian depan Siwagati.

“Kakang, saya adalah orang Pajang. Dan dengan sikap Kakang saat ini, apakah Kakang menghendaki kematian saya?” Bondan melontarkan ucapan setelah dia mengamati bahasa tubuh Sumba Sena.

“Aku terikat dengan kewajiban melindungi adikku dari bahaya. Tetapi kamu bukan adikku. Engkau adalah orang lain dan nasibmu buruk karena kau datang sebagai orang Pajang.” Sumba Sena lantas berteriak memberi perintah pada para pengejar untuk memisahkan Siwagati dari Bondan.

Rahang Sumba Sena mengatup erat. Dengan kedua lutut sedikit ditekuk, dia bersiaga atas serangan Bondan. Dia telah mendengar kemampuan suami Siwagati dan serba sedikit tahu kebiasaannya menyergap lawan dengan kecepatan tinggi.

Namun kali ini, tidak! Bondan masih menggenggam erat lengan Siwagati.

“Apakah engkau siap bertarung di sisiku?” bisik Bondan pada Siwagati.

Tidak ada jawaban dari Siwagati. Dia terpana dengan perubahan yang begitu cepat terjadi. Sebuah perubahan yang membuang segala angannya, perubahan yang mengubur semua yang didengarnya dari orang-orang, perubahan yang menjadi bencana pada hari pertamanya sebagai pengantin.

Siwagati marah! Dia juga sangat kecewa sekaligus mengalami kepedihan yang sangat dalam!

Suasana batin yang sama juga dialami oleh Bondan. Bahkan sekarang dia harus menghadapi Sumba Sena.

“Apakah aku harus mengikat satu perang tanding dengannya? Orang itu adalah kakak iparku. Aku belum mengenalnya, begitu pun dia yang ternyata tidak ingin mengenalku.” Bondan lantas memperhatikan sekilas keadaan di sekelilingnya.

Belasan orang telah mengepung mereka bertiga dari belakang dengan senjata telanjang. Seseorang bertubuh besar tengah berdiri menantangnya di depan. Sisi kanan adalah dinding pagar Ki Juru Manyuran setinggi orang dewasa. Bagian kiri mereka adalah semak yang tidak begitu rapat.

“Siwagati! Apakah engkau akan berkelahi untukku?” Bondan mengulang pertanyaannya.

Siwagati bergeming. Dia menjawab melalui air mata yang meleleh dari celah pelupuk matanya. Dia mengapung tanpa daya di atas dua pusaran air yang sangat kuat. Dua pusaran yang tarik menarik dan saling menyedot dengan tenaga raksasa. Untuk  sekian waktu, perahu Siwagati terayun gelombang besar, gelombang yang muncul akibat benturan dua pusaran raksasa.

Bondan dapat memahami perasaan istrinya. Dia tidak lagi bertanya ketiga kali. Dia melepas genggamnya, perlahan. “Aku akan mati namun kamu harus hidup.” Lirih suara Bondan tapi didengar jelas oleh Siwagati.

Siwagati membiarkan lengannya terjuntai. Dia masih berdiri tegak dengan dua kaki meregang agak lebar. Siwagati, dengan gelisah, tampaknya bersiap menghadang serangan Sumba Sena jika kakaknya itu menerkam Bondan.

“Bondan,” kata orang Pajang yang berdiri di belakang pengantin baru itu. “Apakah kita akan berkelahi?”

Bondan menoleh padanya disertai anggukan kepala.  Sekilas dia melihat kelebat orang lalu merunduk di balik rimbun semak.  Bondan beringsut dua atau tiga langkah mundur dan meninggalkan Siwagati yang membeku di hadapan Sumba Sena.

Seketika aba-aba untuk menyerang diteriakkan oleh orang-orang Sanca Dawala. Mereka menyambut gembira perintah Sumba Sena.

“Paman!” Bondan menarik lengan pengiringnya. Pengiring itu pernah belajar di padepokan. Dia mengerti tentang cara melindungi kawan saat menghadapi perkelahian. Maka tanpa banyak kesulitan, mereka bergandeng tangan lalu bertarung dalam satu ikatan.

Pasangan Bondan ternyata memiliki gerak yang luwes dan mampu mengimbangi setiap langkah Bondan. Mereka terus menerus berputar dan saling menutupi kelemahan masing-masing. Bahkan kini orang-orang Sanca Dawala bergerak menjauhi jangkauan pasangan yang berkelahi gagah berani.

Melihat orang-orang Sanca Dawala mundur tiga sampai empat tapak, salah seorang dari dua utusan Resi Gajahyana meloncat memasuki lingkar perkelahian. Dengan tiba-tiba dan tanpa suara dia menghantam kepungan dari belakang.

“Licik!” seru orang Sanca Dawala.

“Mengeroyok seorang pengantin adalah perbuatan keji. Kekejian kalian harus diselesaikan dengan cara licik!” timpal utusan Resi Gajahyana.

Seorang lainnya kembali ke tempat Resi Gajahyana dan memberitahukan perkembangan tentang Bondan padanya.

“Sungsang Tumanggal!” Resi Gajahyana berseru pada pengikutnya, “Bergeraklah maju dan kita bawa Bondan berdua keluar dari tempat ini!”

Orang-orang yang berada dalam susunan gelar Sungsang Tumanggal segera bergerak maju. Seseorang berada di baris terdepan sebagai benteng pertama bagi Bondan, di belakangnya ada Resi Gajahyana yang bertindak sebagai pusat gelar.

Sayup-sayup Bondan mendengar teriakan penuh semangat menuju ke arahnya. Utusan Resi Gajahyana berteriak padanya, “Tetap pada tempatmu, anak muda! Kita akan keluar dari sini!”

Bondan dapat mengerti maksud orang itu, tetapi dia tidak dapat berpangku tangan. Bondan menarik pasangannya menuju arah suara yang didengarnya. Dia mencoba membuang muka ketika pandangannya bertumbuk dengan tatap mata Siwagati.

Sekali lagi, “Siwagati akan selamat karena dia berada di tangan kakaknya sendiri. Aku akan kembali!” Bondan meyakinkan dirinya.

Sejenak kemudian, dia menempatkan tubuhnya lebih rendah.

Pengiring Bondan tahu maksud lelaki muda dari Pajang itu, menjejakkan kaki bertumpu pada dua telapak tangan Bondan lalu melontarkan tubuhnya melewati rerimbun semak.

Kehadiran seorang utusan Resi Gajahyana memberi kelonggaran gerak Bondan dan pasangannya. Penghubung itu memiliki kemampuan memadai dalam membendung keroyokan orang-orang Sanca Dawala.

Sekarang, penghubung itu berhadapan punggung dengan Bondan.

Para pengeroyok dari Sanca Dawala semakin beringas mengayunkan senjata ketika seorang buruannya mampu keluar dari kepungan.

“Seorang lelaki Pajang telah melarikan diri, dan seorang lagi akan menemui kematiannya!” usai berkata demikian, Sumba Sena melesat maju.

Siwagati tercekat menyaksikan pergerakan Sumba Sena. Dia tidak mengira bahwa kakaknya benar-benar ingin membunuh Bondan.

“Kakang!” jerit Siwagati mengikuti gerak Sumba Sena. Dia menyusul dengan deras berusaha mencegah perkelahian antara kakaknya dengan Bondan.

Bondan mengetahui gerakan Sumba Sena maka dia mengubah cara bertahan. Bondan memilih untuk meninggalkan perkelahian secara langsung. Keputusannya itu bersamaan dengan gelar Sungsang Tumanggal yang memasuki wilayah perkelahian.

Sumba Sena menggeram marah melihat mangsanya mengaburkan diri di balik punggung orang Pajang. Bondan kini berada dua langkah di belakang gelar terdepan.

Tiba-tiba Sumba Sena mengubah arah geraknya ketika selusin pisau terbang ke arahnya. Satu aba-aba Resi Gajahyana untuk mengubah gelar, mereka sambut dengan lontaran senjata pada anak lelaki Ki Juru Manyuran. Lantas mereka mengubah gelar Sungsang Tumanggal menjadi susunan Bambu Berikat.

Gelar ini, Bambu Berikat, adalah sebuah bentuk barisan yang berjajar rapi. Mereka dapat saling melindungi diri dari serangan karena jarak mereka yang rapat. Jangkauan pedang atau keris adalah pengikat mereka. Sehingga satu serangan pada kawan di sebelahnya dapat diatasi oleh yang lain tanpa harus mengubah jarak.

“Eyang!” sapa Bondan ketika ia berada di dekat Resi Gajahyana.

Satu anggukan kepala Resi Gajahyana untuk membalasnya. Kembali Resi Gajahyana memberi perintah untuk mundur.

“Pimpin mereka untuk mundur. Tetapi kau harus mencari jalan ke arah Menoreh. Engkau harus mengalah kali ini. Nyawa para pengiring harus diutamakan. Satu kemungkinan adalah mereka akan membunuh setiap orang yang berada di dekatmu. Meskipun itu baru sebuah kemungkinan, tetapi kita tidak dapat bertaruh dengan mengorbankan hidup mereka. Para pengiring masih mempunyai keluarga yang merindukan kepulangan mereka.”

“Saya mengerti, Eyang.”

Bondan menyusup di antara desing senjata dan mulai memimpin mereka untuk mundur.

Resi Gajahyana dengan cepat meregangkan kedua kakinya depan-belakang. Dengan tubuh sedikit merendah dan kedua tangannya membentuk sebuah gerakan yang aneh, Resi Gajahyana menetapkan ilmu yang jarang dikuasai oleh para bangsawan dan brahmana.

Tiba-tiba kabut mengepung mereka dengan pekat. Dan satu keanehan lain adalah datangnya angin panas menyapu bagian punggung orang-orang Sanca Dawala.

Bukan sekedar angin panas, tetapi juga membawa kekuatan yang menyusup melalui kulit dan menyebabkan rasa gatal. Selimut kabut yang berasal dari ilmu Resi Gajahyana sungguh menjadi bencana bagi orang-orang Sanca Dawala. Setiap orang dari mereka tidak dapat bergerak ketika kabut telah membungkus rapat tubuh mereka. Tidak berdaya untuk bergerak serta rasa gatal pada seluruh bagian kulit membuat mereka serasa berada dalam bilik siksa. Bahkan hawa panas itu ternyata membuat mereka seperti berenang di sungai.

Begitu gatal dan panas hingga orang-orang Sanca Dawala mengira telah berada di dalam neraka!

Tiba-tiba Sumba Sena terpental jatuh. Keinginannya untuk mengejar Bondan terhalang oleh tembok tebal berupa kabut Resi Gajahyana. Berulang kali Sumba Sena mencoba menerobosnya untuk mengejar Bondan tetapi dia terkapar jatuh.

Sedikit banyak, Siwagati merasa lega mengisi ruang di dadanya.

“Adanya kabut itu tentu memberi jalan bagi Kakang Bondan untuk melepaskan diri dan menghindari perkelahian melawan kakakku.” Siwagati berkata pada dirinya.

Kisah Terkait

Malam Petaka 3 – Kepercayaan Diri Bondan

kibanjarasman

Malam Petaka 8 – Kemelut Manyuran: Sabotase Perkawinan Pajang

kibanjarasman

Malam Petaka 2

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.