Sementara itu Sumba Sena seperti tersadar dengan kenyataan yang dihadapinya. Dia tampak berdiri merenung kabut yang bergerak-gerak di hadapannya. Dia tahu sejumlah orang Sanca Dawala terperangkap di dalam selimut kabut. Dalam waktu itu juga, Sumba Sena baru menyadari bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang dapat keluar dari lingkup kabut tersebut.
“Siapakah yang melepaskan setan begitu banyak hingga berbentuk seperti kabut ini? Orang-orang Sanca Dawala sudah pasti berada di dalam kungkungan kabut setan ini. Tetapi, aneh, aku tidak mendengar suara mereka sama sekali!” gumam Sumba Sena dalam hatinya.
Dengan dua alis saling bertaut, dia menyentuh kabut itu,”Biasa saja. Kabut ini sama seperti kabut yang biasa aku temui di tempat ini.”
Sumba Sena tidak merasakan sesuatu yang aneh saat tangannya menembus masuk ke dalam kabut. Dia tidak terdorong atau terpental seperti sebelumnya. Bahkan Sumba Sena tidak merasakan hawa panas dan gatal pada bagian punggung tangannya. Tetapi keadaan berubah ketika dia mencoba melangkahkan kaki, memasuki lingkaran kabut: kakinya seolah terhalang dinding yang tidak terlihat mata.
“Sudahlah Kakang,” Siwagati berkata dari belakang Sumba Sena, “Kita mungkin sedang menghadapi sebuah ilmu yang tidak dapat kita lawan. Mungkin guru Bondan atau Bhre Pajang ada di sekitar tempat ini tapi kita tidak mengetahui keberadaannya.”
“Mungkin kau berkata benar,” suara Sumba Sena menunjukkan kegusaran, “Mungkin juga kau salah karena kabut ini, bisa jadi, adalah sekelompok setan yang turun membantu orang Pajang itu.”
Siwagati tidak menyahut perkataan kakaknya. Dia memandang kabut sambil sekali-kali memasukkan tangan ke dalamnya.

Dengan adanya Resi Gajahyana yang mengetrapkan ilmu Kapuk Randu, maka Bondan dan orang Pajang lainnya dapat bergerak menjauhi rumah Ki Juru Manyuran tanpa diketahui orang. Secara perlahan, Resi Gajahyana juga bergeser tempat. Dengan ketinggian ilmunya, Resi Gajahyana meninggalkan tempat dan telah mengatur kabut agar hilang dalam jangka waktu yang sudah ditakar olehnya.
Di sisi lain lapangan, Nyi Kirana bergumul sengit dengan Ki Jaranggi. Laki-laki ini semula menduga bahwa ilmu Nyi Kirana masih sama seperti dahulu, waktu mereka masih bersama-sama di bawah payung Padepokan Sanca Dawala, kini menerima kejutan yang luar biasa.
Dalam pengamatannya, tata gerak Nyi Kirana masih sama meski tidak persis. Ki Jaranggi mengetahui adanya anasir baru di dalam tata gerak Nyi Kirana dan unsur itu ternyata sangat luwes. Nyi Kirana dengan mudah mengubah arah serangan atau geraknya secara mendadak tanpa kesulitan.
Pada sebuah gebrakan Ki Jaranggi yakin akan mampu memukul mundur lawannya, tetapi dia salah menduga.
Memang, dia dahulu dengan mudah mengibaskan Nyi Kirana dalam satu hempasan ilmu yang disebut Pambayun Dahana. Namun, pada malam pernikahan Bondan, ilmu itu begitu mudah dielakkan oleh Nyi Kirana. Ayunan lengan Ki Jaranggi yang bergerak seperti melakukan kipasan dengan disertai hawa panas membakar kulit terlihat mudah ditangani oleh lawannya. Tubuh Nyi Kirana lentur bergerak serasi dengan ayun lengan Ki Jaranggi. Nyi Kirana tidak terhuyung oleh hawa panas atau sapuan angin yang keluar dari tenaga inti Ki Jaranggi.
Selama beberapa lama tinggal di padepokan, mungkin sekitar tiga atau empat bulan, Nyi Kirana mendapat petunjuk baru dari Resi Gajahyana. Sekali waktu dia berlatih bersama Kao Sie Liong atau Zhe Ro Phan, maka pengayaan gerak dan kemampuan tandingnya pun meningkat. Dua orang dari Tiongkok itu tidak segan memberi masukan pada Nyi Kirana. Kadangkala dia melakukan pemantapan tenaga inti di sebuah aliran sungai yang berada tak jauh dari padepokan.
Dan perkelahian beralih lebih nggrigisi ketika Ki Jaranggi menarik senjatanya berupa sepasang trisula yang terbuat dari besi baja hitam. Sorot cahaya yang berasal dari api yang berkobar dari panggung dan sejumlah meja para pedagang membuat trisula kembar itu terlihat mengerikan.
Sekilas perkelahian terlihat seimbang, dua orang ini sama-sama memegang sepasang senjata. Dan yang menjadikan perkelahian semakin terasa menakutkan adalah setiap kali terjadi benturan senjata, maka dorongan angin yang berasal dari benturan akan melesat menuju satu arah dan seolah menjadi sebilah pedang yang tajam. Sehingga setiap kali angin benturan itu terlontar maka dapat dipastikan akan ada sebuah lubang atau kayu yang patah, bahkan angin itu telah membunuh seseorang dari Sanca Dawala.
“Kalian dengarkan aku!” seruan Nyi Kirana pada orang-orang Pajang, “ini adalah api perlawanan. Mereka bukan lagi sekadar membuat keonaran, tetapi ini sebuah perlawanan! Lawan kalian adalah orang-orang yang akan memberontak pada Pajang. Selamatkan diri kalian! Katakan ini pada banyak orang!”
Meski orang-orang Pajang terkesiap mendengar maksud ucapan Nyi Kirana, tetapi mereka segera memaklumi. Para pengiring pengantin, yang kebanyakan berasal dari lingkungan istana Pajang dan padepokan, cepat tanggap keadaan
Sebagai imbas dari perintah Nyi Kirana adalah orang-orang Pajang tiba-tiba menjadi lebih cakap berkelahi. Kata-kata pendek terlontar dari bibir mereka untuk menyusun siasat tertentu, kata-kata yang hanya dimengerti oleh orang yang berasal dari lingkungan istana itu kemudian diikuti oleh yang lain. Kini mereka menata diri dalam bentuk yang khas dan merupakan pengajaran Bhre Pajang sebagai cara untuk melepaskan diri dari kepungan yang tidak seimbang.
Kerumunan perkelahian yang tidak seimbang antara orang-orang Pajang yang kalah jumlah semakin terkoyak. Keadaan itu terjadi akibat lontaran angin tajam yang berasal dari lingkar perkelahian Nyi Kirana melawan Ki Jaranggi. Mereka, semua orang dari dua pihak yang berseberangan, memilih untuk mengamankan diri masing-masing dari lontaran liar angin tajam yang mematikan! Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang Pajang untuk melepaskan diri dari lilitan perkelahian.
Sebenarnya orang-orang Pajang bukan sekumpulan pengecut yang ringan meninggalkan gelanggang. Tetapi mereka telah mendengar perintah Nyi Kirana untuk meloloskan diri.
Seorang di antara orang Pajang berkata lantang pada kawan-kawannya, “Kita semua harus selamat hingga tiba di Pajang. Kita juga harus kembali ke tempat ini.”
“Kita katakan ini semua pada Sri Bhatara Agung Angling Dhyaksa!” timpal seorang yang lain. Maka mereka lantas bersahutan saling memberi semangat dan menunjukkan kegeraman pada tuan rumah.
Dengan cara meyakinkan, rombongan orang Pajang dapat keluar dari tanah lapang lalu membaur di tengah keributan yang terjadi di sekitar mereka. Mereka adalah orang-orang terlatih dan terbiasa melakukan penyamaran, maka dalam sekejap, tanda-tanda sebagai orang Pajang telah hilang dari tubuh mereka.
Namun, mereka harus menerima kenyataan bahwa beberapa orang di antara mereka menderita luka-luka. Satu keadaan sulit dengan pilihan yang sama-sama buruk. Bertahan dan bersembunyi di kademangan untuk merawat luka tentu bukan sebuah keuntungan. Merayap menuju Pajang pun bukan jalan keluar yang aman karena penjagaan di batas luar wilayah telah ditingkatkan.
