Di tengah perjalanan menuju kota Pajang, rombongan pertama yang dikawal Ki Swandanu hingga tapal batas, telah mengambil jalur yang menyimpang.
Mereka tak lagi berada di jalanan utama menuju Pajang, di bawah pimpinan Keling Juwana, mereka merambati cepat melintas di sungai kecil yang berada di bawah rimbun semak dan pepohonan. Maka gerak dan langkah kaki mereka tidak begitu terdengar oleh sekawanan orang yang berjaga di banyak titik jalan utama. Kehadiran Keling Juwana telah membawa satu kelebihan bagi mereka karena Keling sangat mengenali daerah yang dipilih oleh Resi Gajahyana untuk mereka.
“Bagaimana kau dapat mengenali daerah ini dengan baik?” bertanya seorang lelaki berperawakan pendek pada Keling Juwana.
“Eyang Gajahyana sering kali mengajakku melalui tempat ini saat mengawasi perkembangan kademangan. Itu kami lakukan jauh sebelum perjodohan Bondan.”
“Jadi, Eyang Gajahyana telah mengetahui cikal bakal keributan tadi?”
“Kita tidak dapat berkata seperti itu. Kita adalah sekelompok orang untuk sebuah pengabdian. Dan andaikata Eyang Resi benar mengetahui, tetapi apa yang dapat eyang lakukan?”
“Kamu benar! Kita tidak dapat terlalu jauh mengurusi Pajang.”
“Sudah diamlah kalian! Aku lapar!” celetuk orang yang berjalan di sisi kanan iring-iringan.
Mendengar temannya berkata seperti itu, beberapa orang pun menahan tawa. Tetapi, mereka semua setuju bahwa keributan yang terjadi itu mungkin diketahui oleh Resi Gajahyana. Dengan kesadaran mereka percaya bahwa di atas semua yang telah dan akan terjadi sebenarnya ada kehendak yang lebih besar.
Keling Juwana membawa mereka melintas sebuah tebing curam dengan satu jalan setapak. Untuk sesaat ia menyuruh mereka berhenti.
“Awasi jalan kalian. Kita tidak cukup mendapat penerangan melewati jalan setapak ini. Kita akan berjalan dengan menyeret kaki. Setiap orang dari kita akan terhubung dengan tali ini,” ucap Keling Juwana seraya memberi tahu tanda-tanda yang akan dilalui. Dengan sedikit cahaya dari sebuah obor kecil berminyak jarak, Keling Juwana mengatur tali yang akan menjadi penghubung mereka.
Usai mengatur tali dan memberi petunjuk terakhir, Keling Juwana memberi perintah untuk bergerak.
Jalan setapak itu diapit sebuah tebing di sisi kiri mereka, dan pohon-pohon kecil di samping kanan. Dan di bawah pohon itu adalah turunan yang curam. Suasana sangat gelap dan nyaris tidak ada jarak pandang. Mereka sulit untuk melihat telapak tangan atau bahkan kuku mereka sendiri.
Sesuai petunjuk yang diberikan oleh Keling Juwana, rombongan kecil orang Pajang itu berjalan dengan kaki diseret. Sekali-kali mereka menutup hidung karena debu mengepul tinggi dan tiba-tiba memasuki kedua lubang pernapasan mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Keling Juwana, mereka akan tiba lebih cepat di Pajang jika memotong jalan yang cukup berbahaya itu. Dan mereka harus mematuhi Keling Juwana dengan pertimbangan keamanan serta keselamatan.
Wilayah yang mereka lalui adalah daerah yang sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Hanya kesatuan khusus prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Banyak Abang saja yang melakukan perondaan hingga daerah ini. Dan memang itu yang diharapkan oleh Resi Gajahyana saat mengatur pelarian mereka.
“Semoga kalian beruntung dengan bertemu Ki Banyak Abang lebih cepat. Sehingga persoalan ini dapat segera diketahui oleh orang-orang yang tepat.” Ucapan Resi Gajahyana yang diingat dengan sungguh-sungguh oleh rombongan itu.
Ya, hanya melalui Ki Banyak Abang maka laporan mereka akan diperhatikan oleh Bhre Pajang. Meskipun Keling Juwana termasuk orang kepercayaan pemimpin Pajang, tetapi Bhre Pajang mempunyai kecenderungan yang berbeda. Bhre Pajang terlalu berhati-hati dalam menerima laporan. Tetapi sebenarnya ia bermaksud baik, tindakan Bhre Pajang adalah untuk menjaga keutuhan laskarnya secara keseluruhan. Ia telah mengasingkan beberapa pemimpin prajurit yang dianggapnya berbahaya.
Bhre Pajang telah menerima bukti tentang beberapa orang yang bekerja untuk Pang Randu. Pang Randu, satu nama yang masih sulit dibuktikan perannya oleh Bhre Pajang atas meningkatnya kegiatan mirip keprajuritan di Grajegan.
Perjalanan rombongan Keling Juwana kian dekat dengan kota Pajang. Mereka telah keluar dari jalan setapak itu, dan sekarang mereka harus menyeberang sebuah aliran sungai yang agak lebar dengan kedalaman hingga dada orang dewasa. Masih dengan tali yang terikat sebagai penghubung, Keling Juwana memimpin teman-temannya menurun lembah sungai dan perlahan melangkahkan kaki.
Sungai itu beraliran cukup memadai meski di musim kemarau. Bebatuan yang lumayan besar dapat dimanfaatkan oleh mereka untuk sekadar mencari pegangan. Bagian bawah sungai yang berarus cukup kuat ternyata mampu merepotkan langkah kaki mereka. Satu dua orang sempat terpeleset saat menginjak bagian licin dasar sungai, tetapi kebersamaan yang erat telah menjadi jaring penolong mereka.
“Tidakkah ada seekor buaya melintasi bagian sungai ini?” tanya seseorang berperawakan kurus.
“Seekor buaya akan melintas dan ia bakal mengajakmu pergi” jawab sekenanya Keling Juwana.
“Baik. Aku sangat mengharapkan itu terjadi. Aku ingin menikmati daging buaya. Kita belum makan sejak sore, Ki Juwana.” Orang pertama pun menyahut asal-asalan.
Kembali tawa mereka berderai pelan beriring gemericik suara air yang mendayu perlahan.
Perjuangan mereka pun usai saat telah mencapai bagian seberang. Tetapi Ki Juwana seperti salah memilih tempat. Bagian seberang itu ternyata sebuah dinding batu yang tegak lurus.
“Ki Juwana, apakah kita akan terbang?” Kembali orang yang kurus itu bertanya.
Tetapi sebelum Ki Juwana menjawab, orang lain yang berada di tengah barisan menyahut, “Bukankah kita sejenis cicak? Marilah, kita merayap!”
Lagi-lagi terulang. Ketegaran jiwa orang-orang Pajang seperti tidak terganggu dengan medan berat yang mereka lewati.
Celetuk lucu selalu ada di antara mereka. Seolah mereka memandang semua kesulitan dalam perjalanan itu adalah satu hiburan, meski kehormatan dan harga diri sebagai tamu terinjak-injak di Grajegan!
Meski mereka semua mempunyai bara yang sewaktu-waktu dapat meledak, meski mereka mempunyai prasangka bahwa laporan mereka akan ditolak oleh Ki Banyak Abang, namun kekuatan hati mereka menjadikan semua kesulitan terasa ringan. Mereka mampu mengabaikan pikiran buruk dan sanggup menyingkirkan kata-kata seandainya, seumpama dan semisalnya.
Saat itu Keling Juwana menimbang untuk menyisir tebing batu atau merayap, lantas seseorang yang berikat kepala lurik berkata, “Ki Juwana, sebaiknya kita mengambil arah melawan arus sungai. Aku hanya khawatir bagian atas dari tebing ini adalah tanah yang lunak.”
Keling Juwana mendongak dengan telapak tangan memukul-mukul tebing kokoh itu, kemudian, “Ada benarnya! Baiklah, sangat riskan jika kita memaksa menaiki tebing ini.”
“Sedikit lama tapi kita dapat tiba di Pajang dengan selamat, itu mungkin akan terdengar baik, Ki.” Orang bertubuh kurus mengutarakan pendapatnya.
“Marilah, kita coba melawan arus dengan berjalan di sisi ini!” ajak Keling Juwana lantas bergerak maju. Kawan-kawannya turut berjalan di belakangnya.
Pergerakan mereka semakin lambat karena arus bawah memang begitu kuat. Tetapi, mereka pun tiba di permukaan yang landai. Rasa lega terpapar di raut wajah mereka. Menurut Keling Juwana, mereka akan tiba di barak pasukan Ki Banyak Abang sebelum lingsir wengi.
