Bab 8 Malam Petaka

Malam Petaka 8 – Kemelut Manyuran: Sabotase Perkawinan Pajang

Nyi Kirana deras meluncur melintasi ruang kosong tanah lapang, dia melihat seorang anak kecil jatuh terlindas oleh kaki-kaki orang yang berlarian kalangan kabut. Nyi Kirana memutuskan untuk keluar dari tempat tersamar. Dia tidak dapat berharap pada Bondan yang dilihatnya masih menunggu di atas kursi pelaminan.

“Aku tidak memintamu untuk menyelamatkan anak kecil itu. Biar aku yang bekerja. Ini sebuah penebusan bagiku!” desis Nyi Kirana dalam hati. Dia telah mencapai tempat anak kecil itu terjatuh lalu melambaikan tangan pada Bondan yang melihatnya. Lambaian yang sebenarnya permintaan bagi Bondan untuk segera pergi. Pada saat terlihat Bondan mengangguk, maka Nyi Kirana segera beralih pada tujuannya.

Pada waktu itu beberapa bagian panggung tampak memerah dan membara. “Engkau harus keluar dari sini. Marilah! Nenek akan membopongmu jauh-jauh.” Nyi Kirana pun kemudian menghilang setelah memutar panggung yang terbakar bersama anak kecil yang telah berada dalam gendongnya.

Bondan sebenarnya mengetahui peristiwa itu tetapi dia harus mengamankan istrinya dari lontaran beberapa anak panah. Nyawa Bondan terancam. Dia memutar sehelai kain panjang yang direnggutnya dari pinggang. Kain panjang yang sebenarnya menjadi bagian yang menghias pakaiannya kini berubah menjadi perisai yang rapat.

Siwagati merendahkan tubuh kemudian, serunya tertahan, “Ini gila! Aku tidak berdaya meski hanya untuk membantunya. Pakaian ini benar-benar melemahkanku!” Sekejap kemudian, dia memutuskan sesuatu yang sebenarnya menjadi tabu. Siwagati merobek kain panjang pembungkus kakinya. Betis Siwagati terlihat jelas dan dia kini merasa lebih bebas untuk bergerak.

“Kau?”

“Saya baik-baik saja, Kakang. Saya harus melakukannya agar Kakang lebih leluasa. Mari, kita tinggalkan tempat ini!” Siwagati menunjuk sebuah tangga kecil di sisi pelaminan. Maka keduanya segera bergeser dengan cepat. Sejenak kemudian, Bondan dan Siwagati telah lenyap dari pandang mata orang-orang yang mengincar mereka.

Sementara di dalam rumah Ki Juru Manyuran, ibu Siwagati tampak murka. Luap kemurkaan itu tidak diucapkannya tetapi kemarahan dan kepedihan terlihat jelas dari sorot matanya.

“Biadab! Manusia jenis apakah ini yang mengumbar kebuasan di tengah kebahagiaan anakku? Aku bukan Drupadi, aku adalah seorang ibu dari anak perempuan yang tidak semestinya mendapat gangguan seperti ini. Aku juga bukan Gandari! Aku tidak melakukan kebodohan yang dapat menyakiti para dewa.

“Aku tidak tahu jalan keluar dari kericuhan ini. Aku tidak tahu penyebabnya. Sungguh, aku merasa seperti orang bodoh!”

Beberapa perempuan menahan langkah Nyi Juru yang hendak berjalan keluar. Untuk sesaat dia berteriak marah, tetapi kemudian seperti mengingat sesuatu yang penting. Keselamatan Siwagati!

“Coba kalian lihat keluar. Carilah kabar tentang Siwagati jika kalian tidak melihatnya bersama Bondan.” Dia menunjuk beberapa anak muda yang sedang memindahkan beberapa perlengkapan Siwagati yang akan dibawa ke Pajang.

Empat orang pemuda yang berusia lebih muda dari Siwagati mengangguk tanpa bertanya. Lantas mereka membagi dua per dua orang kemudian berpencar.

Sementara itu, Bondan dan Siwagati berhasil melepaskan diri dari intaian para pengejarnya. Mereka bersembunyi di sebuah bilik berukuran kecil yang berada di dekat tungku pembakaran tanah liat.

“Maafkan saya, Kakang!” Siwagati berkata dengan wajah memerah. Dia merasa canggung saat berada di dekat Bondan. Meskipun keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri, tetapi keadaan itu adalah untuk pertama kali bagi mereka berdua.

“Untuk apa?” Bondan belum dapat menduga tujuan Siwagati.

“Kakang, bagaimanapun saya adalah seorang gadis yang belum pernah membuka  bagian yang tertutup rapat. Saya merasa canggung dan untuk itulah Kakang akan membantu dengan membalikkan badan.”

“Apa yang akan engkau lakukan?”

“Saya akan lakukan satu pekerjaan agar tidak merepotkan Kakang saat bergerak.”

“Aku belum mengerti kemauanku, tapi baiklah, aku akan lakukan itu.” Bondan memutar tubuh dan membelakangi Siwagati.

Merasa tidak ada waktu lagi untuk bekerja lambat, Siwagati dengan cekatan melepas kain panjangnya dan merobeknya. Dia telah membuat perkiraan ukuran kain untuk menutupi kedua kakinya. Sebilah pisau kecil yang selalu diselipkannya di balik kain yang melilit pinggang lincah berkelebat mengirim bagian demi bagian.

“Kakang boleh melihatku sekarang.” Siwagati berdiri tegak dengan kaki telah terbungkus rapat oleh kain yang dibentuknya seperti pakaian pria.

“Beginilah engkau seperti yang aku lihat sekarang,” kata Bondan tersenyum lebar. Dia takjub dengan kecepatan Siwagati merubah bentuk kain. Kemudian,”Mengapa mereka ingin menangkap hidup-hidup? Bukankah kau sedang berada di tempat paling aman?”

“Kita tidak pernah mengerti. Karena pertanyaan yang sama juga muncul dalam benakku. Apa alasan mereka untuk menyingkirkan orang Pajang? Dan Kakang adalah orang Pajang.”

“Kita harus segera mengetahuinya.” Bondan menarik lengan Siwagati. Dari balik pintu, dia melihat banyak lingkaran perkelahian. Semakin gusar hatinya ketika melihat orang-orang yang mengenakan pakaian pengawal kademangan tengah berkelahi dengan orang-orang Pajang, para pengiringnya!

“Sungguh aku tidak mengerti segala kejadian ini!” seru Bondan dalam hatinya.

“Kewajibanku adalah membantu pengawal kademangan.” Siwagati menarik lengan Bondan.

Tetapi Bondan menyentakkan tangan hingga lepas dari genggam Siwagati. “Yang dihadapi para pengawal adalah orang yang mengiringi kedatanganku ke tempat ini.” Bondan memegang kedua bahu istrinya, “Ini adalah kekacauan yang sangat besar. Bagaimana para pengiringku dapat jatuh dalam perkelahian melawan para pengawal kademangan? Sedangkan mereka masih duduk dan makan bersama siang hari tadi? Apakah engkau telah memperoleh jawaban, Siwagati?”

Kedua mata Siwagati berkaca-kaca. Dia tidak mengira suaminya dapat bersikap sedikit kasar. Walau pun dia dapat mengerti tetapi Siwagati saat ini sedang berada dalam kebingungan yang tak kalah rumitnya dengan Bondan.

“Apa yang dapat kita perbuat dalam kekacauan in, Kakang?”

“Rumah. Kita masuk ke dalam rumah, mungkin beberapa orang dapat memberikan gambaran sedikit terang mengenai peristiwa ini.” Siwagati mengeluh pelan tetapi dia mengikuti derap kaki Bondan. Mereka berdua setengah berlari menuju rumah Ki Juru Manyuran.

Tetapi perjalanan mereka terhalang seseorang yang melintangkan senjata panjang. Bondan mengenalinya karena orang itu adalah salah seorang pengiringnya.

“Apa yang terjadi, Paman?”

“Aku tidak mengerti tetapi Resi Gajahyana memerintahkan kami untuk kembali ke tempat ini. Beberapa saat kemudian, kami telah terlibat dalam pergumulan berdarah. Kami tidak tahu bagaimana harus mengakhiri karena kami tidak memulainya.”

Bondan berpaling pada istrinya. Dia tidak berkata sepatah kata tetapi sorot mata Bondan menyampaikan pertanyaan. Siwagati menarik napas panjang, kemudian,” Aku tidak  mengetahui segala sesuatu di balik ini semua. Yang aku mengerti adalah hari ini adalah hari pernikahan denganmu, Kakang. Hanya itu, tidak lebih!”

“Aku ingin percaya padamu tetapi semua membutuhkan waktu untuk sebuah bukti,” sahut Bondan. Dia beralih pandang pada pengiringnya,”Di mana kedudukan Eyang Gajahyana sekarang?”

“Marilah, saya akan mengantar Angger berdua.” Dia memberi tanda pada Bondan dan Siwagati untuk mengikutinya.

Di sebuah tempat, Nyi Kirana telah terlibat dalam perkelahian sengit melawan orang-orang Sanca Dawala. Berbagai hujatan dan sumpah serapan terlontar untuknya. Dia tidak mengingkari tuduhan orang-orang yang menganggapnya sebagai pengkhianat. Dan Nyi Kirana tidak merasa sakit hati atas tuduhan-tuduhan itu. Bahkan dengan gagah berani, dia mengucap kalimat yang mengiris para penuduh.

“Aku tidak meninggalkan padepokan, Ki Jaranggi! Perbedaan pendapat telah mencapai puncak dan aku harus membuat pilihan.”

“Iblis betina! Sekarang pilihan telah menjadi pokok bicaramu. Ingat, kau mendatangi kami dengan wajah suram. Mpu Rawaja memberimu tempat di padepokan lalu menjadikanmu sebagai perempuan istimewa. Tidak ada seorang pun yang dibolehkannya menyentuhmu. Bahkan Mpu Rawaja tidak pernah memintamu melakukan perbuatan yang tidak ingin kau lakukan.”

“Aku tidak melupakan kebaikan Mpu Rawaja, Ki Jaranggi. Tetapi aku menginginkan perubahan. Setelah menjalani kehidupan bersama kalian di padepokan dan belantara, di jalan dan tepi perkampungan, aku ingin melepas lelah.”

“Melepas lelah? Kau pikir semudah itu setelah kau bunuh Ra Jumantara?” “Aku tidak membunuhnya! Ra Jumantara mati dalam perang tanding. Dan engkau pun mengerti arti sebuah perang tanding.” Tidak ada nada tinggi dalam setiap ucapan yang keluar dari Nyi Kirana. Dia begitu dingin dan datar menghadapi tudingan Ki Jaranggi. Perkelahian yang melibatkan mereka berdua kini tidak lagi sekedar saling menyerang dengan kekuatan ilmu, tetapi menyeret segi kejiwaan dengan perang kata-kata.

Kisah Terkait

Malam Petaka 5 – Api di Dalam Sekam

kibanjarasman

Malam Petaka 2

kibanjarasman

Malam Petaka 6 – Kado Pernikahan Berdarah di Grajegan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.