Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 49

Kereta kuda mengambil tikungan kiri selepas melintasi regol Kraton Panembahan Hanykrawati. Arah yang ditempuh oleh sais kereta kuda membuat kening guru Kinasih berkerut. “Apakah ia akan memutar? Tetapi mengapa harus mengambil jalur keluar kota?” Namun ia berketetapan hati untuk membayangi pergerakan kereta kuda yang diyakini sedang membawa Ki Patih Mandaraka. “Bila harus membuat pengamatan, bukankah senja adalah waktu yang sering menapak ambang bahaya?” Lagi-lagi guru  Kinasih berpikir keras menyusuri kemungkinan ada alasan yang masuk akal.

Pada ujung jalan akan terjadi penyempitan jalur, dan dua sisi jalur itu adalah hutan yang tidak begitu luas namun cukup rapat dengan pepohonan. Dua gardu telah terlampaui tetapi tidak ada keanehan yang terjadi. Tiba-tiba kereta kuda berhenti di persimpangan. Di depan adalah lorong yang membelah hutan, belokan kiri adalah jalur yang dapat membawa setiap orang melewati Kepatihan. Dan, ternyata, kereta kuda berbelok arah. Apakah ia akan berhenti di Kepatihan? Demikian pertanyaan guru Kinasih. Ia tetap menjaga jarak. Satu-satunya alasan yang mungkin dapat diterimanya adalah Ki Patih Mandaraka sedang mengalihkan perhatian orang-orang yang dicurigai sedang membuntutinya.

Dari balik caping lebar, sepasang mata guru Kinasih menangkap bayangan orang berlompatan di balik suram bayangan pohon. “Masih gelap bagiku untuk menilai siapa mereka,” kata guru Kinasih dalam hati. Ia menyesuaikan diri dengan keadaan. Penyamaran dan pergerakannya tidak boleh menarik perhatian orang-orang yang sedang membayangi kereta kuda dari dua sisi yang berseberangan.

Sejauh itu, selama dalam perjalanan melintasi jalur yang terletak di sebelah utara alun-alun, tidak terlihat gelagat akan ada penyerangan gelap yang sangat mendadak. Bila ada, guru Kinasih telah siap menghalau dengan sambitan pasak-pasak kecil seukuran kelingking. Jarak serangnya telah diperhitungkan dengan baik. Hanya satu yang dikhawatirkan olehnya, tipu daya dari rencana Raden Atmandaru. Meski demikian, ia yakin kehadirannya di Kutagede tidak akan diketahui oleh pemangsa tahta. Seandainya Raden Atmandaru tahu? Guru Kinasih tidak mempunyai pemikiran itu karena ia telah menghapus keberadaannya dari nama-nama yang patut disegani di Mataram. Sedikit orang yang akan ingat padanya.

Di depan regol Kepatihan.

Keganjilan kembali terjadi ketika seseorang – yang menurut guru Kinasih adalah Ki Patih Mandaraka – turun dari kereta, lalu melompat ke atas punggung kuda kemudian memasuki halaman Kepatihan. Ia bertukar tempat dengan seseorang yang mempunyai bentuk tubuh nyaris sama. Orang baru itu segera memasuki kereta lalu berputar dan melaju para arah sebaliknya di atas jalur yang sama. Guru Kinasih memperhatikan dengan seksama. Mustahil ada dua Ki Patih Mandaraka. Namun, siapa yang memasuki Kepatihan dan siapa pula yang menaiki kereta kuda? Guru Kinasih lantas tersenyum, lalu berkata pada dirinya sendiri, “Bukan tidak mungkin Ki Patih justru masih bersama Panembahan Hanykrawati atau bahkan seharian penuh berada di dalam bilik.”

Pemandangan di bawah kaki langit sungguh indah. Remang senja seolah enggan berlalu dari tatapan orang-orang yang sering menitipkan harapan padanya.  Langit tampak gagah dan perkasa dan sepertinya ia sedang membuka tangan bagi orang-orang yang merindukan kekasih. Namun, barangkali, Mataram tidak akan mendapatkan kedamaian seperti itu ketika malam semakin merapatkan jarak dan kereta kuda berderap lebih cepat. Jumlah orang-orang yang membuntutinya seolah berkurang. Guru Kinasih tidak berpikir seperti itu. “Mereka bukan tidak bergerak, tetapi sedang menunggu. Mungkin pimpinan mereka juga mengalami kekacauan nalar sepertiku,” ucapnya dalam hati.

“Rubah tua yang licik!” geram seorang pengintai saat melihat pertukaran yang terjadi di depan regol Kepatihan.

“Tenanglah sebentar,” kata kawannya. “Kita tetap sergap mereka pada seperempat jalan terakhir.”

Mereka bertukar ucapan dengan tubuh menempel rapat pada sebatang pohon yang akan dilintasi oleh kereta kuda. Sikap waspada dan penuh kehati-hatian terlihat dari gerak gerik mereka, tetapi bila mereka anggap semua dalam kendali, itu salah! Guru Kinasih telah mengukur jarak, dan andaikata mereka menyerang kereta kuda, nenek luar biasa itu akan menjadi benteng yang sangat tangguh.

Di dalam kereta kuda.

Dengan tubuh merunduk, sejajar dengan bangku panjang, Sukra menyiapkan busur dan anak panah. DI sampingnya adalah Ki Demang Brumbung yang berangsur pulih dari perkelahian tidak seimbang di Gedangasin. Ki Demang Brumbung mengulurkan tangannya sambil berkata, “Kita belum jauh meninggalkan Kepatihan. Apakah engkau sudah tak sabar, Sukra?”

“Saya bukan lagi Sukra, Ki Demang,” jawab anak muda Menoreh itu dengan senyum, “saya adalah Ki Patih Mandaraka yang berusia muda.”

Terbit kagum dalam hati Ki Demang, betapa Sukra masih sanggup bersikap cair sedangkan selembar nyawanya berada di ujung perjalanan. Itu adalah siasat Ki Patih Mandaraka yang berawal dari keberanian Sukra menggantikan kedudukannya.

Arya Penangsang adalah pewaris sah Demak. Dan satu tambahan penting adalah Pangeran Trenggana memaksa saudara-saudara kita di sebelah timur untuk mengakuinya sebagai seorang penguasa.

Baca : Pangeran Benawa

Ketika berhasil melepaskan diri dari kejaran Ki Rangga Ramapati, Ki Demang Brumbung segera membaur di antara penduduk yang tinggal di dalam wilayah yang menghubungkan Kutagede dengan Sangkal Putung. Sejumlah orang yang mengenalnya segera memberi pertolongan dan perlindungan dari endusan tajam Ki Ramapati. Ki Demang Brumbung bukan orang asing bagi banyak orang yang menetap di wilayah itu. Selain dikenal sebagai orang yang mudah bergaul, Ki Demang Brumbung adalah penjelajah ketika berusia muda. Maka tidak banyak pertanyaan yang muncul dari orang-orang ketika melihatnya berlumuran darah. Wajar jika seorang rangga bermandikan darah, pikiran penduduk tidak jauh dari pendapat seperti itu.

Setelah membuat perkiraan jalur yang akan dilintasi Ki Patih Mandaraka, Ki Demang Brumbung pun menantinya.

“Saya telah mendengar rencana itu, Ki Patih,” demikian kata Ki Demang Brumbung saat berhasil menemui Ki Patih sebelum pemimpin itu memasuki gerbang kota.

”Mari kita duduk,” ajak Ki Patih. Mereka mengikutinya. Sebelum tiba di pelataran belakang, Ki Patih membagi mereka menjadi dua kelompok, lalu meminta agar mereka menemuinya di ruang sempit di dekat lorong yang berada di bagian timur.

Dalam pertemuan singkat, Ki Demang Brumbung menjelaskan rencana kawanan Ki Ramapati yang dilaporkan oleh petugas sandi padanya.

“Mataram tidak dapat menghukum Ki Rangga Ramapati begitu saja, Ki Demang. Kita harus membuktikan bahwa ia secara nyata benar-benar terlibat makar,” kata Ki Patih kemudian.

“Bukankah Ki Patih hampir menjadi korban di Slumpring?” Sukra nyaris tidak dapat menguasai diri ketika menanyakan itu.

“Tidak, itu belum cukup, Ngger.” Begitu tenang Ki Patih ketika menjawabnya.”Kita tetap bersikap seperti biasa. Perlakukan dan bersikaplah wajar terhadap Ki Ramapati, sebagaimana biasanya. Meski ia menduga bahwa niatnya telah terungkap atau terbaca, tetapi kita tetap bersikap seperti seekor mangsa yang lemah.”

Ki Demang Brumbung dan  Ki Plaosan tidak menyatakan keberatan, dalam waktu itu, Sukra tahu diri bahwa ia tidak mempunyai ruang yang cukup di dalam Kepatihan.

Sepertinya keadaan Sukra diketahui oleh Ki Patih Mandaraka, katanya, “Sukra…”

“Saya, Ki Patih.”

“Engkau telah cukup lama bergaul dengan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka berdua adalah prajurit yang mumpuni bila melakukan penyamaran. Sekarang, aku ingin engkau menyamar sebagai seorang Ki Patih Mandaraka. Aku tidak melihat banyak perbedaan dari bentuk tubuh kita berdua,” ucap Ki Patih lalu memandang wajah Ki Demang Brumbung dan Ki Plaosan, “apakah Anda berdua mempunyai pendapat lain?”

Dua prajurit yang ditanya lantas menggeleng. Kata Ki Plaosan kemudian, “Saya yakin ini rencana yang bagus, Ki Patih.” Lantas ia menambahkan, bahwa Sukra yang tidak begitu dikenal oleh orang-orang di dalam lingkungan Kepatihan akan membuatnya lebih mudah bergerak dalam sengkarut yang membelit Mataram, terutama Sangkal Putung. Pendapat itu mendapat dukungan dari Ki Demang Brumbung.

Kemudian Ki Patih berkata pada Sukra, “Ketahuilah, Ngger, apabila engkau menerima tugas ini, menyamar sebagai diriku, maka itu artinya engkau akan mengorbankan nyawa untukku. Aku tidak ingin memaksamu. Pikirkan baik-baik. Keselamatanmu tetap menjadi perhatian utama bagi kami bertiga. Jalanmu masih panjang. Mataram juga membutuhkan semangat dan tenagamu di masa mendatang. Di atas itu semua, aku tidak lebih penting darimu dan orang-orang Mataram lainnya.”

“Dengan menyamar sebagai Ki Patih, apakah itu berarti saya akan bertemu dengan banyak orang berpengaruh yang datang dari seluruh pelosok Mataram? Lalu, jika itu benar terjadi, apa yang harus saya perbuat ketika mereka bertanya atau membawa sebuah persoalan?” tanya Sukra.

“Engkau bukan lagi sebagai seorang patih bila berada di lingkungan Kepatihan. Peran patih hanya berlangsung apabila Ki Patih berencana keluar dari tempat ini,” kata Ki Demang Brumbung sambil menepuk bahu Sukra. “Kawanan Ki Ramapati tidak akan mempunyai taring untuk bergerak di lingkungan Kepatihan. Itu sama saja dengan bunuh diri. Tetapi, satu atau dua hari lagi, sesuai kebiasaan Ki Patih, beliau akan bertemu dengan Panembahan Hanykrawati dengan berbagai persoalan yang sedang berkembang.”

“Oh,” Sukra menahan seruan dengan menggerakkan tangan menutup mulut yang ternganga, “lalu, selama masa itu, maksud saya, di mana saya akan menunggu selama perintah belum diturunkan?”

“Ki Demang Brumbung akan menemanimu menjalani pekerjaan baru,” jawab Ki Patih, “sebagai pekatik.” Lantas Ki Patih Mandaraka mengurai rencananya untuk mengecoh pergerakan orang-orang Ki Ramapati.

Demikianlah, lalu  yang terjadi kemudian adalah Sukra dan Ki Demang Brumbung berada di dalam kereta kuda, menyiapkan kejutan pada jarak yang telah ditentukan oleh Ki Demang Brumbung. Sementara Ki Plaosan, yang berperan sebagai kusir kuda, akan memberi tanda bagi mereka berdua.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment