Padepokan Witasem
Bab 9 Panarukan

Panarukan – 1

“Panarukan tidak akan menyambut kedatangan angkatan perang Demak Bintara. Kita tidak akan melalukan pertempuran di tengah laut,” tegas Mpu Badandan di dalam sebuah bangunan yang berada di sisi timur pelabuhan pada saat matahari menyusur jalan turun.

Seorang senopati yang berusia sepantaran dengan Adipati Hadiwiaya menatap tajam padanya. Kemudian senopati ini berkata, ”Itu akan menujukkan bahwa Panarukan adalah tanah yang lemah. Seharusnya kita bangkit berdiri menyongsong mereka di atas samudera. Pertempuran di samudera adalah kemampuan yang telah kita miliki sekian waktu lamanya.”

Mpu Badandan berpaling padanya kemudian berkata, ”Aku harap kau tidak salah mengerti, Ki Tumenggung Kayumas. Pangeran Tawang Balun dan Adipati Surabaya telah bersepakat tidak ada pengerahan prajurit untuk bertempur di atas kapal.” Ia menatap setiap wajah yang sedang melihatnya. Tampak oleh Mpu Badandan bahwa sinar mata yang dilihatnya adalah sorot pandang yang menyimpan hasrat kuat untuk sebuah pertempuran. Sorot mata yang tidak menggambarkan ketakutan atau kengerian dalam menghadapi kematian. Tetapi ia sepenuhnya mengerti bahwa Pangeran Tawang Balun dan Adipati Surabaya sendiri masih berusaha menghindarkan jalan perang meskipun Demak akan mendatangi mereka dengan kekuatan lengkap.

Tatap mata Mpu Badandan kemudian membentur wajah seorang lelaki muda yang dikenalnya sebagai senopati yang bernalar panjang dan cerdik. Lalu katanya, ”Gagak Panji, apakah kau dapat menjelaskan mengenai alasan Pangeran Tawang Balun yang menolak pertempuran di samudera?”

Ki Rangga Gagak Panji menenangkan dirinya sebelum mengucap kata. Ia memahami keinginan banyak orang yang tidak ingin dinilai sebagai orang-orang yang lemah dan mudah ditakuti oleh Demak. Sedikit dua tangan Gagak Panji terangkat, lalu katanya, ”Hyang Menak Gudra pun menyetujui gagasan Eyang Pangeran, Guru.”

Ki Tumenggung Kayumas yang masih merasa ada ganjalan dalam hatinya kemudian berkata, ”Itu bukan alasan, Ki Rangga! Kita mempunyai kekuatan dan pasukan yang berimbang dengan Demak Bintara. Dan seharusnya tidak ada alasan untuk menghindari gelar perang secara terbuka. Ditambah sejumlah prajurit telah berkumpul mengelilingi Panarukan, tentu saja mereka akan menjadi hambatan bagi Demak bila akan meloloskan diri melalui jalur darat.”

“Itu telah mereka perhitungkan, K Tumenggung.” Ki Rangga Gagak Panji lurus menatap senopati yang diakui mempunyai keluasan ilmu oleh Hyang Menak Gudra. Gagak Panji berkata lagi, ”Ini bukan sekedar permasalahan menang atau kalah. Takut atau berani, tetapi lebih cenderung seperti yang telah dikatakan oleh Eyang Parikesit.”

“Pemikiran semacam itulah yang akhirnya menjadi sebab bahwa kalian adalah kaum pengecut!” sergah Ki Tumenggung Kayumas.

“Batasi ucapanmu, Kayumas!” tukas Ki Rangga Gagak Panji yang seperti terpancing oleh sikap Ki Tumenggung Kayumas yang menyinggung tentang keluarganya.

“Tidak perlu bagiku memperhatikan apa yang aku katakan. Kenyataan telah memberikan jawaban bahwa kalian selalu menghindari peperangan.” Nada suara Ki Tumenggung Kayumas semakin meninggi. “Ribuan prajurit dalam keadaan siaga. Kapal-kapal pun telah dipersenjatai lengkap. Aku tidak melihat alasan untuk berlari dari medan!”

Ki Rangga Gagak Panji merupakan orang yang cepat menguasai diri. Ia telah banyak belajar dan menyadap ilmu tentang makna sejati kehidupan dan pula Mpu Badandan telah membantunya untuk berhubungan dengan alam semesta. Maka ia pun meredam gejolak perasaannya dengan menarik napas panjang. Kemudian katanya, ”Selagi korban dapat dihindarkan, itulah yang akan kami tempuh. Namun apabila tak lagi ada jalan untuk dilalui, maka terjadilah pilihan yang terburuk.” Ia diam sejenak. ”Aku kira kau mengerti itu, Kayumas!” Suara yang diucapkan Ki Rangga Gagak Panji penuh dengan tekanan. Getar suaranya benar-benar menyiratkan kesungguhan hatinya.

 

Klik : Bab sebelumnya

Related posts

Panarukan – 3

kibanjarasman

Panarukan – 2

kibanjarasman

Leave a Comment