Padepokan Witasem
Bab 1 - Pulang

Pulang 6

Sebongkah batu besar yang menghuni dada, menggelinding pergi mengiringi langkahku menuju kamar. Lagu rindu kembali terngiang memenuhi telinga. Kenangan masa kecil hingga remaja berputar-putar dalam kepala.

Aku ingin rebah, namun bayangan wajah di cermin yang persis menghadap tempat tidur menahan niatku. Mengusir barisan kenangan dalam ingatan. Lagu rindu tidak lagi terdengar, semua menghilang. Bayangan wajah itu mengusir semuanya. Wajah Senggani dewasa lengkap dengan sorot mata sayu yang menyimpan banyak derita.

Aku tahu, derita tidak akan memiliki tempat tinggal di dalam hati jika aku segera mengusirnya pergi. Bukan malah membukakan hati dan memberikan satu bilik untuk dia tinggali. Namun itu yang terjadi. Saat cinta datang menghampiri, maka aku relakan derita menyertai.

Dasar bodoh! Aku mendengar umpatan itu, dan aku tahu jika ditujukan untukku. Tapi aku bergeming. Lebih memilih menderita asal tidak kehilangan cinta. Padahal dalam sejarah dunia, telah dituturkan bahwa cinta sejati tidak akan membuatmu menderita.

Cinta datang menyapa dengan penuh kelembutan, menuntun langkah di jalan kebaikan dan akan berujung pada sebuah keniscayaan. Cinta sesungguhnya cinta. Cinta dari Sang Pemilik Cinta.

Angan tentang cinta sejati menggayuti kelopak mata yang perlahan meredup lalu menutup. Sebuah mimpi tengah menunggu di ujung sana.

***

Senja baru saja beranjak pergi, saat aku terbangun dari tidurku. Candikala masih menyisakan semburat merah yang berjingkat menghampiri gelap. Dari jendela kamar yang masih terbuka angin senja membelai rambutku.

Aku beranjak, mengingat obrolan tentang keris dengan bapak tadi siang membuat sesak kembali menyeruak. Bayangan keris berlekuk tiga belas itu berseliweran.

“Aku sebenarnya ingin mengerti alasan Mbah Kung mewariskan keris itu padaku. Sedikit yang aku ingat, entahlah! Mungkin aku benar-benar lupa perihal keris itu. Aku merasa Mbah Kung menyembunyikan sesuatu, sebuah rahasia yang tersimpan di balik keris itu. Dan aku juga merasa, jika keris itu adalah kunci dari rahasia itu sendiri.”

Sesuatu dalam diriku memanggil-manggil bersama seulas senyum dari wajah teduh mbah Kung. Telah lama aku mendengar dan merasa, tapi aku terus berusaha mengingkarinya. Semakin jauh aku berlari dan menghindar, semakin sesuatu itu mendekat, mengejar.

Hingga sampai aku pada titik lelah. Aku pasrah dan menyerah. Aku percaya, bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik pasti akan memiliki akhir yang baik. Maka aku putuskan untuk pulang. Mencari jawab untuk semua tanya dan akan aku terima dengan hati lapang.

Related posts

Senggani – Pulang 1

Lina Boegi

Pulang 5

Lina Boegi

Pulang 4

Lina Boegi

Pulang 3

Lina Boegi

Leave a Comment