Padepokan Witasem
Bab 3 Pangeran Benawa

Pangeran Benawa 5

Pangeran Benawa menghentikan langkah lalu memandang wajah kakeknya. “Jadi, mungkinkah tidak akan ada orang yang tahu sebab kematian orang lain?”

“Itu bukan lagi menjadi mungkin. Karena kematian adalah benderang yang engkau lihat di dalam gelap atau kegelapan yang benderang dalam pandang mata batinmu. Itu semua tergantung pengalaman dan kemampuanmu mengolah wawasan.”

“Kakek,” bertanya Pangeran Benawa kemudian, “bilakah saya akan dapat berbuat seperti yang pernah Kakek lakukan?”

“Seorang murid tidak pernah dapat melampaui gurunya pada jalur yang sama. Tetapi seorang murid akan melesat lebih tinggi daripada gurunya ketika ia telah menemukan kesejatian dalam hatinya.”

“Saya tidak mengerti..saya tidak mengerti..saya tidak mengerti.” Berulang-ulang Pangeran Benawa mengucapkan kalimat itu dengan kepala menggeleng.

”Kakek berkata sebenarnya, Pangeran,” kata Ki Buyut Mimbasara.

“Tetapi saya belum dapat mengetahui maksud ucapan Kakek.”

Ki Buyut tersenyum lalu menjawab, “Aku berkata sebenarnya. Dan aku memang berkata dengan jujur. Bila masa telah tiba dan engkau berusia panjang, maka engkau akan mengerti semua yang kita bicarakan dalam perjalanan ini.”

Setenang telaga yang masih meyisakan riak kecil karena angin, Pangeran Benawa menerima kata-kata gurunya. Ketika dua matanya bertumbuk dengan sehamparan rumput yang tidak begitu luas, ia berkata lantang sambil menarik lengan kakeknya, “Marilah, Kakek.” Ia mengayunkan kakinya dengan lincah seperti dunia telah berubah. Bila sebelumnya ia banyak memutar otak sangat keras, namun kini, tiba-tiba, ia berubah menjadi bocah kecil yang periang.

Setibanya di tengah padang, Pangeran Benawa mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang berlambar setengah himpunan tenaga cadangan miliknya lalu menyerang Ki Buyut Mimbasar dengan terjangan luar biasa!

Kakeknya tersenyum melihat serangan mendadak dan telah dikerahkan dengan perhatian penuh oleh cucu buyutnya. Ia menunggu Pangeran Benawa agar lebih dekat, sementara lawan berlatihnya melesat seperti melayang di atas permukaan tanah!

“Bagus!” seru Ki Buyut. Kini tangannya menyilang di depan dada dengan tubuh condong ke samping. Kurang dari sekejap mata mereka akan membenturkan tenaga. Tiba-tiba Pangeran Benawa mengalihkan pusat serangan. Tangannya sangat luwes menyerang tiga titik berbahaya kakeknya.

“Luar biasa!” Ki Buyut Mimbasara melenting, menjauh beberapa langkah dari Pangeran Benawa. Ia berbangga hati saat menyaksikan Pangeran Benawa mengalihkan titik serangan dengan tata gerak yang sama sekali tidak mengurangi kecepatannya.

Waktu terus beranjak selangkah demi selangkah. Ia tidak ditanya tentang yang diperbuatnya. Ia tidak ditanya tentang setiap masa yang dilewatinya. Begitu pula Pangeran Benawa yang tidak pernah bertanya lagi tentang sebab berita kematian ka-keknya. Ia tenggelam dalam gemblengan Ki Buyut Mimbasara. Ia tidak lagi bertanya tentang waktu wisuda baginya untuk menjadi raja. Ia tidak lagi mengatakan lebih banyak tentang Arya Penangsang dan Sutawijaya. Ia telah menjadi seseorang yang bernama Pangeran Benawa.

Related posts

Leave a Comment