Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 33

Ki Garu Wesi hanya terperangah. Benar-benar di luar dugaan! Sikap dan kata-kata yang terucap dari senapati pasukan khusus itu, sungguh, berada di luar kebiasaan seseorang yang dikabarkan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai. “Apakah hutan ini memang penuh dengan dedemit hingga seorang Agung Sedayu pun lupa diri?” gumamnya sambil menatap arah kepergian Agung Sedayu.

Memutari jalan adalah pilihan bagi Agung Sedayu. Bahwa ia dan Untara serta orang-orang di lereng Merapi tengah menghadapi masa pelik. Agung Sedayu belum dapat mengetahui kawan dan lawan selain orang-orang di Jati Anom, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan. Di ibu kota? Ia hanya percaya pada Ki Patih Mandraka dan Panembahan Hanykrawati, selain mereka? Hanya setipis helai kain bagi pemimpin pasukan khusus dalam memercayai seseorang.

Agung Sedayu tidak memalingkan muka hanya sekedar untuk memergoki Ki Garu Wesi atau orang lain yang mungkin mengekor padanya. Keyakinannya terlalu kuat bahwa ia tidak akan dikejar oleh Ki Garu Wesi, atau mungkin Ki Hariman mempunyai siasat lain. Senapati ini telah menepis semua kemungkinan. Dalam benaknya, hanya ada satu tekad : tiba di Sangkal Putung sebelum langit merekah.

Merah belum berpendar ketika suami Sekar Mirah menuruni jalan setapak yang sedikit curam. Turunan dan tanjakan ternyata lebih terjal dari keterangan Ki Tunggul Pitu. Pohon-pohon lebih renggang berbaris, tetapi semak dan tanaman perdu cukup rapat berhimpit dengan ketinggian nyaris sejajar lelaki dewasa. Agung Sedayu menguji keterangan orang yang mengajaknya untuk bersekutu. Ia memutuskan untuk mengamati permukiman pengikut Raden Atmandaru dari belakang. “Pemilihan tempat yang luar biasa,” desis Agung Sedayu tanpa suara.

Dari jalanan yang sebenarnya jarang dilewati orang, permukiman itu cukup sulit dilihat dengan pandangan sekilas. Atap rumah, meski tidak cukup layak disebut sebagai rumah, terbuat dari tanaman yang ada di sekitar mereka dan itu adalah penyamaran terbaik. Ketinggian atap juga tidak lebih tinggi dari tanaman perdu. Maka dapat dibayangkan betapa rendah ruangan yang ada di dalamnya. Dari tempatnya berdiri, Agung Sedayu tidak melihat api atau bara yang menyala. Tidak ada kepul asap walau setipis kulit ari yang mengepul dari tanah datar di depannya.

“Kebodohan yang sangat hebat,” gumam Agung Sedayu menilai dirinya apabila mengikuti petunjuk Ki Tunggul Pitu untuk mencari tanda khusus yang menjadi pengenal jalan masuk. Mereka mampu melewati malam tanpa api, itu luar biasa. Bukan tidak mungkin mereka juga selalu memindahkan jalan untuk memasuki lingkungan itu, pikir Agung Sedayu. Kemungkinan selalu terbuka, menurutnya, untuk mengganti tanda masuk seperti Mataram yang sering mengubah kata sandi untuk setiap tugas yang berbeda. Bahkan, Mataram terbiasa mengganti tanda rahasia untuk satu tugas khusus. “Raden Atmandaru tentu telah menimbang masalah itu, terlebih sebagai orang yang mengaku sebagai keturunan Panembahan Senapati dan pernah menerima tata keprajuritan. Tentu saja, tentu ia telah memikirkan itu,” bisik Agung Sedayu tanpa suara pada dirinya sendiri.

Agung Sedayu masih menyisir jalan terjal sambil memikirkan cara untuk menerobos permukiman rahasia Raden Atmandaru. Namun ketika ia mendongak, bintang telah bergeser tempat. “Waktuku semakin terkekang jika masih mengitari tempat ini,” katanya dalam hati. Untuk sejenak ia berhenti mencari sesuatu yang membedakan dari setiap rerimbun semak atau tanaman perdu. Kesalahan yang ia lakukan tidak akan memberinya kesempatan kedua. Ratusan orang atau puluhan senjata rahasia dapat menghujaninya setiap saat apabila ia keliru menyimpulkan.

Mendadak terdengar suitan melengking memecahkan kesunyian jalanan terjal itu. Sejenak Agung Sedayu memusatkan pendengaran. Apakah ia sedang diikuti atau kedatangannya telah diketahui? Senapati pasukan khusus ini hanya memusatkan perhatian, melebarkan daya jangkau pendengarannya hingga belasan atau puluhan langkah dari tempatnya berdiam diri.

Lamat-lamat juga terdengar suitan dengan nada yang berbeda. Sesaat kemudian, suitan-suitan dalam lengking yang berlainan memenuhi kolong langit di tepi Sangkal Putung. Mereka bersahutan. Seolah mereka sedang membicarakan sesuatu atau saling memberikan keterangan. Agung Sedayu, sekali lagi, hanya memusatkan perhatian. Hanya saja, kali ini ia tertarik pada nada-nada yang berbeda namun terdengar seperti sebuah lagu. “Ini kecerdasan lebih!” pekik Agung Sedayu dalam hati. Ia memuji kehebatan orang yang mengincar kedudukan Panembahan Hanykrawati!

Sekali-kali suitan menghilang oleh semilir angin malam yang mengaburkan jejak suara. Terkadang mereka mendadak lenyap sebelum menggaungkan nada yang berbeda.

Related posts

Leave a Comment