Padepokan Witasem
Kepak Sayap Angsa

Sang Pedati

Senggani merekah, embun menghias
Berteman ilalang menepis sepi

Roda pedati bergulir ketika sais menghentak cambuk.
Itu bukan masalah waktu maupun aku. Itu tentang kamu. Ya, kamu. Kamu adalah pedati dengan kayu renta namun bukan karena usia. Bukan tentang beban. Bukan pula bersinggungan denganku.
Wajahmu terbenam, lirih berucap, “Apakah aku adalah dirgahayu?”

Mereka bersuka, doa-doa ditengadahkan. Adalah kau, sebagai pengingat bahwa waktu terus melaju dan takkan berulang.

Ketika matahari mulai merangkak tinggi. Mulut langit mengembuskan doa untukmu.
Meski raga tak lagi muda. Namun, kau punya semangat membara.

Semangat memanfaatkan waktu yang pasti akan berakhir entah kapan. Hanya satu keinginan. Namamu terukir dalam album sejarah kebajikan.

Dirgahayu sebagai penanda gulir sang waktu. Tersimpul kebahagiaan pada setiap jejak yang kau tapaki. Terselip makna dalam dari onak yang perih menyayat hati. Merapal satu mantra lirih, “Semoga kian bestari!”

Ditulis keroyokan :

Yekti Sulistyorini, Dora Gustika, Murni Tiana, Ati Gufriati, Ki Banjar Asman, Dahlina untuk sahabat, Lina Boegi.

Related posts

Leave a Comment