Padepokan Witasem
Kepak Sayap Angsa

Sebatang Akasia

Aku sebatang pohon akasia yang tumbuh di oro-oro. Hamparan rumput luas yang terletak di pinggir desa Wonoanti. Usiaku sudah melewati dua ribu putaran hari. Batangku kokoh di bawah tempa hujan dan matahari.

Aku akan berkisah padamu tentang sedikit perjalananku.

Aku masih mengingat dengan baik, saat batangku masih kecil dan daunku belum rimbun. Hari itu seorang kakek menyelamatkanku dari seekor kambing bandot yang lepas dari ugeran. Dia berpesan pada bocah-bocah gembala, “Jaga pohon ini baik-baik, kelak kalian bisa berteduh di bawahnya. Bebas bermain tanpa takut kepanasan. Tunggulah hingga pohon ini besar dan berbunga, maka kalian akan tahu alasan kakek.”

Sejak hari itu, anak-anak gembala mengikat kambing lebih kuat. Memastikan ikatan cukup kencang sebelum mereka bermain thum-thuman. Sesekali mereka biarkan kambing-kambing berkeliaran bebas, di tempat yang jauh dariku.

Aku tidak memilih untuk hidup di sini. Aku tidak tahu yang menanamku. Mungkin indukku berada di tempat yang jauh. Mungkin angin atau burung membawaku ke sini dalam bentuk biji. Hingga tumbuhlah aku di tengah padang ini. Aku hanya tahu : padang rumput kecil inilah tempat terbaik untukku. Di sini aku tumbuh besar bersama ketulusan dan tawa bocah gembala.

Aku senang, menjadi tempat berteduh saat terik matahari menyerang. Aku senang kala anak-anak gembala bercengkerama dengan angin. Terkantuk-kantuk sambil bersandar pada batangku yang kukuh. Aku bahagia saat musim angin tiba, puluhan layang-layang terbang indah di langit senja.

Sekali waktu datanglah ke sini, berteduhlah di bawah daunku yang rimbun. Mari bersama kita dengarkan celoteh mereka. Tiupan seruling dengan irama melengking. Meliuk-liuk terbawa tiupan angin. Kemudian, saat gerah mulai datang, bersama mereka lantunkan mantera pemanggil angin.

cempe-cempe undangno barat gedhe
tak opahi duduh tape
lek ra entek tak balikke

Saat itu, kambing-kambing pun diam. Seolah  larut dan tenggelam dalam pengharapan. Sementara aku, berdebar dan menunggu agar angin segera datang. Perlahan mengelus daun, ranting, dahan, dan batangku dengan mesra. Kemudian aku menari mengikuti irama angin. Gemulai, rancak, lalu berputar liar saat angin semakin kencang.

Inilah saat terbaikku.

Mewarnai udara dengan bungaku yang berwarna kuning terang. Lihatlah, bocah-bocah berhamburan bersama bunga-bunga. Rambutnya menguning, sementara tangan-tangan kecil itu menadah lugu. Bergembira saat bunga-bungaku memenuhi telapak tangan mereka. Lalu bersama-sama rebah di atas hamparan rumput yang menguning. Menatap langit penuh suka cita.

Sesederhana itu cara mereka bergembira.

 

Lina Boegi

Related posts

Leave a Comment