Padepokan Witasem
Arya Penangsang, Sultan Trenggana, pangeran Benawa, Demak, Blambangan
Arya Penangsang

Sebuah Pembuka, Bukan Kisah

Arya Penangsang.

Banyak sumber yang menulis bahwa Arya Penangsang adalah orang berkepribadian kurang sabar, ambisius dan kasar. Sedikit orang yang berpendapat sebaliknya. Tidak sedikit sumber yang memuat bahwa perintah untuk membunuh Raden Mukmin berasal dari salah seorang yang berilmu agama tinggi. Namun novel Arya Penangsang – Sang Pangeran Senja bukan dihadirkan untuk membongkar selubung atau memporak-poranda sumber sejarah.

Berawal dari keberangkatan angkatan perang Demak ketika melakukan kampanye penaklukan wilayah di bagian timur Jawa, sesungguhnya ada masa ketika Demak tidak terpantau oleh sejarah. Keinginan Arya Trenggana/Raden Trenggana (gelar Sultan baru ada setelah beliau wafat) untuk merengkuh Blambangan ternyata tidak semudah menghembuskan napas.

Dalam masa itu, selama Raden Trenggana tidak berada di pusat pemerintahan, siapakah yang menjadi pengganti sementara waktu? Secara subjektif, seri pertama Pangeran Benawa telah memberi gambaran untuk itu.

Kemudian pasca wafatnya Raden Trenggana, benarkah Arya Penangsang mulai menyusun kekuatan untuk memaksa pengakuan bahwa sebenarnya dia adalah raja selanjutnya?

Pemenang merebut semuanya.

Demak sudah pasti tidak mempunyai seorang pemimpin tertinggi. Sejarah atau banyak sumber menerangkan proses transisi. Salah satunya adalah kesepakatan Sunan Giri dengan sesepuh kerajaan dengan menjadikan Raden Mukmin sebagai Ratu Demak.  Arya Penangsang dikabarkan kecewa. Kekecewaan yang sejalan dengan penyematan watak kasar yang padanya.

Maka Raden Mukmin pun dibunuh melalui tangan orang lain atas nama dendam. Berturut-turut kemudian Arya Penangsang menebar ancaman pada Jepara meski tidak dapat diartikan secara langsung.

Pertikaian panjang berakar dari wafatnya Pati Unus ketika memimpin angkatan perang Demak menyeberangi lautan. Konspirasi  dan saling silang menikam kemudian terjadi hingga Demak runtuh.

Adalah adat Demak yang diajukan bahwa pewaris tahta adalah putra yang lahir dari permaisuri, ini adalah argument yang semu atau samar. Demak belum mempunyai tradisi untuk dapat dikatakan sebagai adat. Diberitakan bahwa Raden Fatah berwasiat agar Pati Unus menggantikan kedudukannya jika masanya tiba. Sekali lagi, pertanyaan pun muncul : seperti inikah sebuah negara diperintah? Seperti negeri dongeng? Apakah Raden Fatah telah mempertimbangkan keberadaan anak-anaknya yang lain?

Sudut pandang yang berlainan pun merebak. Bila memang kedudukan Pati Unus menjadi raja berawal dari wasiat, apa yang menjadi hukumnya? Pati Unus adalah menantu raja . Bila berkaca pada Mataram Kuno, maka ini adalah kasus yang berbeda.

Oleh karena itu, apabila dikatakan bahwa putra permaisuri mempunyai hak sebagai pengganti atas dasar adat, sesungguhnya itu argumen rapuh. Demikian kata sebagian orang.

Maka wajar apabila Surawiyata merasa mempunyai hak. Begitu pula Raden Trenggana. Keduanya mempunyai pertimbangan dan alasan yang sama kuat. Dari segi agama, tidak ada yang lebih kuat dalam kedudukan politik antara istri pertama dengan istri yang lain.

Sang Pangeran Senja tidak berada dalam kedudukan sebagai pengadil, bukan pula sebagai tulisan yang membela atau memburukkan seseorang. Novel ini ada sebagai bagian dari perbendaharaan dunia sastra, terutama kisah silat berlatar belakang sejarah kerajaan Jawa.

 

Ki Banjar Asman

Leave a Comment