Padepokan Witasem
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut 1

Tahun demi tahun melesat bagai peluru. Aku tumbuh besar dan kegiatan bermainku menjadi berkurang. Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolah di kota Salatiga yang berjarak agak jauh dari Ambarawa. Sebagai seorang penglajo, setiap hari aku harus membuka mata saat ayam jago baru berkokok pertama kali. Berat melepas kehangatan peraduan.

Setiap musim hujan, aku selalu merasa sedih. Air menjadi sangat dingin sementara aku harus mengguyur sekujur badan di pagi buta. Apabila sudah begitu, terpaksa aku hanya membilas muka, menggosok gigi, dan membersihkan badan sekedarnya. Seragam yang digosok ibu dengan setrika arang membuatku tampil lumayan. Pukul 05.30 saat mentari masih enggan membuka mata, aku sudah berdiri tegak menunggu bus di tikungan jalan.

Sepagi itu pemandangan masih tertutup kabut karena udara yang sangat beku. Bahkan uap hangat langsung mengepul jika aku membuka mulut.

Lampu-lampu kuning penerangan jalan belum juga dipadamkan. Banyak mobil bak terbuka melintas membawa sayur mayur menuju pasar. Beberapa pasangan lanjut usia menikmati bersih udara pagi sambil berjalan pagi.

Di depan sebuah toko yang masih tutup, setiap pagi, Yu[1] Siti tetanggaku, menggelar dagangan di atas lincak[2] bambu. Orang berdesakan merubungnya sampai lincak tidak kelihatan. Bubur nasi, ketan gula jawa, pecel daun semanggi, gudeg, sambel goreng, tempe tahu bacem, pindang telur, dan beberapa jenis lauk lainnya dijajakan.

Aku membayangkan asap panas mengepul dari kwali bubur. Gurihnya makan bubur hangat beraroma daun salam membuat aku menelan liur. Di samping lincak, tumpukan daun jati tersusun rapi. Makanan yang dibungkus dengan daun jati memiliki aroma khas  yang tak tertandingi.

Di sebelahnya, penjual kue gandos sibuk mengipasi bara arang agar terus menyala. Kipas anyaman bambu berkepak mencipta percikan bunga api. Wangi kelapa bercampur tepung beras menyebar. Gandos gurih dan manisnya pisang matang membuat liurku bercucuran. Aku tidak pernah merasa puas dengan kue gandos pemberian ibu.

Selalu merasa kurang dan kurang!

 

[1] Sapaan untuk kakak perempuan dalam Bahasa Jawa

[2] Bangku panjang yang terbuat dari bambu

Related posts

Leave a Comment