Padepokan Witasem
Meraih Hatimu dalam Badai, Danur, novel baru, prosa liris
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut 8

Dari   jarak   beberapa   meter   aku   mengikuti    langkahnya. Akan  memalukan  kalau  dia sampai  tahu  yang aku lakukan. Tetapi walau  dia   tidak   tahu,  tetap   saja   aku    merasa  sepasang  telinga  keledai mendadak tumbuh di kepalaku. Dungu.

Aku menduga, Ratri merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Sebelumnya pasti dia tidak pernah melihat anak laki-laki berkulit coklat gulali sepertiku ini.  Kata ibu, mataku yang dinaungi alis tebal memiliki tatapan seteduh danau di senja hari. Bentuk jidatku yang lapang, membuat orang salah mengira aku sebagai anak yang cerdas dan kutu buku. Kenyataan itu tidak menaikkan nilai diriku.

Kini, hampir  setiap   hari  dia  melihatku  berputar-putar  mendesing bagai  sebuah gasing.

“Sepasang mata teduh itu beberapa kali tertangkap mencuri pandang ke arahku. Meskipun merasa risih, tetapi lebih baik aku berpura-pura tidak tahu supaya tidak membuatnya malu. Sekarang, anak laki-laki itu mengikuti langkahku.  Apa maunya?” Benaknya bertanya.

Ya, mungkin  seperti  itu yang dipikir olehnya saat aku menguntitnya seperti keledai dungu!

Kami berjalan bersama di bawah pohon   akasia  yang   berjajar   rapi   di sepanjang   trotoar. Rimbun dedaunan  seakan berusaha menaungi para pejalan  kaki  agar   tetap   merasa   nyaman.

Kami? Aduh, sial! Maksudku, dia berjalan beberapa meter di depanku lebih dahulu, dan aku mengikutinya dengan memasang tatapan pura-pura tidak peduli di wajahku.

Kami  berjalan  di  depan  dan  di  belakang  layaknya sebuah truk gandeng. Eh, bukan. Kami tidak bergandengan! Dia yang berada di depan  lebih  pantas  menjadi Dewi Drupadi dan aku yang berjalan di belakang adalah Butha Cakilnya.

Menurutku, Ratri sama sekali tidak seperti yang dibicarakan teman-teman. Kalaupun benar ibunya seorang pelacur, dia justru menunjukkan gambaran yang berlawanan. Suatu kali tanpa sengaja aku mendengar dia berbicara dengan Wuri. Tutur bahasanya halus. Kalau tidak melihat bibirnya yang bergerak pasti aku mengira itu hanya angin yang mendesau. Tingkah laku dan gerak geriknya lemah gemulai  bagaikan   seorang   penari    yang    tengah  mendak[1] sambil mengibaskan sampur[2].

Dan sekarang, gadis itu, iya, gadis pujaanku, tengah berjalan di depanku! Hanya beberapa meter di hadapanku!

Gerak pinggulnya mengayun ke kanan kiri seirama gerak lonceng di menara gereja. Rok sebatas lutut yang dikenakan memperlihatkan sepasang betis seputih bengkuang. Menatapnya, membuat anganku  menjadi liar. Sepatu hitam berpita melindungi telapak kakinya dari cabikan kerikil nakal. Angin sepoi-sepoi ikut menyapa. Ia menyelinap di balik dedaunan akasia agar bisa meniup rambut panjangnya. Rambut itu melayang seperti gerakan lambat dalam film-film India.

Aku menikmati setiap getar cinta yang mengaliri tubuhku. Terasa indah. Syahdu.

Cintamu menjadi bagian penting hidupku,

tak akan terhapus dari lembar sejarah,

yang terpahat di setiap jengkal langit biru.

Duh, cinta saja belum tentu dijawab, tetapi aku malah berlagak bagai seorang pujangga! Antara dungu dan kasmaran tengah berbaur mesra dalam hatiku. Entahlah, aku tengah melayang sekarang!

Setelah puluhan pohon akasia terlewati, Ratri membelok ke sebuah jalan kecil beralas beton. Aku memperlambat langkah tanpa melepaskan pandang dari sosoknya. Dia melangkah ke sebuah rumah mungil dengan pagar besi berwarna putih. Beberapa pot tanaman suplir dan daun kuping gajah terlihat menghiasi sudut teras. Sebatang pohon kelengkeng kecil berdaun rimbun menaungi halamannya yang tidak begitu luas.

Ketika dia berbalik untuk menutup pintu pagar, dia menatapku seakan bertanya,

“Ada apa denganmu? Mengapa mengikuti aku?”

Walau kakiku sangat ingin menghambur ke hadapannya, dan kesempatan itu terbentang di depan mata, namun aku masih juga tidak punya nyali untuk berkenalan dengannya. Bodoh. Aku memang bodoh! Aku diam tanpa kemauan seperti batu kali diterjang arus jeram.

Mengapa cinta tak kuasa datang menyapa meski bentang jarak tiada?

Aku hanya berani mengagumi dalam diam. Berusaha mencuri pandang saat upacara bendera dan melihat dari kejauhan kala dia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menari. Aku terpesona dengan luwes tubuhnya kala  berlenggak  lenggok menarikan tari Yapong dan tari Bondan.

Aku sempat menahan amarah kala melihat seorang teman lelaki mencoba mendekati Ratri. Karena aku tahu, niatnya hanya mempermainkan. Aku mengingat benar kejadian di kantin suatu siang, saat bocah itu memperdengarkan suara rombengnya.

[1] Posisi lutut kaki ditekuk selama menari

[2] Selendang tari

Related posts

Wajah Kabut 7

Wajah Kabut 5

Wajah Kabut 4

Wajah Kabut 3

Yekti Sulistyorini

Leave a Comment