Bab 8 Malam Petaka

Malam Petaka 9 – Kisruh!

Nyi Kirana disertai tidak lebih sepuluh orang Pajang bertarung sengit melawan orang-orang padepokan yang dibantu pengawal kademangan. Mereka gigih mempertahankan kedudukan berdasarkan aba-aba Nyi Kirana. Tetapi mereka kehilangan arah ketika Nyi Kirana terlibat perang kata dengan Ki Jaranggi.

Keseimbangan telah bergeser dan mereka mulai terdesak.

“Nyi Kirana! Kami akan bertahan semampu kekuatan kami!” seru salah seorang dari Pajang. Dia tengah bertahan keras dari gempuran yang silih berganti menderanya.

“Engkau tidak terlalu pintar. Tapi aku mendengar anak buahmu memanggil sebagai Ki Lurah. Aku kira memang sebaiknya begitu, Ki Jaranggi. Kau adalah lurah para demit dan lelembut, dan itu pantas kau sandang.” Nyi Kirana menggerakkan senjatanya lebih deras. Gemuruh suara yang ditimbulkannya mengejutkan para pengikut Ki Jaranggi.

Tidak terlalu lama kejutan itu terjadi. Waktu yang kurang dari beberapa kejap mata itu dapat didayagunakan sepenuhnya oleh Nyi Kirana untuk membebaskan orang-orang Pajang dari tekanan. Sebatang tongkat berukuran setinggi Nyi Kirana berputar seperti baling-baling memecah kepungan orang padepokan.

Ki Jaranggi mengumpat keras lalu menerjang Nyi Kirana dengan serangan membadai. Tadi dia sempat berpikir bahwa Nyi Kirana dapat diikat olehnya dalam adu mulut. Dan keduanya memang melakukan itu di tengah sengitnya perkelahian. Namun seruan orang Pajang berhasil membawa kembali Nyi Kirana pada tempat semestinya.

Kedua orang berilmu tinggi itu kembali terlibat pergumulan sengit. Ki Jaranggi melontarkan ucapan pedas dan sangat menyakitkan hati setiap wanita yang mendengarnya, tetapi saat itu hanya ada Nyi Kirana. Wanita berusia lebih setengah baya itu tersenyum pahit. Ki Jaranggi tidak lagi menghina dirinya, tetapi seluruh wanita di dunia. Nyi Kirana masih keras mengendapkan perasaannya yang tersayat oleh kata-kata lawannya.

“Aku tidak boleh terseret untuk kedua kali. Orang ini begitu mahir bertarung dengan mulut yang tidak henti menghina. Mungkinkah lelaki ini lahir dengan cara yang berbeda dengan kebanyakan orang? Bagaimana dia jalani hidup dengan mulut sebusuk sampah? Aku ingin memberinya hukuman, Ki Jaranggi telah berkata tidak semestinya!” Nyi Kirana menjauh dari Ki Jaranggi dengan loncatan panjang. Sewaktu tubuhnya melayang, dia melemparkan tongkat yang teraliri tenaga inti ke arah sekelompok pengawal kademangan.

Hantaman dari tongkat yang tiba-tiba berubah seperti baling-baling berhasil memukul jatuh beberapa orang. Mereka seperti menerima gebukan tongkat bertenaga raksasa, dan mereka tidak sanggup lagi untuk meneruskan pertarungan.

“Sebaiknya engkau bersiap untuk mati, pelacur laki-laki!” Lengking suara Nyi Kirana nyaring menusuk telinga Ki Jaranggi. Dia terkesiap!

Sikap tubuh Nyi Kirana telah berubah: dia menebarkan pesan mengerikan melalui sorot mata!

Ki Jaranggi merasakan hawa di sekitarnya telah beralih lebih menggiriskan. Dia mulai mencium bau kematian dari dipancarkan Nyi Kirana.

Keributan merambat begitu cepat. Banyak orang berlarian mencari tempat yang aman dan tak sedikit dari mereka mencoba berusaha untuk pulang. Hingga kemudian jalanan dan lorong-lorong kademangan telah penuh dengan kekacauan.

Beberapa orang terjatuh, termasuk di antara mereka adalah perempuan. Mereka terjebak dalam keonaran yang mendadak meletus. Sebagian orang-orang padepokan Sanca Dawala mengambil kesempatan dengan memasuki rumah-rumah yang megah untuk menjarah benda yang mereka anggap berharga.

Perjalanan Ki Swandanu untuk kembali ke tanah lapang menjadi terhambat. Meski demikian,  dia tidak berusaha menarik perhatian dengan mencegah para penjarah. Ki Swandanu tetap berusaha menarik orang-orang yang terjatuh ke pinggir jalan sambil tetap berupaya mencapai tanah lapang.

“Penjarahan tidak mungkin dapat aku cegah. Terlalu banyak!” Keselamatan Bondan dan Siwagati telah menjadi tujuan Ki Swandanu. Nyala api telah terlihat olehnya dan Ki Swandanu berusaha mengenali para pengiringnya dari Pajang yang mungkin dapat terlihat olehnya.

Pada saat itu, kebetulan yang sangat diharapkan dapat terjadi, Zhe Ro Phan berpapasan dengan Chow Ong Oey. Zhe Ro Phan tidak mempunyai prasangka sebelumnya bahwa empat pelarian dari Tiongkok ternyata berada di Kademangan Grajegan.

“Hei!” seru Zhe Ro Phan saat mengenali wajah Chow Ong Oey yang berkelebat memasuki rumah seorang saudagar kaya yang terletak di ujung jalan dari tanah lapang.

“Kutu busuk!” geram Chow Ong Oey sedikit tersentak dengan kehadiran Zhe Ro Phan.

Maka tanpa percakapan lagi, keduanya lantas saling menerjang. Kaki dan tangan Zhe Ro Phan mengayun cepat mengalirkan serangan berbahaya. Chow Ong Oey cekatan menangkis setiap hujaman yang dilepaskan oleh Zhe Ro Phan. Lingkar perkelahian mereka pun cepat melebar dan menutup jalanan dengan gerakan yang cepat bergeser ke banyak bagian jalan.

Zhe Ro Phan telah memperkaya unsur ilmu yang dimilikinya di bawah mata Resi Gajahyana, sementara Chow Ong Oey begitu pesat meningkatkan kemampuan dengan petunjuk Ki Sarwa Jala. Maka perkelahian pun terjadi semakin sengit dan menakjubkan! Kedua orang asing itu berkelahi dengan cara yang tidak biasa mereka lakukan di tanah air mereka. Sekali-kali tubuh Zhe Ro Phan melenting melewati kepala Chow Ong Oey dengan kedua tangan yang bergerak seolah tanpa bayangan. Puluhan atau mungkin ratusan kali dua tangan Zhe Ro Phan menggedor pertahanan Chow Ong Oey dari bagian dada, kepala, lalu punggungnya. Cara berkelahi Zhe Ro Phan memaksa Chow Ong Oey berulang-ulang memutar tubuh mengikuti pergerakan cepat Zhe Ro Phan.

Namun, Chow Ong Oey ternyata mampu melepaskan diri dari hujan serangan Zhe Ro Phan.

Chow Ong Oey menghindar dengan cara menjatuhkan tubuhnya lalu bertumpu pada satu telapak tangannya, lantas kedua kakinya sangat cepat menyusul arah gerak Zhe Ro Phan. Yang terjadi kemudian adalah Zhe Ro Phan harus menangkis tendangan yang bertubi-tubi dilontarkan lawannya. Tubuh Chow Ong Oey tiba-tiba menjadi lentur dan luwes menghadapi pola serangan Zhe Ro Phan yang sebenarnya tergolong sulit dilakukan.

Sementara itu, di bagian belakang rumah Ki Juru Manyuran, Resi Gajahyana masih menunggu kehadiran Nyi Kirana dan Zhe Ro Phan. Pendatang dari negeri seberang ini  memang diperintahkan olehnya untuk mengamati keadaan sekaligus memecah perhatian orang-orang dari padepokan Sanca Dawala, tetapi Resi Gajahyana tidak mempunyai orang yang bertugas sebagai penghubung.

Orang-orang Pajang tidak datang dengan tujuan perang, sedangkan penghubung dapat berjalan dengan baik apabila kedudukan setiap orang dapat diperkirakan. Pada saat itu, Resi Gajahyana tidak mengetahui kedudukan Nyi Kirana dan Zhe Ro Phan.

“Kita mundur!” perintah Resi Gajahyana pada delapan atau sepuluh orang di sekitarnya. Sejurus kemudian mereka bergerak mundur mendekati jalan setapak yang tembus ke jalan utama menuju Pajang.

Mendadak mereka mendengar teriak dan caci maki orang-orang disertai suara derap kaki menghentak tanah.

“Eyang! Itu Bondan!” seru seseorang yang berjalan paling belakang. Serentak mereka menoleh dan merendahkan tubuh untuk bersiap.

“Tahan dan tetap menunduk!” perintah Resi Gajahyana lantas menyusulkan perintah pada dua orang untuk melihat keadaan. Dua orang itu pun mendapat perintah tambahan untuk melibatkan diri dalam perkelahian bila Bondan menerima serangan.

“Sungsang Tumanggal!” Resi Gajahyana memberi aba-aba untuk membuka gelar yang berbentuk bulan sabit yang terbalik. Perintah yang mudah dipahami oleh orang-orang yang menyertainya. Kebanyakan para pengiring Bondan adalah cantrik padepokan atau pernah hidup di dalam padepokan, sehingga mereka tak asing lagi dengan gelar-gelar perang dengan sejumlah kecil orang.

Kisah Terkait

Malam Petaka 1

kibanjarasman

Malam Petaka 10 – Prahara Hari Pertama

kibanjarasman

Malam Petaka 13 – Dua Gelanggang Api Pertarungan di Grajegan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.