Ketika kabut Resi Gajahyana telah lenyap, Siwagati meloncat dan memeriksa satu demi satu keadaan para pengejar Bondan. Sumba Sena mengikutinya dan memberi pertolongan sekadarnya. Tidak ada luka-luka yang cukup parah diderita mereka, namun orang-orang itu masih mengalami kesulitan bergerak bebas. Tubuh mereka telah dapat bergerak meski tertatih dan patah-patah.
Penuh geram dan kekecewaam yang sangat dalam, Siwagati lantang berteriak, “Aku tidak tahu apa yang menjadi dalil kalian dengan memisahkan kami berdua. Tidakkan kalian dapat berpikir ulang jika setiap luka pada suamiku akan berbalas nyawa dengan kalian. Dan aku adalah orang yang akan mencabut nyawa kalian!”
Siwagati menuding wajah setiap orang, termasuk Sumba Sena!
Lantas, dia memutar tubuh dan berlari mencari ayah ibunya. Siwagati menemukan mereka di bagian dalam rumah mereka yang megah.
“Bagaimana Ayah dapat bekerja sama dengan orang-orang jahat itu? Tidakkah cukup bagi Ayah mendapat kemuliaan sebagai besan seorang adipati? Tidakkah Ayah sedikit saja berterima kasih pada Sang Hyang dengan hubungan kekeluargaan dengan raja Majapahit? Jawab, Ayah!”
Namun Siwagati ternyata tidak memberi waktu bagi ayahnya untuk menyodorkan tanggapan.
“Lalu sekarang, saya akan berseberangan dengan suami saya. Ayah seperti apakah ini yang meletakkan putrinya, anak perempuan yang baru ia nikahkan, anak gadis yang untuk sesaat dapat mengerti arti cinta, ke tempat asing untuk menjadi lawan bagi suaminya? Jawab, Ayah.
“Atau Ayah sengaja ingin menjadikan saya sebagai anak durhaka dengan menentang kehendak Ayah? Oh Tuhan, Mahadewa atau siapa pun Engkau, benarkah Kau menciptakan orang sekejam ayahku ini?”
“Diam, Siwagati!” nyaring suara Nyi Juru memenuhi ruangan.
“Tidak, Ibu! Saya tidak akan diam sebelum ayah mengatakan sejujurnya. Walau saya tahu Ayah tidak akan berkata benar tentang persoalan ini.”
Siwagati berpaling pada Ki Juru Manyuran dengan tatap mata tajam, “Apakah saya berkata benar, Ayah?”
“Siwagati! Bagaimana kau dapat berteriak pada ayahmu? Ayahmu hanya inginkan kebahagiaanmu, Ngger!” Nyi Juru bergeser tempat, mendekati Siwagati yang tengah diliputi badai ganas.
“Ibu! Ibu tidak menyaksikan Kakang Bondan dilempari anak panah selagi saya masih berdiri di sampingnya, dan itu kami masih di atas panggung pengantin! Ibu tidak melihat Kakang Sumba Sena berusaha memburu suami saya karena ingin membunuhnya. Ibu tidak berada di dua tempat itu.” Siwagati menatap dingin Nyi Juru Manyuran.
Seketika Nyi Juru kehilangan suara! Lehernya tidak lagi bertulang saat mendengar penuturan Siwagati! Dia membelalakkan mata ke arah suaminya.
Sorot mata yang tidak dapat diungkap dengan kata-kata memancar dari pandangan Ki Juru Manyuran.
“Diam di tempatmu! Jangan melangkah keluar batasan, Nyi!” tegas Ki Juru dengan wajah dingin dan suara datar. Bila ada orang yang melihat raut muka Ki Juru Manyuran, mungkin dia akan menilai bahwa Ki Juru Manyuran merupakan manusia tak berjantung.
Sesaat, sinar kebencian menyala di balik dua bola mata Ki Juru. Tetapi dia begitu cepat menguasai diri.
Kemudian dengan pelan dan seolah tidak terjadi sesuatu di antara mereka, dia berkata, “Tidak ada yang salah atau seseorang yang patut disalahkan dalam persoalan ini. Pernikahanmu pun telah memenuhi semua unsur penanggalan dan itu baik. Duduklah! Engkau akan tahu letak persoalan ini.”
Dengan singkat, Ki Juru Manyuran menjelaskan pada dua keluarga yang duduk di hadapannya.
“Jadi, pokok permasalahan ini adalah Mpu Rawaja?” kening Siwagati berkerut.
Ki Juru Manyuran menjawab dengan anggukkan kepala. Sesuatu yang besar sedang disembunyikannya. Dia memang menyusun rancangan dahsyat! Pada saat itu, dia sedang mematangkan rencananya.
Siwagati bangkit dari tempat duduknya, ia bersimpuh di depan Ki Juru Manyuran, “Maafkan saya, Ayah.”
Tidak ada kata yang keluar dari Ki Juru Manyuran. Dia mengatup rapat bibirnya dengan raut wajah datar. Sejenak menarik napas, katanya, “Ayah dapat mengerti perasaanmu.”
Sementara Nyi Juru Manyuran bernapas lega dengan uraian suaminya yang ringkas dan padat. Dia bahkan memuji rancangan cerdas suaminya dengan menerima pinangan Bhre Pajang. Dan ketika melihat Siwagati menghampiri Ki Juru, maka Nyi Juru Manyuran semakin longgar menghirup udara bebas. Dia beranjak lalu memeluk keduanya tanpa kata-kata.
Kemudian kata Ki Juru Manyuran pada anak dan istrinya, “Siapkan perlengkapanku. Sebelum bintang malam bergeser tempat, aku akan menuju Pajang. Semoga besok pagi aku dapat membicarakan ini semua dengan Bhre Pajang.”
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Kedatangan Bondan di Sima Menoreh
Meski mereka tidak mempunyai perbekalan, rombongan Bondan akhirnya mampu menjejak kaki di tanah Sima Menoreh. Daun dan umbi-umbian adalah pengisi perut mereka sepanjang perjalanan. Sekali waktu mereka berburu kelinci dalam masa melepas lelah. Sebuah tugu batu segi empat menjadi batas wilayah Menoreh. Bukit berbaris dan hamparan tanah bergunung menyambut ramah kedatangan Bondan dan pengiringnya.
“Jadi, kita akan mendapat jamuan dari Ki Buyut dengan hidangan yang mengenyangkan. Bukan begitu, Bondan?” tanya Lodranaya dengan wajah sungguh-sungguh.
“Tidak! Ki Buyut Argajalu hanya membebaskan kita berburu rusa di lingkungannya.” Bondan menjawab sekenanya. Tawa pun meledak seusai Bondan mengatupkan bibirnya.
Setelah menanyakan arah menuju kediaman Ki Buyut Argajalu pada tiga empat orang yang mereka jumpai, mereka bergegas melangkah sesuai petunjuk rakyat Menoreh. Wajah-wajah cerah terlihat melebihi terangnya mentari pagi yang lembut menyaput tanah sima Menoreh.
Dalam waktu yang tidak lama, mereka tiba di depan halaman rumah pemimpin Sima Menoreh. Sebuah wilayah yang dibebaskan dari pembayaran upeti dan pajak sejak masa Rakai Panunggalan. Kebebasan yang dilakukan berikan oleh penguasa Medang atas sumbangsih rakyat Menoreh yang dipimpin oleh leluhur Jalutama. Rakai Panunggalan merasa wajib menghargai bantuan dan perhatian mereka untuk pendirian sebuah candi yang berjarak sehari jalan kaki ke arah utara.
Seorang anak muda, mungkin seusia Bondan lebih kurangnya, membungkuk sopan.
Katanya, “Ki Sanak sekalian, mungkin bisa utarakan keperluan di tempat ini supaya kami bisa segera membantu.”
Sapaan yang melegakan hati iring-iringan dari Pajang. Mereka seolah telah bertemu dengan Ki Buyut Menoreh melalui sikap anak tersebut.
Bondan menoleh pada Lodranaya, seperti memintanya menjadi wakil karena segi usia. Lodranaya mengerti maksud Bondan, dia berkata kemudian, “Kami adalah sekelompok orang Pajang yang ingin bertemu dengan Ki Buyut Menoreh.”
“Kami teman Ki Hanggapati,” Bondan menambahkan, “Namaku Bondan.”
Anak muda itu bergumam, “Bondan? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu disebut oleh Kakang Jalutama.”
Dia mengembangkan senyum seraya mengulurkan tangannya, “Orang-orang sekitar sini memanggilku Bagas.”
Bondan dan yang lain menyambut uluran tangan Bagas seraya menyebut nama masing-masing.
Kata Bagas kemudian, “Silahkan Ki Sanak sekalian menunggu di dalam.” Dia menunjuk lincak bambu yang berada di dua sisi regol. Sambil meminta mereka bersedia menunggu, Bagas menghambur ke dalam rumah.
Suara beberapa orang terdengar kemudian, meski sedikit membutuhkan waktu tetapi orang-orang dari dalam rumah menyimpan rasa ingin tahu. Kedatangan Bondan beserta sejumlah pengiring menyebabkan satu pertanyaan muncul dari dalam hati Ki Buyut Argajalu. Rasa penasaran juga menghampiri Ki Hanggapati serta Jalutama. Mereka semua tahu bahwasanya Bondan dalam masa menjadi pengantin baru. Mereka tidak dapat menghadiri pernikahan Bondan karena Menoreh baru saja usai menghelat upacara penyambutan musim tanam.
Tetapi, apakah yang sebenarnya terjadi?
Tanah Sima Menoreh akan menuju keadaan siaga bila sesuatu yang buruk terjadi pada diri Bondan.
Kini, Ki Buyut Argajalu dan Ki Hanggapati serta Jalutama telah memasuki beranda depan. Bondan dengan langkah lebar keluar dari regol diikuti oleh para pengiringnya.
Setelah bertegur sapa dan bercakap ringan, belasan orang itu bergeser memasuki ruang depan rumah pemimpin T Sima Menoreh.
