Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 76 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

Saat matahari mulai condong ke barat, keduanya telah berada di wilayah Dusun Benda. Dusun itu tampak lengang, seperti biasa. Orang-orang sudah berjalan kembali menuju rumah masing-masing.

Ki Patra berhenti di batas pematang yang mengarah ke rumahnya. “Apakah saya harus pulang atau ke rumah Ki Rangga?”

Ki Wedoro Anom mengangguk. “Ki Patra lebih baik segera pulang. Tetap diam dan bersikap biasa saja.”

Ki Patra mengerti. Dia memberi hormat singkat, lalu berjalan menjauh menuju rumahnya.

Sementara itu, Ki Wedoro Anom pun mengayun langkah, kembali ke rumah. Tapi untuk mengambil kuda. Dia putuskan singkat: kotaraja harus segera mengetahui perkembangan baru di Gunung Kendil.

Perjalanan itu ditempuh tanpa banyak hambatan. Ki Wedoro Anom bergerak cepat, hanya berhenti karena sudah tidak ada lagi rakit yang bersedia menyeberangkannya ke timur Kali Progo.

Keesokan hari, seperti waktu sebelumnya, Ki Wedoro Anom menaiki perahu yang mendapat pertama pada awal pagi itu.

Hari belum benar-benar siang. Sinar matahari sedikit terhaang mendung yang mengapung di bawahnya ketika kuda Ki Wedoro Anom melewati gerbang barat kotaraja.

Para penjaga regol Keraton hingga prajurit yang berjaga di bagian dalam tampaknya cukup mengenal salah satu pemimpin pasukan khusus. Maka tidak banyak kendala atau memang tidak ada orang yang bertanya keperluannya.

Di beranda samping, di sayap timur Keraton, Ki Wedoro Anom menunggu giliran bersama beberapa petinggi prajurit lainnya.

Di beranda samping, di sayap timur Keraton, Ki Wedoro Anom menunggu giliran bersama beberapa petinggi prajurit lainnya. Percakapan mereka mula-mula berjalan datar, sekadar menyinggung tugas dan keadaan keamanan yang biasa.

Namun perlahan, pembicaraan itu sedikit bermakna.

“Ki Rangga, bagaimana kabar Tanah Perdikan?” tanya seorang perwira berpangkat sama, rangga.

“Ya, ya, cukup menarik mengamati perkembangan di sana dengan kedudukan baru Ki Agung Sedayu sebagai tumenggung,” timpal perwira lain yang duduk bersandar pada tiang.

Ki Wedoro Anom sedikit terkejut. Sedayu naik pangkat? Mengapa dia tidak tahu? Tapi wajahnya nyaris tidak memperlihatkan perubahan.

“Dengan wewenang dan tanggung jawab baru, itu sudah tentu akan menyita waktu Ki Tumenggung Sedayu lebih banyak,” kata Ki Wedoro Anom. “Bila Tanah Perdikan tampak tenang di permukaan, tapi secara umum orang-orang di sana mulai lebih berhati-hati. Sejak  pertempuran usai, kewaspadaan seperti ada kelonggaran. Tapi itu bukan semata-mata karena Ki Tumenggung.”

Seorang yang mengangguk kecil. “Tapi Ki Tumenggung masih memegang kendali dengan baik, bukan?”

“Masih,” sahut Ki Wedoro Anom tanpa ragu, meski matanya sempat menerawang. “Tapi keadaan sudah berbeda dari sebelumnya. Saya, sebagai bawahan, hanya dapat menunggu putusan dan perintah beliau selanjutnya.”

Satu demi satu prajurit berpangkat tinggi itu masuk dan keluar dari ruang kerja Pangeran Purbaya. Hingga kemudian datang giliran Ki Wedoro Anom.

Dia masuk dengan sikap hormat, menundukkan kepala sejenak sebelum berdiri tegak.

“Ki Rangga,” suara Pangeran Purbaya terdengar tenang namun tegas, “Anda cukup cepat kembali ke ruang ini. Sudah barang tentu perkembangan yang sangat penting sedang berada di dalam pikiran Ki Rangga.”

Ki Wedoro Anom menarik napas pendek, lalu berkata, “Saya melihat sendiri, satu hari yang lalu, kegiatan dan pergerakan baru di lereng Gunung Kendil.”

Kemudian dia mengungkap segala yang tampak olehnya serta penilaian yang wajar dari sisi keprajuritan. Ada keamanan dan ketertiban yang menjadi pertimbangan dalam laporannya.

Pertemuan itu berlangsung singkat karena Pangeran Purbaya juga masih disibukkan kegiatan-kegiatan yang lain dari pejabat yang berlainan bidang.

Usai menghadap Pangeran Purbaya, Ki Wedoro Anom tidak langsung meninggalkan kotaraja.

Kemiringan bayangan sudah mencapai panjang yang sama dengan benda nyata ketika Ki Wedoro Anom bergerak ke arah barak pasukan pengawal ibukota.

Di tempat itu, dia ingin menemui kawan lama, sekadar singgah dan berbincang.

Seorang prajurit mengucapkan selamat karena Sunan Agung ingin mengembangkan barak dalam waktu dekat. Ki Wedoro Anom menyambutnya dengan hormat tanpa menunjukkan prasangka atau wajah muram.

Percakapan-percakapan ringan pun mengalir begitu saja.

“Tanah Perdikan adalah wilayah yang sangat luas,” ucapnya  seakan tanpa maksud tertentu. “Tapi sayang jika segalanya akan hilang karena pengawasan yang longgar.”

Tidak ada yang langsung menanggapi dengan pendapat berat tapi mereka mengingat kalimat itu sangat baik.

Di kesempatan lain, dia menambahkan, “Sejak wisuda, beliau belum tampak kembali ke barak. Ya, tentu saja ada tugas penting… hanya saja, wilayahnya jadi jauh dari perhatian.”

Ki Wedoro Anom tidak menggiring pikiran orang bahwa Sedayu lemah dalam pengawasan. Tidak, itu sama sekali tidak ada. Hanya potongan-potongan yang cukup untuk membuat orang lain membuat kesimpulan sendiri. Orang itu paham bahwa berita sepenggal tidak akan mudah menjadi endapan lalu dilupakan.

Setelah merasa cukup, Ki Wedoro Anom tidak berlama-lama. Dia  meninggalkan kotaraja, kembali ke Dusun Benda seolah-olah memang sedang menjalankan tugas biasa.

Sementara itu, di dalam lingkungan istana, Pangeran Purbaya tidak mengabaikan yang telah didengarnya dari Ki Wedoro Anom. Tapi dia tidak dapat menilai buruk Agung Sedayu karena mengetahui bahwa Ki Tumenggung Agung Sedayu masih berada di antara Keraton dan Kepatihan. Perintah Sinuhun sangat jelas: pengembangan barak sangat diperlukan demi kejayaan Mataram.

Waktu telah bergeser di antara senja dan awal malam, begitu tipis hingga nyaris tak terasa. Seorang utusan dari Kepatihan datang bergegas menemuinya.

“Dari Nyi Ageng Banyak Patra,” kata utusan itu.

Pangeran Purbaya sedikit merunduk, sementara lengannya bergerak pelan memberi isyarat agar utusan melanjutkan.

“Ki Patih sudah tidak dapat lagi ditinggalkan. Keadaan beliau semakin menurun,” sambung utusan Kepatihan. “Karena itu, Nyi Ageng memohon agar Sinuhun berkenan melonggarkan Ki Tumenggung Agung Sedayu untuk lebih banyak berada di Kepatihan, mengingat kemampuannya dalam pengobatan.”

Pengeran Purbaya mengangguk, berkata lirih tapi tegas, “Mewakili Sinuhun, perkenan diberikan.”

Utusan Kepatihan beringsut setapak demi setapak. Dia tidak memerlukan penjelasan tambahan.

Seorang prajurit segera masuk atas panggilan Pangeran Purbaya, lalu keluar kembali membawa satu perintah untuk Agung Sedayu: atas perintah Pangeran Purbaya dan sepengetahuan Sinuhun, Ki Tumenggung diminta bergeser ke Kepatihan hingga waktu yang akan ditentukan kemudian.

Pada malam itu pula, tak lama setelah Agung Sedayu menerima perintah, maka dia cepat berkemas. Menemui Pangeran Purbaya lalu mengundurkan diri dari lingkungan Keraton sambil tetap membawa rancang bangun pengembangan barak pasukan khusus.

“Ki Tumenggung,” kata Pangeran Purbaya ketika menerima Agung Sedayu. “Lakukan yang terbaik.”

“Saya, Pangeran.” Agung Sedayu merendah, mengucap salam lalu tegap menuju Kepatihan dengan seorang prajurit yang menyertainya.

Di lingkungan dalam, seorang pelayan yang biasa mendengar lebih banyak daripada yang diucapkan, mulai ikut menyebarkan ucapan Ki Wedoro Anom.

Dari mulut ke mulut, dari ruang ke ruang, kabar mengenai barak pasukan khusus dan kegiatan mereka berkembang—pelan, tapi pasti hingga mencapai telinga Ki Panji Suralaga. Tidak banyak yang mengetahui bahwa dia pernah berada dalam satu jalur perguruan yang sama dengan Ki Wira Sentanu.

“Kakang,” ucap Ki Panji Suralaga. “Orang itu benar-benar berbahaya bagi Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

“Tapi kita dapat manfaatkan keadaan itu, Ki Panji,” sahut lirih Ki Wira Sentanu. “Di Tanah Perdikan, kita dapat meminjam lidah Ki Wedoro Anom. Di kotaraja, terutama di lingkaran Pangeran Purbaya, Ki Panji dapat membaca arah perubahan dan perkembangan dari setiap yang bersumber dari Ki Wedoro Anom.”

“Saya tidak dapat bergerak sendiri,” kata Ki Panji Suralaga.

“Aku akan mendorongnya halus melalui Sinuhun,” tegas Ki Wira Sentanu tapi tetap dengan suara yang mirip dengan desahan. Lantas dia menambahkan arah pada bisik-bisik yang sudah ada. “Berilah kesan sedang membantu Ki Tumenggung karena kenyataannya memang dia membutuhkan bantuan. Keberadaannya di Kepatihan adalah celah bagi Ki Panji. Kesibukannya membantu Nyi Ageng Banyak Patra adalah kelonggaran bagi Ki Panji.”

Waktu demi waktu berlalu tanpa ada yang sengaja dibuang begitu saja oleh Ki Panji Suralaga dan Ki Wira Sentanu. Pada setiap percakapan, baik pertemuan antarprajurit berpangkat tinggi maupun pertemuan tidak resmi, mereka menambahkan dan juga mengurangi setiap berita tentang Tanah Perdikan dengan satu sasaran yang jelas: Agung Sedayu.

Benih Perguruan Tandingan

Matahari sepertinya memang sengaja memanaskan lereng Gunung Kendil untuk menyadarkan Swandaru saat itu. Murid Kyai Gringsing paham bahwa dia tidak dapat terus menerus bertarung dengan tenaga wadag. Maka perlahan dan penuh kepercayaan diri, Swandaru tidak menunggu Ki Hariman mengeluarkan senjata terlebih dahulu.

Swandaru berputar cepat seperti gasing, tiba-tiba cambuknya berayun, membelah udara dengan kekuatan yang sulit dinalar. Putaran cambuk Swandaru, sebagai permulaan, berakhir dengan ledakan yang berasal dari tenaga wadag. Itu sudah sangat kuat dan mengejutkan orang-orang yang berdiri di tepi lapangan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 73 – Api Menyala di Lereng Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 32 – Gema Swandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 48 – Pintu Istana yang Tertutup

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.