Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 28 – Persekongkolan untuk Menghancurkan Mataram

“Ki Sanden Merti dan orang-orang lain sudah mengerti betul kebiasaan Ki Patih. Dari pergiliran prajurit, pemindahan tugas hingga bagian terkecil dari Ki Patih, itu semua sudah mereka pelajari sampai dapat menemukan celah,” kata Agung Sedayu. “Pada akhirnya, mereka berani melakukan percobaan demi percobaan dengan tujuan menguasai Kepatihan, lalu menjadikannya terpisah dari Kraton. Apa yang dapat dilakukan oleh Kraton ketika Panjenengan tiada namun pada pucuk pimpinan justru dikuasai anak buah Raden Atmandaru? Tentu hal itu sanggup menebar kengerian dalam hati prajurit. Letak dua tempat ini berdekatan. Satu tempat dikuasai oleh pembangkang sedangkan tempat yang lain ada Panembahan Hanykrawati. Kotaraja pasti segera berubah menjadi ladang pembunuhan terbesar sepanjang perjalanan Mataram dengan hasil yang belum dapat dipastikan.”

“Hmmm, itu adalah akibat yang masuk akal,” sahut pelan Ki Patih Mandaraka. Setelah merenung sesaat, kemudian sesepuh Mataram tersebut berkata, “Ketiadaan seseorang di sampingku itu pun juga menjadi alasan. Aku tidak sedang mencari pembenaran tapi kenyataan memang demikian. Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Plaosan tak berdaya di bawah kendali Ki Sanden Merti. Jarak kedudukan mereka terpaut jauh dan sudah barang tentu itu menyulitkan pergerakan orang-orang yang mempunyai kesetiaan di dalam hatinya. Tapi sejak kedatangan Nyi Banyak Patra di Kepatihan, maka banyak keadaan yang dapat diubah olehnya atas persetujuanku. Melakukan pengamatan, menilai kembali lalu membuat kesimpulan adalah pekerjaan yang dijalankan cukup baik olehnya. Meski segalanya tampak wajar dan berlangsung seperti biasa, tapi Nyi Banyak Patra cukup berani meniadakan kegiatan kegiatan keprajuritan yang dianggapnya berlebihan. Pada awalnya, sejumlah senapati menyatakan keberatan atas campur tangan Nyi Banyak Patra, tapi aku memilih untuk membiarkannya.”

“Mungkin dan bisa jadi, Ki Ramapati pun tidak mendapatkan ruang untuk menyusup kembali di Kepatihan,” ucap Agung Sedayu. “Bagaimanapun, kelompok mereka pasti mendapatkan berita tentang ketinggian ilmu Nyi Ageng. Namun demikian, hingga saat terakhir saya meninggalkan Kepatihan, agaknya mereka masih menggeliat demi mencari celah yang ada di Kepatihan.”

“Bagaimana kau sampai ke anggapan itu?”

“Bukan anggapan, Ki Patih,” kata Agung Sedayu. “Maafkan saya.”

Ki Patih Mandaraka mengembangkan senyum penuh arti, lantas berkata, “Baiklah, tapi kau jelaskan pendapatmu itu.”

Di depan Ki Patih Mandaraka, Agung Sedayu lantas mengulang pesan-pesannya pada Ki Demang Brumbung sebelum dia menuju Sangkal Putung.Setelah tuntas, kemudian dia berkata, “Saya tidak sedang membuat perangkap di dalam Kepatihan. Mereka dapat menyadari dengan cepat lalu bersembunyi lagi sebelum segalanya terungkap.” Senapati Mataram itu pun melaporkan tentang kejadian-kejadian yang dialaminya selama perjalanan.

“Kebakaran,” gumam Ki Patih. “Sepertinya api telah menjadi pilihan utama Raden Atmandaru dan pengikutnya untuk membuat kekacauan.”

Agung Sedayu mengangguk.

“Setiap orang pasti gelisah dan cemas jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran di dusun mereka. Api menjadi ancaman yang nyata bagi keselamatan dan keamanan banyak orang. Rupanya Raden Atmandaru mengincar ketenangan rakyat Mataram melalui pekerjaan itu,” ucap Ki Patih.

“Saya pun berpikir demikian sehingga tampaknya benturan keras adalah sebagai pengalih perhatian sesungguhnya,” timpal Agung Sedayu.

“Katakan, aku mengerti bahwa kau masih menyimpan sesuatu dalam pikiranmu,” perintah Ki Patih.

“Dua keadaan itu apabila digabungkan maka menjadi perpaduan yang kuat ketika seseorang berniat mengoyak keamanan Mataram. Sebagian prajurit akan diperintahkan turun sebagai bantuan pengamanan wilayah kebakaran, sedangkan sejumlah yang lain akan menghadapkan wajah untuk meredam pertempuran. Jika hal seperti itu yang diinginkan Raden Atmandaru, maka keprajuritan Mataram akan membagi perhatian. Dengan demikian, dia berhasil menumbuhkan kesan bahwa Mataram tidak mampu melindungi dirinya sendiri,” kata Agung Sedayu. “Itu bahaya yang benar-benar besar.”

Ki Patih mengangguk pelan lalu berkata, “Ini persis atau mirip dengan yang kira-kira akan diucapkan Kyai Gringsing.” Sepasang mata Ki Patih Mandaraka menatap tajam penuh tekanan pada Agung Sedayu. Dia berkata lagi, “Sedikit lagi, Raden Atmandaru akan meraih yang diinginkannya tanpa perlu usaha keras. Dalam waktu yang tak lama lagi, dia dapat memengaruhi banyak orang untuk menyatakan bahwa rakyat Mataram tidak lagi percaya pada pemimpin mereka. Itulah yang sesungguhnya tersimpan dalam ucapanmu.”

“Saya, Ki Patih,” ucap Agung Sedayu sambil menundukkan wajah.

Sejenak kemudian, Ki Patih Mandaraka memperlihatkan gelisah melalui garis-garis wajahnya. Dia mendesah perlahan lantas berkata, “Laporan yang kau sampaikan sebelumnya, keputusanmu itu akan diketahui oleh Pangeran Purbaya.”

“Saya, Ki Patih,” ucap pendek Agung Sedayu.

“Meski kau meninggalkan perintah supaya Swandaru kembali ke dalam rumah, tapi itu sepertinya tidak cukup menjadi penawar kecewa pangeran sepuh tersebut,” Ki Patih Mandaraka meneruskan ucapan. “Mungkin beliau tidak menganggapmu sebagai ancaman atau pembangkangan, namun itu akan dikenang selamanya.”

Walaupun sudah siap luar dalam terhadap hukuman yang mungkin dijatuhkan padanya, Agung Sedayu tetap saja tidak dapat membuang cemas dalam hatinya.

“Beliau dan orang-orang di dalam Kraton yang tidak berkenan dengan keadaan itu, aku hampir dapat pastikan, tidak akan gegabah bertindak seenaknya padamu selagi aku masih di Kepatihan,” tegas Ki Patih.

Yang terhormat para penggemar kisah silat.

Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.

Agung Sedayu mengerutkan kening dengan tatap mata bertanya-tanya pada sahabat dekat Ki Ageng Pemanahan itu.

“Sedayu,” kata Ki Patih Mandaraka.

“Saya, Ki Patih.”

“Tidak semua orang dapat menerima pendapat, pikiran atau perbuatan kita. Kau harus ulang pengajaran itu di dalam hatimu,” kata Ki Patih Mandaraka. “Oleh karena itu, maka, bukan tidak mungkin ada beberapa orang di dalam Kraton yang akan mencoba memanaskan suasana. Mereka akan berusaha membuka kesempatan dan mencari waktu untuk membenturkanmu dengan Pangeran Purbaya. Kau harus tetap berpikiran terbuka jika waktu itu tiba di depanmu.”

Agung Sedayu tidak berkata-kata.

“Keadaan itu pun pasti pula didengar oleh Raden Mas Rangsang. Seandainya ada orang yang dapat mengasah lalu menajamkan itu kemudian menunjukkan pada Pangeran Purbaya dan Raden Mas Rangsang, aku tetap berharap kau tetap dapat melihat segala sesuatu dengan terang benderang. Tapi kau harus ingat bahwa beliau berdua tidak mungkin sampai hati menjatuhimu hukuman mati mengingat jasa-jasamu pada awal pembukaan Alas Mentaok. Mereka tidak boleh mengabaikan itu dan aku yakin Pangeran Purbaya adalah orang pertama yang menjadi penghalang seandainya ada hukuman mati umtukmu,” kata Ki Patih Mandaraka. “Pada sisa waktu hidupku ini, kau dapat tenang tapi jangan sampai ketenangan itu membuatmu lupa diri lalu gegabah.”

“Setelah itu, apakah berarti saya menjadi incaran?”

“Tidak seorang pun tahu yang akan dialaminya pada masa mendatang. Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa,” ucap Ki Patih Mandaraka dengan tenang. Seteguk wedang jahe membasahi tenggorokan orang kedua Mataram itu, kemudian dia berkata lagi, “Setiap orang pasti mempunyai masa suram karena seperti itulah kehidupan berjalan. Maksudku, kedalaman hati dan keluasan alam pikiran Pangeran Purbaya bukanlah sebidang tanah yang dapat diperkirakan luasnya. Begitu pula Raden Mas Rangsang yang dilantik pada usia yang jauh lebih muda dibandingkan ayah beliau. Maka, aku berpesan padamu, paduan dua usia dan pengalaman yang berbeda itu dapat memaksamu melakukan pekerjaan yang tidak terpuji menurut ukuran prajurit Mataram. Aku tidak mengatakan kau akan melakukan pemberontakan atau semacamnya, tapi kau enggan melakukan segala perintah atasan. Mungkin sejak hari ini atau sejak peristiwa di Sangkal Putung tiba di Kraton, kau tidak akan leluasa sebagaimana yang terjadi pada masa hidup Panembahan Senapati. Mereka yang di sana akan melihatmu sebagai orang asing, bukan lagi seperti orang kepercayaan Panembahan Senapati yang masih hidup. Kau bukanlah Kendil Wesi sebagai pamomong raja. Kau adalah Agung Sedayu yang berasal dari rakyat kebanyakan.”

“Saya sadar dengan keadaan itu, Ki Patih.”

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 55 – Gebrakan Awal Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 52 – Sepertinya Sekar Mirah Belum Merasa Cemburu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 11 – Saksi Kematian Pengkhianat

kibanjarasman

2 comments

Jocowtree 12/01/2026 at 08:24

Percakapan tingkat tinggi dengan bahasa diplomasi dan strategi politik para petinggi lingkungan kraton ditulis Kibanjarasman dengan sangat baik dan diperlukan intelektual pembaca untuk mencernanya. Mengikuti tulisan Padepokan Witasem ini saya bisa merasakan perbedaan level dibanding serial NSSI yang klasik, romantis dan ‘njawani” menyesuaikan target pembacanya. Barangkali saat ini target pembacanya berbeda serta ilustrasi visual yang lebih mirip komik Manga dari Jepang.
Dahulu setiap pagi saya membaca NSSI di lembar koran Kedaulatan Rakyat yang dipajang di Balai Desa bersama pembaca lain dari berbagai tingkatan sosial lalu kami membicarakannya di angkringan. Sungguh fenomena yang menarik.

Reply
kibanjarasman 12/01/2026 at 08:51

terima kasih, ki. mungkin Jenengan benar: perbedaan zaman mempengaruhi gaya penulisan. Masa sekarang, kisah Nusantara berhadapan langsung dengan manga. Saya berpikir untuk menyesuaikan diri tanpa meninggalkan bumi sebagai jawaban untuk tantangan zaman sekarang. rahayu

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.