Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 42 -Akhir Pertarungan Pandan Wangi Melawan Pangeran Selarong

Pangeran Selarong tidak menyerah. Meski setiap serangannya selalu kembali menjadi mentah di tangan Pandan Wangi, pangeran Mataram itu tetap melabrak dengan garang. Hanya saja, orang yang menjadi lawannya adalah Pandan Wangi yang tidak selalu menghindari serangan atau mengalah. Pandan Wangi justru menunjukkan kegigihan yang sudah sepantasnya ada di dalam diri petarung. Dalam waktu itu, selain ketegaran hati serta ketenangan luar biasa, Pandan Wangi juga mengeluarkan segenap kemampuan berkuda. Kemampuan ini tidak datang sendiri. Dia berlatih di bawah arahan Swandaru pada setiap waktu longgar yang mereka punya. Akankah pengalaman dan kemampuan membaca perkembangan dapat  menjadi pembeda untuk menentukan hasil akhir perkelahian?

Waktu semakin mendekati siang, Pandan Wangi sadar bahwa lawannya mungkin tidak berhenti sampai kelelahan atau salah satu tumbang. Ada harga diri yang dipertaruhkan olehnya dalam perang tanding ini, pikir Pandan Wangi. Tapi dia pun tak ingin memberi kesan bahwa pedukuhan mudah ditundukkan. “Setidaknya pertarungan ini tersiar di antara pemberontak,” ucap Pandan Wangi dalam hati. Walau demikian, perempuan yang setia mengiringi perjalanan Mataram itu tetap memberi perlawanan yang ketat.

Sementara itu, pada barisan belakang prajurit Mataram, sebagian prajurit mendengar derap kuat kaki-kaki kuda yang menderap. Debu-debu berterbangan, kerikil-kerikil terhempas ketika dua penunggang kuda memacu kencang tunggangan mereka. Beberapa prajurit  yang berada di barisan belakang segera memutar tubuh lalu siap menghadang dua orang tersebut. Dalam waktu itu, saat sudah mendekati kedudukan prajurit Mataram, Ki Lurah Plaosan mengeluarkan kelebet sebagai tanda asal kesatuannya yang menjadi bagian dari keprajuritan Mataram. Maka jalan pun terbuka ketika ketua regu barisan mengangkat tangan.

Pembaca yang Terhormat

Kami tidak dapat mengembangkan blog Padepokan Witasem sendirian. Oleh sebab itu, Panjenengan dapat turut serta bergotong royong melalui donasi ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.

“Berhenti!” seru Ki Lurah Plaosan. “Mohon perhatian!” Dari atas kuda, dia mengulang sekali lagi ucapan itu. Lurah Mataram ini cepat meloncat turun dari kuda diikuti penunggang yang berada di belakangnya. Setelah menyampaikan hormat pada Pangeran Selarong dan Pandan Wangi, Ki Lurah Plaosan menghadapkan wajah pada Pangeran Selarong kemudian berkata, “Ampun, Pangeran. Saya terpaksa harus mencampuri pertarungan Anda atas perintah Ki Patih Mandaraka.” Ada sedikit rasa yang ganjil dalam hati Ki Plaosan karena sebenarnya yang memerintahkan adalah Agung Sedayu, tapi jenjang kepangkatan Agung Sedayu tidak pada keadaan yang tepat. Maka meminjam nama Ki Patih Mandaraka menjadi jalan keluar dan patih Mataram tersebut pasti dapat menerima alasannya.

 Pangeran Selarong memandang geram Ki Lurah Plaosan yang dianggapnya lancang karena berani menengahi perkelahiannya tanpa melihat kedudukan dirinya. Meski alasan sudah diutarakan oleh bawahannya, Pangeran Selarong belum dapat menerimanya. Muncul pula dalam pikirannya sebuah pertanyaan, bagaimana Ki Patih Mandaraka dapat mengetahui pergerakan mereka dari kotaraja?

Ki Lurah Plaosan sadar dengan keadaan, maka dia maju selangkah mengenalkan diri lalu menyebut tempat bertugas serta asal kesatuan. Kemudian menunjuk pada penunggang kuda lain yang berdiri di dekatnya. “Dia ini adalah murid Nyi Banyak Patra. Kinasih,” ucap Ki Lurah Plaosan sambil meminta Kinasih melepaskan pakin penutup wajah.

Melihat keberadaan Kinasih, Pandan Wangi segera melompat turun dari kuda lalu menyapa hangat dengan gerakan tangan. Dia mengenal betul perempuan muda yang pernah bertemu dengannya menjelang pertempuran Karang Dawa. “Bagaimana keadaanmu setelah pertempuran itu?” tanya Pandan Wangi pada Kinasih.

Kinasih mengangguk hormat lalu berkata, “Baik dan selamat, Nyai. Terima kasih atas penerimaan yang hangat waktu itu.”

Pangeran Selarong mengernyitkan kening. Mereka sudah saling mengenal? pikirnya. Sekejap kemudian, kegeraman yang sempat mendekam dalam hatinya pun sirna oleh pancaran yang memesona dari Kinasih. “Selain rupawan, aku kira memang ada sesuatu yang menarik dalam dirinya,” ucap Pangeran Selarong dalam hati. Ya, usia Pangeran Selarong yang masih muda tidak cukup terkendali dengan sikap dan ucapan Kinasih yang lemah lembut. Tanpa disadarinya sendiri, Pangeran Selarong nyaris kehabisan kata-kata dan mengalami penyempitan ruang berpikir walau sekejap. Dia agak tergagap menanggapi Ki Lurah Plaosan yang berkata-kata pada dirinya.

“Pangeran,” kata Ki Plaosan, “tanpa mengurangi rasa hormat dan keagungan Anda, saya pikir sebaiknya kita duduk bersama mencari jalan keluar.”

Dari tempatnya, Pandan Wangi mengangguk tanda setuju menerima kata-kata Ki Lurah Plaosan. Bahkan dia pun menepi sambil memberi tanda pada pengawal pedukuhan agar tetap waspada.

Pangeran Selarong masih merenung dengan isi pikiran yang tidak mudah ditebak orang lain.

“Pangeran,” ucap Ki Plaosan sekali lagi dengan nada sedikit tekanan.

“Ah ya, iya, memang sebaiknya begitu,” kata Pangeran Selarong sambil mengusap wajah lalu memalingkan pandangan ke jurusan lain.

Ki Lurah Plaosan segera mengundang salah satu senapati bawahan Pangeran Selarong agar mendampingi pemimpin mereka.

Suasana yang mulai sedikit mencair pun mendadak kembali tegang ketika pengawal pedukuhan membentuk barisan yang cukup rapat. Seorang pemimpin mereka kemudian berkata lantang, “Prajurit Mataram tidak mendapatkan izin untuk masuk pedukuhan!”

Serentak pasukan berkuda dan prajurit jalan kaki Mataram pun berderap maju dengan sikap siaga bertempur.

Tanpa rasa gentar, pengawal pedukuhan pun menyambut dengan langkah-langkah kaki yang sigap dan penuh percaya diri.

“Tahan! Tahan semuanya!” perintah Pangeran Selarong. Dengan tatap mata setajam pedang terhunus yang tertuju pada Pandan Wangi, dia berkata kemudian, “Nyi Pandan Wangi.”

Tanpa menoleh pada putra mendiang raja Mataram  tersebut, Pandan Wangi berkata dingin, “Selain alat pertanian dan peternakan, setiap orang yang memasuki Pedukuhan Jagaprayan tidak diperbolehkan membawa senjata atau benda-benda tajam.”

“Aku pun termasuk di dalam larangan itu?” tanya Pangeran Selarong.

Pandan Wangi memilih untuk tidak menjawab. Dia mengarahkan kuda menuju gardu pengawal. Ki Lurah Plaosan dan Kinasih kemudian menuntun kuda mengikuti langkah Pandan Wangi karena mereka berdua memang tidak membawa senjata.

Sikap Pandan Wangi diikuti tatap mata geram Pangeran Selarong. Pangeran Mataram ini juga hampir tidak dapat menguasai diri ketika Ki Lurah Plaosan ternyata mengiringi Pandan Wangi tanpa izinnya. Suasana benar-benar kacau secara urutan perintah karena seharusnya Ki Lurah Plaosan tetap berada di tempat bersama Pangeran Selarong.

Namun kegeraman itu memang harus ditekan oleh Pangeran Selarong saat lurah bawahannya berbisik pelan padanya, “Sebaiknya Pangeran mundur selangkah. Kita masih memerlukan bahan-bahan lain sebelum benar-benar menjatuhkan hukuman. Karena, bagaimanapun, ada pihak yang juga harus Pangeran pertimbangkan, Ki Patih Mandaraka.”

Putra mendiang Panembahan Hanykrawati itu kemudian menarik napas panjang. Bawahannya mempunyai pendapat yang sulit dielakkan, maka berikutnya dia pun tak ingin ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sebab kesalahan. “Apakah aku juga harus turun dari kuda?” tanya Pangeran Selarong. Walau pertanyaan itu terdengar lucu dan sepele, tapi dia benar-benar tidak ingin ada kesalahan. “Bukan karena aku gentar atau takut pada Pandan Wangi. Tapi mungkin itu dapat menjadi dapat dimanfaatkan bila ada pembicaraan,” kata Pangeran Selarong sebelum bawahannya mengucap kata.

“Andaikan Pangeran turun dari kuda, apakah tidak khawatir mereka membusungkan dada karena berhasil memaksa seorang pangeran berjalan seperti orang kalah?”

“Tapi itu dapat juga menjadikan mereka segan karena merasa aku bukan berasal dari keluarga yang sombong,” tukas Pangeran Selarong, melompat turun dari kuda kemudian mengayun langkah di belakang Kinasih dan Ki Lurah Plaosan.

Seperti yang diduga oleh Pangeran Selarong, sebagian pengawal pedukuhan mengikuti setiap geraknya dengan tatap mata penuh arti. Sebagian dari mereka memang memuji dalam hati, tapi ada juga yang tetap mengingatkan agar mereka waspada karena sikap itu masih dianggap sebagai siasat.

Sepasang mata Pangeran Selarong awas mengamati lingkungan. Maka dari dalam hatinya kemudian muncul pengakuan bahwa Pandan Wangi sangat teliti menyusun pertahanan berlapis yang sulit ditembus. Bahkan dia pun mempunyai kesimpulan awal bahwa Pandan Wangi tidak berniat membangkang atau memberontak. Dalam pikirannya, pangeran Mataram itu menilai Pandan Wangi memang mempunyai tujuan tertentu. Seandainya dia ingin memberontak, tentu sudah dilakukannya mealui pemilihan senjata untuk penjajagan melawan dirinya, pikir putra Panembahan Hanykrawati tersebut. Dukungan bulat yang pasti menjadi landasan Pandan Wangi adalah segenap kekuatan di Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan Ki Patih Mandaraka adalah unsur lain yang tidak dapat diabaikan dengan pandangan sempit. “Maka, tentu saja, aku harus membuat laporan yang benar-benar tidak memihak orang atau kelompok tertentu,” kata Pangeran Selarong dalam hati.

Arah yang dituju Pandan Wangi adalah banjar pedukuhan, bukan kediamannya yang juga menjadi gardu kendali pengamanan pedukuhan. Dalam waktu itu, Ki Lurah Plaosan dan Kinasih pun tak tampak berusaha berjalan di samping Pandan Wangi. Mereka berdua tetap berada di belakang Pandan Wangi dalam jarak yang terukur sehingga kedudukan Pangeran Selarong pun tetap di belakang. Tapi  sepertinya putra raja itu tahu bahwa dua orang di depannya memang tidak memberinya ruang untuk melaju lebih cepat.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 74 – Sekar Mirah ; Dekapan di Ambang Kematian

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 77 – Burung Hantu yang Bernama Sekar Mirah!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 63 – Pertarungan Sengit Pandan Wangi dan Ki Ramapati

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.