Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora
Bab I - Dua Utusan

Dua Utusan 4

“Dan jika Ki Nagapati telah berada di Pajang, apakah itu menjadi salah satu sebab penting selain sebuah janjiku padanya?” hati Bondan bertanya. “Lantas apa hubungannya dengan perubahan sikap Ki Wisanggeni?”

Sementara di bilik sebelah ruang Bondan, di pembaringannya, Ki Swandanu membayangkan wajah keras Bondan yang tergambar dari lekuk rahang dan tatap matanya. Ki Swandanu terhanyut oleh kenangan di masa lampau. Ia mengingat ketika Bondan memasuki regol halaman rumah Resi Gajahyana dalam gendongan ibunya yang datang bersama ayah Bondan.

Bondan adalah anak satu-satunya dari Panji Alit dan memiliki hak atas kekuasaan sebagai Bhatara Pajang dari ayahnya. Namun Panji Alit yang tidak tertarik dengan tata pemerintahan akhirnya menarik diri dari lingkaran istana. Kemudian Panji Alit bersama dengan istrinya mendatangi Resi Gajahyana meminta kesediaannya untuk merawat dan membesarkan Bondan.  Atas pengunduran diri tersebut, Sri Maharaja Kertanegara kemudian menunjuk keturunan Panji Saprang sebagai penguasa Pajang sebagai pengganti.

Sepeninggal kedua orang yang menetapkan diri sebagai pertapa di lereng Gunung Sindoro, Resi Gajahyana mengajarkan Bondan tentang olah kanuragan, sastra, ilmu perang dan kehidupan. Resi Gajahyana melihat bakat yang begitu besar dalam diri Bondan.  Sepanjang usianya semenjak berada dalam pengasuhan Resi Gajahyana, Bondan  mendapat kesempatan satu atau dua kali ditengok oleh dua orang tuanya. Sekitar empat tahun sejak diasuh Resi Gajahyana, kedua orang tua Bondan berpulang, kembali menuju tempat mereka datang.

Ki Swandanu yang berada di dekat Bondan semenjak kecil terkadang membawa bocah lelaki itu melakukan perjalanan yang cukup jauh baginya. Glagahwangi, Trowulan, Daha, Madiun dan beberapa tempat lainnya telah didatangi Bondan. Sebab itulah Ki Swandanu kadang-kadang menambahkan sebutan Lelana setelah nama pemberian orang tuanya.

Perjalanan jauh yang ditempuh Bondan bersama Ki Swandanu telah mengajarkannya tentang banyak hal.  Kemudian di Pajang ia kembali menyerap bekal dari Resi Gajahyana. Tumbuh berkembang di bersama-sama orang yang telah matang garam kehidupan telah mendorong Bondan untuk bersikap lebih masak jika dibandingkan anak muda seusianya. Ia mampu menilai satu pertentangan. Ia dapat menghindar dari permusuhan tetapi mampu bertahan dalam benturan keras.

Tersentak kecil Ki Swandanu mendengar Ki Hanggapati bergeser duduk di tepi pembaringan.

“Agaknya Kakang Swandanu sedang mengenang Bondan. Seperti itulah yang kita lihat dalam diri Bondan pada malam ini, serba sedikit ia telah mematangkan diri dengan pengalaman-pengalaman yang menyedihkan dan sangat keras,” berkata pelan Ki Hanggapati.

Bentuk PDF

Toh Kuning – Benteng Terakhir Kertajaya

Ki Swandanu mengangguk. Katanya, “Saya sependapat, dan sekarang muncul harapan, semoga Bondan benar-benar telah meningkat olah rasa dalam jiwanya selain olah kanuragan yang telah dikuasainya sejak kecil. Karena persoalan yang sedang terjadi di lereng Merapi hingga Pajang mungkin akan menyebabkan satu pertentangan timbul dalam hatinya.”

“Kakang Swandanu berkata benar. Kita telah sama mengerti apa yang diajarkan oleh Eyang Resi kepada Bondan dan kita berdua, meski kita tidak pernah menjadi murid Eyang Resi, tetapi perhatian Resi  Gajahyana kepada kita sudah lebih dari cukup.”

Ki Swandanu manggut-manggut. Sejenak kemudian ia membaringkan tubuh, maka terasa olehnya rasa lelah menjalar sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian ia larut dalam istirahatnya pada malam yang tersisa. Ki Hanggapati tersenyum kecil melihat Ki Swandanu yang telah lelap sesaat kepalanya menyentuh bantalan kain di atas pembaringan. Seraya mengatur pernapasan, sebagai orang yang terlatih olah kanuragan, Ki Hanggapati segera menyusul beristirahat dengan membawa satu harapan besar.

Pada waktu itu, Bondan tengah duduk di tepi pembaringan sambil menatap lantai masih membayangkan pesan dari Resi Gajahyana.

Baca juga : Orang Asing pada Masa Jawa Kuno

“Eyang, sebenarnya aku merasa terlalu dini untuk mengawali kehidupan baru. Ya, tentu saja aku tidak akan melupakannya. Tetapi Ki Swandanu dan Ki Hanggapati sepertinya tidak sekadar memanggilku pulang untuk urusan itu. Tentu saja keadaan sangat penting telah terjadi di Pajang sehingga Eyang mengirimkan paman berdua menyusulku kemari. “Jika untuk sebuah hubungan batin, aku kira cukup Ki Swandanu atau Ki Hanggapati seorang diri yang datang,” kata Bondan dalam hati dengan membayangkan sebuah air terjun kecil dan bebatuan di suatu senja, di lereng Gunung Lawu.

Related posts

Dua Utusan 8

kibanjarasman

Dua Utusan 7

kibanjarasman

Dua Utusan 6

kibanjarasman

Dua Utusan 5

kibanjarasman

Leave a Comment