Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 60

“Mengapa kau mengusikku, Ki Garu Wesi?” bertanya Ki Tunggul Pitu dengan raut wajah yang tidak nyaman dipandang.

“Engkau terlalu lama menyelesaikan kedunguan ini.” Ki Garu Wesi bersuara tanpa mengalihkan pandang matanya dari Sabungsari. “Aku tidak tahu bagaimana engkau mengawali perkelahian melawannya, tetapi satu berita telah sampai padaku.”

KI Tunggul Pitu masih memandangnya dengan geram.

Tetapi Ki Garu Wesi tidak memerhatikan sikap kawannya, ia melanjutkan, “Anak lelaki Ki Gede Telengan juga mempunyai ilmu yang sama dengan Agung Sedayu. Ilmu yang memancar dari sorot kedua mata. Dan aku mendengar anak lelaki itu telah bergabung dengan keprajuritan Mataram. Sekilas aku mengamati tata geraknya lalu aku menjadi yakin bahwa lawanmu adalah anak Ki Gede Telengan.”

loading...

“Oh, pantas,” lirih Ki Tunggul Pitu bergumam. Ia berbisik kemudian, “Menyingkirlah, aku akan selesaikan pertarungan ini.”

Ki Garu Wesi lantas berpaling, lalu ia bertanya pada Ki Tunggul Pitu, “Apakah  tidak ada pilihan lain?”

“Melarikan diri?”

“Bukan melarikan diri. Itu kalimat yang salah.”

Ki Tunggul Pitu menggeleng, kemudian ,”Meninggalkan gelanggang ini bukan keputusan yang tepat, setidaknya untuk sekarang ini kita dapat mengurangi jumlah orang linuwih di Jati Anom. Itu akan memberi kita banyak kemudahan bila hari Raden Atmandaru telah tiba.”

Siasat cerdas dan sederhana, pikir Ki Garu Wesi. Lalu ia berseru pada Sabungsari, “Prajurit, engkau tentu telah mengerti bahwa hidup mati seorang prajurit ada di ujung senjata atau sebuah perkelahian. Karena memang seperti itulah seorang prajurit dilatih berbagai keerampilan olah kanuragan.”

Keturunan Ki Gede Telengan ini tidak segera menanggapi kata-kata Ki Garu Wesi, meski ia tidak dapat menyalahkan namun Sabungsari juga tidak dapat membenarkan pendapat Ki Garu Wesi. Kemudian ia berkata dengan rasa hormat, “Setiap orang mempunyai penilaian yang mungkin juga tidak dapat dibenarkan atau disalahkan, Kiai. Anda dapat berkata seperti itu dan saya juga punya pendapat yang bertolak belakang, tetapi hanya ada satu kata yang berlaku di medan peperangan.”

Ki Tunggul Pitu dan Ki Garu Wesi tertawa kecil bersamaan. Kata Ki Tunggul Pitu kemudian, “Penutup yang sempurna dari seorang prajurit Mataram. Aku pikir engkau lebih pantas menyandang pangkat sebagai tumenggung jika dibandingkan dengan Untara.”

“Maaf, Kiai. Saya tidak pernah berpikir lebih baik dari siapa pun. Tidak,” sahut Sabungsari yang telah merendahkan tubuhnya. “Ki Tumenggung Untara dan Ki Rangga Agung Sedayu adalah orang yang berada di lapisan yang setara dengan Ki Patih Mandaraka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan yang luar biasa. Dan aku? Aku adalah prajurit Mataram sebagaimana teman-temanku yang lain.” Sabungsari menunjuk Ki Panuju dan teman-temannya yang terluka.

“Baiklah, Ki Sanak berdua,” lanjut Sabungsari namun ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ki Tunggul Pitu telah meluncur deras padanya dengan gemuruh serangan seperti angin prahara.

Sedangkan Ki Garu Wesi masih berdiri dan mengawasi jalannya perkelahian yang mendadak mulai berubah sangat tajam.

Sabungsari harus berkelahi dengan segenap ilmunya. Ia merambah bagian puncak ilmunya dengna cepat. Tidak ada pilihan lain bagi Sabungsari selain mengalahkan Ki Tunggul Pitu. Ia tahu bahwa memenangkan perkelahian bukanlah hal yang mudah, apalagi Ki Tunggul Pitu telah menunjukkan jika ia adalah lawan yang sulit ditaklukkan. Dari awal. Ya, sedari permulaan perkelahian, Ki Tunggul Pitu bukan saja merepotkan Sabungsari dengan serangan-serangan yang tajam, tetapi ia juga memperlihatkan pertahanan yang sukar untuk dibongkar.

“Aku tengah berhadapan dengan orang sekuat Ki Rangga.” Itu adalah perasan Sabungsari saat mendapati kemampuan tinggi yang ada dalam diri Ki Tunggul Pitu.

Namun Sabungsari sangat menyadari bahwa Agung Sedayu bukanlah Ki Tunggul Pitu. Agung Sedayu bukan orang yang dapat memanfaatkan kelemahan lawan sebagai jalan untuk membunuh, maka dengan jalan pikiran semacam itu, Sabungsari paham bahwa lawannya akan segera menghukumnya dengan kematian jika ia gagal menutup celah pertahanan.

Wedaran Terkait

Jati Anom Obong 9

kibanjarasman

Jati Anom Obong 8

kibanjarasman

Jati Anom Obong 70

kibanjarasman

Jati Anom Obong 7

kibanjarasman

Jati Anom Obong 69

kibanjarasman

Jati Anom Obong 68

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.