Dironda 27 kali
Delapan orang Padepokan Sanca Dawala bergerak mengejar rombongan Menoreh dengan mengandalkan jejak yang ditemukan di perjalanan. Ra Jumantara dan Anggara Abang terus mempersempit jarak hingga akhirnya mereka menemukan tempat persembunyian rombongan di tengah hutan.
Kedatangan para pengejar diketahui lebih cepat dari perkiraan. Bondan menyadari adanya kepungan dan segera memperingatkan Jalutama serta Ken Banawa. Berhadapan dengan lawan yang datang dengan keyakinan tinggi, kedua pihak pun saling berhadapan dalam suasana yang semakin tegang.
Tidak ada jalan untuk menghindari benturan. Bondan mengambil langkah pertama dan berhadapan dengan Ra Jumantara, sementara para pengawal Menoreh mulai menghadapi lawan masing-masing. Ken Banawa juga segera menyusun siasat agar kelompoknya dapat bertahan menghadapi pengepungan.
Pertempuran pun berkembang menjadi beberapa lingkaran pertarungan. Bondan dan Ra Jumantara saling menguji kemampuan, sementara Ki Hanggapati berhadapan dengan Nyi Kirana dan Ken Banawa menghadapi Anggara Abang serta Kuntala. Keadaan semakin sulit karena sebagian orang Menoreh berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Di tengah kegelapan hutan dan derasnya pertempuran, setiap orang berusaha mempertahankan kedudukannya. Pertarungan yang semula berupa pengejaran berubah menjadi perlawanan sengit yang menentukan nasib rombongan Menoreh dan para pengejarnya.
- .Pengejaran yang membuatku…Mereka bersikap sopan dan senantiasa menjaga martabat sebagai duta Rakai Panangkaran. Aku terpesona di Bulan Telanjang 9.
- Tapi utusan Rakai Panangkaran memang berbeda dengan orang-orang pada masa setelah Mataram Kuno. Pada saat itu, Toh Kuning sedang menunggu saat yang tepat untuk melepaskan ilmu tertingginya di Pengepungan 5 melawan orang sakti pada zamannya.
- Dan kisah Bondan pun masih tetap terjaga di lereng Gunung Wilis. Bentrokan jelas menumpahkan darah, kemarahan, kekesalan sekaligus kecemasan. Agar tidak membuat cemas penghuni padepokan sekitar Gunung Wilis, sertakan pula donasi. Rahayu
