0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 64 – Puncak Ajian Namaskara Glagah Putih

Dironda 34 kali

Glagah Putih meneruskan rangkaian geraknya.

Hanya saja, orang yang menjadi lawan Glagah Putih adalah petarung yang tangguh dan tenang. Perubahan itu tidak membuatnya surut. Dia rupanya juga sanggup mengerahkan sisi lain dari ilmunya. Dari telapak tangannya kemudian muncul pendar lain, samar berwarna biru keunguan, yang timbul tenggelam seperti gejala yang belum sepenuhnya memperlihatkan kekuatannya.

Gelanggang itu seolah berubah menjadi sebuah tungku. Hawa panas yang menguar dari kedua petarung semakin terasa menyengat, membuat udara di sekitarnya seperti bergetar. Rumput dan daun-daun kering yang berserakan di tanah menghitam lalu hangus tanpa tersentuh api. Bahkan ranting-ranting kecil mulai mengeluarkan asap tipis dari permukaannya yang mengering. Seandainya tempat itu disiram minyak biji jarak, maka pastilah tempat itu segera menyala oleh panas yang memenuhi gelanggang.

Setiap kali tangan Glagah Putih dan Ki Wirya beradu, terdengar bunyi benturan yang berat. Pada saat yang sama, tampak jilat-jilat api kecil memercik dari titik pertemuan kedua tenaga itu, sekilas menyerupai percikan yang keluar ketika besi panas ditempa.

Gelanggang pertempuran terus bergeser ke segala arah. ketika pertempuran mereka mendekati dinding utara, arena pertarungan pun terbatas. Tubuh mereka beberapa kali terdorong sampai membentur susunan batang pohon yang menjadi dinding pertahanan. Pada setiap bekas tumbukan, permukaan kayu berubah kehitaman seperti hangus. Kulit kayunya mengering, retak lalu terkelupas, dan asap tipis mengepul dari bagian yang baru saja dihantam.

Serangan-serangan Ki Wirya semakin garang dan terkadang mampu menekan musuhnya. Tetapi Glagah Putih pun tidak sekedar menangkis atau menghindari serangan saja. Setiap sedikit ada celah terbuka, dia pun menyerang secepat kilat—mengambil setiap kesempatan untuk balik menghimpit Ki Wirya.

Tidak ada yang dapat dikatakan lebih unggul dari dua orang itu. Setiap serangan tidak dapat dianggap gagal meski luput tapi selalu ada kulit yang tergores atau kain terbakar.

Mereka tidak dapat menampakkan keterkejutan. Keduanya sama-sama sadar bahwa dalam pertarungan setingkat itu, perhatian yang teralih walau hanya kurang dari sekejap dapat memutus nyawa mereka. Karena itu, tidak ada gerak yang sia-sia dan tidak ada kesempatan untuk membiarkan pikiran melayang barang sekejap.

Pertarungan pun semakin dahsyat!

 Sampai akhirnya puncak tata gerak jalur ilmu Ki Sadewa yang dilambari penuh kekuatan Ajian Namaskara mulai menentukan arah pertempuran.

Sampai kemudian Glagah Putih mengubah tata geraknya.

Tubuhnya tiba-tiba berputar ke kanan. Perubahan itu begitu luwes sehingga dalam sekejap punggungnya telah menghadap Ki Wirya. Orang itu sempat tersentak, tetapi tidak mundur. Punggung lawan tetap merupakan kelemahan yang terlalu berharga untuk dibiarkan. Ki Wirya tetap melancarkan serangan dari jarak dekat.

Namun Glagah Putih tidak berhenti pada setengah putaran itu.

Tubuhnya terus berputar hingga kembali menghadap Ki Wirya. Seluruh gerakannya berlangsung tanpa kehilangan keluwesan. Kedua tangannya tetap berkelebat, kakinya pun terus berpindah, seolah putaran tubuh sama sekali tidak membatasi jalan bagi serangan-serangannya.

Ki Wirya tidak membiarkan dirinya dikejutkan untuk kedua kalinya.

Ketika Glagah Putih kembali mengubah arah, kali ini ke kiri, Ki Wirya tetap mempertahankan jarak dekat. Dia sudah mengetahui bahwa punggung yang terbuka bukanlah kelemahan biasa, melainkan bagian dari tata gerak yang sedang dibangun lawannya. Namun demikian, Glagah Putih kembali menyelesaikan putaran itu hingga tubuhnya kembali pada kedudukan semula.

Dua putaran penuh telah dilalui.

Ki Wirya mulai meraba kemungkinan gerak berikutnya.

Glagah Putih terus bergerak. Tubuhnya berputar untuk ketiga kali. Ki Wirya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi putaran penuh seperti dua kali sebelumnya. Dia sudah bertekad akan mengakhiri perlawanan Glagah Putih untuk selamanya. Namun ketika Glagah Putih mencapai setengah lingkaran, arah geraknya tiba-tiba berubah.

Putaran itu justru berhenti pada saat punggungnya kembali menghadap Ki Wirya, seketika, dengan perubahan pijakan yang amat cepat, tubuhnya beralih arah dalam satu rangkaian gerak yang luwes. Kedua tangannya bergerak bebas mengikuti perubahan tubuh, sementara salah satu kakinya menjadi tumpuan bagi putaran berikutnya. Kakinya pun mengambil pijakan yang berbeda, sehingga serangan datang dari arah yang tidak lagi sesuai dengan perkiraan Ki Wirya.

Ki Wirya telah bersiap menghadapi kelanjutan putaran penuh. Namun kali ini perkiraannya meleset. Pada saat tubuh Glagah Putih masih membelakanginya, sambaran tangan telah berbalik datang dari sisi yang tidak lagi diduganya.

Untuk pertama kalinya, pertahanan Ki Wirya terbuka. Bukan karena kecepatannya berkurang. Bukan pula karena kehilangan ketenangan tapi putaran itu menjadi sebab serangan Glagah putih lebih sulit diterka.

Puncak tata gerak jalur ilmu Ki Sadewa akhirnya menemukan bentuknya.

Ki Wirya masih berusaha menutup ruang yang terbuka tapi waktu yang tersisa tidak lebih cepat dari gerak musuhnya.

Sambaran tangan Glagah Putih akhirnya menyentuh pundak Ki Wirya. Gerak itu sesungguhnya tidak tampak sebagai pukulan yang berat. Namun tenaga yang melambari gerak tersebut bersumber dari Ajian Namaskara sehingga membuat tubuh Ki Wirya terdorong jauh ke belakang dengan akibat yang tidak terduga sama sekali. Musuh Glagah Puih itu terpental, melayang lalu berdebum beberapa langkah sebelum akhirnya terdiam.

Glagah Putih memandang musuhnya dengan napas berat dengan tubuh penuh luka dan bagian dalam yang terasa seperti masih terhimpit batu besar.

Dalam waktu itu, Ki Wirya masih mampu menggerakkan tubuhnya. Dengan susah payah dia mengangkat sebelah tangannya,  melambai lemah, kemudian menunjuk ke satu arah tertentu.

Sesaat kemudian lengannya jatuh kembali. Napasnya pun terputus.

Sementara itu, keseimbangan pertempuran pun sudah berkurang tapi belum mereda. Secara keseluruhan, pertempuran di dinding utara itu nyaris seimbang baik dalam kemampuan maupun kematangan jiwani. Pertempuran sudah berlangsung cukup lama, tetapi masing-masing kubu terlihat tetap tegar. Mereka masih bertempur dengan semangat serta daya juang yang mengagumkan.

Saat itu, anak buah Ki Wirya tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa pemimpin mereka tumbang dalam pertarungan yang adil. Mereka pun merasakan sendiri perlawanan ketat dan sengit dari pasukan khusus. Namun keadaan itu ternyata tidak serta-merta membuat para penyerang surut. Orang-orang yang dikirim untuk mengguncang barak itu tetap dapat dikatakan berhasil.

Keadaan sudah tak lagi sama dengan permulaan.

Sebagian dari mereka memang telah berkurang karena luka dan tumbang. Sebagian lainnya bahkan telah berhasil menerobos lebih jauh ke dalam barak. Demikian pula Pasukan Khusus Mataram. Jumlah mereka tidak lagi utuh. Banyak di antara mereka telah terluka, beberapa telah jatuh, dan tenaga yang tersimpan di dalam tubuh mereka pun tentu tidak lagi sebanyak ketika pertempuran baru dimulai.

Karena itu, orang-orang Mataram semula mengira perlawanan akan mereda setelah Ki Wirya tidak lagi berada di tengah-tengah mereka. Tetapi perkiraan itu tidak terbukti.

Para penyerang yang masih berada di gelanggang tetap bertempur. Tidak tampak pada gerak mereka keinginan untuk menerobos dengan tergesa-gesa. Tidak pula tampak keinginan untuk mencari jalan melarikan diri. Mereka tetap bertempur dengan kesungguhan yang semakin dalam.

Seorang yang telah terluka masih berusaha mempertahankan diri selama kedua tangannya masih sanggup bergerak. Seorang yang melihat kawannya tumbang tidak serta-merta kehilangan keberanian. Dia hanya menggeser tempat, mencari lawan lain, lalu kembali bertarung.

Hal itu justru memunculkan kegelisahan di antara para prajurit Mataram.

Mereka mulai menyadari bahwa lawan di hadapan mereka tidak lagi bertempur dengan perhitungan yang sama seperti sebelumnya. Para penyerang itu agaknya telah mengetahui bahwa jalan untuk kembali hampir tidak ada. Namun kesadaran tersebut tidak serta-merta membuat mereka menyerahkan diri. Mereka juga tidak berusaha mencari kematian dengan cara yang gegabah semisal sengaja menghamburkan diri agar mudah ditusuk lawan. Tidak, bahkan mereka tetap melepaskan serangan. Masih mencari celah. Masih berusaha bertahan.

Hanya saja, mereka seakan telah menerima bahwa setiap benturan berikutnya mungkin merupakan benturan yang terakhir.

Dan karena itulah mereka bertempur tanpa lagi menyisakan sesuatu bagi saat yang mungkin tidak akan datang.

Bagi Pasukan Khusus Mataram, keadaan itu merupakan sesuatu yang tidak mudah dipahami. Mereka terbiasa menghadapi lawan yang memiliki tujuan yang jelas. Lawan yang hendak menerobos dapat ditahan. Lawan yang hendak melarikan diri dapat dikejar. Lawan yang kehilangan pemimpin biasanya akan mengalami keguncangan.

Tetapi orang-orang ini, anak buah Ki Wirya, tidak menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Ki Wirya berkalang tanah, jumlah mereka telah jauh berkurang, sebagian telah masuk ke dalam barak, sementara sebagian lainnya telah jatuh di tanah. Namun mereka yang di samping dinding tetap bertarung.

Kegelisahan itu perlahan berubah menjadi kewaspadaan yang lebih dalam.

Para prajurit Mataram akhirnya memahami bahwa mereka sedang menghadapi lawan yang sudah tidak mempunyai harapan untuk pulang, tetapi juga tidak mempunyai keinginan untuk mati. Selama tubuh masih memungkinkan, mereka akan terus bertempur. Mereka akan berhenti hanya ketika tenaga telah habis, tubuh tidak lagi mampu digerakkan, atau serangan lawan mengakhiri kehidupan mereka.

Maka pertempuran pun terus berlangsung.

Tidak ada pihak yang lagi berbicara tentang kemenangan. Tidak ada pula yang mengucapkan kata menyerah.

Di bawah langit yang sama dengan balutan udara yang sama, waktu beranjak pelan menuju fajar, dua kubu yang sama-sama telah terkikis itu masih saling berhadapan. Yang satu bertahan dengan keteguhan prajurit yang tahu cara memenangkan pertempuran. Yang lain bertahan dengan kegagahan dan kehormatan orang-orang yang telah menyadari akhir perjalanan mereka, tetapi memilih memberikan seluruh sisa tenaga sebelum saat itu benar-benar tiba.  

Sejumlah penyerang akhirnya terhuyung. Kaki-kaki mereka tidak lagi mampu menopang tubuh ketika tenaga telah terkuras. Sebagian jatuh, kemudian rebah ke tanah. Beberapa di antara mereka tampak masih menggenggam senjata dengan erat. Jari-jarinya bahkan belum juga mengendur ketika tubuh tidak lagi mampu bangkit. Sorot mata yang tidak memperlihatkan tanda untuk menyerah.

Tidak jauh dari tempat itu, dua orang prajurit Mataram sempat memperhatikan keadaan tersebut. Seorang lagi datang mendekat, sehingga ketiganya berdiri dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari gelanggang.

“Barangkali mereka sudah tidak memikirkan bagaimana akhirnya,” berkata salah seorang.

Prajurit yang lain masih memandang orang-orang yang bertempur. “Mungkin mereka memang sudah kelelahan. Hanya kita yang beruntung karena didatangi.”

Kawannya mengerutkan kening. “Beruntung?”

“Ya. Kalau mereka datang untuk mencari jalan pulang, mungkin kita akan menghadapi keadaan yang berbeda. Tetapi mereka sudah sampai di sini. Sekarang mereka hanya tinggal bertempur.”

Ketiganya kembali memandang ke arah gelanggang.

Seorang penyerang lain baru saja terhuyung, tetapi masih sempat mengangkat senjatanya untuk menahan serangan. Beberapa langkah dari sana, seorang prajurit Mataram pun harus menarik napas panjang sebelum kembali mengangkat senjatanya. Pada arah yang lain, tampak seorang penyerang lain baru saja terhuyung, tetapi masih sempat mengangkat senjatanya untuk menahan serangan.

“Kalau begitu,” berkata prajurit yang pertama, “mengapa mereka tidak menyerah?”

“Barangkali mereka tidak mengenal kata itu,” sahut seorang prajurit muda.

Saat tiga prajurit itu berbincang dengan kewaspadaan ketat, Glagah Putih tampak berjalan kembali menuju pasukannya. Langkahnya tidak lagi setegap ketika menghadapi Ki Wirya. Tubuhnya yang penuh luka harus dipapah oleh dua orang prajurit. Setelah mengatakan beberapa pesan pada dua prajurit, sepasang matanya menebar ke arah gelanggang yang belum sepenuhnya sunyi.

  • Di bagian dalam kapal, menjelang pertempuran besar, Raden Trenggana berkata, ““Gagak Panji!” 

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.