Membidik 6

Garis merah belum terlihat berpendar di kaki langit. Mereka beranjak lalu meninggalkan beranda ketika ayam jantan berkokok pada dini hari. Walau dapat dikatakan kesibukan prajurit mulai berkurang untuk kegiatan pemadaman, namun Untara telah mengumpulkan para senapatinya. Sedikti waktu yang ia gunakan untuk memberi pengarahan singkat. Sabungsari terlihat di antara lingkaran orang-orang yang mengelilingi Untara.
Ketika itu sedang berlangsung, Agung Sedayu telah berada di dalam biliknya. Ia mengambil tempat di ujung pembaringan. Sengaja ia membiarkan suasana gelap menjadi penghuni tunggal di dalam biliknya. Agung Sedayu mencoba berhenti untuk menunggu waktu. Ia tidak lagi menghitung jumlah kokok ayam jantan. Tidak juga membuat perkiraan tentang pergeseran bintang-bintang yang menempel di langit. “Tidak akan ada yang berubah karena udara akan tetap mengalir. Aku menunggu pagi atau menanti kedatangan malam, itu tidak mengubah pergerakan udara. Gelap adalah sebuah pilihan apabila aku ingin melihat segalanya dari berbagai segi,” gumam Agung Sedayu.
Demikianlah Agung Sedayu membenahi kedudukan tubuhnya. Mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya yang masih tajam terpahat pada dinding jantungnya, ia tengah menyusuri jalan setapak untuk mencari penerangan tentang kitab gurunya, Swandaru, karunia yang dikandung istrinya dan Raden Atmandaru. Temaram lampu minyak semakin suram saat malam semakin rapat mendekati pagi. Dalam waktu itu suara Kiai Gringsing seolah terdengar jelas oleh Agung Sedayu. “Tidak perlu berlari atau bersembunyi untuk mengenali rasa takut. Engkau dapat duduk berhadapan dengannya. Ketakutan terbesar ada di dalam pikiranmu sendiri. Ia sangat kuat mencengkeram hati dan perasaanmu. Kadang-kadang rasa takut mampu menyamarkan dirinya menjadi sesuatu yang berat untuk ditinggalkan. Engkau mungkin akan melihatnya sebagai alasan yang sangat kuat, Agung Sedayu. Namun engkau harus meyakinkan hatimu bahwa segala sesuatu pada dasarnya tiada. Dari ketiadaan itulah engkau akan menerbitkan kekuatan yang luar biasa. Ketakutan akan menjadi kekuatan. Rasa takut bahwa kenangan akan menghilang atau musnahnya segala yang engkau miliki, maka engkau harus menyadari bahwa kenangan adalah masa lalu dan itu telah berlalu. Yang ada di dalam dirimu adalah keinginan untuk kembali ke masa lalu.”
Agung Sedayu menghela napas. Ia membuka lembaran-lembaran rontal bertuliskan petuah gurunya dan terpatri pada dinding jantungnya. “Keberanian nyata adalah tindakan yang mampu mewujudkan setiap kata-kata. Engkau harus mempunyai kekuatan yang ditunjang keluwesan dalam bersikap. Tidak selamanya senapati harus bersikap seperti batu cadas hitam. Adakalanya engkau harus mempunyai sifat seperti air dan udara yang mengalir dan mengisi setiap bagian kosong dari sebuah ruangan.”
Dalam waktu cukup lama, mungkin setara dengan waktu merebus singkong, Agung Sedayu duduk dengan punggung tegak lurus. Napasnya lembut mengalir, bahkan dadanya seolah tidak bergerak naik turun. Orang akan berpikir bahwa Agung Sedayu telah pingsan atau meninggal namun itu adalah cara senapati Mataram untuk menyusun ulang rancang bangun segenap ilmunya. Agung Sedayu telah berkekuatan hati untuk memulai perjalanan baru. Kesejatian diri.

Akhirnya, ketika cahaya matahari telah menimpa atap rumah-rumah di Jati Anom, suara Untara menerobos dinding biliknya, “Agung Sedayu, sebaiknya engkau segera bersiap!”
Orang yang berada di dalam bilik telah berada di ambang pintu. Ia mengangguk lalu katanya, “Saya telah menunggu.”
Untara menyambutnya lalu mengajak adiknya untuk melakukan makan pagi bersama. Setelah mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan pagi hari, Untara dan Agung Sedayu segera menuju bilik kerja Untara di bagian belakang bangunan induk.
Sejumlah orang telah berada di sana. Ki Lurah Panuju ada di antara mereka dengan tubuh masih berbalut kain yang berlumur ramuan-ramuan pengobatan. Yang membuat Agung Sedayu terkejut adalah kehadiran Prastawa dan Ki Lurah Sanggabaya di tempat yang sama. Mereka berdua pergi meninggalkan Menoreh sebelum matahari benar-benar berbentuk bulat utuh. Untara telah mengirimkan prajurit yang secara khusus bertugas untuk mengundang wakil dari Tanah Perdikan Menoreh.
Untara telah membuka pertemuan itu kemudian ia berkata, “Kita tidak dapat menghindari jangkauan mata para pengikut Raden Atmandaru. Bukan berarti aku menyerah tetapi mereka sepertinya sudah cukup lama berada di wilayah ini. Mungkin mereka pun sudah mempunyai lahan dan papan di tempat ini atau Tanah Perdikan. Yang pasti, kebakaran di dua tanah lapang atau pategalan serta api yang memenuhi bagian jalan Jati Anom adalah bukti kecerdasan dan kesiapan mereka.
“Kita tidak berada di ruang ini untuk menentukan hari pertempuran. Tidak juga untuk melakukan pengamatan di Lemah Cengkar. Apabila kalian bertanya tentang itu, tentang pengamatan, tentang kedudukan mereka, aku pikir sebaiknya kalian melakukannya sendiri. Ini bukan perintah seorang tumenggung, tetapi pendapat Untara.”
“Kakang,” Agung Sedayu menjadi orang pertama yang menanggapi Untara, “mengenai kematangan mereka bersiasat, itu sudah cukup jelas. Dan saya pikir tidak akan seorang pun yang membantah itu. Artinya di sini, kita harus mengakui bahwa mereka mungkin akan menjadi lawan yang sangat tangguh. Selain dipenuhi oleh orang-orang berilmu tinggi, keteguhan mereka dalam menjalankan rencana akan menjadi penentu akhir. Mungkin kita akan kalah. Mungkin Mataram memang harus melepaskan Tanah Menoreh dan Jati Anom. Namun sebelum itu terjadi, saya mengusulkan bahwa sebaiknya Menoreh diberi peran sebagai sayap pemukul.”
“Jika Tanah Perdikan Menoreh ditempatkan sebagai sayap pemukul, lalu bagaimana dengan Sangkal Putung?” Ki Lurah Sanggabaya mengingatkan.
Untara memalingkan wajahnya pada Agung Sedayu. Meski sebenarnya ia dapat memutuskan persoalan itu tetapi pendapat Agung Sedayu tidak dapat diabaikan karena pengalamannya sebagai pemimpin pasukan khusus jelas kan memberi pengaruh yang sangat penting.
Sesaat murid Kiai Gringsing ini menebar pandangan seolah ia menunggu seseorang untuk berkata terlebih dahulu, tetapi itu tidak terjadi. Kemudian ia berkata, “Sudah barang tentu Sangkal Putung tidak mempunyai sosok yang dapat dijadikan pemimpin untuk menghadapi masalah ini. Maksudku, dengan ketiadaan adi Swandaru di sana maka segalanya seolah menjadi sulit.” Sejenak ia berhenti karena telah memikirkan persoalan itu pada sisa malam di dalam biliknya. Lanjut Agung Sedayu kemudian, “Penempatan gelar dari Tanah Perdikan sudah pasti harus mampu mencakup kekosongan yang ada.”

“Kekosongan yang ditinggalkan oleh kakang Swandaru,” desis Prastawa.

“…dan kekosongan rantai perintah,” tukas Untara.

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya dengan kening berkerut. Garis perintah mungkin telah terputus seperti dugaan Untara, namun mereka harus dapat mencari titik kebocoran yang ada di Mataram. Masalah itu dirasakan Agung Sedayu semakin pelik. Ia risau jika benar-benar terjadi perselisihan di antara keturunan Panembahan Senapati. Selain hubungannya yang dekat dengan orang yang dulu bergelar Raden Ngabehi Loring Pasar, ia juga mempunyai ikatan yang baik dengan Panembahan Hanykrawati. Sebagai seorang senapati, Agung Sedayu tidak mempunyai keraguan untuk membela Mataram. Namun sebagai orang yang mengenal Panembahan Senapati? Agung Sedayu tidak ingin menempatkan diri dalam pergumulan batin yang samar. Langkah-langkah hatinya semakin kerap hilir mudik pada setiap lintasan pikirannya.
“Apakah kita mempunyai banyak waktu untuk kembali ke masa silam?” tiba-tiba Agung Sedayu membelokkan bahasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *