Bab 8 Malam Petaka

Malam Petaka 13 – Dua Gelanggang Api Pertarungan di Grajegan

Perkelahian Nyi Kirana memanjat lebih tinggi, tapi Ki Jaranggi tidak lagi dapat bersabar meladeninya. Karena itu, Ki Jaranggi tidak lagi menunggu benturan demi benturan untuk mengerahkan segenap ilmunya. Bahkan sedikit demi sedikit memaksa Nyi Kirana larut dalam perubahan yang dilakukannya. Ki Jaranggi mendadak menyarungkan satu trisula lalu menggantinya dengan sambitan senjata rahasia berupa paku beracun.

Pergeseran pola serangan itu menjadikan Nyi Kirana lebih sibuk berloncatan menghindar. Sepasang pedangnya masih belum sanggup meluruhkan setiap lontaran paku mematikan dari Ki Jaranggi.

“Bukan aku bermaksud melarikan diri dari gelanggang, meski itu bakal mereka sebarkan ke seluruh dunia,” gusar hati Nyi Kirana yang sebenarnya telah mengira Ki Jaranggi akan menggunakan senjata rahasia. Nyi Kirana sangat mengenali cara berkelahi lawannya. Ki Jaranggi akan melibatkan senjata rahasia jika pertarungan masih berlangsung hingga gelap malam.

Sepintas dia melirik jasad membujur salah seorang pengiring Bondan.

“Sudilah kau maafkan kami! Sekalipun aku ingin, dan juga teman-teman yang lain, tetapi keadaan tidak memberi kami kelapangan. Sekalipun kami terpaksa pergi tanpamu, kau akan bersama kami. Terpatri dalam hati kami tentang pengorbananmu bagi anak kami, Bondan!” ucapnya dalam hati.

Nyi Kirana mulai berpikir keras untuk melepaskan diri dari kungkungan Ki Jaranggi yang makin ketat menyerangnya. Nyi Kirana masih membelakangi panggung yang masih mengobarkan api, bahkan kini menyala lebih besar.

“Pintar! Sungguh kau adalah iblis betina yang berotak,” seru Ki Jaranggi. Dia merasa senang karena Nyi Kirana berada dalam keadaan terjepit. Perhitungannya tidak salah, menurutnya. KI Jaranggi sudah menduga Nyi Kirana akan mendekati cahaya agar dapat melihat arah lontaran senjatanya.

Tetapi, Nyi Kirana melawan dugaan itu dengan gerakan yang tidak dikira sama sekali oleh Ki Jaranggi.

Nyi Kirana melenting, jungkir balik di udara, memasuki kobaran api yang membara!

“Perempuan iblis!” seru Ki Jaranggi terkesima. Mulutnya menganga lebar menyaksikan tubuh Nyi Kirana lenyap ditelan kobaran api.

 

Pada bagian lain.

Setelah menimbang melewati penilaian sesaat, Zhe Ro Phan meyakini bahwa Chow Ong Oey sudah pasti tidak sendirian. Meski tidak mudah baginya mengorek kabar tentang tiga orang lainnya, Zhe Ro Phan memutuskan akan mengakhiri perang tanding ini. Pergumulan Zhe Ro Phan dan Chow Ong Oey perlahan beranjak memasuki  lorong sempit, lorong yang mirip anak sungai dari jalan utama.

“Meski aku harus mati di tanah ini, setidaknya satu sumber telah tertutup rapat. Aku akan membawanya turut serta sebagai pengiring kematianku.” Tekad Zhe Ro Phan telah bulat. Maka gebrakannya kemudian menjadi makin  mengerikan dan menebar napas kematian.

Perlahan batang pedang Zhe Ro Phan terlihat merah membara, sedikit lagi ia berada di puncak ilmunya. Chow Ong Oey terlihat bergidik dengan perubahan  yang terjadi pada lawannya. Di mata lawannya, Zhe Ro Phan tiba-tiba berubah seperti Niu Tou. Keangkeran jelas terpancar dari wajah seram Zhe Ro Phan. Suasana mencekam di sekitar mereka dapat dirasakan oleh orang yang berada di dekat perkelahian, walau mereka hanya sekadar berjalan melintas.

Gelombang angin panas yang keluar dari putaran pedang Zhe Ro Phan benar-benar luar biasa. Chow Ong Oey merasakan kulit lengannya seperti terbakar setiap kali terjadi benturan senjata. Udara sekitar terjalar hawa panas yang dapat membuat layu daun-daun segar. Beberapa orang yang berlarian di sekitar gelanggang merasakan kulit mereka seolah terpanggang. Bahkan satu percik api telah membakar setumpuk daun kering dekat tempat perkelahian.

Di tengah keadaan seperti itu, Chow Ong Oey telah berpikir dirinya berada di dalam neraka. Nyaris tidak ada benteng kuat yang dapat dibentangkan untuk mengurangi keganasan serangan perwira muda dari Tiongkok itu. Chow Ong Oey seolah berada dalam penyesalan dengan keputusannya.

“Bagaimana aku dapat keluar dari terkaman Zhe Ro Phan? Dia meningkat demikian hebat dan lebih beringas dibandingkan singa Gobi,” keluh Chow Ong Oey dalam hati. “Seharusnya bukan aku yang berada di tempat ini, tetapi si tua gila. Tung Fat Ce!”

Kemampuan Zhe Ro Phan memang melonjak cukup pesat. Tanpa keraguan sedikit pun, Resi Gajahyana menggemblengnya dengan keras. Resi Gajahyana telah melihat bakat dan dasar yang kuat dari Zhe Ro Phan, karena itu dalam waktu singkat ilmunya melesat tinggi. Keadaan yang tidak berbeda juga dialami Kao Sie Liong. Dalam waktu bersamaan, tanpa mengabaikan cantrik lainnya, Resi Gajahyana mendidik keras dua orang itu dalam olah kanuragan.

Gemblengan keras beberapa bulan telah membuat perbedaan tajam. Kemampuan keduanya, Zhe Ro Phan dan Chow Ong Oey, dahulu berada di lapisan yang tidak cukup banyak selisihnya. Namun sekarang Chow Ong Oey tak lagi dapat berkata-kata selain keluh kesah dan penyesalan.

Segala harapan dan cita-cita yang  dibina selama ini telah terpanggang dalam deru angin panas Zhe Ro Phan. Chow Ong Oey semakin terdesak. Dia tidak lagi menunjukkan sebuah semangat untuk bertahan hidup. Keganasan yang ditebarnya di daratan Tiongkok dan kebengisan saat melatih para pengawal kademangan telah sirna.  Kemampuannya yang belum teruji di Jawa menerbangkan perasaannya cukup tinggi hingga terjadi benturan yang sangat keras pada malam itu..

Berhadapan langsung dengan Zhe Ro Phan adalah pertemuan yang tidak diharapkannya. Hingga pertemuan yang akhirnya membuatnya tersudut. Walau demikian, Chow Ong Oey masih menyimpan satu ilmu pamungkas. Sebenarnya, meski telah patah semangat karena tidak sanggup membentengi diri, Chow Ong Oey akan bertumpu dengan segenap kekuatan tersisa dan harapan yang hangus terpanggang untuk mati bersama Zhe Ro Phan.

Berawal dari bagian bawah pusarnya, Chow Ong Oey mendorong tenaga inti ke seluruh bagian tubuhnya. Daya tahan  tubuhnya meningkat berlipat, setiap simpul syaraf yang lurus dari pusar hingga ubun-ubun telah teraliri tenaga inti. Sewaktu-waktu dia dapat melepaskan seluruhnya dan meledakkan melalui benturan senjata. Ilmu kebanggaan, ilmu yang diumumkan pada khalayak dengan sebutan Geliat Naga Sungai Kuning.

Dinamakannya Geliat Naga Sungai  Kuning karena ilmu itu dapat  memancarkan gelombang tenaga inti dari seluruh bagian tubuhnya. Pancaran gelombang dapat menembus setiap benda yang terjangkau seperti duri seekor landak! Meski Chow Ong Oey sdang dikepung puluhan orang, tetapi dia akan mudah merontokkan barisan depan lingkaran pengepungan. Atas penguasaan yang baik atas ilmu itu, maka nama Chow Ong Oey sangat disegani di daratan Tiongkok.

Sekejap kemudian, Chow Ong Oey mendapatkan kesempatan yang ditunggunya.

“Zhe Ro Phan! Sekalipun aku mati, selamanya engkau adalah lawan paling bodoh!” Chow Ong Oey mengumpat seraya menyongsong tebasan pedang Zhe Ro Phan yang membara. Dia tertawa  sangat keras. Suara yang menusuk gendang telinga tapi menyiratkan kepedihan

Chow Ong Oey menertawakan sebuah perpisahan. Dia tertawa tentang kebodohan Zhe Ro Phan yang dianggapnya berjuang untuk sebuah penguasa tiran. Dia menertawakan  harapan yang tidak akan pernah digapainya. Dia menertawakan kenyataan pahit bahwa ilmu yang begitu dibanggakan tiba-tiba musnah tersedot dalam pusaran kekuatan Zhe Ro Phan.

Tenaga pamungkas Chow Ong Oey tidak mengubah keadaan. Meski sabetan Zhe Ro Phan dapat dihentikannya, tapi tenaga dalam Chow Ong Oey terdorong balik lalu menghantam dirinya sendiri. Dia terseret lalu tidak ada lagi gerakan dari pelarian Tiongkok itu saat tubuhnya melintang di jalanan.

Chow Ong Oey tidak akan kembali ke negeri asalnya.

“Dia mati!” desah Zhe Ro Phan melirik mayat yang terinjak kaki banyak orang.

Begitu perkelahian berakhir, lorong itu kembali ramai dilewati orang yang berlarian dengan banyak kepentingan. Salah satunya adalah menyelamatkan hasil rampasan!

Kisah Terkait

Malam Petaka 9 – Kisruh!

kibanjarasman

Malam Petaka 1

kibanjarasman

Malam Petaka 12 – Jalan Sulit Menuju Pajang

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.