Keributan yang terjadi di Kademangan Grajegan telah meluas. Penjarahan kian kerap terjadi seiring dengan perkelahian antara para pengiring Bondan dan para pengawal kademangan. Terlebih para pengawal itu dibantu oleh orang-orang dari Padepokan Sanca Dawala dan prajurit bayaran yang dilatih oleh Ki Wisanggeni. Penjarahan dan perampasan yang diawali segelintir orang kemudian diikuti oleh yang lainnya.
Orang-orang luar kademangan yang semula ingin melihat hiburan pun terseret untuk memanfaatkan keonaran. Dalam keadaan semacam itu, tidak ada seorang pun dari pengawal kademangan yang bergerak untuk mengamankan lingkungannya. Mereka terpana oleh satu perintah, merebut Pajang!
Malam merambat semakin pekat di atas kademangan. Perlahan dan penuh keyakinan, Bondan dan pengiringnya melangkah semakin jauh dari kediaman Ki Juru Manyuran. Kegusaran, kemarahan, dan penyesalan berputar membadai di dalam hatinya.
“Aku tidak akan dapat bicara dengan Eyang Resi. Dalam waktu singkat atau beberapa pekan ke depan, sulit bagiku menemuinya. Meski seorang utusan dapat menjadi wakil untuk segala hal, tetapi persoalan ini tidak dapat dinyatakan melalui orang lain. Ataukah Ki Buyut Argajalu telah mengetahui benih permasalahan ini? Jawaban ada di Menoreh.” Bondan mengayun langkah lebar dan cepat, Keponakan Bhre Pajang ini berusaha mengamati keadaan sekitarnya.
Beberapa kali dia menarik napas panjang.
“Sulit bagiku memahami persoalan ini. Seorang kakak secara nyata ingin mengubah adiknya menjadi janda. Apa yang menjadi alasannya? Aku tidak mengenalnya, bahkan sebuah tegur sapa pun tidak akan pernah cukup menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa orang lain.”
Bondan menggeleng perlahan.
“Sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku hanya bisa menduga dan meraba dalam gelap. Kesetiaan Siwagati tidak cukup dengan ujian seperti malam ini, begitu pula denganku. Seperti yang dikatakan oleh Eyang dan Paman, tidak ada keputusan dalam kemarahan. Dan aku? Aku adalah orang bodoh jika melupakan nasihat mereka.”
Bondan menghela napas panjang.
“Maafkan kami, Bondan! Kami bukan pengiring dan prajurit Pajang yang baik,” kata seseorang dari barisan yang dipimpinnya.
Bondan menghentikan langkah, berpaling menatap setiap wajah yang berjalan di belakangnya, kemudian berkata, “Paman sekalian bukanlah sekumpulan prajurit Pajang.”
“Setiap lelaki Pajang adalah seorang prajurit. Malam ini kami mewakili kehormatan tanah Pajang!” tegas Ra Baruna, orang yang mengawali kalimatnya dengan permintaan maaf.
Bondan menghelat napas dan mengusap wajahnya lalu berkata, “Paman, saya sedang tidak ingin membantah ucapan Paman maupun isi hati setiap orang. Tetapi kedatangan kita bukan untuk berkelahi.”
Lelaki muda kesayangna Bhre Pajang ini mencoba bersikap bijak. Dia mengerti kegelisahan para pengiringnya yang menjunjung tinggi martabat sebagai utusan Bhre Pajang. Tentu saja bagi orang-orang Pajang adalah memalukan ketika dalam keadaan segar mereka harus melarikan diri dari gelanggang. Rasa galau menghampiri setiap orang yang mendapat perintah untuk mundur dari Resi Gajahyana. Walau pun demikian, sebagian dari mereka memaksa diri untuk menerima kenyataan tetapi beberapa orang sangat menyayangkan keputusan Resi Gajahyana.
“Aku belum mengerti alasan Resi Gajahyana yang memerintahkan kita untuk mundur. Sedangkan kita semua tahu bahwa ilmu yang dimiliki oleh beliau sebenarnya lebih dari cukup untuk sekadar membenarkan mereka,” Ra Baruna maju selangkah.
“Paman, saya tidak memiliki alasan kuat untuk membantah. Namun saya terpaksa harus mengatakan bahwa kita akan kembali ke kademangan untuk mengembalikan kehormatan.”
Ra Baruna dan beberapa lainnya, terdiam. Mereka mengira Bondan akan keluar dari kademangan, lalu menyerahkan segala hukuman pada Bhre Pajang atau Resi Gajahyana.
Namun pernyataan Bondan memberi mereka sebuah kejutan. Mereka akan berada di bawah kendali Bondan untuk menuntut martabat yang dirampas oleh orang-orang yang mengeroyok mereka.
“Apakah itu berarti kau akan melawan keluarga dari istrimu?” Ra Baruna lurus memandang wajah Bondan di bawah temaram cahaya rembulan.
Dengan raut muka sungguh-sungguh, Bondan menggerakkan bibirnya, “Kehormatan Pajang adalah harga diri mereka. Setiap rakyat kademangan adalah bagian dari Pajang.”
Pemahaman dan wawasan yang ada dalam diri Bondan memang bukan sesuatu yang biasa. Tetapi sebagai orang yang berada di dekat lingkaran kekuasaan dan pernah berhubungan dengan Sri Raja Jayanagera serta pembesar lainnya, maka sewajarnya jika Bondan, dalam usia muda, mampu berpikir sedikit lebih jauh dari orang seusianya. Bahkan bagi sebagian orang yang mengenalnya, Bondan ibarat cermin dari Resi Gajahyana. Dan itu wajar karena wejangan dan wawasan Resi Gajahyana telah mengendap dan menjadi bagian darah daging Bondan.
“Baiklah. Sekarang kita telah berjalan cukup jauh dari kademangan, lalu ke mana kita pergi?” bertanya seseorang yang paling tua usianya di antara mereka.
Bondan memandang wajah Lodranaya, jawabnya, “Seperti yang diperintahkan oleh eyang, kita akan menuju Sima Menoreh.”
“Apakah Eyang akan menyusul kita menuju Menoreh?” Lodranaya bertanya.
“Saya tidak mendengar Eyang berkata akan berjalan di belakang kita. Saya pikir Eyang akan memilih berada di sisi Bhatara Pajang.”
“Jarak yang cukup panjang,” gumam seseorang.
“Tidak! Tiga hari perjalanan akan menjadi hilang ketika paman sekalian mengenal Ki Buyut Argajalu,” sahut Bondan, “Dan Ki Hanggapati saat ini berada di Sima Menoreh.”
Tiba-tiba wajah mereka berubah. Sorot mata para pengiring Bondan berbinar ketika mendengar nama penguasa tanah perdikan Menoreh dan Ki Hanggapati merambat di udara. Mereka bertukar pandang dalam senyum lebar.
Pada saat itu, dada mereka meyakini bahwa Bondan akan benar-benar memenuhi ucapannya. Sebuah janji untuk merebut harga diri dan martabat yang direnggut di Kademangan Grajegan.
“Aku ingin sekali memeluk dan menggendongmu, anak muda!” seru Ra Baruna gembira. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ra Baruna mengerti bahwa Resi Gajahyana selalu mengulang ajaran yang selalu mendorong mereka untuk menjadi orang-orang terhormat.
“Sebuah keberanian adalah jiwa dari martabat itu sendiri. Kalian akan memiliki martabat dan kehormatan yang tinggi ketika kalian memberi bukti nyata dari setiap kata-kata. Keberanian adalah sumber kekuatan untuk pelaksanaan kata-kata.” Pesan yang cukup mendalam dari Resi Gajahyana, ucapan yang banyak diulang oleh para pengiring Bondan, pada saat itu.
Para pengiring yang berjumlah kurang dari sepuluh orang itu, secara bersama-sama, mendorong Bondan untuk segera bergeser menuju Menoreh. Bahkan mereka bertekad akan menghukum Bondan apabila perjalanan ternyata membutuhkan waktu tiga hari jalan kaki.
“Bukankah memang tiga hari waktu tempuh yang wajar?”
“Benar. Tetapi kita tidak dalam keadaan wajar. Dan aku rasa, mereka akan sanggup mencapai Sima Menoreh kurang dari dua setengah hari!” jawab Lodranaya sembari meminta persetujuan dari kawan-kawannya.
“Kita dapat melakukannya, anak muda!” ucap mereka nyaris serentak.
“Dan aku, Lodranaya, sebagai orang tertua akan menghukummu berendam di sungai, jika kau gagal membawa kami tiba dalam waktu dua hari!” tegas Lodranaya yang kemudian disambut dengan tawa oleh yang lain. Tetapi Bondan mengerti jika mereka tidak bergurau. Suara dan sinar mata para pengiring memberitahunya tentang kesungguhan mereka.
“Baik. Saya akan meminta Ki Buyut Argajalu untuk tidak menjamu Paman sekalian apabila tertinggal dariku!” Kali ini orang-orang Pajang lebih bersemangat menyambut tantangan Bondan.
Maka, ucapan Bondan adalah kalimat terakhir yang mereka dengar pada malam itu. Selanjutnya mereka mengawali perjalanan jauh itu dengan langkah lebar, sesekali mereka berlari kecil melintas padang, menyeberang sungai kecil, menaiki punggung bukit dan seterusnya.
Sepasang mata mengawasi segala tingkah laku Bondan beserta pengiringnya. Kehadirannya sama sekali tidak diketahui oleh Bondan maupun Ra Baruna yang sebenarnya mempunyai kemampuan cukup tinggi. Orang itu bernapas lega.
“Waktu dan pengalamannya sepanjang tahun lalu benar-benar banyak memberi warna pada hidupnya. Aku bangga padamu, Ngger,” hati orang itu, yang ternyata adalah Resi Gajahyana, bicara sendiri.
Dia melepas kepergian rombongan Bondan hingga tak terlihat lagi oleh sepasang matanya yang tajam seperti elang malam. Ketika bayang tubuh mereka lenyap dari tatap matanya, Resi Gajahyana menjejak kakinya ke arah kota Pajang.
