Padepokan Witasem
Langit Hitam majapahit, silat Bondan, Padepokan Witasem, Gajah Mada, Majapahit
Bab 12 Persiapan

Persiapan 1

Sesampainya di istana kepatihan yang telihat lengang di batas senja, Ken Banawa diperkenankan menghadap Mpu Nambi di serambi depan.

“Saya mendapatkan laporan dari petugas yang mengejar Ki Cendhala Geni. Ia melihat gelar pasukan sehamparan tebasan parang di sekitar Bulak Banteng, Tuan,” ucap Ken Banawa mengawali pertemuan setelah memberi hormat dan sedikit bertukar kabar.

Mpu Nambi mengangguk. Lantas ia menatap lekat wajah Bondan, saat mata mereka beradu, Mpu Nambi dapat menarik kesimpulan bila lelaki muda di depannya itu ibarat permukaan laut yang akan dilanda badai. Namun Mpu Nambi tidak mengatakan tentang yang dirasakannya.

“Benar. Aku juga mendapatkan laporan tentang itu. Kita akan sulit menghadapi mereka jika tidak disertai rencana yang benar-benar cermat dan matang, Ki Rangga.” Mpu Nambi turun dari kursinya kemudian menarik napas dalam-dalam. Katanya, ”Ada satu persoalan yang sebenarnya aku sesalkan, Ken Banawa.”

loading...

Mpu Nambi mematung beberapa lama seperti memikirkan tentang sesuatu yang sulit diungkapkan di depan Ki Banawa. Lalu katanya, ”Baiklah untuk sementara ini aku tunda dulu apa yang ingin aku katakan kepadamu.” Ia melangkah setapak ke samping kemudian berkata, ”Ki Rangga. Mengenai pasukan besar yang ada di Bulak Banteng, apakah kau sudah mempunyai gambaran tentang kekuatan yang ada pada mereka?”

“Tuan, Bondan memberi laporan dan dikuatkan oleh Ra Caksana, mereka memberi kesaksian telah melihat sejumlah gajah turut serta dalam gelar pasukan itu,” jawab Ken Banawa kemudian. Ia memijat keningnya, memilih kata untuk membuka rencananya. Lalu senapati ini mengatakan, ”Menurut saya, dengan menggunakan gajah sebagai salah satu kekuatan mereka,  apakah Tuan memberi izin bagi saya untuk membangun pertahanan di Sumur Welut?”

“Sebaiknya begitu, Senapati. Tetapi sebelumnya pastikan terlebih dahulu melalui petugas sandi, dengan begitu engkau benar-benar mampu membuat perkiraan yang mendekati kemampuan mereka,” kata Mpu Nambi kemudian menatap wajah Bondan. “Dan untukmu Bondan, aku tahu permasalahanmu dengan Ki Cendhala Geni. Sebaiknya engkau mengambil sikap waspada dan selalu ingat tujuan pertempuran ini,” pesan Mpu Nambi.

Lalu orang yang pernah dekat dengan Ra Dyan Wijaya ini mengatupkan dua telunjuk di depan bibirnya yang terkatup rapat, matanya menerawang dinding yang tegak di depannya. Katanya, ”Secepatnya kau selesaikan pertempuran itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarmu. Aku tidak dapat mengirimkan bantuan sedikit pun. Ada persoalan lama yang tak juga kunjung dapat diselesaikan.”

“Apakah Ki Nagapati sudah membawa ketegangan di kotaraja?” Ken Banawa menduga alasan Mpu Nambi yang tidak dapat mengirim bantuan pasukan.

Setelah menghela napas panjang, Mpu Nambi pun melanjutkan, ”Tidak. Mereka belum memperlihatkan tanda-tanda akan melakukan serangan. Ki Nagapati masih berusaha mengajak Sri Jayanegara untuk berbicara lebih dalam.” Mpu Nambi diam beberapa saat.

Kemudian ia meneruskan, ”Agaknya Sri Jayanegara sudah tidak dapat dipengaruhi dengan jasa-jasa kakang Lembu Sora dan Gajah Biru. Ia tetap pada pendiriannya semula. Ah sudahlah, kita bicarakan lagi jika ada kesempatan.” Mpu Nambi mengatur letak duduknya. “Untuk membentuk satu benteng kuat di Sumur Welut, engkau dapat menyertakan Gumilang sebagai salah satu pilar. Aku telah melihatnya dalam banyak latihan baik perorangan maupun gelar perang. Ia mempunyai kemampuan memadai untuk permasalahan ini.

“Aku juga telah mendengar tetntang dirimu, Bondan. Kehadiran Gumilang mungkin dapat membantumu memperkuat barisan Ki Rangga. Tetapi kau tidak dapat bergerak sendiri dalam gelanggang besar itu. Ini menyangkut keselamatan banyak orang, maka sebaiknya engkau melihat dirimu sebagai seutas tali yang menjadi ikatan sebuah perahu.

“Apabila engkau melepas diri dari perintah Ki Rangga, maka itu adalah tali yang putus. Perahu akan menjauh dari dermaga dan tidak ada seorang pengendali di atasnya. Sebaliknya, jika engkau terlalu ketat pada aturan perang maka perahu tidak akan pernah berlayar jauh. Ia berada di tepi sungai selamanya.” Nada tegas terpancar jelas dari suara Mpu  Nambi.

Bondan mendengarkan petuah Mpu Nambi dengan seksama.

Wedaran Terkait

Persiapan 9

kibanjarasman

Persiapan 8

kibanjarasman

Persiapan 7

kibanjarasman

Persiapan 6

kibanjarasman

Persiapan 5

kibanjarasman

Persiapan 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.