Sabuk Inten 12

Tanpa panjang kata, Kidang Tlangkas keluar dari persembunyian. “Aku tidak mengira jika dapat berjumpa dengan orang-orang yang sanggup bicara pada roh gentayangan.”
Meskipun ia menyadari akan ada kemungkinan terburuk yang dapat menimpanya, Kidang Tlangkas melangkah mantap dengan pikiran bergolak. Sungguh, ia belum matang memutuskan tindakan itu.
Suara lantang Kidang Tlangkas membuat kedua utusan Adipati Hadiwijaya memalingkan wajah padanya.
Raut muka heran segera menghiasi Ki Rangga Sembaga. “Bukankah engkau prajurit yang bertugas di halaman belakang istana?”
“Benar,” jawab Kidang Tlangkas tanpa keraguan. Bahkan ia sedikit membusungkan dada ketika mendapati pemimpinnya yang melakukan tugas penyamaran. “Menyerahlah, Ki Rangga!”
“Menyerah? Sebentar. Prajurit, engkau akan dihukum karena sikap seperti itu!” teguran keras Ki Rangga Sembaga terlontar dengan nada tinggi.
“Apa peduliku?” Sikap Kidang Tlangkas belum berubah. “Ki Rangga, Anda bersalah karena telah membawa orang asing datang ke tempat ini. Sementara Anda mengerti bahwa pedukuhan itu adalah tempat yang dirahasiakan oleh Kanjeng Adipati.”
Ki Tumenggung Suradilaga segera meraba saku namun tidak menemukan sesuatu yang diharapkannya ada. Lalu tangannya menyusur ikat pinggang dengan harapan dapat menemukan tanda pengenal dari Adipati Hadiwijaya. Namun, ia tidak lagi berharap banyak untuk dapat menghindari perselisihan yang mungkin saja menyembul. Bendera kecil sebagai bukti bahwa keduanya adalah utusan Adipati Hadiwijaya tidak berada padanya. Ki Tumenggung Suradilaga menyesali kecerobohan yang dilakukannya, walau demikian, ia berharap Ki Rangga Sembaga dapat menunjukkan bukti.
“Angkat kedua tanganmu, Orang Asing!” perintah Kidang Tlangkas dengan gagah. Pejabat tinggi Demak itu segera melakukan perintah prajurit muda Pajang yang yakin pada perbuatannya. Tidak ada yang dapat disalahkan dari sikap tegas Kidang Tlangkas. Ia mengetahui paugeran yang berlaku bagi pedukuhan Sambisari dan sekitarnya.
“Tahan. Tahan dulu,” Ki Rangga Sembaga menyela. “Apakah kamu akan menangkap kami berdua? Sedangkan engkau tahu bahwa aku adalah atasanmu.”
“Bila itu diperlukan, akan aku lakukan itu meski harus beradu nyawa denganmu,”
“Oh, baik, baik. Aku tidak keberatan, sebaliknya, aku bangga dengan sikapmu,” kata Ki Rangga Sembaga seraya mengangkat kedua tangannya. “Kami tidak memegang senjata. Apakah engkau akan memberi kami waktu untuk menjelaskan persoalan ini?”
“Persoalan apa?” Kidang Tlangkas dua langkah mendekat maju. “Kalian tidak dapat menunjukkan sesuatu yang dapat aku kenali. Ki Rangga, bisa jadi engkau adalah penyusup yang dikirim oleh orang-orang wilayah timur. Namun, sungguh, engkau berhadapan dengan orang yang keliru.”
Ki Sembaga menahan geli walau begitu ia dapat menangkap kesan bahwa Kidang Tlangkas tidak sedang bermain-main dengannya. Ia bernalar tajam meski kadang sulit mengendalikan diri. Anak ini bukan prajurit muda yang dapat diremehkan. Ia prajruit kepercayaan Pangeran Parikesit, maka boleh jadi ia mengerti tujuan penyamaran ini, renung Ki Sembaga.
Kemudian, dengan wajah sungguh-sungguh, Ki Rangga Sembaga berkata, “Jujur aku katakan, bahwa kami tidak membawa tanda yang kau maksudkan namun itu bukan berarti dapat menjadi izin untuk menangkap kami. Engkau tahu bagaimana Kanjeng Adipati memperlakukan kami.”
“Itu bukan jaminan bahwa nantinya aku akan membebaskanmu, Ki Rangga. Pajang tidak mengajari prajuritnya untuk menyimpang,” tegas Kidang Tlangkas.

Ki Suradilaga melirik segala penjuru untuk memastikan bahwa prajurit muda itu datang sendirian. Dan memang, indra penglihatan serta pendengaran tumenggung ini seperti setuju dengan harapannya.

Walaupun ia tengah bersitegang dengan atasannya, Kidang Tlangkas dapat mengerti gerak gerik tumenggung Demak yang berada di sisi kirinya. “Apakah engkau sedang mencari letak kawan-kawanku berada, Ki Sanak?”
Pertanyaan Kidang Tlangkas sangat mengejutkan Ki Tumenggung Suradilaga. Anak ini sungguh-sungguh gila! Bagaimana ia dapat melepaskan pandang matanya dari Ki Rangga? Sedangkan aku pun tidak bergerak sama sekali.

“Mengapa? Mengapa engkau diam saja, Ki Sanak?”
“Apa yang kau inginkan untuk aku lakukan, Prajurit? Benar-benar memuakkan!” gelegar Ki Suradilaga memecah kerapatan belantara. Sepertinya ia nyaris kehilangan kesabaran walau sebelumnya ia berpikir untuk mengikuti kemauan Kidang Tlangkas.

Kidang Tlangkas mengembangkan senyum kecil. Ia tidak menunjukkan rasa gentar walau seujung kuku. Tidak ada pemikiran untuk mengendurkan tekanan, bahkan Kidang Tlangkas berusaha memanaskan keadaan. “Bukan begitu cara seorang pejabat tinggi bicara pada petugas yang memergokinya berbuat salah. Bukan semacam itu, bodoh!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *