Dilihat 53 kali
Lima tahun menempa diri sebagai prajurit telah mengubah Toh Kuning menjadi perwira muda yang disegani. Ketika pembantaian misterius terhadap prajurit Kediri mengguncang Bukit Katu, Ki Gubah Baleman justru mempercayakan penyelidikan paling berbahaya itu kepadanya, meski banyak perwira senior berada di sekelilingnya.
Dengan ketegasan seorang pemimpin, Toh Kuning membentuk satuan khusus yang bergerak dalam penyamaran. Ia bahkan mempersilakan prajurit yang tak sanggup melawan saudara seperguruan untuk mengundurkan diri, menegaskan bahwa tugas seorang prajurit adalah melindungi negeri, bukan memihak hubungan pribadi.
Jejak penyelidikan membawa Toh Kuning kembali ke Tumapel, kampung yang sangat dikenalnya. Bersama Jerabang, ia menyusup di tengah kehidupan penduduk, mengamati rombongan misterius berpakaian biru hitam yang sikap dan gerak-geriknya mengundang kecurigaan, namun belum cukup menjadi bukti.

Percakapan kemudian bergeser pada generasi berikutnya, terutama Jaka Wening yang diam-diam menunjukkan bakat luar biasa dalam ilmu Jendra Bhirawa. Ki Kebo Kenanga mengakui bahwa anak muda itu mempelajari ilmu tua tersebut tanpa bimbingan langsung dan tanpa memperlihatkan kesalahan berarti. Bagi mereka, kemampuan itu bukan sekadar bakat, tetapi tanda bahwa masa depan Pajang dan Demak mungkin akan berada di tangan orang-orang yang berjalan dengan jalan berbeda dari para pendahulunya.
Namun inti pertemuan malam itu adalah kekhawatiran atas rencana Raden Trenggana untuk menggerakkan angkatan perang ke wilayah timur. Pangeran Parikesit mengungkapkan bahwa tujuan utama Demak tampaknya bukan sekadar penaklukan, melainkan memperoleh pengakuan politik atas wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya tunduk.
Tersedia pdf, 75 rb
Versi cetakan, Penaklukan Panarukan, hard cover, Hitam Putih, 358 hal, 175 rb
Dalam penyamaran sebagai orang biasa, Toh Kuning dan Jerabang mengamati sebuah rombongan berpakaian biru hitam yang menarik perhatian karena sikap dan penampilan mereka. Meski kecurigaan mulai tumbuh, Toh Kuning menahan diri agar tidak bertindak gegabah sebelum memperoleh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
