Padepokan Witasem
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 6

Dingin wajah Adipati Hadiwijaya melihat serangan ganda yang dilontarkan oleh lawannya, ia bergeser surut dengan memutar kaki sebelahnke samping. Dengan gagah Adipati Hadiwijaya mampu mengapit lengan kanan Lembu Jati dengan sebuah pitingan lalu dari bibir Lembu Jati keluar teriakan yang memilukan.

Yang terjadi sebenarnya adalah lengan Adipati Hadiwijaya dengan sangat kuat mampu mematahkan sendi Lembu Jati. Setelah sedikit merunduk, dengan cepat Adipati Hadiwijaya menahan laju tangan lawan yang membentang lurus dengan jepitan dari bagian dalam sikunya. Keyakinan Adipati Hadiwijaya pada kemampuan ilmu kebalnya membuatnya berani membenturkan bagian tubuh yang sebenarnya sangat berbahaya.

Dalam perjalanannya menyadap olah kanuragan, Jaka Tingkir berhasil memadukan kekuatan Bumi Awulung dengan Rog Rog Asem. Lalu perpaduan kedua ilmu inilah yang kemudian mampu mematahkan tulang sendi Lembu Jati. Ia membiarkan tenaga inti Bumi Awulung terhisap keluar lalu pada saat ia mampu menyentuh kulit Lembu Jati maka Rog Rog Asem pun menggelepar kuat. Hawa tenaga Rog Rog Asem merembes keluar melalui pori-pori lalu sedemikian dahsyatnya mematuk lengan Lembu Jati.

Lengking menyayat yang keluar dari tenggorokan Lembu Jati terdengar seolah mengiris bagiam dalam telinga Adipati Hadiwijaya. Ia merasakan bagian dalam.kepalanya seakan-akan hendak meledak maka cepat ia melepas jepitannya lantas bergerak ke samping dengan satu lengan menutup bagian pendengarannya. Kala Lembu Jati berteriak kesakitan, ia mampu melihat celah terbuka pada bagian lambung Adipati Hadiwijaya. Seraya memutar tubuh dan mengubah arah ke samping, ujung tumit Lembu Jati mendarat landai tepat pada dada Adipati Hadiwijaya.

Sejenak kemudian, dua orang yang menyimpan ilmu tiada banding itu roboh terguling bersamaan. Adipati Hadiwijaya seolah merasa remuk pada bagian tubuh sebelah dalam. Sedikit kesulitan ia mengangkat tubuhnya, namun dalam pada itu sudut matanya mendapati Lembu Jati telah mapan dengan duduk setengah berjongkok.

Gandrik! Patahnya tulang tak membuatnya surut!” seru Adipati Hadiwijaya dalam hatinya. Meski ia mampu menutup rasa kaget namun ia tak meningkari ketangguhan Lembu Jati benar-benar akan dapat mengubah hasil akhir.

“Dan jika itu terjadi, maka Jaka Wening akan berada dalam bahaya besar. Ki Buyut pun akan menjumpai masa penghabisan baginya,” gumam Adipati membatin sedangkan ia mencoba melihat ke jauh ke dalam dirinya sendiri. “Rakyat Pajang akan kembali dalam masa yang kelam.”

“Pertarungan ini belum usai, Mas Karebet! Hanya karena satu tanganku telah patah, kau tentu berpikir bahwa kau keluar sebagai pemenangnya,” kata Lembu Jati.

Bayang kelam membayangi hati Adipati Hadiwijaya. Ia mempunyai pendapat yang sama dengan ayahnya, Ki Kebo Kenanga, bahwa Pangeran Benawa masih belum dapat mengambil alih tanggung jawab tentang masa depan Pajang. Sementara Ki Kebo Kenanga sendiri pun tak akan menjani kehidupan abadi, demikian pula Ki Getas Pendawa. Dengan demikian ia berlipat tekad secepatnya keluar dari kebakaran serta desakan hebat Lembu Jati, walau itu semua terkesan mustahil dapat dilakukannya.

Pada mulanya ia enggan untuk menambah khazanah ilmu, tetapi ia berubah pikiran ketika ia mendengar keterangan dari Ki Kebo Kenanga tentang watak dan unsur yang ada pada Jendra Bhirawa. Adipati Hadiwijaya baru mengenal ilmu yang berada dalam lapisan tinggi itu saat Pangeran Benawa mulai menuntut pengetahuan pada Ki Buyut Mimbasara. Oleh karena itu ia berniat bulat untuk menjadikan Jendra Bhirawa sebagai ilmu terakhir yang disadapnya, dan pada malam itu Jendra Bhirawa adalah ilmu yang sebenarnya belum tuntas ia pelajari. Tetapi pemimpin Pajang itu memiliki daya jelajah yang tinggi kala usianya masih muda. oleh karenanya, ia  sedikit tenang mengatasi tekanan hebat Lembu Jati. Sedangkan Lembu Jati sendiri telah mengetahui banyak hal tentang lawannya sehingga ia tidak menjadi heran ketika waktu semakin terulur panjang. Namun keduanya sadar bahwa keselamatan mereka tidak tergantung pada belas kasih orang yang menjadi lawan.

“Jaka Tingkir!” Lembu Jati meloncat surut dan menghentikan serangannya.

Orang yang dipanggil pun berhenti bergerak. Kedua orang itu kini saling berhadapan namun Adipati Hadiwijaya memandang Lembu Jati dengan dahi berkerut. Ia berpikir keras memperkirakan rencana Lembu Jati selanjutnya.

Pada lingkaran yang lain, Ki Getas Pendawa telah menapak ilmu yang dipelajarinya dari jalur Ki Jalak Pameling. Ia melihat satu kemungkinan bahwa Wedhus Gembel akan dapat dihadang dengan ilmu yang nyaris dilupakannya. Hanya karena Pangeran Parikesit di depan ayahnya memintanya untuk merawat peninggalan Ki Jalak Pameling, lantas Ki Getas Pendawa mengambil masa panjang untuk kembali mengulang dasar-dasar yang ia dapatkan dari Ki Kebo Kenanga.

Related posts

Wedhus Gembel 9

kibanjarasman

Wedhus Gembel 8

kibanjarasman

Wedhus Gembel 7

kibanjarasman

Wedhus Gembel 5

kibanjarasman

Leave a Comment